Se connecterWaktu seperti berhenti.
Elvano Radjasa, ada di hadapannya. Jas abu-abu arang yang melekat sempurna di tubuh tegapnya seolah menegaskan bahwa pria ini bukan lagi pemuda yang dulu pernah berjanji akan memberikan dunianya pada Kiran.
Kini, dialah sang pemilik dunia itu.
Kiran merasa paru-parunya kosong secara paksa ketika melihat sorot mata pria itu padanya.
Sorot mata itu masih setajam dulu, namun kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya telah menguap, digantikan dengan sorot mata dingin yang begitu tebal.
Kiran sudah menyiapkan dirinya untuk menyapa pria itu, sebuah sapaan lemah yang mungkin akan terdengar konyol.
Namun, sebelum sempat bibirnya terbuka, Elvano melewatinya begitu saja.
Aroma parfum woody dan citrus yang maskulin, aroma yang masih sama setelah enam tahun, menyapu indra penciuman Kiran, meninggalkan rasa perih di sudut hatinya.
Kiran membalikkan tubuh perlahan, menatap punggung tegap yang menghilang perlahan. Senyum getir tersungging di bibirnya yang pucat.
**
Setelah dari RDJ. Kiran langsung pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di ruangan inap sang ayah, Kiran melihat Widya sudah ada di sana. Menatapnya sinis, seperti biasanya.
“Baru juga semalam diberi tanggung jawab menemani ayahmu, tapi pagi ini sudah menghilang.”
Kiran tetap bersikap biasa, walau kalimat tajam Widya menusuk telinganya.
Kiran melangkah masuk lebih dalam, sebelum berhenti tepat di samping ranjang sang ayah.
“Aku baru saja mengikuti interview, Bu.”
“Terus?” Nada sinis masih terselip di suara Widya.
“Aku mendapat pekerjaan di sini, dengan gaji yang lebih besar yang bisa aku gunakan untuk biaya operasi Ayah.”
Widya langsung menegakkan tubuhnya. Wajah sinisnya berubah semringah, walau tatapan tak suka masih kentara dari sorot matanya.
“Bagus itu, memang seharusnya seperti itu. Bukan kerja dengan gaji pas-pasan sampai buat berobat ayahmu saja kurang.”
Jemari Kiran meremat tali tas mendengar kalimat dingin Widya. Bahkan dengan segala usaha yang dilakukannya, dia tetap tak berarti di mata ibunya.
Widya melipat kedua tangan di depan dada, tatapannya begitu remeh pada Kiran. “Kamu sudah dapat kerja, sekarang pikirkan caranya mendapat uang lebih cepat buat deposit biaya operasi ayahmu.”
Rematan jemari Kiran semakin menguat di tali tasnya. Ketika menatap pada sang ayah, wajah Kiran begitu sendu.
“Akan aku usahakan.”
Meski harus lembur bahkan bekerja tak kenal waktu, Kiran akan melakukannya agar mendapat uang lebih cepat.
Widya memalingkan muka dari Kiran. Senyumnya mencemooh. “Dulu, kalau kamu nggak putus sama cowok kaya itu, kamu tidak perlu susah-susah memikirkan biaya operasi ayahmu,” dengkusnya kasar.
“Bu.” Suara Kiran dalam sedikit tertahan mendengar ungkitan masa lalu dari sang ibu.
Tatapan Widya kembali tertuju pada Kiran. “Apa? Kenapa? Kamu jadi perempuan memang sangat bodoh, huh!”
Kiran tersentak dengan tatapan tak percaya mendengar ucapan Widya.
“Sudah punya cowok kaya yang bisa kasih kamu uang banyak, malah ditinggal. Cih … kamu sok suci sekali.”
“Bu, cukup!” Jemari Kiran semakin mengerat kuat sampai kuku-kukunya memucat mendengar ucapan sang ibu yang semakin menjadi-jadi.
Mata Kiran sedikit merah. Dia mencoba meredam emosinya, sebelum kembali berkata, “Sekarang aku hanya ingin fokus dengan kesembuhan Ayah. Tolong, jangan bahas yang lainnya.”
Widya mendecih, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruang inap begitu saja.
Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya pelan.
Setelah kepergian Widya, Kiran menatap ayahnya yang belum juga membuka mata. Kiran ingin melihat lagi senyum pria ringkih yang tak segagah dulu lagi ini.
