LOGINHappy Reading
***** "Tunggu," ucap si perempuan yang rambutnya sudah memutih semua dengan keriput di seluruh wajah. Berbalik, Cakra menatap perempuan yang lebih pantas menjadi neneknya itu. "Ada apa lagi, Nek? Bukankah sudah jelas perkataan saya tadi? Kita nggak bisa meneruskan hubungan ini. Maaf," ucapnya. Cakra menyatukan dua tangannya di depan dada disertai badan yang sedikit membungkuk. Mungkin belum waktunya lelaki itu memiliki seorang istri. Jadi, walau hatinya masih tak ikhlas melihat kenyataan yang ada, dia tetap berpikir logis dan rasional. "Duduklah dulu, ada yang mau aku omongin, Sayang," kata si nenek. Miris, hati Cakra seperti teriris ketika mendengar panggilan sayang dari wanita di depannya. Dulu, sebelum pertemuan ini, tentunya dia sangat bahagia jika Venya memanggilnya dengan panggilan sayang. Namun, semua berubah ketika dia bertemu secara langsung dengan sang pujaan. Pantas, selama setahun berhubungan dekat, Venya tak mau sekalipun melakukan panggilan video. Selalu saja ada alasan supaya Cakra tidak melakukan panggilan video. "Tolong jangan memanggilku seperti itu, Nek. Rasanya nggak pantas," pinta Cakra. Demi menghormati orang yang lebih tua, lelaki itu duduk di meja yang sudah di pesan. Buket mawar yang dia bawa, perlahan ditaruh di meja. Venya tersenyum manis, Cakra harus mengakui jika wanita sepuh di depannya itu cukup cantik. Walau usianya sudah tua, tetapi sisa kecantikannya di masa muda masih sangat terlihat. Kulitnya terawat dengan baik. Wajahnya juga bersih sekali. "Apa buket ini untukku?" "Semula iya, tapi sekarang nggak," jawab Cakra ketus. Dia mencoba berpikir waras supaya tidak memberi harapan pada perempuan di depannya. "Kenapa begitu? Bukankah aku masih cukup pantas untuk menerima buket mawar ini?" Si nenek makin ngeyel dan bersikap manja. Berkali-kali, Cakra mengembuskan napas panjang demi mengontrol emosi yang kapan pun bisa meledak. "Nek, tolong. Perbedaan usia kita cukup jauh. Kita lebih pantas menjadi cucu dengan neneknya. Maaf jika selama chating-an, aku pernah berkata kurang ajar dan nggak sopan. Lebih baik, mari lupakan semua yang pernah terjadi setahun ini." Cakra kembali menangkupkan kedua tangannya, benar-benar memohon supaya perempuan di depannya melupakan kemesraan yang terjadi selama ini. Andai perempuan di depannya menyebutkan umur sebenarnya, mungkin Cakra tidak akan berani melanjutkan rayuan bahkan gombalan romantis. Namun, Venya selalu mengatakan jika umurnya di bawah Cakra sehingga hubungan maya mereka terus berlanjut hingga setahun lebih. Venya memasukkan tangannya ke dalam tas, beberapa detik kemudian dia mengeluarkan map berwarna hitam. "Jika kamu mau menikah denganku. Semua ini akan menjadi milikmu." Menyodorkan map tersebut pada Cakra. Lelaki yang baru saja mendapatkan gelar magister itu menyipitkan mata. Lalu, berpikir cepat dengan menolak suap yang disodorkan si nenek. Si lelaki mendorong kembali map tersebut pada si nenek. "Maaf, aku bukan lelaki matre yang hanya bisa menikmati uang serta harta seorang perempuan dalam hidup. Aku punya harga diri, Nek," jelasnya. Sekilas saja, Cakra bisa membaca apa isi dari map tersebut. Tulisan di sampul map cukup menjelaskan semuanya. Sertifikat kepemilikan tanah dan gedung. Dia bukan lelaki yang haus akan harta benda. Keluarganya mengajarkan bahwa harta yang berkah, hanya bisa didapat dengan