Beranda / Romansa / Dilamar Nenek-nenek / 3. Bukan Kebahagiaan, tapi Kesialan

Share

3. Bukan Kebahagiaan, tapi Kesialan

Penulis: pramudining
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-28 10:34:23

Happy Reading

*****

Cakra membulatkan mata secara sempurna. Habis sudah kesabarannya. Dia tak lagi bisa menahan, tangannya reflek mencengkeram rambut si cewek yang menamparnya tadi.

"Dasar cewek arogan. Kamu apanya nenek itu, hah?!" tanya Cakra keras.

"Hei, jangan memakai kekerasan. Sudahlah," cegah Venya. Sang nenek berusaha keras melepaskan cengkeraman Cakra pada rambut si cewek.

"Apa dia cucumu, Nek?" tanya Cakra. Matanya mendelik masih dipenuhi amarah. "Tolong ajari sopan santun supaya nggak sembarangan menuduh orang lain apalagi sampai menampar seperti yang dilakukannya tadi."

Melepas cengkeramannya, tanpa kata dan penjelasan lagi. Cakra meninggalkan Venya dan si cewek dengan sejuta kekesalan dan kekecewaan. Hilang sudah semua harapan yang dipupuk selama ini.

Sepeninggal Cakra, si nenek menatap tajam cewek yang menampar sang pujaan tadi.

"Kamu bener-bener, Ar," kesal sang nenek.

"Nenek, tunggu." Perempuan yang dipanggil Ar itu berusaha mengejar neneknya yang marah. "Nenek," panggilnya lagi.

"Apa? Nenek marah, jangan ikuti lagi. Pulang sana. Kerja aja terus nggak usah mikir nikah," omel sang nenek.

"Berhenti atau aku akan keluar negeri lagi," ancam perempuan pemilik nama Ari.

"Pergi sana kalau berani." Hidung si nenek terangkat membuat mukanya lucu. Persis anak kecil ketika sedang merajuk pada orang tuanya.

"Nenek kesal karena aku gangguin tadi, ya? Nenek beneran cinta sama cowok sontoloyo itu?" Ari menatap kedalaman mata sang nenek. Perempuan sepuh itu adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat ini. Tentu, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya apalagi sampai ditipu oleh lelaki yang pantas menjadi cucunya.

Memang sedang menjadi trend saat ini jika banyak lelaki lebih muda mencintai dan merayu perempuan yang usianya di atasnya. Namun, Ari tidak pernah percaya hal tersebut hingga melihat kenyataan bahwa neneknya sendiri sudah dipermainkan oleh berondong seperti tadi.

"Diam! Jangan ganggu Nenek lagi." Perempuan berambut putih tersebut mengibaskan tangannya, lalu meninggalkan sang cucu sendirian.

"Mbak, nenek beneran suka sama cowok tadi? Apa beliau puber lagi?" ucap sekretaris Ari yang langsung mendapat pelototan.

"Jaga mulutmu. Kamu kurang kerjaan banget, ya? Mau aku kirim ke cabang pelosok yang nggak ada sinyal internetnya?" bentak perempuan yang tahun ini memasuki usia kepala tiga.

*****

Pulang membawa rasa jengkel, Cakra masuk rumah tanpa mengucap salam.

"Eh ... eh. Masuk kok nggak pake salam?" tanya Arimbi ketika putra sulungnya tiba-tiba datang dengan wajah kusut.

Wajah Cakra makin kusut mendengar perkataan sang mama. Bibirnya maju beberapa sentimeter ketika teringat kejadian di restoran sebelumnya. Kening Arimbi berkerut melihat raut muka si sulung.

"Assalamualaikum, Mama yang cantik," ucap Cakra menuruti permintaan sang mama tadi. Langsung duduk di sebelah Arimbi. Meletakkan kepalanya di pundak perempuan yang sudah melahirkannya itu sambil melingkarkan tangannya ke pinggangnya.

"Waalaikumussalam. Kenapa mukanya kusut gitu?" Arimbi membelai rambut si sulung. Jika Cakra mulai manja seperti sekarang. Pasti ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati, telah terjadi.

"Maafkan Mas, ya, Ma. Tahun ini belum bisa bawa menantu."

"Lha, kenapa sama pacar online-mu itu? Nggak sesuai ekspektasi? Pasti dia jelek, jadi kamu langsung ilfil."

"Ma, aku bukan tipe cowok yang Mandang fisik, lho. Jadi, jelek atau cantik bagiku nggak masalah."

"Terus masalahnya apa? Kok, muka ini butek banget kayak air comberan," Arimbi mencubit gemas pipi si sulung.