“Kapan Ayah bangun?” Kiran menggenggam lembut jemari ayahnya.
Kasar dan begitu dingin.
Tangan itulah yang dulu menyuapkan makanan ke mulutnya, juga membelai kepalanya lembut saat mimpi buruk menghampirinya.
“Ayah ….” Suaranya begitu lirih dan berat.
Kiran tertunduk dalam ketika matanya sedikit berembun.
Keheningan menyelimuti hati Kiran, ketika ucapan sang ibu membuatnya teringat akan pertemuannya tadi dengan Elvano Radjasa yang membuka kenangan lamanya.
Kiran menarik napas dalam-dalam untuk melegakan sesak di dadanya, tetapi itu tak berhasil.
Dia masih larut dalam kesedihannya, kala suara ponselnya memecah kesunyian.
Kiran membuka layar ponselnya, nama Sabrina terpampang di layar.
“Kiran, bagaimana tadi? Kamu jadi melamar di RDJ Group, ‘kan?”
Suara Sabrina yang begitu bersemangat dari seberang panggilan, memberikan sedikit senyum di bibir Kiran.
“Sudah, bahkan aku langsung diterima.” Pandangan Kiran sedikit tertunduk setelah bicara. “Dan … Sab, aku bertemu dengannya lagi.”
Elvano diam mendengar ucapan Kiran. Dia tidak bicara lagi, jari-jarinya semakin kuat mencengkram pundak Kiran, bersamaan dengan kedua kaki mereka yang masih terayun menuju resort.Setibanya di tempat yang sudah dibooking Alina.Mereka berdua akhirnya melangkah masuk ke dalam area resort. Pelayan yang mengantar mengarahkan mereka melewati lorong privat sebelum membukakan pintu kayu jati berukuran besar yang menjadi akses masuk ke unit mereka.Kiran mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Desain resort ini mengusung konsep modern tropis dengan dominasi kayu bernuansa hangat dan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke luar. Begitu melangkah ke area teras belakang, pandangan Kiran tertuju pada sebuah private pool yang membentang tepat di depan kamar, lengkap dengan latar pemandangan laut lepas di balik pembatas kaca satu arah.Suasana tempat ini sangat nyaman, tenang, dan indah. Namun, tatapan Kiran yang semula berbinar perlahan meredup saat menatap air kolam yang berkilau disir
Keesokan harinya.Elvano dan Kiran keluar dari kamar bersama pelayan yang membawakan koper mereka.Mereka menuruni anak tangga, di bawah sudah ada Alina dan Aksa yang menunggu keduanya untuk mengantar kepergian mereka.“Kalian sudah memasukkan semua barang-barang yang kalian butuhkan, ‘kan?” Alina memastikan.Kiran mengangguk pelan. “Sudah kok, Ma.”“Baguslah, takutnya nanti ada yang ketinggalan.” Lalu Alina memandang pelayan yang membawa koper Kiran dan Elvano, dia meminta dua pelayan itu untuk segera memasukkan koper ke bagasi mobil.Mereka keluar dari rumah bersama.Sebelum Kiran dan Elvano masuk ke dalam mobil. Alina lebih dulu memeluk Kiran.“Nikmati liburan kalian, jangan memikirkan pekerjaan. Pokoknya, kalian harus bersenang-senang.” Alina bicara sambil mengusap-usap lembut punggung Kiran.Kiran mengangguk-angguk pelan.” Iya, Ma.”Setelah melepas pelukan dari Kiran, kini Alina menatap putranya yang berdiri di samping Kiran.“Jaga diri kalian baik-baik. Begitu tiba di tujuan, ja
Mendengar ucapan Kiran soal pernikahan Noah, raut wajah Kamila seketika berubah. Dia mengembuskan napas kasar dengan wajah berubah sewot."Menikah bagaimana? Memangnya Noah pikir gampang? Lagi pula, Mama juga tidak yakin Noah akan menikahi Nindy, memangnya Noah itu bisa serius soal pernikahan? Bagaimana kalau semua yang mereka lakukan, ternyata bohong lagi." Kamila bicara dengan nada yang terdengar kesal.Kiran yang mendengar Kamila secara spontan menyebut nama Nindy justru tersenyum-senyum sendiri. Raut wajah mamanya yang berlebihan sama sekali tak bisa menutupi fakta bahwa wanita paruh baya itu sebenarnya sudah mulai luluh dan menerima kehadiran Nindy."Bukannya Mama sendiri yang minta mereka untuk membuktikan lebih dulu?" goda Kiran lalu diakhiri suara terkekeh pelan. "Ya tinggal tunggu saja, Ma. Kalau mereka sudah berhasil membuktikannya, pasti nanti mereka langsung menyusun rencana ke jenjang itu."“Atau, Mama mau mencoba menyatukan mereka langsung? Mungkin agar Noah segera meni
