Share

Dilema Sang Gadis
Dilema Sang Gadis
Penulis: Liam

Bab 1

Penulis: Liam
Namaku Lusy, seorang mahasiswi semester akhir yang sedang magang sebagai guru bahasa indonesia.

Demi memberikan kesan yang baik untuk para pimpinan sekolah, aku selalu berdandan dengan gaya yang anggun, cerdas dan sopan setiap hari.

Hari ini, aku mengenakan kemeja sutra berwarna putih krem. Bagian bawahnya kumasukkan ke dalam rok span berpotongan tinggi berwarna hitam, mempertegas lekuk pinggang dan pinggul yang kubanggakan selama ini.

Panjang roknya pun sangat pas. Saat berdiri jatuhnya tepat di atas lutut dan begitu duduk, roknya akan sedikit terangkat hingga ke tengah paha, memperlihatkan sebagian kulit putihku yang terbalut stoking super tipis.

Aku sangat puas dengan penampilanku hari ini, terlihat profesional, tapi tetap mempertahankan sisi feminim.

Namun dalam semua rencana matangku, aku sama sekali tak menyangka kalau kemacetan di jam pulang kantor hari ini akan separah ini.

Bus umum sudah seperti kaleng sarden yang penuh sesak.

Orang-orang berdiri berhimpitan tanpa ada celah sedikit pun. Setelah bersusah payah berdesakan untuk naik, aku langsung terdorong oleh gelombang penumpang di belakangku hingga terpojok ke sebuah sudut.

Berbagai tubuh yang terasa panas menghimpit tubuhku yang hanya berbalut pakaian tipis. Tak butuh waktu lama, kemeja yang kupilih dengan sepenuh hati mulai basah oleh keringat, samar-samar memperlihatkan warna kulit di baliknya.

Udara di dalam bus bercampur aduk antara bau keringat, parfum dan makanan, membuat suasana terasa pengap hingga aku hampir kesulitan bernapas.

Aku diam-diam menarik ujung rokku sedikit ke atas mencoba memberi jalan agar bagian bawah rok bisa terkena udara luar tanpa halangan.

Tepat saat itulah bus mulai berguncang hebat. Aku pun kehilangan keseimbangan dan langsung terjatuh ke arah belakang.

Namun, kejadian memalukan yang sempat kubayangkan tak terjadi.

Aku malah jatuh ke dalam sebuah dekapan yang terasa hangat. Pria itu mengerang pelan, lalu reflek mengangkat tangannya untuk menahanku. Sialnya, tangannya malah mendarat tepat di bagian rok yang sedang kuangkat… itu adalah batas atas stokingku.

Tangan pria itu terasa sangat panas. Meski terhalang stoking, kulitku seakan melepuh oleh suhunya yang tinggi, membuatku reflek gemetaran.

“Te… terima kasih.”

Aku bergumam pelan untuk berterima kasih atas bantuannya, sambil berdoa dalam hati agar dia segera melepaskan tangannya.

Hembusan napas di belakangku terdengar agak memberat. Kemudian, aku mendengar suara tawa samar dari pria itu.

Suara beratnya teredam oleh raungan mesin bus yang bising. Sepertinya dia mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya dengan jelas.

Kondisi di dalam bus masih sangat padat. Aku terus terdorong oleh kerumunan orang ke dalam pelukannya, tak bisa bergerak sama sekali.

Dada pria di belakangku terasa seperti besi panas yang menempel erat pada punggungku. Melalui kemeja sutra yang tipis ini, aku bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang stabil dan kuat.

Perlahan-lahan, detak jantung kami semakin kacau, tak bisa lagi dibedakan satu sama lain.

Guncangan bus membuatku terpaksa terus bergesekan di dalam dekapannya, membuat situasi ini terlihat seperti sedang….

Wajahku langsung merona. Aku berusaha keras menahan gejolak di hati yang terus muncul akibat kontak fisik yang tak terhindarkan dengan orang asing ini.

Aku mencoba menggeser tubuhku sedikit demi memberi jarak.

Namun, suara napas yang bercampur dengan tawaan kembali terdengar dari belakang. Detik berikutnya, aku merasakan tangan yang berada di pahaku mulai bergerak perlahan.

Ternyata… dia belum menarik tangannya?!

Aku langsung membeku.

Tangan itu terus bergerak nakal, menelusuri stokingku ke arah atas, seolah menikmati setiap getaran tubuhku yang muncul akibat sentuhannya. Hingga akhirnya, tangan itu berhenti tepat di batas atas stoking. Dengan satu jentikan, dia menarik ujung stokingku, lalu….