"Kalau aku cerita, Mama janji jangan tertawa, ya." Mendongakkan kepala menatap perempuan yang telah melahirkannya. Lalu, Cakra teringat dengan Venya. Wajah yang sudah keriput dengan rambut berwarna putih semuanya.

Bagaimana bisa selama ini Cakra tertipu oleh perempuan sepuh seperti Venya. Membayangkan perempuan yang sudah menjadi kekasihnya itu, si sulung bergidik ngeri.

"Mas, hei, Mas," panggil Arimbi karena si sulung bengong dengan tatapan mata lurus ke depan. "Eh, kok, sepertinya ada yang begitu mengecewakan, Mas? Ada apa?"

"Janji dulu nggak bakalan ketawa setelah Mas ceritakan semua." Cakra mengacungkan jari kelingking.

"Dih, kayak anak TK aja. Iya ... iya. Mama janji nggak akan tertawa. Memangnya kenapa, sih?"

Putra sulung keluarga Arimbi itu mengubah posisi duduknya menjadi sedikit tegak. Tak lagi manja seperti keadaan sebelumnya. Arimbi pun bersiap mendengarkan semua cerita Cakra dengan sabar.

"Jadi gini, Ma." Cakra mulai menceritakan pertemuannya dengan Venya yang ternyata seorang nenek dengan taksiran umur 75 tahun. Di pertengahan cerita ketika Arimbi mulai tidak bisa menahan tawa, si sulung menghentikan ceritanya.

"Tuh, kan. Mama pasti ngetawain aku."

"Bentar, deh, Mas. Selama setahun berhubungan dengan si Venya itu, kamu nggak pernah dikirimi fotonya gitu?" tanya Arimbi. Merasa ada yang mengganjal dengan cerita si sulung.

Bagaimana mungkin, seseorang berpendidikan dengan pengalaman mengahadapi banyak orang bisa tertipu begitu mudahnya oleh seorang wanita. Padahal jelas-jelas, Cakra adalah seseorang yang tidak mudah ditipu. Selalu berhati-hati serta teliti dalam berbagai hal. Sangat jauh berbeda dengan sifat si adik yang selengekan daan ceroboh.

Cakra pun menggelengkan kepala setelah sang mama penyelesaian pertanyaannya. "Kami memang nggak pernah tukeran foto maupun video call, Ma. Dia melarangnya," ucap si sulung.

"Astagfirullah, Mas ... Mas. Kok, bisanya sudah kenal setahun, tapi nggak pernah kirim-kirim foto. Jadi, ya, jangan salahkan nenek itu. Wong kamu ceroboh gitu."

"Ma, aku pernah tanya umur sama dia. Katanya, setahun di bawahku artinya kan sekitar 30 tahunan sekarang. Lakok yang tak temui tadi malah nenek-nenek. Ya, walaupun cantik, tapi kan umurnya beda jauh sama aku."

Plak ....

"Aduh," rintih Cakra.

Arimbi gemas dengan kalimat terakhir si sulung. Bisa-bisanya memuji si nenek cantik padahal dia sendiri sudah ketakutan ketika perempuan itu melamarnya.

"Rasain," kesal Arimbi, "kalau kamu ngomong cantik. Kenapa nggak diterima saja lamarannya?"

"Elah, Ma. Apa kata dunia jika Mas nikah sama nenek itu," sahut Cakra.

"Heh, kok bahas nenek dan nikah. Ada apa?" tanya sang Papa yang entah sejak kapan berada di ruang tengah. Di belakangnya, sudah ada Kresna dengan muka keponya.

"Ini, nih. Mas Cakra, katanya dilamar Nenek-nenek. Asal dia mau, banyak harta yang bakalan didapat," jelas Arimbi.

"Mama kok gitu, sih. Aku bukan cowok matre, ya," sanggah Cakra. Menyesal juga dia menceritakan tentang tawaran si nenek tadi. Kini sang mama malah mengolok-oloknya.

"Mas, beneran dilamar Nenek-nenek? Jangan-jangan pacar online-mu itu Nenek-nenek, ya?" sahut Kresna, heboh dengan segala kekepoannya. Tawa pun keluar dari bibir. Mungkin, si bungsu membayangkan wajah si mas dengan nenek itu.

"Beneran itu, Mas?" tanya sang Kepala keluarga."

"Au ah." Cakra berdiri hendak meninggalkan keluarganya. Namun, ponselnya berdering dan nama Venya terlihat di layar.

"Ma ... Ma, tolong. Angkat dan katakan kalau Mama nggak sudi punya menantu nenek-nenek. Tumben nelpon padahal biasanya nggak pernah."

Sang kepala keluarga dengan si bungsu saling sikut, keduanya menertawakan si sulung yang memucat. Ruang tengah keluarga tersebut pun riuh oleh tawa mereka berdua.

