MasukDi hari pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan keluarga Djayadi, sebuah pengkhianatan terjadi di balik pintu yang terkunci. Saat janji suci tinggal hitungan jam, Shaka justru berlutut di hadapan Sekar, memuja rahimnya, dan berbisik parau "Persetan dengan pernikahan ini. Aku nggak peduli pada Nadira. Aku hanya ingin kamu, Sekar... Aku ingin menanamkan benihku di sini, di rahimmu." Bagi Shaka, ini adalah cinta mati yang tak terkendali. Bagi Sekar, ini adalah pembalasan yang manis.
Lihat lebih banyakPlak!
Suara tamparan itu menggema di kamar rias pengantin Grand Serenity, memutus paksa keheningan yang semula hanya diisi dengung AC. Tawa renyah adik tiriku dan sanjungan MUA yang memenuhi ruangan mendadak lenyap, berganti kesunyian yang mencekam. Pipiku panas dan berdenyut, tapi aku tak berniat membalas. Aku justru membiarkan kepalaku terayun ke samping, memastikan helaian rambutku terlepas dari sanggul sederhana dan jatuh menutupi wajah dengan dramatis. Ada rasa perih yang merayap di sudut bibirku-mungkin pecah. Namun, di balik tirai rambut itu, aku tersenyum. "Dasar perempuan murahan!" geram Rena Wardhani. Napas ibu tiriku itu memburu, membuat wajahnya yang kencang karena botoks tampak kaku sekaligus mengerikan. "Jangan pikir aku buta! Aku melihatmu keluar dari kamar Shaka tadi malam!" Aku perlahan mengangkat wajah. Mataku mulai berkaca-kaca-sebuah refleks yang telah kulatih selama bertahun-tahun di depan cermin. Satu tetes air mata jatuh dengan presisi yang sempurna tepat saat pintu di belakang kami sedikit terbuka. Aku tahu itu Shaka. Aku sudah menghitung irama langkah kakinya sejak ia masih berada di ujung lorong. "Mama, aku cuma mengantarkan map dokumen Papa yang tertinggal," suaraku bergetar, nyaris tertelan udara. Aku meremas ujung kebaya abu-abu sederhana yang kukenakan. "Mas Shaka juga hanya minta pendapat soal kejutan ulang tahun Nadira setelah mereka menikah nanti." "Omong kosong!" Rena kembali mengangkat tangannya, siap melayangkan tamparan kedua. "Kamu selalu menggunakan wajah polos itu untuk menggoda laki-laki!" "Cukup." Suara berat dari arah belakangku memotong udara layaknya bilah pisau. Shaka melangkah masuk. Jas pengantinnya belum dikenakan, hanya kemeja putih dengan dasi yang masih menggantung lepas. Rahangnya mengatup rapat, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meluap. Ia berdiri tepat di depanku, memunggungi Rena, menjadikan tubuh tegapnya sebagai tameng yang melindungiku. "Shaka, ini tidak seperti yang kamu kira, Nak." suara Rena mendadak melunak, penuh kepanikan yang canggung. "Aku melihat semuanya, Tante," ujar Shaka dingin. Ia berbalik, menatap tajam wanita yang selama sepuluh tahun ini memerintah di rumahku. "Sekar selalu mengalah pada Nadira. Dia yang mengurus vendor, rundown, bahkan fitting terakhir gaun ini saat Nadira mengeluh lelah. Dia hampir tidak tidur dua malam, dan ini balasan yang Anda berikan?" Aku menunduk, menyembunyikan kilat kemenangan yang tak boleh terlihat. Di pantulan cermin, aku melihat diriku: Sekar, si anak tiri yang malang, diapit oleh calon pengantin pria yang protektif dan ibu tiri yang mulai kehilangan kendali. Bodoh! pikirku sambil melirik bayangan Rena. Kamu baru saja menyerahkan posisi paling aman kepadaku. Nadira, yang sedari tadi bersikap acuh tak acuh di kursi rias, akhirnya bangkit. Gaun pengantinnya menjuntai anggun, sebuah kemewahan yang kontras dengan kebaya sederhanaku. Wajah cantiknya tampak kebingungan menyembunyikan kecemasan. "Ada apa ini, Mas?" tanyanya pelan. Pura-pura tidak tahu-peran favorit Nadira. Shaka tidak melepaskan tangannya dari lenganku. Jemarinya justru mengerat, sebuah refleks protektif yang lahir dari rasa bersalah yang telah kutanam dengan rapi selama berbulan-bulan. "Tanya ibumu," jawab Shaka singkat dan dingin. Aku segera menarik lenganku dengan gerakan halus, seolah tak ingin memperkeruh suasana. Aku melangkah mendekati Nadira dan menggenggam tangannya, wajahku memancarkan rasa bersalah yang nyaris tanpa celah. "Dira, maafin Kakak," ucapku dengan suara pecah. "Ini salah Kakak yang membuat Mama marah. Tolong, jangan bertengkar di hari bahagiamu." Nadira menatapku ragu. Ia melihat sudut bibirku yang memerah dan rambutku yang berantakan. Sebagai adik yang selama ini kumanjakan, ia terjebak: membela ibunya atau menjaga citra malaikatnya di depan Shaka. "Kak Sekar, pipimu