cara benar. Bukan seperti sekarang ini, menjual cinta pada perempuan yang tidak pantas untuk dinikahi. "Benar kamu nggak mau itu?" tanya lawan bicara Cakra. "Isinya sebuah rumah beserta sertifikat atas namamu. Ada juga sebidang sawah dan juga deposito senilai 100 juta. Apa kamu nggak mau? Kalau kamu setuju dengan lamaranku tadi, semua itu akan menjadi milikmu. Jadi, kamu nggak perlu capek-capek bekerja. Hidupmu akan lebih terjamin nantinya." Venya menarik garis bibirnya ke atas. Cakra mendengkus. "Harga diri seorang lelaki itu bekerja. Bagaimana mungkin nenek menyuruhku nggak kerja. Sekali aku mengatakan nggak, ya, nggak." Berdiri, hendak meninggalkan Venya. Suara Cakra mulai meninggi, emosinya sedikit terpancing. Beruntung, dia teringat nasihat sang mama yang harus menghormati semua orang tua, jadi dia merapalkan istighfar berkali-kali supaya kemarahannya tidak sampai menyakiti hati si nenek. "Apa semua yang aku berikan itu masih kurang? Gimana kalau aku tambah uang bulanan 10 juta?" Venya kembali menaikkan garis bibir untuk merayu lelaki muda di depannya. Membayangkan jika dirinya jalan berdua dengan perempuan yang pantas menjadi neneknya, seketika Cakra bergidik ngeri. Reflek dengan gerakan secepat mungkin menggelengkan kepalanya. "Sekali lagi, maafkan aku, Nek." Cakra meninggalkan sang nenek, kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda tadi. Dia harus mengelus dada dengan sikap perempuan sepuh di depannya yang pantang menyerah. "Tunggu," cegah si enek seperti kejadian sebelumnya. "Apa lagi, Nek?" tanya Cakra dengan suara lelah dan putus asa. "Gimana kalau aku berikan separuh saham dari perusahaan milik keluargaku, tapi syaratnya kamu harus menerima lamaran ini?" tawar Venya. Dia bahkan dengan berani memainkan alis untuk menggoda Cakra. Tangannya mulai bergerak ingin memegang lengan lelaki tampan di depannya. Mencoba menghindar supa tidak bersentuhan dengan si nenek. Menghela napas panjang, Cakra tak habis pikir dengan pemikiran wanita sepuh di depannya. "Harus berapa kali aku katakan, Nek. Aku nggak mau menerima apa pun tawaranmu. Jika Nenek memang benar-benar ingin menikah. Cari saja lelaki lain. Jangan aku, ya. Aku sama sekali nggak tertarik dengan semua tawaran dan iming-iming harta milik nenek. Permisi." Cepat, Cakra mengayunkan langkah meninggalkan perempuan sepuh itu. Namun, sang nenek malah dengan kuat mencengkeram pergelangan dan menariknya hingga mengakibatkan keseimbangan si lelaki goyah. Hal itu mengakibatkan tubuh atletisnya jatuh ke pelukan si nenek dan tanpa sengaja bibir mereka pun bertemu serta saling menempel. Dari belakang keduanya, ada seorang perempuan yang berteriak. "Mbak, aku sudah menemukan Nenek," teriaknya. Seorang perempuan berambut panjang hampir sepinggang melotot melihat adegan Cakra dan Venya. Penuh kemarahan, perempuan itu menarik pergelangan tangan Cakra. "Apa-apaan kalian? Kamu nggak malu melakukannya di depan umum seperti ini? Dasar cowok mokondo, bisa-bisanya berbuat mesum pada nenek-nenek," umpat si perempuan keras membuat sebagian pengunjung restoran yang sedang menikmati makan siang memperhatikan mereka. "Heh! Jangan asal nuduh," ucap Cakra tak terima. "Apanya yang asal nuduh. Semua bukti sudah jelas terlihat." Si cewek mendelik seolah-olah Cakra adalah lelaki bajingan yang sedang mencari mangsa untuk diperdaya dengan segala ketampanan yang