Sesuai permintaan si sulung, Arimbi terpaksa mengangkat panggilan si Venya.

"Halo," sapa Arimbi.

"Eh, ini siapa? Kok berani-beraninya mengangkat telpon di HP-nya Mas Cakra," kata suara di seberang, nadanya sedikit meninggi.

Arimbi mengerutkan kening. Menatap si sulung dan mulai meragukan ceritanya.

"Mas, beneran dia ini nenek-nenek? Kok, suaranya seperti anak muda. Kamu nggak bohong sama Mama, kan?" tanya Arimbi memastikan semua kebenaran supaya dia tidak salah. Tangannya menutup speaker ponsel supaya sang penelepon tidak mendengar pertanyaannya pada si sulung.

"Beneran, Ma. Lebih baik, Mama marahin dia sekarang juga," bisik Cakra supaya si nenek itu mundur dan berhenti mengejarnya.

Arimbi mengangguk. Mulai memasang wajah serius walau si lawan bicara tidak mengetahui ekspresinya.

"Kamu sendiri siapanya Cakra? Berani-beraninya bertanya dengan suara tinggi. Sopan dong jadi orang, jangan seenaknya saja."

"Aku pacarnya Mas Cakra. Siapa kamu, cepat katakan," ucap Venya dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh keluarga Cakra.

"Baru juga pacar, lagaknya sudah seperti istri. Aku nggak mau, ya, punya menantu sepertimu. Sudah nenek-nenek, ngomongnya kasar. Dasar nenek-nenek ganjen."

"Hah, nenek-nenek gimana maksudnya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dilamar Nenek-nenek   71. Pantai dan Segala Keinginan

    Happy Reading *****"Coba balas kalau berani," tantang Ari karena yakin sang kekasih tidak akan pernah bisa membalas perbuatannya tadi."Baby, kamu kok curang sih? Dah tahu Mas nggak akan pernah bisa membalas," keluh Cakra. Bibirnya maju dan bergerak-gerak lucu membuat Ari tertawa bahagia. "Aku tahu kalau Mas nggak bakalan bisa membalas." Ari menjulurkan lidahnya."Baby, nggak usah mengoda gitu, ih." Suara Cakra meninggi, bukan marah, tetapi berusaha menahan sesuatu yang tengah bergejolak di tubuhnya saat ini. "Lupakan, kita nggak boleh mengecewakan para orang tua yang sudah sangat percaya dan membiarkan kita pergi berduaan seperti sekarang.""Hmm. Makanya, jangan nakal kayak tadi. Kalau khilaf bahaya. Mas bisa nggak diakui sebagai anak Mama," kata Cakra yang membuat perempuan cantik di sampingnya tertawa keras. "Oke ... Oke. Aku janji nggak akan nakal kayak tadi.""Terima kasih, Baby." Cakra mengusap lembut kepala kekasihnya.Beberapa menit kemudian, pasangan yang baru meresmikan

  • Dilamar Nenek-nenek   70. I Love You

    Happy Reading ****Cakra tersenyum salah tingkah bahkan kini lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk mengalihkan perasaan salah tingkahnya. "Mas, pasti akan menjelaskan semuanya. Cuma, menjelaskan sesuatu itu kan butuh tenaga dan sekarang, perut Mas sudah keroncongan. Gimana kalau kita makan dulu aja?" alibi Cakra untuk mengalihkan pembahasan sebelumnya. "Huh, dasar. Ngeles aja kamu, Mas," kata Arimbi. "Tapi, emang bener Mas Cakra, Ma. Kita harus segera makan sebelum makanan yang kita pesan tadi dingin. Adek juga lapar, kok," sahut Kresna membela si sulung. "Ya, sudah. Ayo kita makan dulu," putus Sapta. "Ayo ... Ayo," sahut si nenek. Selesai acara makan bersama. Keluarga memberi kesempatan pada dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu untuk berduaan. Cakra tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Segera mengajak kekasihnya ke suatu tempat setelah meminta ijin pada si nenek untuk tidak langsung mengantarkan Ari pulang. "Mas, kita mau ke mana?" tanya Ari ketika jalan

  • Dilamar Nenek-nenek   69. Hutang Penjelasan

    Happy Reading*****Bukan cuma Cakra yang terkejut mendengar kalimat penolakan yang diucapkan Ari. Namun, seluruh anggota keluarga termasuk sang nenek juga terkejut. "Ar, bukannya kamu mengatakan sama nenek kalau sudah siap untuk menikah. Lalu, kenapa sekarang malah menolak?" Perempuan sepuh yang menjadi satu-satunya keluarga Ari tersebut tampak sangat tidak suka ketika sang cucu melakukan penolakan seperti tadi. "Nek, tenang," sahut Cakra begitu bijak tak mau wanita pujaannya mendapat marah. "Mungkin Ari punya alasan sendiri kenapa menolak pernikahan denganku. Jadi, kita dengarkan saja alasannya." "Benar kata Mas Cakra, Nek. Ari pasti memiliki alasan kenapa sampai nggak mau menikah dengan Mas Cakra dalam waktu dekat," tambah Arimbi. "Iya benar. Bukankah tadi, dia sangat antusias menerima lamaran Mas Cakra. Jadi, kalau sekarang menolak, pasti punya alasan yang kuat." Sapta mencoba menjadi penengah di antara nenek dan cucunya. Baginya, sosok perempuan yang dicintai si sulung adala

  • Dilamar Nenek-nenek   68. Ditolak

    Happy Reading*****Cakra menatap semua orang dengan tatapan seperti orang yang teraniaya."Sembarangan kalau ngomong. Mas, aja nggak boleh meluk dia apalagi kamu. Ayo, Baby." Cakra mengarahkan sang kekasih tanpa menyentuh perempuan tersebut sedikitpun menuju kursi yang sudah disediakan. Lelaki itu begitu patuh dengan ucapan serta perkataan para orang tua. Apalagi ketika mendengar ucapan Sapta, setahun lebih dia sudah berhasil menahan diri, lalu mengapa hari ini Cakra tidak bisa menahan diri. Toh, tak lama lagi, Ari akan menjadi miliknya seutuhnya. "Duduk di sini, ya, Beb," bisik Cakra begitu lembut dan sangat merdu di telinga si perempuan. Hati perempuan yang selama ini dikenal galak dan judes itu berbunga-bunga. Ternyata, lelaki yang dikenal lewat maya, tidak hanya romantis ketika chatting saja. Namun, Cakra juga sangat romantis di dunia nyata. "Terima kasih, Sayang," ucap Ari ketika Cakra menyeret kursi untuk diduduki."Sama-sama, Baby," balas si lelaki dengan senyum semringah

  • Dilamar Nenek-nenek   67. Nyosor

    Happy Reading*****"Hmm, gombal. Sejak kapan kamu jadi perayu ulung gitu, Mas?" kata Arimbi yang tak menyangka jika putra sulungnya pandai merayu seperti sekarang.Sapta merangkul sang istri. Lalu, berbisik tepat di telinga kiri Arimbi. "Mama nggak akan pernah menyangka jika bayi mungil yang kita besarkan saat itu sudah pandai merayu perempuan. Ah, waktu sungguh cepat berlalu dan mungkin sebentar lagi, kita akan segera menggendong bayi lagi, tapi cucu." Arimbi menoleh ke arah sang suami. "Iya, padahal rasanya baru kemarin Mas Cakra lulus sekolah," katanya menjawab perkataan sang suami. Cakra memutar bola mata sambil mengerucutkan bibir menatap sang Mama. Seolah-olah, lelaki itu mengatakan supaya Arimbi diam dan cuma bisa melihat apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan keinginan Arimbi. Mengerti arti tatapan putranya, Arimbi memutuskan untuk diam, melihat apa yang akan dilakukan sang putra sulung selanjutnya. Cakra kembali menatap Arimbi. Setelah melihat anggukan kepala perem

  • Dilamar Nenek-nenek   66. Lamaran

    Happy Reading *****Ari kembali berjalan gontai ke arah ruangannya, hatinya mendadak sangat kacau. Semua pekerjaan yang dia lakukan berantakan bahkan hingga jam kerja berakhir, perempuan itu masih saja tidak bisa fokus pada pekerjaannya bahkan chat yang dikirimkan pada sang kekasih maya juga belum dibalas sama sekali. Suasana hati si bos makin kacau jadinya.Sore, sepulang kantor, Ari sengaja langsung menuju kamar neneknya. Walau hatinya, hancur. Dia harus tetap bisa bahagia melihat kebahagiaan satu-satunya keluarga yang disayangi. "Nek," panggil Ari manja. Perempuan itu langsung meletakkan kepalanya di pangkuan si nenek yang duduk di sofa sambil menonton tayangan favoritnya. "Tumben. Ada apa?" kata si nenek sambil menoleh. Perempuan sepuh itu melihat tampilan Ari yang semrawut."Besok, Nenek akan makan malam dengan keluarganya Cakra dan bahas tanggal pernikahan. Kayaknya, aku nggak bakalan ikut.""Kenapa?" Si nenek mengerutkan kening. "Kerjaanku banyak banget yang belum tersele

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status