harus dikompres," bisiknya. Ia menoleh cepat ke arah ibunya. "Mama kenapa harus pakai kekerasan, sih? Aku percaya Mas Shaka dan Kak Sekar. Lagi pula, semalam Kak Sekar sudah izin padaku." Rena terdiam. Untuk pertama kalinya, lidahnya kelu. Tangannya yang gemetar perlahan turun-mungkin karena marah, atau mungkin karena ia sadar kendalinya mulai runtuh satu per satu. "Izin?" suaranya parau. "Kamu membelanya?" Nadira menghela napas, sebuah gerakan kecil yang tak luput dari pandangan Shaka. "Ini hari pernikahanku, Ma," katanya dengan ketegasan yang baru. "Aku nggak mau ada keributan. Tolong." Kata tolong itu terasa seperti belati yang menghujam Rena. Shaka melangkah maju. "Aku juga minta hal yang sama, Tante. Jangan ulangi ini lagi." Hening kembali menguasai ruangan. Aku meringis pelan saat MUA mendekat membawa kompres es. "Nggak apa-apa," kataku lirih. Sebuah kalimat sederhana yang efeknya mematikan, karena Shaka langsung menoleh dengan tatapan penuh penyesalan dan dorongan naluriah untuk melindungi. Shaka masih bergeming di dekatku. Pandangannya terpaku pada tanganku yang sengaja kubuat gemetar untuk memancing ibanya lebih dalam. "Mas, pergilah bersiap," bisikku, menatapnya dengan binar mata pasrah. "Tamu-tamu Papa sudah datang. Jangan sampai mereka melihat pengantin prianya berantakan." Shaka menarik napas panjang. Sebelum berbalik, ia menyentuh bahuku sekilas-sebuah gestur yang sangat tidak pantas dilakukan calon pengantin pria kepada kakak iparnya di depan calon istrinya sendiri. Rena melihat itu. Wajahnya memucat. Ia tahu, setiap kali ia menyerangku, ia justru mendorong Shaka selangkah lebih dekat ke pelukanku. *** Pintu kamar rias menutup dengan bunyi klik yang halus, namun gema kehadiran Shaka seolah masih tertinggal di udara. Baru setelah langkahnya menjauh, aku membiarkan bahuku merosot. MUA menepuk-nepuk pipiku dengan hati-hati, menutupi bekas tamparan itu dengan concealer. "Aku ke ballroom dulu," kataku sopan setelah selesai. Aku melangkah keluar. Lorong Grand Serenity tampak lengang dengan karpet tebal dan lampu dinding keemasan. Baru beberapa langkah, sebuah pintu kamar di depanku terbuka. Shaka. Ia berdiri di sana dengan jas hitam yang sempurna. Wajahnya tenang, namun matanya bergejolak. Tanpa berkata-kata, ia meraih pergelangan tanganku dan menarikku masuk ke dalam ruangan itu. Pintu menutup rapat. Ruangan itu sunyi. Jarak di antara kami lenyap. "Mas..." suaraku tertahan saat punggungku menyentuh daun pintu. Shaka berdiri terlalu dekat. Aroma parfumnya yang maskulin mengepung indra penciumanku. Tangannya mengunci di sisi kepalaku. "Aku ingin membatalkan pernikahan ini," katanya lirih, seperti sebuah pengakuan dosa. Lalu ciuman itu datang tiba-tiba. Bukan ciuman yang lembut, melainkan ledakan frustrasi dan hasrat yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Aku membalasnya sesaat-bukan karena kehilangan kendali, tapi untuk memberinya ilusi bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Aku menarik diri dengan napas terputus-putus, mendorong dadanya pelan. "Mas... jangan. Ini salah. Kamu akan menikah." Shaka membeku, dahi kami bersentuhan. "Aku nggak peduli," katanya parau. "Kita sudah melewati batas sejak semalam, Sekar." Shaka menurunkan tangannya, meraba perutku dengan kelembutan yang posesif. Matanya menatapku seolah ingin menembus sukmaku. "Aku harap benihku tumbuh di rahimmu, Sekar."Hari-hariku berikutnya aku lalui dalam kebahagiaan. Bumi adalah sumber kebahagiaanku saat ini. Hingga tidak terasa aku dan Bumi sudah diperbolehkan pulang."Mas, katanya ada rapat sama investor hari ini?" Aku memandang Shaka yang sedang memerintahkan asistennya untuk membawa koper berisi perlengkapan bayi dan bajuku selama di rumah sakit."Sudah aku undur." Shaka mengambil Bima dari pangkuanku."Mas, aku dan Bumi bisa pulang sendiri.""No," Shaka menggeleng. "Kalian jauh lebih penting daripada investor."Aku tertawa kecil sambil mengikuti Shaka keluar ruangan. Tangannya yang bebas menggenggam tanganku."Kamu mau tinggal di apartemen atau di rumah, Sekar?" tanya Shaka."Terserah, Mas.""Kita tinggal di rumah aja, ya.""Apa nggak jauh dari kantor, Mas?" Shaka menggeleng, "Aku sudah mengajukan cuti selama tiga bulan."Aku tertawa lagi, "Kasihan asistenmu, Mas.""Biar," Shaka ikut tertawa. "Itu sudah tugas mereka kok."Genggaman tanganku semakin erat, "Kalau Papa dan Mama bagaimana, Mas?