dimilikinya. "Sialan! Kamu siapa? Jangan asal nuduh! Kalau nggak tahu asal muasal kejadian sebenarnya, mending mulutmu diem." Suara Cakra menggelegar. Wajahnya memerah, menahan amarah. Baru sekali ini, dia dikatai bajingan oleh seorang perempuan tak dikenal padahal lelaki itu terkenal baik. Selalu menghormati perempuan bahkan selama setahun menjalin kedekatan secara online dengan Venya, tidak sekalipun Cakra melakukan panggilan video demi menghormati keinginan perempuan itu. "Heh, lelaki mokondo nggak tahu diri," olok perempuan itu, sekali lagi. "Tutup mulut busukmu!" Cakra kelepasan. Dia membungkam bibir si cewek dengan tangannya yang kekar. Plak ... Beberapa detik kemudian suara tamparan terdengar.Happy Reading *****"Coba balas kalau berani," tantang Ari karena yakin sang kekasih tidak akan pernah bisa membalas perbuatannya tadi."Baby, kamu kok curang sih? Dah tahu Mas nggak akan pernah bisa membalas," keluh Cakra. Bibirnya maju dan bergerak-gerak lucu membuat Ari tertawa bahagia. "Aku tahu kalau Mas nggak bakalan bisa membalas." Ari menjulurkan lidahnya."Baby, nggak usah mengoda gitu, ih." Suara Cakra meninggi, bukan marah, tetapi berusaha menahan sesuatu yang tengah bergejolak di tubuhnya saat ini. "Lupakan, kita nggak boleh mengecewakan para orang tua yang sudah sangat percaya dan membiarkan kita pergi berduaan seperti sekarang.""Hmm. Makanya, jangan nakal kayak tadi. Kalau khilaf bahaya. Mas bisa nggak diakui sebagai anak Mama," kata Cakra yang membuat perempuan cantik di sampingnya tertawa keras. "Oke ... Oke. Aku janji nggak akan nakal kayak tadi.""Terima kasih, Baby." Cakra mengusap lembut kepala kekasihnya.Beberapa menit kemudian, pasangan yang baru meresmikan
Happy Reading ****Cakra tersenyum salah tingkah bahkan kini lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk mengalihkan perasaan salah tingkahnya. "Mas, pasti akan menjelaskan semuanya. Cuma, menjelaskan sesuatu itu kan butuh tenaga dan sekarang, perut Mas sudah keroncongan. Gimana kalau kita makan dulu aja?" alibi Cakra untuk mengalihkan pembahasan sebelumnya. "Huh, dasar. Ngeles aja kamu, Mas," kata Arimbi. "Tapi, emang bener Mas Cakra, Ma. Kita harus segera makan sebelum makanan yang kita pesan tadi dingin. Adek juga lapar, kok," sahut Kresna membela si sulung. "Ya, sudah. Ayo kita makan dulu," putus Sapta. "Ayo ... Ayo," sahut si nenek. Selesai acara makan bersama. Keluarga memberi kesempatan pada dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu untuk berduaan. Cakra tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Segera mengajak kekasihnya ke suatu tempat setelah meminta ijin pada si nenek untuk tidak langsung mengantarkan Ari pulang. "Mas, kita mau ke mana?" tanya Ari ketika jalan
Happy Reading*****Bukan cuma Cakra yang terkejut mendengar kalimat penolakan yang diucapkan Ari. Namun, seluruh anggota keluarga termasuk sang nenek juga terkejut. "Ar, bukannya kamu mengatakan sama nenek kalau sudah siap untuk menikah. Lalu, kenapa sekarang malah menolak?" Perempuan sepuh yang menjadi satu-satunya keluarga Ari tersebut tampak sangat tidak suka ketika sang cucu melakukan penolakan seperti tadi. "Nek, tenang," sahut Cakra begitu bijak tak mau wanita pujaannya mendapat marah. "Mungkin Ari punya alasan sendiri kenapa menolak pernikahan denganku. Jadi, kita dengarkan saja alasannya." "Benar kata Mas Cakra, Nek. Ari pasti memiliki alasan kenapa sampai nggak mau menikah dengan Mas Cakra dalam waktu dekat," tambah Arimbi. "Iya benar. Bukankah tadi, dia sangat antusias menerima lamaran Mas Cakra. Jadi, kalau sekarang menolak, pasti punya alasan yang kuat." Sapta mencoba menjadi penengah di antara nenek dan cucunya. Baginya, sosok perempuan yang dicintai si sulung adala
