共有

Pertemuan Kembali

last update 公開日: 2026-01-28 19:05:20

Waktu seperti berhenti.

Elvano Radjasa, ada di hadapannya. Jas abu-abu arang yang melekat sempurna di tubuh tegapnya seolah menegaskan bahwa pria ini bukan lagi pemuda yang dulu pernah berjanji akan memberikan dunianya pada Kiran.

Kini, dialah sang pemilik dunia itu.

Kiran merasa paru-parunya kosong secara paksa ketika melihat sorot mata pria itu padanya.

Sorot mata itu masih setajam dulu, namun kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya telah menguap, digantikan dengan sorot mata dingin yang begitu tebal.

Kiran sudah menyiapkan dirinya untuk menyapa pria itu, sebuah sapaan lemah yang mungkin akan terdengar konyol.

Namun, sebelum sempat bibirnya terbuka, Elvano melewatinya begitu saja.

Aroma parfum woody dan citrus yang maskulin, aroma yang masih sama setelah enam tahun, menyapu indra penciuman Kiran, meninggalkan rasa perih di sudut hatinya.

Kiran membalikkan tubuh perlahan, menatap punggung tegap yang menghilang perlahan. Senyum getir tersungging di bibirnya yang pucat.

**

Setelah dari RDJ. Kiran langsung pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di ruangan inap sang ayah, Kiran melihat Widya sudah ada di sana. Menatapnya sinis, seperti biasanya.

“Baru juga semalam diberi tanggung jawab menemani ayahmu, tapi pagi ini sudah menghilang.”

Kiran tetap bersikap biasa, walau kalimat tajam Widya menusuk telinganya.

Kiran melangkah masuk lebih dalam, sebelum berhenti tepat di samping ranjang sang ayah.

“Aku baru saja mengikuti interview, Bu.”

“Terus?” Nada sinis masih terselip di suara Widya.

“Aku mendapat pekerjaan di sini, dengan gaji yang lebih besar yang bisa aku gunakan untuk biaya operasi Ayah.”

Widya langsung menegakkan tubuhnya. Wajah sinisnya berubah semringah, walau tatapan tak suka masih kentara dari sorot matanya.

“Bagus itu, memang seharusnya seperti itu. Bukan kerja dengan gaji pas-pasan sampai buat berobat ayahmu saja kurang.”

Jemari Kiran meremat tali tas mendengar kalimat dingin Widya. Bahkan dengan segala usaha yang dilakukannya, dia tetap tak berarti di mata ibunya.

Widya melipat kedua tangan di depan dada, tatapannya begitu remeh pada Kiran. “Kamu sudah dapat kerja, sekarang pikirkan caranya mendapat uang lebih cepat buat deposit biaya operasi ayahmu.”

Rematan jemari Kiran semakin menguat di tali tasnya. Ketika menatap pada sang ayah, wajah Kiran begitu sendu.

“Akan aku usahakan.”

Meski harus lembur bahkan bekerja tak kenal waktu, Kiran akan melakukannya agar mendapat uang lebih cepat.

Widya memalingkan muka dari Kiran. Senyumnya mencemooh. “Dulu, kalau kamu nggak putus sama cowok kaya itu, kamu tidak perlu susah-susah memikirkan biaya operasi ayahmu,” dengkusnya kasar.

“Bu.” Suara Kiran dalam sedikit tertahan mendengar ungkitan masa lalu dari sang ibu.

Tatapan Widya kembali tertuju pada Kiran. “Apa? Kenapa? Kamu jadi perempuan memang sangat bodoh, huh!”

Kiran tersentak dengan tatapan tak percaya mendengar ucapan Widya.

“Sudah punya cowok kaya yang bisa kasih kamu uang banyak, malah ditinggal. Cih … kamu sok suci sekali.”

“Bu, cukup!” Jemari Kiran semakin mengerat kuat sampai kuku-kukunya memucat mendengar ucapan sang ibu yang semakin menjadi-jadi.

