로그인Napas Kiran memburu mengikuti derap langkahnya yang begitu cepat menyusuri koridor rumah sakit.
Wajahnya pucat pasi, air matanya nyaris tumpah dari pelupuk mata.
Hampir tiba di ruangan sang ayah. Mata sendu Kiran tertuju pada Widya yang berdiri di depan pintu ruang inap ayahnya.
Kaki Kiran terayun semakin lebar menghampiri sa
“Kiran, aku benar-benar tulus dengan apa yang aku lakukan. Apa kamu tidak bisa memaafkanku? Aku tahu jika salah, dan aku tidak bisa melihatmu bersikap dingin padaku seperti ini.”Yessica harus terus membujuk. Mendekati Kiran agar terhindar dari kecurigaan.Dia aman karena sekarang Kiran hilang ingatan, tetapi tidak tahu kapan Kiran akan kembali ingat dan membongkar, apa yang pernah dia lakukan.Kiran masih diam mendengar ucapan Yessica.Sampai akhirnya napas panjang diembuskan dari bibir Kiran.Senyum Kiran diangkat tipis.Sikap manis Yessica yang jauh berbeda dari sikap sebelumnya, membuat Kiran semakin tidak nyaman.“Tidak ada yang bersikap dingin.” Kiran kembali bicara. “Hanya saja, semua ini masih terasa canggung bagiku. Aku tidak ingat siapa kamu dan bagaimana hubungan kita dulu, jadi jangan memaksaku untuk langsung menerima semua ini.” Nada bicara Kiran penuh penekanan.Yessica mengangguk dengan senyum penuh sandiwara. “Ya, aku mengerti.”“Meski kamu belum terbiasa, tapi aku leg
“Aku tidak bisa.”Nada bicara Kiran pelan tetapi penuh penekanan.Kiran mau melangkah, tetapi Yessica menggenggam tangannya dengan erat.“Kiran, apa kamu masih marah padaku? Aku bersungguh-sungguh ingin memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Aku tidak ada maksud lain.”Kiran menatap Yessica yang memandangnya dengan penuh harap.Dilihat banyak orang seperti ini, sangat tidak nyaman untuk Kiran.Kiran menarik pelan tangan dari genggaman Yessica. “Baiklah, tapi tidak sampai larut malam.”Senyum Yessica terangkat lebar. “Baiklah, aku hanya mau mengajakmu jalan ke mall. Seperti dulu saat kita jalan berdua bersama.”Kiran belum bisa mengingat masa kecilnya sedikit pun.Tetapi sikap dan ucapan Yessica saat ini sangat meyakinkan kalau mereka memang dulu sangat dekat.Yessica mengajak Kiran ke mobil yang menunggu di depan.Sebelum masuk ke dalam mobil, tatapan Kiran tertuju pada sopir yang duduk di belakang setir.Pria paruh baya ini yang biasa mengantar Noah, Kiran bisa sedikit t
Bibir Kiran terlipat dalam. Dia buru-buru berdiri, lalu mengambil rantang di atas meja.Kiran melirik sejenak ke Elvano, sebelum melangkah menjauh.Saat akan melewati Aksa yang berdiri di dekat pintu, Kiran lebih dulu membungkukkan tubuhnya. “Saya permisi dulu, Pak Aksa.” Kiran melewati Aksa begitu saja. Panik dan malu bercampur menjadi satu.Sedang Aksa menatap kepergian Kiran dengan kening berkerut dalam.Begitu pintu tertutup, tatapan Aksa kini beralih pada Elvano yang baru saja bangkit dari duduknya.“Kalian ….” Aksa sengaja menjeda kalimatnya.Tatapannya penuh curiga.Dia tidak melihat jelas apa yang baru saja Elvano dan Kiran lakukan, tetapi dia melihat kepanikan di wajah Kiran.“Kami kenapa? Tidak ada salahnya mencium calon istri, tapi Papa keburu masuk ruangan.” Setelah bicara, senyum Elvano dilebarkan sempurna.Bola mata Aksa membulat lebar.Bisa-bisanya putranya ini bicara dengan sangat blak-blakkan.“Calon istri?” Nada bicara Aksa penuh penekanan. “Memangnya kamu sudah mem
