MasukAku terkejut saat membuka pintu dan mendapati Mas Adnan meringkuk dan hampir terinjak olehku. Mungkin semalaman ia tidur di depan pintu kamar ini karena aku tak kunjung membuka pintu untuknya.
Beberapa kali ia memang mengirim pesan agar aku membuka pintu, namun aku tak membukanya karena moodku terlanjur kacau oleh bentakannya itu."Inara?" gumam Mas Adnan seraya bangun, ia langsung meraih kedua tanganku dan kembali meminta maaf."Aku benar-benar tak bermaksud membentakmu, sayang. Maafkan aku!" ucapnya."Iya, gak papa kok, mas! Mungkin aku memang harus terbiasa dengan semua perubahan ini," sahutku seraya melanjutkan langkahku.Saat ini aku hendak membuatkan susu untuk Dara, namun ternyata begitu aku kembali ke kamar di sana sudah ada Karin yang sedang bermain bersama Dara.Melihat wanita itu, seketika aku teringat kejadian kemarin, aku langsung menghampirinya dan memintanya untuk berhenti bekerja dengan alasan agar Dara bisa lebiSetelah mendengar apa yang Selvia tuduhkan, sepertinya itu hanya sebuah kesalahpahaman karena mungkin semasa hidupnya Karin mengadukan sesuatu yang tidak-tidak padanya. Tapi, meski begitu, aku perlu meluruskan semuanya. Aku tak ingin hidupku terus dibayang-bayangi oleh Karin ataupun Selvia.Untungnya, Selvia tidak terlalu keras kepala, ia mau mendengarkan apa yang hendak kujelaskan tentang masalalu Karin dan Mas Adnan. Beruntungnya saja aku kenal Lila dan sempat mendengar ceritanya. Kuharap, dengan keterangan dari Lila dan bukti nyata itu Selvia bisa percaya bahwa tidak sepenuhnya yang Karin ceritakan itu selalu benar.Tak membuang waktu terlalu banyak, akupun segera mengajak Selvia untuk bertemu Lila sekalian kami makan siang bareng. Aku menghubungi Lila untuk bertemu di restoran terdekat dari toko Mas Adnan.Pertemuan dimulai, aku menceritakan kesalahpahaman Selvia, kemudian meminta Lila untuk kembali menceritakan Karin saat berada di keluarga mereka."Maaf, ya mbak. Tapi, sejak ken
Namun keterkejutan diwajahnya tak berlangsung lama. Selvia tersenyum sinis padaku. Ia melipat kedua tangannya didada seraya membuang muka."Kebetulan kamu sudah mendengar semuanya. Biar sekalian saja kamu tau, semoga kamu lebih kuat dari apa yang Adnan khawatirkan, ya!" ucapnya dengan nada mengejek.Mas Adnan menatapku dengan penuh ke khawatiran. Mungkin ia sedang mengkhawatirkan kondisiku, atau justru ia sedang mengkhawatirkan aku akan kembali salah paham padanya. Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan senyum hangat, semoga hal itu membuatnya mengerti bahwa aku akan baik-baik saja.Aku kembali mengalihkan pandanganku pada Selvia. Dengan tenang aku bertanya padanya, "Kenapa kamu mau menuntut kami?" Aku sedikit menarik bahunya agar ia menatapku."Cih, tentu saja karena aku yakin Karin sengaja kalian singkirkan!" sahutnya dengan tatapan tajam."Ini semua kecelakaan. Kami gak sekejam itu!" tekanku.Mas Adnan menarikku untuk duduk, beberapa kali ia mengusap-usap bahuku, ia juga menyuru
Saat memasuki ruang makan, aroma lezat yang menggugah selera langsung memenuhi udara, membuat perutku keroncongan dengan keras. Bau masakan yang harum dan menggoda membuatku tak sabar untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan. Aku sangat terkesan dengan kemampuan memasak ibu yang ternyata sangat handal.Selama menjadi istri Mas Adnan, aku yang selalu bertanggung jawab atas urusan dapur dan rumah. Namun, hari ini aku merasa sedang di ratukan oleh ibu karena ibu telah melakukan semua pekerjaan rumah. Tak hanya makanan yang lezat dan tersaji dengan rapi, rumah pun nampak sudah bersih dan tertata, serta pakaian kotor nampak sedang dicuci dalam mesin cuci.Kuhampiri ibu yang sedang menata piring di atas meja, dan kupegang tangannya hingga ia menghentikan aktivitasnya. "Ibu, kenapa ibu melakukan semuanya sendiri?" tanyaku pelan, sambil memandang ibu dengan penuh haru dan rasa terima kasih.Ibu tersenyum seraya menggenggam tanganku, "Gak papa, selama kamu jadi istrinya Adnan, ibu gak pe