Plak! Stoking itu terlepas dan memantul kembali, meninggalkan bekas kemerahan di paha bagian dalamku.

Tubuhku pun gemetar hebat.

Anehnya, sebelum rasa perih itu benar-benar menjalar, aku malah merasakan sensasi nikmat yang tak bisa kukendalikan.

“Ah… tunggu sebentar….”

Sebelum kata-kata yang bercampur desakan itu lolos, aku langsung menggigit bibir kuat-kuat untuk menahannya.

Napas pria di belakangku pun menjadi semakin memburu dan berat.

Yang lebih parahnya lagi, aku merasakan ada sesuatu yang keras, tegang dan terasa sangat panas sedang menekan tepat di belahan bokongku.

Seketika, seluruh tubuhku menegang dan kepalaku rasanya langsung berdengung.

Guncangan bus masih terus berlanjut. Benda itu yang hanya terhalang beberapa lapis pakaian tipis, terus-menerus menyenggol bagian selangkanganku di tengah kerumunan, bahkan hampir saja menyentuh area yang paling sensitif….

Perlahan-lahan, aku bisa merasakan tubuhku menghangat. Rasa bergejolak itu berkali-kali menyerang tubuhku, sementara area pribadiku yang tersembunyi itu mulai terasa semakin basah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dilema Sang Gadis   Bab 7

    “Lusy, ingat baik-baik rasanya.”“Ingat, siapa… yang membuat dirimu jadi seperti ini.”Aku membencinya. Aku benci sikapnya yang dominan, benci kelakuannya yang tidak tahu malu dan benci bagaimana dia mengubahku menjadi wanita penuh gairah yang bahkan terasa asing bagi diriku sendiri.Namun di sisi lain, aku juga sudah tak bisa ditolong lagi. Aku terlanjur mencintai sensasi ini.Aku mencintai sensasi yang dia berikan… ketegangan dan gairah yang berjalan di batas terlarang, serta ketegangan dan kenikmatan yang menyertainya.Tubuhku telah sepenuhnya dieksplorasi dan dijinakkan olehnya.Cukup dengan sentuhan kecilnya, seluruh pertahananku akan runtuh berantakan.Aku mulai menantikan setiap pertemuan kami, menantikan saat dia melakukan hal-hal memalukan, sekaligus keterlaluan itu padaku.Aku bahkan mulai merasa cemburu.Cemburu pada wanita-wanita yang bisa berdiri di sampingnya secara terang-terangan di depan publik, cemburu karena mereka bisa memilikinya secara utuh.Sementara diriku hanya

  • Dilema Sang Gadis   Bab 6

    “Misalnya….” Pandangan mata Justin perlahan-lahan turun, beralih pada dadaku yang agak naik turun karena tegang.Baju tidurku sangat tipis, ditambah lagi potongannya berkerah V. Saat ini, pemandangan indah di baliknya terpampang jelas.Jakunnya bergerak naik turun menelan ludah, suaranya berubah menjadi agak serak.“Misalnya biarkan aku memeriksa apakah… Bu Lusy sudah benar-benar sembuh.”Sambil berbicara, tangannya langsung menyelinap masuk melalui kerah bajuku.“Jangan!” Aku menjerit panik dan reflek mencoba menahan tangannya.Namun, gerakannya jauh lebih cepat.Belum sempat aku bereaksi, dia sudah menggenggam gundukan lembut itu dengan sangat akurat.“Hmm, sepertinya pemulihannya berjalan sangat baik,” ujarnya dengan wajah tanpa dosa, sementara gerakan tangannya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.“Kenyal sekali.”Rasanya seluruh aliran darah di tubuhku langsung berdesir naik ke ubun-ubun.Rasa malu, marah dan sedikit… sensasi nikmat karena merasa sepenuhnya bera