Kiran tersenyum geli mendengar pertanyaan Elvano.Dia menegakkan tubuhnya. Duduk sedikit miring menghadap Elvano.“Tidak, mereka tidak melakukan itu.” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mereka senang bisa bertemu denganku.”“Bagaimana denganmu?” Pertanyaan Elvano mengembangkan senyum Kiran. “Aku hanya lega, tapi tidak tahu apakah itu perasaan senang dan bahagia, atau hanya menerima.” Pasti tidak mudah untuk Kiran menerima begitu saja keluarganya setelah bertahun-tahun berpisah. Elvano memahaminya.“Tidak apa-apa. Kamu berhak mengungkap perasaanmu tanpa tekanan.” Tangan Elvano terulur untuk mengusap rambut Kiran.Kiran mengangguk-angguk manja, sampai dia teringat Yessica.“Masalahnya, sekarang aku bersaudara dengan wanita sombong itu.” Kiran mengembuskan napas kasar setelah bicara. Dia tidak rela memiliki hubungan status dengan wanita yang suka berbuat semena-mena.“Wanita sombong?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. “Maksudmu wanita yang berdebat denganmu di toko tas? Siapa namany
Kiran menatap Elvano yang masih berdiri.“El, kenapa masih tidak duduk.” Kiran menarik tangan Elvano, membawa sang kekasih duduk di dekatnya.Setelahnya Kiran mengambil rantang dari atas piring. Kini dia memegang satu rantang di tangan kiri, lalu tangan kanan memegang sendok.Mendapati Kiran tak menyodorkan sendok untuknya, mata Elvano menelisik ke meja, mencari-cari benda itu.“Mana sendokku?” Elvano kembali menatap pada Kiran, dia tak menemukan sendok selain yang ada di tangan Kiran.Senyum Kiran melebar. Kiran mengangkat sendok yang sudah berisi suapan makanan.“Untuk apa sendok lain? Aku yang akan menyuapimu hari ini.”Elvano menatap tak percaya, tetapi juga senang mendapat perhatian dari Kiran.“Buka mulutmu.” Satu suapan siap dimasukkan ke dalam mulu Elvano.Elvano membuka mulut. Dia menerima suapan dari Kiran.Tak hanya sekali, beberapa kali Kiran menyuapkan makanan ke mulut Elvano.“Kamu tidak makan?” Permukaan jempol Elvano menyentuh bibirnya yang terkena sisa makanan. Tatapa
Kiran menatap bingung.Kelopak matanya mengedip beberapa kali.“Melakukan apa, Bibi?”“Ini pun masih tanya.” Alina menepuk-nepuk pelan punggung Kiran. “Tentu saja, membujuk El. Minta dia tetap memikirkan istirahat dan makan yang teratur.”Bibir Kiran terlipat, kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Bibi tenang saja, aku pasti akan menasihatinya untuk tetap menjaga kesehatan.” Ucapan melegakan dari Kiran, membuat Alina bernapas panjang.“Ayahnya keras karena memikirkan kakaknya yang memiliki banyak beban tanggung jawab, karena itu El juga ditekan agar segera menguasai. Bibi hanya berharap setidaknya El memikirkan kesehatannya juga.”Kiran mengangguk-angguk lagi. “Bibi jangan cemas, aku akan menasihatinya.”Setelah bicara cukup lama.Alina pamit pulang.Kiran berdiri di dekat pintu.Dia diam cukup lama, sampai tatapannya tertuju ke rantang yang Alina berikan.Jika yang Alina katakan benar, berarti selama dua hari ini Elvano benar-benar penuh tekanan. Tetapi kenapa Elvano tidak bercerita p
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Kiran berusaha kembali menarik tangannya, tetapi pria ini tak melepas. “Kamu sangat manis.” Ucapan Robby membuat wajah Kiran semakin memucat. “Pak Elvano sudah mabuk, bagaimana kalau menemaniku sebentar?” Seluruh tubuh Kiran merinding ketika Robby mengusap punggung tangannya. Tangannya dia tarik
Sore hari. Dania bergegas berdiri dari kursi lalu menghampiri Elvano yang baru saja keluar dari ruang kerja. “Anda mau bertemu klien sekarang, Pak? Kalau begitu, saya akan bersiap-siap menemani Anda.” Dania bicara dengan penuh semangat. Senyumnya begitu lebar ketika menatap pada Elvano yang berd
Elvano memasukkan kembali ponsel ke saku jas bagian dalam. Dia menoleh pada Kiran yang ada di belakangnya. “Pergilah ke toko kue, belikan kue strawberry dan kirim ke alamat yang nanti kukirimkan.” Kesadaran Kiran kembali tertarik setelah mendengar suara Elvano. Dia baru menyadari kalau Elvano m