Aku sedikit terkejut saat sinar mentari yang menyilaukan menembus tirai-tirai di kamarku, membangunkan ku dari tidur lelap. Dengan cepat aku segera bangkit, mengikat rambutku secara asal, benang-benang rambut kusut tergerai di wajahku. Aroma lezat masakan sudah tercium oleh hidungku, sepertinya ibu sudah mulai sibuk di dapur. Aku menggeser tubuhku untuk turun dari tempat tidur, namun belum sempat kakiku menyentuh lantai, tangan Mas Adnan dengan lembut menarikku kembali hingga aku berbaring di sampingnya, wajahnya yang tampan tersenyum manis menghiasi pagi itu. "Belum boleh pergi, masih pagi," bisikannya, membuatku tersenyum dan merasa hangat di hati."Gak enak mas, kayanya ibu udah sibuk di dapur," sahutku, mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Namun, Mas Adnan mengeratkan pelukannya, ia menyusupkan wajahnya di ceruk leherku, membuatku merasa merinding dengan jantung berdebar kencang.Ibu bisa masak sendiri, yang penting kamu istirahat dulu," gumamnya, napas hangatnya mengenai ku
Dara menangis seraya memegang nisan yang bertuliskan nama Karin. Aku dan Mas Adnan ikut berjongkok di sampingnya dan mencoba untuk tetap menenangkan Dara."Dala mau bilang sesuatu. Tapi kalau mama di dalam, kedengelan gak, ya?" gumamnya nampak bingung."Gak papa sayang, bilang aja. Insyaallah mama denger kok. Jangan lupa, doain mama juga ya, biar mama bisa masuk surga," ucap Mas Adnan lembut.Dara mengangguk seraya menyeka air matanya. Ia kemudian membenarkan posisi jongkoknya agar lebih dekat lagi dengan nisan Karin. Ia bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya seolah ia ingin berbisik pada nisan tersebut."Mama, Dala udah ambil keputusan, Dala gak mau ninggalin bunda. Dala mau tinggal sama ayah dan bunda aja. Bukan Dala gak sayang mama, tapi... Kak Lila bilang yang lahilin Dala itu bunda, dan katanya lahilin itu sakiiiit banget, Dala jadi kasian sama bunda," ucap Dara terbata-bata.Aku lagi-lagi terkejut dengan kata-kata Dara barusan. Entah apa sebabnya dia sampai bicara seperti itu."K
"Ayah, mama mana?" tanya Dara, suara kecilnya memecah kesunyian."Uhukk!" Aku dan Mas Adnan yang sedang menikmati makanan langsung terbatuk serentak, saling menatap dengan rasa tidak enak. Kami tahu saatnya Dara harus tahu, tapi aku masih bingung memilih kata-kata yang tepat."Sayang, sebenarnya mama ada di suatu tempat... mungkin Dara tidak bisa bertemu lagi dengan mama," Mas Adnan akhirnya berbicara, suaranya lembut dan hati-hati."Dimana yah? Jauh, ya?" tanya Dara polos, mata besarnya penuh rasa ingin tahu.Aku dan Mas Adnan tersenyum getir, lalu aku mengusap rambut Dara dengan lembut. "Iya, sayang. Mama ada di surga," jawabku, mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana."Mama pelgi kok gak bilang dulu sama Dala? Mama malah ya sama Dala?" gumam Dara, raut kecewanya terlihat jelas di wajahnya yang kecil. Aku merasa sakit hati melihatnya, kupeluk erat tubuhnya dan mencium pucuk kepalanya beberapa kali."Tapi Dara gak usah sedih. Ada ayah dan bunda yang akan selalu jagain D