  • Dilema Sang Gadis   Bab 5

    Kok… kok dia bisa mencari sampai ke sini?!Aku ketakutan seperti seekor kelinci, langsung meloncat dari sofa dan berdiri mematung dengan panik sambil menatap ke arah pintu. “Bu Lusy, buka pintunya.” Suara Justin terdengar memiliki wibawa yang tak menerima bantahan.“Mike sudah tiga hari nggak masuk sekolah. Sebagai ayahnya, aku tentu harus datang untuk memastikan apakah gurunya juga sedang mengidap penyakit yang sama.”Ucapannya seperti sebuah palu yang menghantam jantungku dengan keras.Barulah aku sadar. Aku mengambil izin sakit, si Mike nakal itu juga pasti ikut-ikutan ‘izin sakit’ untuk bermalas-malasan di rumah.Aku tak boleh bersembunyi lagi.Aku menarik napas dalam-dalam, melangkah mendekat, lalu membuka pintu kamarku.Di luar pintu, Justin berdiri dengan memakai pakaian kasual yang potongannya sangat pas di tubuh. Sambil menjinjing sebuah keranjang buah, dia menatapku dengan senyuman yang sulit diartikan.Pandangan matanya seperti X-ray, memindai tubuhku dari ujung kepala hing

  • Dilema Sang Gadis   Bab 4

    Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar air mata tak menetes.Penghinaan, kemarahan, rasa tak berdaya… berbagai emosi bercampur menjadi satu, bagaikan jaring rapat yang tak menyisakan celah, mengurungku erat-erat di dalamnya.Aku merasa seperti ikan di atas talenan, hanya bisa pasrah membiarkan dia melakukan apapun sesuka hati.Tangan Justin bergerak di kulit pinggang sampingku bagaikan seekor ular yang licin.Gerakannya sangat lambat, seakan sengaja mengulur waktu dan memberiku siksaan dalam bentuk godaan.Aku bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana ujung jarinya yang kasar meninggalkan jejak-jejak panas di atas kulitku yang halus.Setiap sentuhannya membuat darah di dalam tubuhku bergejolak tanpa bisa dikendalikan.Aku benci tubuhku yang tak bisa diajak bekerja sama ini.Padahal dalam hati, aku merasa ketakutan setengah mati, tapi tubuhku malah memberikan reaksi lain yang memalukan.Sebuah sensasi lemas yang asing, tapi terasa begi

  • Dilema Sang Gadis   Bab 3

    Satu kalimat itu langsung membuatku serasa tersambar petir.Bu Lusy?Kok… kok dia bisa tahu namaku?Aku sontak mendongak, menatapnya dengan penuh rasa curiga.Di kedalaman mata pria itu, kilatan cahaya yang tak kupahami tampak terpancar, seperti seorang pemburu yang sedang memandangi mangsa yang terjatuh ke dalam jebakannya.“Siapa… siapa kamu?” tanyaku dengan gemetar.Dia tak menjawab pertanyaanku. Tangan yang melingkar di pinggangku malah bergerak, ujung jarinya mengusap pelan bagian pinggangku yang lembut, seolah sedang menyiratkan sesuatu. “Rok yang Bu Lusy pakai hari ini sangat cocok.” Dia tak menjawab pertanyaanku, nadanya terdengar begitu intim hingga membuat jantungku bergetar, “Hanya saja agak sedikit pendek. Harus lebih hati-hati saat duduk.”Bom….Seketika, otakku langsung berhenti bekerja.Dia tak hanya tahu namaku, dia juga tahu apa yang kupakai, bahkan… sampai tahu kalau rokku akan terangkat saat duduk!Apa artinya ini?Artinya dia sudah mengawasiku sejak lama!Rasa nger

  • Dilema Sang Gadis   Bab 2

    Aku hanya bisa merapatkan kedua belahan bokongku sekuat tenaga, mencoba menggunakan kekuatan otot untuk menahan desakan di belakangku, sekaligus meredam rasa bergejolak yang sudah tak bisa kukendalikan lagi.“Pemberhentian berikutnya, Jalan Orchard. Bagi penumpang yang akan turun, harap bersiap-siap….”Suara pengeras suara bus berbunyi, memicu sedikit kegaduhan di dalam gerbong.Ibu-ibu di depanku yang membawa keranjang sayur hendak turun dan tiba-tiba menyenggolku dengan keras.Aku kehilangan keseimbangan, seluruh tubuhku langsung terdorong ke belakang.“Hm….”Aku mengerang pelan, merasa ada bagian tubuhku yang dihantam keras oleh benda keras itu.Sebuah sensasi ngilu dan lemas yang sulit dilukiskan langsung menjalar seperti aliran listrik, dari tulang ekor melesat menuju otakku.Seketika, kedua kakiku langsung terasa lemas.Di saat yang sama, aku bisa merasakan sensasi basah dan lengket di selangkanganku.Aku menggigit bibir kuat-kuat agar tak meloloskan suara yang lebih memalukan la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status