Tanganku terkapar layu di atas sprei yang masih basah oleh peluh. Otot-otot di seluruh tubuhku rasanya lepas dari sendinya, meninggalkan rasa ngilu yang berdenyut dari pinggang hingga ke ujung kaki. Napasku mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat memburu oksigen di tengah pacuan rasa sakit sejam yang lalu. Di sebelah ranjang, Shaka masih berlutut. Tinggi badannya yang biasa membuat orang lain merasa kerdil kini terpangkas, membuatnya sejajar dengan kasur tempatku terbaring. Bayi kami tidur pulas di dalam sanggaan dua telapak tangannya yang lebar. Selimut kuning berpola beruang itu terangkat naik turun secara ritmis mengikuti tarikan napas halus si kecil. Jemari mungil bayi itu masih mengunci ujung kancing kemeja Shaka. Kain putih kemeja itu sudah melar ditarik oleh kekuatan kecil yang baru berusia hitungan menit. Shaka sama sekali tidak berusaha melepaskannya. Ia membiarkan benang kemejanya tegang, seolah pergerakan sekecil apa pun akan mematahkan momen langka yang sedang berp
Satu bulan berlalu.Suara mesin detak jantung berbunyi konstan di dalam ruangan beraroma antiseptik yang tajam. Tirai putih di samping tempat tidurku sesekali berkibar pelan terkena hembusan pendingin udara.Aku berbaring pasrah di atas ranjang. Rambutku lepek menempel di dahi dan pelipis. Napasku masih terengah-engah, dada turun naik mengikuti rasa lelah yang luar biasa. Sprei di bawah tubuhku yang kuremas sepanjang beberapa jam terakhir kini kusut bergelombang.Di sisi kanan ranjang, Shaka berdiri. Kemeja putih yang ia kenakan sejak pagi tadi sudah berkerut parah, dua kancing atasnya terbuka, dan lengan bajunya tergulung tidak rapi di atas siku. Keringat mengering di leher dan dahinya. Ibu jarinya yang kasar masih terikat erat pada genggaman jemariku—bahkan bekas garis memar kemerahan akibat cengkeramanku saat puncak kontraksi tadi masih berjejak jelas di punggung tangannya."Owekkk... owekkk..."Suara tangisan melengking yang pecah di sudut ruangan memotong sunyi. Seorang perawat b
Malam itu, Shaka pulang tepat waktu. Jam dinding baru menunjuk angka tujuh ketika suara kunci pintu berputar.Aku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen berbalik. Shaka masuk membawa dua kantong kertas berisi buah-buahan segar dan makanan hangat. Kemeja kerjanya masih rapi, meski dasinya sudah dilonggarkan. Tidak ada raut panik, tidak ada kesan pria yang baru kehilangan arah. Perusahaan rintisan yang ia bangun sendiri selama beberapa tahun terakhir memang berjalan stabil, cukup untuk menopang kehidupan kami tanpa perlu menyentuh satu sen pun uang keluarga Adhitama. Fasilitasnya boleh dicabut, tapi Shaka bukan pria tanpa persiapan.Ia meletakkan kantong kertas di meja dapur, lalu berjalan mendekatiku. Tangan hangatnya langsung mendarat di perutku yang membuncit keras, menyapa si kecil yang merespons dengan satu tendangan halus."Dia aktif malam ini," gumam Shaka. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi matanya menyimpankan lelah yang berbeda."Mas baru bertemu Papa?" tanyaku pel


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan