LOGINHappy Reading
***** "Jangan ganggu anak saya lagi, Nek. Usia nenek itu nggak pantes kalau menikah sama anak saya Cakra," lanjut Arimbi. "Hah?" jawab perempuan di seberang sana. "Kalau nenek masih terus menganggu Cakra, saya bisa laporkan masalah ini ke pihak berwajib dengan pasal menganggu ketenangan orang lain. Mengerti?" Arimbi segera mematikan sambungan teleponnya. Lalu, menatap si sulung. Tak peduli dengan perasaan lawan bicara di seberang sana yang mungkin menyimpan sakit hati. Arimbi, hanya ingin melindungi putra sulungnya dari segala ketidak baikan di dunia. Selesai dengan penggilan tersebut, Arimbi menyodorkan ponselnya. Raut mukanya berubah, antara kesal, kecewa, tetapi ingin tertawa juga. "Blokir saja nomornya. Mama nggak suka sama tipe cewek seperti dia. Biarpun kalian seumuran, Mama mungkin nggak akan setuju. Kurang sopan ngomongnya," omel Arimbi. Perempuan yang sudah melahirkan dua orang jagoan itu memijat pelipisnya. Berusaha tenang supaya tidak meluapkan kekesalannya. "Dengerin mamamu, Mas," sindir Sapta. Sebagai suami, lelaki itu bisa merasakan perasaan kecewa sang istri. Walau bagaimanapun, dia berharap besar hubungan si sulung dengan kekasih online-nya akan berhasil hingga ke jenjang pernikahan. Namun, harapan tak seindah kenyataan. Sapta dan Arimbi harus lebih bersabar untuk mendapatkan seorang menantu. Si bungsu juga ikut-ikutan menasihati Cakra. "Makanya, nyari yang pasti-pasti saja, Mas. Setahun berhubungan, ternyata hasilnya zonk," ejeknya, "kalau dari awal tahu cewek itu nenek-nenek, Mas nggak peru buang-buang waktu, kan." "Diem, Dik." Bola mata Cakra membulat sempurna. Bibirnya maju karena sebal. Semua orang seolah menyalahkan kecerobohannya. "Memangnya, Mas mau nerima kejadian seperti ini? Ah, apes ... apes," ucapnya dengan mimik kecewa, tetapi terkesan sangat lucu. Semua anggota keluarga Cakra tertawa padahal si sulung tengah jengkel setengah mati. Semua pengorbanannya selama setahun terasa sia-sia. Harapan bisa menikah dengan sang pujaan hati, kandas. Kini, Cakra tidak tahu harus berbuat apalagi demi bisa mewujudkan keinginan sang mama. "Tau, ah. Aku mau ke kamar saja," kesal Cakra karena ditertawakan semua orang. Berdiri, siap meninggalkan keluarga yang masih saja tertawa. Tak lama kemudian saat langkah Cakra terdengar menjauh, semua orang menghentikan tawa mereka. Sang kepala keluarga bahkan menatap si sulung dan memanggilnya. "Bener kata adikmu, Mas. Mendingan nyari yang pasti-pasti saja. Misalnya, putrinya temen Papa yang waktu itu. Sudah cantik juga punya usaha bakery. Ya, walau umurnya jauh lebih muda darimu. Tapi, menurut Papa umur 24 bersanding dengan 31 masih sangat cocok," jelas Sapta. "Setuju, Pa. Anaknya asyik, cantik dan imut," tambah si bungsu, mengompori saudaranya supaya bisa cepat menikah. Berbalik dengan bibir bergerak-gerak lucu dan maju sedikit, si sulung pun berkata, "Males, Pa. Dia terlalu banyak omong. Aku yang basic-nya pemasaran saja kalah kalau ngomong sama dia. Bisa botak kepalaku kalau dengerin omongannya tiap hari." Cakra melambaikan tangannya sambil berbalik dan melanjutkan langkah menjauh keluarganya. Baru satu langkah mengayunkan kaki, suara Arimbi terdengar menginterupsi. "Terus kamu mau nyari yang kayak gimana, Mas? Nyari di dunia maya lagi? Ujung-ujungnya nanti kecewa, gimana? Buang-buang waktu saja jadinya," nasihat Arimbi tanpa berniat meremehkan serta mengejek si sulung seperti sang suami dan si bungsu. "Sudahlah, Ma. Biarkan waktu yang menjawab, siapa sebenarnya perempuan yang akan jadi istrinya, Mas," jawab Cakra sok bijak. "Oke, Mama kasih Mas waktu tiga bulan untuk membawa calon menantu yang kamu inginkan. Jika sampai tiga bulan Mas belum juga mengenalkan seorang perempuan. Maka, Mama akan menjodohkanmu dengan cewek yang sudah Mama dan Papa pilih," ancam Arimbi. "Ma," sahut Cakra sedikit keberatan. "Nggak ada bantahan." Arimbi mendengkus.Happy Reading*****Satu masalah sudah terselesaikan. Ari bisa tenang setelah mengetahui hasil tes DNA bocah kecil yang diakui Felicia adalah anaknya Cakra, ternyata sang kekasih dan bocah kecil itu sama sekali tidak memiliki hubungan. Si bos sudah tidak peduli lagi Siapa ayah dari anak yang dilahirkan oleh Felicia. Kini, dia, hanya memikirkan hubungannya dengan Cakra dan segala persiapan pernikahan mereka.Entah bagaimana nasib Felicia dan anaknya, Ari sudah tak ambil pusing. Fokusnya kini, hanya untuk menyiapkan pesta pernikahannya dan Cakra. Dia dan sang kekasih cukup bahagia apalagi seluruh keluarganya mendukung serta berperan aktif membantu menyiapkan segala perlengkapan pernikahan mereka. Besok, hari bahagia itu tiba, Ari makin gugup apalagi ketika perempuan itu tidak bisa menghubungi sang kekasih dengan alasan mengikuti adat pingitan. Rasanya begitu menyiksa, ketika dia tidak bisa bertemu Cakra baik di kantor maupun melalui chat. Ari benar-benar diasingkan oleh neneknya bahka
Happy Reading*****Hendra membulatkan mata. Menatap Sahabat karibnya, Cakra. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu, menatap dirinya sendiri. Detik berikutnya lelaki itu, tersenyum."Kenapa, Cak? Felicia mengatakan punya anak denganmu?' tanya Hendra sambil menepuk lengan Cakra."Iya, benar dan saat ini kami sedang menunggu hasil tes DNA antara anak yang dibawa Felicia dengan Mas Cakra," jelas Ari.Hendra mendengkus. Menatap Ari dengan senyum. "Aku harap, kamu nggak membuang Cakra setelah mendengar tuduhan yang diucapkan Felicia.""Pastinya, nggak, lah. Aku percaya banget sama Mas Cakra.""Bagus. Wanita seperti Felicia, memang seharusnya nggak pantas dipercaya oleh siapa pun." Tergambar jelas kemarahan di wajah Hendra."Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" tanya Cakra demikian juga Ari, hanya saja apa yang ada di pikiran perempuan itu sudah diwakilkan oleh sang kekasih.Hendra diam. Namun, detik selanjutnya, dia mulai membuka suara setelah menghela napas panjang. "Felicia juga b
Happy Reading*****"Eh, kok, malah bengong sih?" Mega menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Ari. "Bu, kok, diem aja jawab pertanyaan saya dong."Ari tak sadar dan mulai menatap aneh pada asistennya. "Kamu ini apaan, sih. Hal apa yang harus aku ceritakan terlebih dahulu padamu. Emangnya kamu siapa?""Itu, saya mendengar dari karyawan-karyawan kalau ibu sama Pak Cakra lagi menjalin hubungan serius dan mau nikah. Bener gitu, Bu?" Mega memajukan bibirnya."Kalau iya, kamu mau apa?""Ya, nggak apa-apa, sih, tapi kenapa Bu Ari nggak cerita dulu ke saya. Kemarin, ditanya malah saya nggak boleh ikut campur. Saya sebagai asisten pribadinya Bu Ari merasa tersingkir, loh." Mega mulai merajuk, persis seperti anak kecil yang kemauannya tidak dituruti oleh orang tuanya.Ari terbahak mendengar perkataan asisten pribadinya. "Memangnya, aku nyingkirin kamu? Nggak kan?""Terus kenapa Bu Ari nggak cerita ke saya duluan? Malah konfirmasi langsung di live streaming.""Ada saatnya masalah pribadi
Happy Reading*****"Semena-mena gimana maksudmu? Aku nggak mau, ya, kalau sampai ada orang yang mengatakan Aku sama mas Cakra nggak bertanggung jawab setelah kita menikah nanti. Bukankah anaknya juga anakku? Tapi, semua itu terjadi jika dia benar-benar anaknya Mas Cakra, lho, ya, setelah hasil tes keluar nantinya," kata Ari masih dengan nada sinis.Boleh minta Felicia makin membulat sempurna. Perempuan itu tak percaya Ari bisa mengatakan hal seperti tadi. Padahal rencananya jelas-jelas ingin menggagalkan pernikahan antara Cakra dengan Ari. Namun, entah mengapa, perempuan yang dipilih dan dicintai Cakra itu malah mendukung setiap perbuatan bahkan masa lalu lelaki yang dicintai Felicia. "Kamu sadar dengan perkataanmu? Cakra itu nggak sebaik yang kamu perkirakan," tanya Felicia, masih berharap hubungan Ari dan Cakra akan goyah setelah semua yang dia katakan dan fakta yang dibeberkan tadi. Ari tersenyum mendengar perkataan Felicia. "Sadar. Kenapa? Mas Cakra itu orang baik, kalau dia bu
Happy Reading*****Cakra dan Ari saling menatap satu sama lai."Kenapa gadis kecil ini mirip sekali dengan mas Cakra gema mari dalam hati"Nggak ... nggak mungkin dia anakku. Aku sama sekali nggak merasa meniduri Felicia, tapi kenapa anak ini mirip sekali denganku?" kata hati Cakra.Ari dan Cakra terus saja melihat ke arah anak kecil yang tangannya digandeng oleh Felicia. Perempuan yang kemarin mengaku-ngaku sebagai mantan kekasihnya Cakra itu menatap remeh keduanya."Kenapa? Apa kalian takut setelah melihat anak ini yang begitu mirip dengan Cakra?" tanya Felicia dengan sombong dan penuh percaya diri. Merasa diremehkan, Ari menatapnya sinis. Jelas, Ari tidak akan pernah mengakui kekalahannya pada Felicia. Perempuan yang telah dipilih oleh Cakra itu, masih sangat percaya bahwa calon suaminya tidak akan pernah melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat agama."Untuk apa kami takut? Hasil tes belum diumumkan, kita juga belum melakukan tes DNA itu. Wajahnya, secara fisik memang
Happy Reading****"Nggak usah banyak nanya, deh. Lakukan apa yang aku perintahkan. Pokoknya, apa pun hasilnya kamu nggak boleh menuliskan hubungan darah antara mereka berdua. Ngerti?" Bales Ari menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang yang dihubunginya."Jangan paksa aku dong, Ar. Aku punya kode etik sendiri untuk menjaga profesiku, kamu kan tahu itu. Sebelum benar-benar menjadi dokter, aku sudah disumpah jabatan dan tidak akan melanggar kode etik itu."'Please ini demi kebaikan semua orang. Demi menyelamatkan nama baik seseorang yang akan dicemarkan.""Maksudnya?""Aku akan jelaskan nanti, untuk saat ini berjanjilah bahwa kamu akan menuruti permintaanku. Sekali ini saja, tolong."Setelah membalas pesan sahabatnya, Ari mengendarai pelukan Cakra. Menatap sang kekasih penuh kasih sayang dan rasa iba. "Aku mau mandi dulu, Mas. Aku juga udah pesan makanan untuk kita berdua. Mas Cakra kalau mau mandi ada baju cowok di kamar tamu. Pakai aja nggak papa."Cakra mengerutkan kening, bola