Mata Kiran sedikit merah. Dia mencoba meredam emosinya, sebelum kembali berkata, “Sekarang aku hanya ingin fokus dengan kesembuhan Ayah. Tolong, jangan bahas yang lainnya.”

Widya mendecih, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruang inap begitu saja.

Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya pelan.

Setelah kepergian Widya, Kiran menatap ayahnya yang belum juga membuka mata. Kiran ingin melihat lagi senyum pria ringkih yang tak segagah dulu lagi ini.

“Kapan Ayah bangun?” Kiran menggenggam lembut jemari ayahnya.

Kasar dan begitu dingin.

Tangan itulah yang dulu menyuapkan makanan ke mulutnya, juga membelai kepalanya lembut saat mimpi buruk menghampirinya.

“Ayah ….” Suaranya begitu lirih dan berat.

Kiran tertunduk dalam ketika matanya sedikit berembun.

Keheningan menyelimuti hati Kiran, ketika ucapan sang ibu membuatnya teringat akan pertemuannya tadi dengan Elvano Radjasa yang membuka kenangan lamanya.

Kiran menarik napas dalam-dalam untuk melegakan sesak di dadanya, tetapi itu tak berhasil.

Dia masih larut dalam kesedihannya, kala suara ponselnya memecah kesunyian.

Kiran membuka layar ponselnya, nama Sabrina terpampang di layar.

“Kiran, bagaimana tadi? Kamu jadi melamar di RDJ Group, ‘kan?”

Suara Sabrina yang begitu bersemangat dari seberang panggilan, memberikan sedikit senyum di bibir Kiran.

“Sudah, bahkan aku langsung diterima.” Pandangan Kiran sedikit tertunduk setelah bicara. “Dan … Sab, aku bertemu dengannya lagi.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (10)
goodnovel comment avatar
Istri Jungkook
jdi penasaran knpa dlu Kiran nyakitin El?
goodnovel comment avatar
lilyedy.
Ibu g sabar banget sih blm juga kerja udah disuruh deposit. Ibu matre !!!
goodnovel comment avatar
Adeena
penasaran alasan Kiran ninggalin El...
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Dimanja Mantan Posesif   Sifat Licik

    “Kiran, aku benar-benar tulus dengan apa yang aku lakukan. Apa kamu tidak bisa memaafkanku? Aku tahu jika salah, dan aku tidak bisa melihatmu bersikap dingin padaku seperti ini.”Yessica harus terus membujuk. Mendekati Kiran agar terhindar dari kecurigaan.Dia aman karena sekarang Kiran hilang ingatan, tetapi tidak tahu kapan Kiran akan kembali ingat dan membongkar, apa yang pernah dia lakukan.Kiran masih diam mendengar ucapan Yessica.Sampai akhirnya napas panjang diembuskan dari bibir Kiran.Senyum Kiran diangkat tipis.Sikap manis Yessica yang jauh berbeda dari sikap sebelumnya, membuat Kiran semakin tidak nyaman.“Tidak ada yang bersikap dingin.” Kiran kembali bicara. “Hanya saja, semua ini masih terasa canggung bagiku. Aku tidak ingat siapa kamu dan bagaimana hubungan kita dulu, jadi jangan memaksaku untuk langsung menerima semua ini.” Nada bicara Kiran penuh penekanan.Yessica mengangguk dengan senyum penuh sandiwara. “Ya, aku mengerti.”“Meski kamu belum terbiasa, tapi aku leg