Happy Reading*****Cakra menatap semua orang dengan tatapan seperti orang yang teraniaya."Sembarangan kalau ngomong. Mas, aja nggak boleh meluk dia apalagi kamu. Ayo, Baby." Cakra mengarahkan sang kekasih tanpa menyentuh perempuan tersebut sedikitpun menuju kursi yang sudah disediakan. Lelaki itu begitu patuh dengan ucapan serta perkataan para orang tua. Apalagi ketika mendengar ucapan Sapta, setahun lebih dia sudah berhasil menahan diri, lalu mengapa hari ini Cakra tidak bisa menahan diri. Toh, tak lama lagi, Ari akan menjadi miliknya seutuhnya. "Duduk di sini, ya, Beb," bisik Cakra begitu lembut dan sangat merdu di telinga si perempuan. Hati perempuan yang selama ini dikenal galak dan judes itu berbunga-bunga. Ternyata, lelaki yang dikenal lewat maya, tidak hanya romantis ketika chatting saja. Namun, Cakra juga sangat romantis di dunia nyata. "Terima kasih, Sayang," ucap Ari ketika Cakra menyeret kursi untuk diduduki."Sama-sama, Baby," balas si lelaki dengan senyum semringah
Happy Reading*****"Hmm, gombal. Sejak kapan kamu jadi perayu ulung gitu, Mas?" kata Arimbi yang tak menyangka jika putra sulungnya pandai merayu seperti sekarang.Sapta merangkul sang istri. Lalu, berbisik tepat di telinga kiri Arimbi. "Mama nggak akan pernah menyangka jika bayi mungil yang kita besarkan saat itu sudah pandai merayu perempuan. Ah, waktu sungguh cepat berlalu dan mungkin sebentar lagi, kita akan segera menggendong bayi lagi, tapi cucu." Arimbi menoleh ke arah sang suami. "Iya, padahal rasanya baru kemarin Mas Cakra lulus sekolah," katanya menjawab perkataan sang suami. Cakra memutar bola mata sambil mengerucutkan bibir menatap sang Mama. Seolah-olah, lelaki itu mengatakan supaya Arimbi diam dan cuma bisa melihat apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan keinginan Arimbi. Mengerti arti tatapan putranya, Arimbi memutuskan untuk diam, melihat apa yang akan dilakukan sang putra sulung selanjutnya. Cakra kembali menatap Arimbi. Setelah melihat anggukan kepala perem
Happy Reading *****Ari kembali berjalan gontai ke arah ruangannya, hatinya mendadak sangat kacau. Semua pekerjaan yang dia lakukan berantakan bahkan hingga jam kerja berakhir, perempuan itu masih saja tidak bisa fokus pada pekerjaannya bahkan chat yang dikirimkan pada sang kekasih maya juga belum dibalas sama sekali. Suasana hati si bos makin kacau jadinya.Sore, sepulang kantor, Ari sengaja langsung menuju kamar neneknya. Walau hatinya, hancur. Dia harus tetap bisa bahagia melihat kebahagiaan satu-satunya keluarga yang disayangi. "Nek," panggil Ari manja. Perempuan itu langsung meletakkan kepalanya di pangkuan si nenek yang duduk di sofa sambil menonton tayangan favoritnya. "Tumben. Ada apa?" kata si nenek sambil menoleh. Perempuan sepuh itu melihat tampilan Ari yang semrawut."Besok, Nenek akan makan malam dengan keluarganya Cakra dan bahas tanggal pernikahan. Kayaknya, aku nggak bakalan ikut.""Kenapa?" Si nenek mengerutkan kening. "Kerjaanku banyak banget yang belum tersele







