LOGIN“Kau harus melayaniku malam ini.” “Tolong, jangan—ahh!” Wanita itu tersentak saat tangan kekar suaminya merobek gaun pengantin hingga bahu mulusnya terekspos. “Diamlah dan nikmati saja!” *** Nayara Ishvara terpaksa menikah dengan pria yang menabrak ayahnya hingga tewas. Alih-alih karena tanggung jawab, Devanka Aryasatya menikahinya karena tidak ingin kehilangan posisinya sebagai ahli waris. Pernikahan itu tak ubahnya penjara tanpa cinta. Devanka tetap berhubungan dengan kekasihnya, seolah Nayara tidak ada. Hingga suatu malam, Devanka mabuk dan merenggut kehormatan istrinya dengan paksa. Bukannya menyesal, Devanka justru menuduh Nayara sengaja menjebaknya. Tak tahan, Nayara memutuskan pergi membawa nyawa kecil yang tak diinginkan sang suami. Devanka tidak terima dan berusaha membawanya kembali! Akankah Nayara kembali pada suaminya? Atau lebih memilih pria lain yang menawarkannya cinta?
View MoreLampu di atas ranjang Nayara sedikit diredupkan, Dokter menoleh pada Devanka. “Pak Devanka, kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mohon Bapak keluar dulu, ya.”Devanka sontak menggeleng. “Saya di sini aja, Dok. Saya nggak ganggu, janji.”Dokter menatapnya sebentar, lalu menghela napas tipis. “Bukan soal mengganggu. Kami butuh ruang, dan Bapak juga butuh waktu sejenak agar tidak tertekan. Percayakan sebentar pada kami.”Devanka menatap Nayara. Wajah itu masih pucat, mata masih terpejam, tapi jari-jarinya tadi bergerak.Tangannya enggan melepaskan.“Nay,” bisiknya lirih. “Aku keluar sebentar. Jangan takut, ya. Aku nanti balik lagi.”Tak ada jawaban, tapi entah kenapa, Devanka merasa Nayara mendengarnya. Ia melangkah mundur, setiap langkah terasa berat, seperti ada tali tak kasatmata yang menarik dadanya kembali ke ranjang itu.Pintu ICU tertutup perlahan.Klik.Devanka berdiri kaku beberapa detik di depan pintu, lalu lututnya melemas. Ia duduk di kursi lorong dengan tubuh memb
Rumah sakit kembali diselimuti hiruk-pikuk yang sama, tapi bagi Devanka, dunia tetap terasa mengecil, hanya sebatas ranjang ICU dan tubuh istrinya yang terbaring tak berdaya.Ia kembali duduk di kursi kecil di samping ranjang Nayara, satu tangan menggenggam tangan istrinya, tangan lain memegang kain hangat.Ia mengelap lengan Nayara dari pergelangan ke siku, lalu naik ke bahu. Setiap usapan penuh kehati-hatian, seolah ia takut sentuhan yang terlalu kuat bisa membuat Nayara sakit.“Kaki kamu dingin lagi,” gumamnya lirih. “Aku pijitin, ya.”Ia membuka selimut sedikit, cukup untuk menjangkau betis dan telapak kaki Nayara. Ibu jarinya menekan perlahan titik-titik yang dulu sering Nayara keluhkan saat hamil.“Kamu inget nggak?” tanyanya sambil tersenyum samar. “Waktu kamu bangunin aku jam tiga pagi cuma gara-gara kaki kamu kram?”Ia tertawa kecil, suara yang patah di ujungnya.“Aku ngedumel setengah mati, tapi tetap bangun dan pijitin. Terus kamu malah ketiduran sambil pegang tangan aku.”
Tiga minggu berlalu, hari-hari terasa seperti satu garis panjang tanpa tanggal bagi Devanka. Lorong rumah sakit sudah seperti bagian dari hidupnya, ia hafal bunyi pintu otomatis ICU, hafal suara monitor yang sering berubah ritme, hafal bau antiseptik yang menusuk seperti pengingat bahwa istrinya belum kembali padanya.Meski kedua bayi sudah diperbolehkan pulang seminggu lalu, Devanka tetap tinggal di rumah sakit. Dian dan Seno membawa pulang cucu-cucu mereka, merawatnya dengan perhatian penuh. Setiap hari video call masuk ke ponsel Devanka, Dian menunjukkan si kecil yang baru selesai mandi, atau Seno menimang si bayi perempuan yang suka menguap kecil. Namun, Devanka tak sanggup memberi nama pada mereka tanpa persetujuan sang istri.“Aku tunggu Nayara bangun dulu, Ma,” jawaban itu selalu keluar dengan suara seraknya, dan Dian tak pernah memaksa lagi.Pagi itu, jam tujuh lewat sedikit, Devanka masuk ke ruang ICU. Udara dinginnya membuat kulitnya merinding, tapi ia tidak pernah lupa m
Lorong rumah sakit seperti menelan suara Devanka. Kata 'koma' bergema berkali-kali dalam kepalanya, memantul di rongga dada, menghantam keras seperti batu. Ia berdiri mematung, tak tahu harus memegangi bagian mana dari dirinya yang terasa paling hancur.Tangannya gemetar, napasnya seperti tersangkut di kerongkongan.Ucapannya tercekat, pecah di sela-sela isaknya, “Nayara nggak mungkin ninggalin aku kayak gini.”Namun tubuhnya tak mampu bergerak.Dokter Melati memberi isyarat pada perawat.“Pindahkan Ibu Nayara ke ICU. Siapkan ventilator dan monitor lengkap.”Perawat langsung masuk kembali ke ruang operasi, menyiapkan brankar. Ketika pintu kembali terbuka, Nayara dibawa keluar.Bukan lagi Nayara yang tadi menggeliat kesakitan sambil memanggil nama suaminya dengan manja, kini tubuh pucat itu tak bergerak, wajahnya tertutup masker oksigen, rambutnya tergerai acak menempel pada kening berkeringat dingin. Infus menjuntai di kiri kanan, selang-selang kecil menempel di dada, dan monitor berg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore