Beranda / Romansa / Dimanja Mantan Posesif / Atasanku Adalah ....

Share

Atasanku Adalah ....

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-28 19:07:40

Keesokan harinya.

Kedua kalinya Kiran menginjakkan kaki di RDJ Group, kali ini dia datang sebagai salah satu karyawan perusahaan besar ini.

Kiran mengembuskan napas panjang. “Baik, Kiran. Kamu bisa melakukannya.”

Senyum Kiran terangkat sempurna, menutupi kecemasan yang sedang dirasakannya.

Kiran lebih dulu melapor ke bagian HRD. Setelah mendapat kontrak kerja dan arahan dari pihak HRD, Kiran langsung naik ke lantai sepuluh, ruang divisi pemasaran berada.

Begitu tiba di divisi pemasaran. Kiran menghentikan langkah sejenak, matanya menelisik ke seluruh ruangan, para staff di sini mulai sibuk dengan pekerjaan mereka.

“Kamu mencari siapa? Ada yang bisa kubantu?”

Suara dari belakang punggungnya, membuat Kiran memutar tumit dengan cepat.

Kini, Kiran berhadapan dengan wanita berpenampilan anggun. Dari ujung rambut hingga kaki, wanita ini benar-benar tampak sempurna.

Kiran melihat lanyard berwarna sama dengan miliknya menggantung di leher wanita ini, lalu dia membaca posisi wanita ini yang tertulis di nametag.

Sekretaris.

Wanita ini adalah sekretaris direkturnya.

“Halo.” Kiran membungkuk pelan. “Saya Kiran, saya staff baru di sini.”

Kiran memperlihatkan surat penugasannya pada wanita di depannya ini.

Dania, wanita ini mengambil surat yang Kiran berikan.

Asisten pribadi?

Kening Dania berkerut halus setelah membaca posisi yang tertulis di surat tugas ini.

“Asisten pribadi? Apa posisimu tidak salah?” Dania menatap ragu.

Kiran menatap bingung dengan pertanyaan Dania. Dia diam beberapa saat sambil mengingat sejenak tawaran dari pewawancara kemarin.

“Benar, posisi ini ditawarkan oleh pihak HRD saat melakukan wawancara kemarin.” Meski dalam kebingungan melihat reaksi Dania, tetapi Kiran tetap tersenyum pada Dania.

Kening Dania berkerut dalam. ‘Pak Elvano tidak pernah merekrut asisten pribadi. Kenapa tiba-tiba sekali menerima asisten?’

Tatapan Dania tertuju pada Kiran. Matanya menelisik penampilan Kiran dari ujung kaki hingga kepala. Tidak ada yang istimewa atau berlebihan, kemeja panjang dengan rok setinggi lutut, rambut bahkan diikat rapi.

Culun, tak menarik.

Seringai tipis terpajang di wajah Dania. Kiran tidak bisa dia anggap sebagai saingan.

“Baiklah.” Dania mengembangkan senyum. “Biar aku antar menemui atasan kita, beliau sudah ada di dalam ruangan.”

Kiran mengangguk pelan. Meski sempat canggung karena Dania menatap aneh padanya, tetapi sekarang Kiran lega karena Dania tersenyum ramah.

Kiran melangkah mengikuti Dania menuju ke salah satu pintu yang ada di ujung ruangan, melewati meja-meja staff yang ada di sisi kiri.

Begitu berhenti di depan pintu, Kiran memperhatikan Dania yang sedang mengetuk pintu lalu meminta izin sebelum masuk ke dalam ruangan direktur mereka.

“Ayo masuk.” Dania mengajak Kiran begitu pintu dibuka setelah mendapat balasan dari dalam.

Kiran mengangguk pelan. Dia tetap melangkah di belakang Dania, pandangannya tertutup tubuh tinggi wanita di depannya ini.

“Pak, ada surat penugasan asisten pribadi untuk Anda.”

Mendengar Dania bicara dengan atasannya. Kiran mengangkat pandangannya, lurus ke punggung Dania. Dia memperlihatkan sikap optimis dan kesiapan dalam bekerja.

“Letakkan berkasnya di meja, dan keluarlah dulu.”

Deg

Jantung Kiran tiba-tiba berdegup sangat cepat bersamaan dengan matanya yang membola lebar kala mendengar suara yang sama sekali tak asing di telinganya.

‘Tidak, bukan dia, ‘kan?’ Kepanikan menyergah hati Kiran.

Aliran darahnya mendesir hebat. Masih berharap, Kiran hanya salah mendengar.

Namun, ketika Dania menyingkir dari hadapannya, mata Kiran langsung tertuju pada sosok pria di hadapannya.

Tubuh Kiran membeku, tatapannya terpaku pada pria yang duduk di balik meja kayu besar, yang menatap balik padanya dengan sorot mata dingin yang menusuk.

Pria itu adalah Elvano Radjasa. Mantan kekasih yang dia hancurkan hatinya, dan kini... adalah atasannya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Adeena
jangan masang tampang dingin kamu El jangan nurutin kakakmu....
goodnovel comment avatar
Titin Susiyana
aduh bocah rusuh udah menjelma jadi gunung es ya sekarang.... hahahahahahahaha
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Gimana kira ngeri-ngeri sedep ketemu seseorang dari masa lalu dan menjadi atasannya ,dan Kiran jadi asprinya ,gimana Kiran jantung aman kah ???
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanja Mantan Posesif    Sangat Canggung

    Kiran baru saja keluar dari kamar mandi, ketika melihat Alina masuk kamar.“Sudah selesai mandi?”Kiran mengangguk kecil. “Iya, Nyonya.”Senyum di wajah Alina sekilas memudar, sebelum kembali terangkat lebar. “Kamu sudah biasa datang kemari, tidak perlu sungkan dengan memanggil ‘Nyonya.’”Kiran tertegun. Dia menatap Alina yang sedang menghampirinya.Apa maksud ucapan wanita ini?Alina berdiri di depan Kiran. Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna, sebelum dia berkata, “Panggil Bibi saja. Sepertinya lebih santai dan enak dengarnya.”Senyum Kiran terangkat kaku, dia mengangguk pelan.“Ini bajunya.” Alina memberikan pakaian baru ke tangan Kiran. Dia menatap nanar pada gadis muda di depannya ini. “Ini masih baru, sepertinya cocok dengan ukuran tubuhmu.”“Terima kasih Nyo … maksud saya, Bibi. Maaf sudah merepotkan Anda.” Kiran begitu sungkan, sampai bingung harus bersikap bagaimana.Tangan Alina mengusap lembut lengan Kiran. “Tidak masalah, sekarang ganti baju dulu. Habis ini kita makan ma

  • Dimanja Mantan Posesif    Masih Sama

    Kedua kaki Kiran seperti dipaku di marmer yang dipijaknya. Tubuhnya panas dingin mendengar suara Alina yang menggema di telinganya.“Ki, kenapa berhenti?” Kening Elvano berkerut dalam saat menatap Kiran.Wajah Kiran memelas saat memandang Elvano, kepalanya sampai menggeleng pelan.Sebelum Kiran bisa benar-benar kabur dari sana, Alina sudah keluar menghampiri mereka.“Kiran, akhirnya main ke sini lagi.” Kiran tertegun, matanya terpaku pada senyum Alina yang tidak berubah sama sekali. Hangat begitu tulus. Ketegangan dan kecemasan yang sebelumnya dirasakannya, sekarang perlahan memudar.“Selamat sore, Nyonya.” Kiran sedikit membungkukkan tubuhnya.“Kenapa sungkan begitu.” Senyum Alina begitu lebar.Kiran tersenyum canggung, kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Kiran akan pulang agak malam, jadi sepertinya dia akan sekalian makan malam di sini.”Kiran tersentak. Dia menoleh pada Elvano, sebelum bibirnya menolak ucapan Elvano, Kiran sudah lebih dulu mendengar Alina bicara.“Benarkah? Bagus

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Peduli

    Widya menatap malas, bahkan tak peduli walau Surya kesakitan. “Bu Widya, ada apa ini?” Inggit–tetangga Surya, lari tergopoh menghampiri Surya dan Widya, setelah mendengar pertengkaran keduanya.Tidak ada balasan dari Widya, Inggit terkejut melihat Surya terduduk di lantai.“Pak Surya.” Inggit berjongkok di samping Surya, tetapi tidak berani menyentuh pria ini. “Bu, sepertinya jantung Pak Surya kambuh.” Inggit menatap Widya yang berdiri.“Tidak usah ikut campur, lebih baik kamu pergi!” Widya menunjuk ke rumah Inggit.“Bu, Pak Surya kesakitan begini. Saya bantu bawa masuk.” Inggit membujuk.Widya malah mendecih. Dia melangkah masuk begitu saja meninggalkan Surya bersama Inggit di depan rumah.Inggit sangat terkejut dengan yang Widya lakukan. Wanita 45 tahun ini, mencoba membantu Surya berdiri.Inggit tidak kuat menopang tubuh Surya, sehingga dia memanggil tetangga lain yang kebetulan melintas untuk membantu Surya bangun dari lantai.Inggit memastikan Surya bisa duduk dengan nyaman, seb

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Berhak

    Elvano menggandeng tangan Kiran menuju mobil. Dia memastikan Kiran duduk dengan tenang, sebelum Elvano masuk ke belakang kemudi.Tatapan Kiran masih tertuju ke arah sang ayah yang sedang menyeka keringat. Air matanya kembali jatuh, sampai jemarinya butuh berkali-kali untuk menghapusnya.Elvano memberikan tisu pada Kiran lebih dulu, sebelum melajukan mobil meninggalkan tempat itu.“Apa yang ayahmu katakan benar, Ki. Ayahmu memiliki tanggung jawab pada istri dan anak-anaknya, meskipun dia tinggal bersamamu. Mungkin itu yang jadi pertimbangan ayahmu tetap harus bekerja.”Kiran menoleh cepat pada Elvano, wajahnya masih basah, bahkan matanya sampai merah. “Tapi tetap saja, tidak seharusnya Ayah kerja keras terus di sisa usianya.”“Bahkan di kondisinya sekarang, apa Ayah harus kerja banting tulang terus, sedangkan anak-anaknya saja tidak ada yang peduli padanya?” Kiran terisak setelah bicara. Dia menghapus cairan yang keluar dari hidungnya.Napas Elvano berembus pelan. “Tapi, kalau ini adal

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Boleh Bekerja

    Tatapan Kiran masih tertuju ke bahu jalan, sebelum dia menoleh ke Elvano.“Itu Ayah, El.” Elvano menoleh ke belakang, tatapannya tertuju ke pria tua yang sedang membantu sebuah mobil keluar dari area parkir menuju jalan raya.“Iya, itu ayahmu.”Elvano menoleh lagi pada Kiran, sampai dia terkejut menyadari Kiran sudah melangkah meninggalkannya.Buru-buru menutup pintu mobil, Elvano bergegas menyusul langkah Kiran.Kiran panik, wajahnya begitu cemas melihat sang ayah memakai seragam juru parkir salah satu restoran yang ada di dekat sana.Kaki Kiran melangkah cepat, meninggalkan Elvano di belakang karena perasaan campur aduk melihat sang ayah bekerja.“Ayah.” Bibir Kiran bergerak memanggil saat sudah dekat dengan Surya.Surya tersentak mendengar suara Kiran, apalagi ketika tatapannya tertuju ke sang putri yang sedang melangkah menghampirinya.“Ki-Kiran.” Wajah Surya begitu panik.Dengan mata berkaca-kaca ketika berdiri di hadapan Surya, Kiran menarik lengan sang ayah agar menepi di bahu

  • Dimanja Mantan Posesif    Selalu Ada Kejutan

    Sore hari.Kiran baru saja merapikan meja saat Elvano muncul di samping mejanya.Kiran berdiri, tatapannya sekilas tertuju pada beberapa staff yang memandang ke arahnya, sebelum dia menatap cemas pada Elvano yang menghampiri mejanya.“Sore ini, ikut denganku menemui klien.” Setelah bicara, Elvano mengedipkan satu matanya.Kiran melipat bibir sejenak. “Baik, Pak.”Tangan Kiran terulur meraih tasnya yang ada di laci penyimpanan, lantas meninggalkan mejanya mengikuti langkah Elvano.Saat keduanya sampai di dalam lift. Kiran menatap Elvano yang berdiri di sampingnya.“Kamu mau mengajakku ketemu klien?” Kiran memastikan.Elvano menoleh pada Kiran. “Itu hanya alasan.” Elvano menautkan jemari mereka. “Kalau aku bilang mau mengajakmu pergi, kamu pasti takut ketahuan staff lain.”Kiran menahan senyum, kepalanya mengangguk-angguk pelan. “Baiklah, terima kasih sudah menutupi hubungan kita.”Keduanya turun di basement. Elvano segera mengajak Kiran masuk ke dalam mobil.“Apa Ibu masih menunggu di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status