로그인Di dalam bus umum, aku terdorong oleh kerumunan orang sampai masuk ke pelukan seorang pria. Seiring dengan guncangan bus, tubuhku pun ikut bergoyang di dalam dekapannya. Hawa panas tubuh khas pria dan aromanya yang dominan langsung menyerang sarafku. Ditambah dengan benturan tubuh yang terjadi berulang kali, perlahan-lahan muncul sensasi bergejolak yang menjalar di tubuhku. Lama-kelamaan, aku merasa ada sesuatu yang keras menonjol di belakang pinggulku, menyenggol bagian selangkanganku berkali-kali. Sementara tangan pria itu menjelajah tubuhku dengan bebas, lalu suara yang terdengar seolah tersenyum berbisik tepat di telingaku. Eh… kok dia bisa tahu siapa diriku?
더 보기“Lusy, ingat baik-baik rasanya.”“Ingat, siapa… yang membuat dirimu jadi seperti ini.”Aku membencinya. Aku benci sikapnya yang dominan, benci kelakuannya yang tidak tahu malu dan benci bagaimana dia mengubahku menjadi wanita penuh gairah yang bahkan terasa asing bagi diriku sendiri.Namun di sisi lain, aku juga sudah tak bisa ditolong lagi. Aku terlanjur mencintai sensasi ini.Aku mencintai sensasi yang dia berikan… ketegangan dan gairah yang berjalan di batas terlarang, serta ketegangan dan kenikmatan yang menyertainya.Tubuhku telah sepenuhnya dieksplorasi dan dijinakkan olehnya.Cukup dengan sentuhan kecilnya, seluruh pertahananku akan runtuh berantakan.Aku mulai menantikan setiap pertemuan kami, menantikan saat dia melakukan hal-hal memalukan, sekaligus keterlaluan itu padaku.Aku bahkan mulai merasa cemburu.Cemburu pada wanita-wanita yang bisa berdiri di sampingnya secara terang-terangan di depan publik, cemburu karena mereka bisa memilikinya secara utuh.Sementara diriku hanya
“Misalnya….” Pandangan mata Justin perlahan-lahan turun, beralih pada dadaku yang agak naik turun karena tegang.Baju tidurku sangat tipis, ditambah lagi potongannya berkerah V. Saat ini, pemandangan indah di baliknya terpampang jelas.Jakunnya bergerak naik turun menelan ludah, suaranya berubah menjadi agak serak.“Misalnya biarkan aku memeriksa apakah… Bu Lusy sudah benar-benar sembuh.”Sambil berbicara, tangannya langsung menyelinap masuk melalui kerah bajuku.“Jangan!” Aku menjerit panik dan reflek mencoba menahan tangannya.Namun, gerakannya jauh lebih cepat.Belum sempat aku bereaksi, dia sudah menggenggam gundukan lembut itu dengan sangat akurat.“Hmm, sepertinya pemulihannya berjalan sangat baik,” ujarnya dengan wajah tanpa dosa, sementara gerakan tangannya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.“Kenyal sekali.”Rasanya seluruh aliran darah di tubuhku langsung berdesir naik ke ubun-ubun.Rasa malu, marah dan sedikit… sensasi nikmat karena merasa sepenuhnya bera
Kok… kok dia bisa mencari sampai ke sini?!Aku ketakutan seperti seekor kelinci, langsung meloncat dari sofa dan berdiri mematung dengan panik sambil menatap ke arah pintu. “Bu Lusy, buka pintunya.” Suara Justin terdengar memiliki wibawa yang tak menerima bantahan.“Mike sudah tiga hari nggak masuk sekolah. Sebagai ayahnya, aku tentu harus datang untuk memastikan apakah gurunya juga sedang mengidap penyakit yang sama.”Ucapannya seperti sebuah palu yang menghantam jantungku dengan keras.Barulah aku sadar. Aku mengambil izin sakit, si Mike nakal itu juga pasti ikut-ikutan ‘izin sakit’ untuk bermalas-malasan di rumah.Aku tak boleh bersembunyi lagi.Aku menarik napas dalam-dalam, melangkah mendekat, lalu membuka pintu kamarku.Di luar pintu, Justin berdiri dengan memakai pakaian kasual yang potongannya sangat pas di tubuh. Sambil menjinjing sebuah keranjang buah, dia menatapku dengan senyuman yang sulit diartikan.Pandangan matanya seperti X-ray, memindai tubuhku dari ujung kepala hing
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat agar air mata tak menetes.Penghinaan, kemarahan, rasa tak berdaya… berbagai emosi bercampur menjadi satu, bagaikan jaring rapat yang tak menyisakan celah, mengurungku erat-erat di dalamnya.Aku merasa seperti ikan di atas talenan, hanya bisa pasrah membiarkan dia melakukan apapun sesuka hati.Tangan Justin bergerak di kulit pinggang sampingku bagaikan seekor ular yang licin.Gerakannya sangat lambat, seakan sengaja mengulur waktu dan memberiku siksaan dalam bentuk godaan.Aku bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana ujung jarinya yang kasar meninggalkan jejak-jejak panas di atas kulitku yang halus.Setiap sentuhannya membuat darah di dalam tubuhku bergejolak tanpa bisa dikendalikan.Aku benci tubuhku yang tak bisa diajak bekerja sama ini.Padahal dalam hati, aku merasa ketakutan setengah mati, tapi tubuhku malah memberikan reaksi lain yang memalukan.Sebuah sensasi lemas yang asing, tapi terasa begi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.