Alina dan Aksa saling pandang mendengar jawaban serentak dari Kiran dan Elvano.Alina langsung tersenyum mencibir. “Apa, El? Takut jauh dari Kiran? Memangnya nggak bosan kalau hampir 24 jam bersama Kiran? Kalau Kiran pindah ke posisi lain, bukankah juga bagus, Kiran bisa mengembangkan kemampuannya, kalian juga tidak bosan karena terus bersama selama 24 jam.”Elvano langsung melirik Kiran yang ada di sampingnya, lalu dia buru-buru membalas, “Pokoknya kalau sekarang jawabannya ‘tidak’, aku juga tidak akan kasih izin kalau Kiran pindah posisi.”Alina tersenyum meledek ke Elvano, lalu dia berkata, “Ya sudah, maklum pasangan baru. Sulit dipisahkan.”Kiran melipat bibir mendengar godaan sang mertua. Dia sampai melirik pada suaminya yang malah terlihat bangga.“Kalian pasti capek, ‘kan?” Alina kembali bicara dengan tatapan menggoda. “Naiklah, dan istirahat dulu.”Kiran mengangguk, lalu dia menoleh pada Elvano. Mereka berpamitan pada Aksa dan Alina, lalu keduanya pergi ke lantai atas untuk ber
Kiran dan Elvano sudah meninggalkan Radja Hotel. Mereka kini dalam perjalanan menuju kediaman Radjasa.Sampai beberapa saat kemudian. Mobil Elvano memasuki halaman rumah lalu berhenti tepat di depan garasi. “Sudah sampai.” Elvano menoleh pada Kiran setelah menarik tuas rem tangan..Kiran melebarkan senyumnya, dia mengangguk pelan, lalu melepas sabuk pengaman yang menyilang di depan dada.Keduanya keluar dari dalam mobil. Elvano melangkah mendekati Kiran, lalu menggenggam telapak tangan Kiran dan mengajaknya masuk ke dalam kediaman Radjasa.Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, sampai tatapan mereka tertuju pada Alina dan Aksa yang ada di ruang keluarga.“Kalian sudah pulang.” Alina berdiri dengan penuh semangat.Alina melangkah menghampiri Kiran, lalu dia memeluk wanita yang akhirnya menjadi menantunya ini.“Selamat bergabung dengan keluarga Radjasa.” Suara Alina lembut, penuh kasih sayang dan perhatian seperti biasanya.Kiran menatap penuh bahagia. Perasaannya selalu tenang saat me
Kiran melipat bibirnya saat tatapannya sama sekali tak teralihkan dari Elvano.Kiran mengangguk pelan untuk meyakinkan Elvano, jika dia tidak akan menunda suaminya mendapatkan apa yang seharusnya diterima.Dan, tepat saat itu, kedua pipi Kiran ditangkup mesra. Bibirnya kini bersentuhan dengan bibir Elvano. Suaminya ini menyesap lembut daging tak bertulang miliknya.Kiran memejamkan mata saat ciuman mereka semakin dalam. Kedua tangannya perlahan mengalung di leher Elvano, seiring pagutan bibir mereka yang semakin memanas.Suara napas mereka yang memburu semakin saling bersahutan, keduanya saling membalas lumatan bibir masing-masing.Saat pagutan bibir mereka sejenak terlepas. Elvano menatap Kiran dengan napas terengah. Bibirnya tersenyum lepas, lalu kedua tangannya meraup tubuh Kiran ke dalam gendongan dan membawanya ke ranjang king size milik mereka.Begitu merebahkan tubuh Kiran di atas ranjang. Elvano menundukkan tubuhnya saat kembali memagut bibir Kiran.Ciuman mereka semakin memana







