เข้าสู่ระบบKeesokan harinya.
Kedua kalinya Kiran menginjakkan kaki di RDJ Group, kali ini dia datang sebagai salah satu karyawan perusahaan besar ini.
Kiran mengembuskan napas panjang. “Baik, Kiran. Kamu bisa melakukannya.”
Senyum Kiran terangkat sempurna, menutupi kecemasan yang sedang dirasakannya.
Kiran lebih dulu melapor ke bagian HRD. Setelah mendapat kontrak kerja dan arahan dari pihak HRD, Kiran langsung naik ke lantai sepuluh, ruang divisi pemasaran berada.
Begitu tiba di divisi pemasaran. Kiran menghentikan langkah sejenak, matanya menelisik ke seluruh ruangan, para staff di sini mulai sibuk dengan pekerjaan mereka.
“Kamu mencari siapa? Ada yang bisa kubantu?”
Suara dari belakang punggungnya, membuat Kiran memutar tumit dengan cepat.
Kini, Kiran berhadapan dengan wanita berpenampilan anggun. Dari ujung rambut hingga kaki, wanita ini benar-benar tampak sempurna.
Kiran melihat lanyard berwarna sama dengan miliknya menggantung di leher wanita ini, lalu dia membaca posisi wanita ini yang tertulis di nametag.
Sekretaris.
Wanita ini adalah sekretaris direkturnya.
“Halo.” Kiran membungkuk pelan. “Saya Kiran, saya staff baru di sini.”
Kiran memperlihatkan surat penugasannya pada wanita di depannya ini.
Dania, wanita ini mengambil surat yang Kiran berikan.
Asisten pribadi?
Kening Dania berkerut halus setelah membaca posisi yang tertulis di surat tugas ini.
“Asisten pribadi? Apa posisimu tidak salah?” Dania menatap ragu.
Kiran menatap bingung dengan pertanyaan Dania. Dia diam beberapa saat sambil mengingat sejenak tawaran dari pewawancara kemarin.
“Benar, posisi ini ditawarkan oleh pihak HRD saat melakukan wawancara kemarin.” Meski dalam kebingungan melihat reaksi Dania, tetapi Kiran tetap tersenyum pada Dania.
Kening Dania berkerut dalam. ‘Pak Elvano tidak pernah merekrut asisten pribadi. Kenapa tiba-tiba sekali menerima asisten?’
Tatapan Dania tertuju pada Kiran. Matanya menelisik penampilan Kiran dari ujung kaki hingga kepala. Tidak ada yang istimewa atau berlebihan, kemeja panjang dengan rok setinggi lutut, rambut bahkan diikat rapi.
Culun, tak menarik.
Seringai tipis terpajang di wajah Dania. Kiran tidak bisa dia anggap sebagai saingan.
“Baiklah.” Dania mengembangkan senyum. “Biar aku antar menemui atasan kita, beliau sudah ada di dalam ruangan.”
Kiran mengangguk pelan. Meski sempat canggung karena Dania menatap aneh padanya, tetapi sekarang Kiran lega karena Dania tersenyum ramah.
Kiran melangkah mengikuti Dania menuju ke salah satu pintu yang ada di ujung ruangan, melewati meja-meja staff yang ada di sisi kiri.
Begitu berhenti di depan pintu, Kiran memperhatikan Dania yang sedang mengetuk pintu lalu meminta izin sebelum masuk ke dalam ruangan direktur mereka.
“Ayo masuk.” Dania mengajak Kiran begitu pintu dibuka setelah mendapat balasan dari dalam.
Kiran mengangguk pelan. Dia tetap melangkah di belakang Dania, pandangannya tertutup tubuh tinggi wanita di depannya ini.
“Pak, ada surat penugasan asisten pribadi untuk Anda.”
Mendengar Dania bicara dengan atasannya. Kiran mengangkat pandangannya, lurus ke punggung Dania. Dia memperlihatkan sikap optimis dan kesiapan dalam bekerja.
“Letakkan berkasnya di meja, dan keluarlah dulu.”
Deg
Jantung Kiran tiba-tiba berdegup sangat cepat bersamaan dengan matanya yang membola lebar kala mendengar suara yang sama sekali tak asing di telinganya.
‘Tidak, bukan dia, ‘kan?’ Kepanikan menyergah hati Kiran.
Aliran darahnya mendesir hebat. Masih berharap, Kiran hanya salah mendengar.
Namun, ketika Dania menyingkir dari hadapannya, mata Kiran langsung tertuju pada sosok pria di hadapannya.
Tubuh Kiran membeku, tatapannya terpaku pada pria yang duduk di balik meja kayu besar, yang menatap balik padanya dengan sorot mata dingin yang menusuk.
Pria itu adalah Elvano Radjasa. Mantan kekasih yang dia hancurkan hatinya, dan kini... adalah atasannya?
Halo, Kakak semua. Akhirnya ga terasa ya, kisah Elvano dan Kiran berakhir sampai sini. 7 bulan cerita ini menemani aku dan kalian, kini kita harus berpisah dengan cerita mereka.Tapi, jangan khawatir, aku sudah ada buku lain yang tak kalah menarik dari kisah mereka, lho. Kisah Amaya Risjad dan Dhanadoya Kusuma Wardhana, dalam cerita Pernikahan Kontrak: Diam-diam Bos Dingin Memanjakanku. Jangan lupa mampir ke kisah mereka juga ya, Kakak.Selamat tinggal pada Elvano dan Kiran. Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini. (^^) Love u all
Tiga tahun berlalu begitu cepat. Suasana sore di halaman samping kediaman Bimantara terasa sangat sejuk dan hangat. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan hijau, mengiringi suara gelak tawa anak-anak yang memenuhi area padang rumput mini tersebut.Kiran dan Nindy duduk santai di kursi taman kayu di bawah naungan pohon rindang. Di tangan mereka masing-masing menggenggam cangkir teh hangat, menatap lurus ke arah halaman di mana sebuah pertandingan sepak bola mini sedang berlangsung seru.Di sana, Elvano dan Noah tampak melepas atribut formal mereka. Hanya mengenakan kaus polos dan celana santai, kedua pria itu terlihat begitu telaten dan bersemangat bermain bola bersama buah hati mereka.Keanu yang kini sudah berusia empat tahun berlari kencang mengejar bola plastik warna-warni dengan kakinya yang mungil. Wajahnya yang mirip sekali dengan Elvano tampak memerah menggemaskan karena kegirangan. Sementara Danendra yang berusia tiga tahun berlari kecil di belakangan Keanu sambil berteria
Beberapa bulan kemudian.Di tengah malam yang sunyi, Nindy mendadak terbangun dari tidurnya karena merasakan perut bagian bawahnya yang tiba-tiba sakit luar biasa sampai dia merasakan sesuatu mengalir di pahanya. Saat menyibak selimut, dia melihat sprei tempat tidurnya sudah basah oleh cairan ketuban.Nindy tersentak, dia berusaha membangunkan Noah yang tidur di sampingnya.“Noah, Noah bangun.” Nindy memanggil sambil menahan kontraksi yang dialaminya. Satu tangannya memegang perutnya yang tegang. “Ada apa, hm? Kamu mau minum?” Suara Noah terdengar parau, matanya belum terbuka sempurna.“Noah, ketubanku pecah.” Suara Nindy bergetar menahan mulas yang luar biasa.Noah terlonjak kaget. Dia segera bangun dari posisi berbaring dan melihat wajah istrinya yang pucat dan merintih kesakitan.“Ketuban pecah? Kamu mau melahirkan sekarang?” tanya Noah panik setengah mati. Begitu melihat Nindy mengangguk-angguk. Noah membopong Nindy keluar dari kamar yang ada di lantai bawah, lalu segera menuju
1 bulan kemudian.Hari pernikahan Sabrina dan Aldo tiba.Kiran dan Elvano datang berdua, sedang Keanu ditinggal di rumah bersama babysitter dan Alina.Kiran tampak anggun meski ada sedikit perubahan di tubuhnya yang kini lebih berisi pasca melahirkan. Dengan gaun yang tertutup bagian dada, tetap memancarkan kecantikannya.“Harusnya kita datang lebih awal, jadi lihat prosesi akadnya,” ucap Kiran sambil melangkah mendekat ke altar pernikahan untuk menemui Sabrina.“Kamu tadi repot pumping dan mengurus Keanu. Sabrina pasti memahami posisi kita dan alasan kenapa kita terlambat,” ucap Elvano lalu menepuk pelan punggung tangan Kiran yang memegang lengannya.Wajah Kiran tetap mengisyaratkan rasa bersalah karena tak bisa menemani Sabrina dan Aldo dari awal.Mereka sudah tiba di altar. Sabrina langsung menyambut haru kedatangan Kiran.“Akhirnya kamu datang.” Sabrina langsung memeluk Kiran.Kiran mendekap erat sahabatnya ini. “Maaf ya, Sab. Aku tidak bisa menemanimu dari awal, padahal kamu mene
Malam hari.Kiran baru saja keluar dari kamar mandi. Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang sedang memberi susu Keanu, karena ASI yang dihasilkan Kiran memang belum lancar.“Apa dia sudah tidur?” Kiran bertanya dengan nada pelan saat mendekat pada Elvano.Elvano mengangkat pandangannya. Dia memberi isyarat agar Kiran tidak berisik, tangannya masih sibuk memegang botol dot, susu di dalam botol belum habis.Kiran melipat bibirnya. Dia duduk perlahan di samping Elvano, lalu tatapannya tertuju pada Keanu yang masih menyusu dengan dot.“Biar aku pangku kalau kamu capek,” kata Kiran dengan suara pelan.Elvano menoleh pada Kiran, dia menggeleng pelan. “Tidak usah,” katanya, “Keanu sudah hampir tidur, kalau dipindah, takutnya dia bangun lagi.’Kiran tersenyum mendengar ucapan Elvano. Dia lega suaminya begitu peduli dan terus membantunya menjaga Keanu.“Tapi besok kamu harus ke kantor. Kamu butuh istirahat,” kata Kiran.“Aku bisa mengerjakan urusan kantor dari rumah.” Elvano membalas dengan san
Dada Kiran mendesir mendengar ucapan Ayudhia. Dia menganguk-angguk.“Iya, Kak. Aku akan ingat,” kata Kiran sambil mengangguk-angguk pelan di dalam pelukan.Ayudhia melepas pelukan. Tangannya mengusap pipi Kiran dengan tatapan sayang sebagai kakak yang siap melindungi adiknya, lalu dia beranjak meninggalkan Kiran untuk mengurus hal yang lainnya.Elvano duduk merapat pada Kiran. Dia menautkan jemari mereka, mata Elvano memancarkan kehangatan dan kasih sayang untuk Kiran.“Aku harap kamu tidak memendam lelahmu sendiri,” ucap Elvano dengan nada lembut. “Sekarang, kamu tidak sendiri, ada aku, ada orang tuaku, orang tuamu, keluarga kita. Kami akan bersamamu, jangan lagi memendam semua masalahmu sendirian seperti dulu.” Setelah bicara, Elvano mengecup lembut punggung tangan Kiran.Kiran mengangguk pelan, senyumnya lebar dan matanya berkaca-kaca. “Iya, aku akan memanfaatkanmu dan keluarga untuk menjagaku,” seloroh Kiran kemudian yang dia akhiri dengan tawa kecil.“Boleh,” balas Elvano, lalu d