  • Dimanja Mantan Posesif   Milikmu, Milikku

    “Aku tidak bisa.”Nada bicara Kiran pelan tetapi penuh penekanan.Kiran mau melangkah, tetapi Yessica menggenggam tangannya dengan erat.“Kiran, apa kamu masih marah padaku? Aku bersungguh-sungguh ingin memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Aku tidak ada maksud lain.”Kiran menatap Yessica yang memandangnya dengan penuh harap.Dilihat banyak orang seperti ini, sangat tidak nyaman untuk Kiran.Kiran menarik pelan tangan dari genggaman Yessica. “Baiklah, tapi tidak sampai larut malam.”Senyum Yessica terangkat lebar. “Baiklah, aku hanya mau mengajakmu jalan ke mall. Seperti dulu saat kita jalan berdua bersama.”Kiran belum bisa mengingat masa kecilnya sedikit pun.Tetapi sikap dan ucapan Yessica saat ini sangat meyakinkan kalau mereka memang dulu sangat dekat.Yessica mengajak Kiran ke mobil yang menunggu di depan.Sebelum masuk ke dalam mobil, tatapan Kiran tertuju pada sopir yang duduk di belakang setir.Pria paruh baya ini yang biasa mengantar Noah, Kiran bisa sedikit t

  • Dimanja Mantan Posesif   Ketahuan 'Kan?

    Bibir Kiran terlipat dalam. Dia buru-buru berdiri, lalu mengambil rantang di atas meja.Kiran melirik sejenak ke Elvano, sebelum melangkah menjauh.Saat akan melewati Aksa yang berdiri di dekat pintu, Kiran lebih dulu membungkukkan tubuhnya. “Saya permisi dulu, Pak Aksa.” Kiran melewati Aksa begitu saja. Panik dan malu bercampur menjadi satu.Sedang Aksa menatap kepergian Kiran dengan kening berkerut dalam.Begitu pintu tertutup, tatapan Aksa kini beralih pada Elvano yang baru saja bangkit dari duduknya.“Kalian ….” Aksa sengaja menjeda kalimatnya.Tatapannya penuh curiga.Dia tidak melihat jelas apa yang baru saja Elvano dan Kiran lakukan, tetapi dia melihat kepanikan di wajah Kiran.“Kami kenapa? Tidak ada salahnya mencium calon istri, tapi Papa keburu masuk ruangan.” Setelah bicara, senyum Elvano dilebarkan sempurna.Bola mata Aksa membulat lebar.Bisa-bisanya putranya ini bicara dengan sangat blak-blakkan.“Calon istri?” Nada bicara Aksa penuh penekanan. “Memangnya kamu sudah mem

  • Dimanja Mantan Posesif   Tidak Suka

    Kiran tersenyum geli mendengar pertanyaan Elvano.Dia menegakkan tubuhnya. Duduk sedikit miring menghadap Elvano.“Tidak, mereka tidak melakukan itu.” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mereka senang bisa bertemu denganku.”“Bagaimana denganmu?” Pertanyaan Elvano mengembangkan senyum Kiran. “Aku hanya lega, tapi tidak tahu apakah itu perasaan senang dan bahagia, atau hanya menerima.” Pasti tidak mudah untuk Kiran menerima begitu saja keluarganya setelah bertahun-tahun berpisah. Elvano memahaminya.“Tidak apa-apa. Kamu berhak mengungkap perasaanmu tanpa tekanan.” Tangan Elvano terulur untuk mengusap rambut Kiran.Kiran mengangguk-angguk manja, sampai dia teringat Yessica.“Masalahnya, sekarang aku bersaudara dengan wanita sombong itu.” Kiran mengembuskan napas kasar setelah bicara. Dia tidak rela memiliki hubungan status dengan wanita yang suka berbuat semena-mena.“Wanita sombong?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. “Maksudmu wanita yang berdebat denganmu di toko tas? Siapa namany

  • Dimanja Mantan Posesif   Makan Berdua

    Kiran menatap Elvano yang masih berdiri.“El, kenapa masih tidak duduk.” Kiran menarik tangan Elvano, membawa sang kekasih duduk di dekatnya.Setelahnya Kiran mengambil rantang dari atas piring. Kini dia memegang satu rantang di tangan kiri, lalu tangan kanan memegang sendok.Mendapati Kiran tak menyodorkan sendok untuknya, mata Elvano menelisik ke meja, mencari-cari benda itu.“Mana sendokku?” Elvano kembali menatap pada Kiran, dia tak menemukan sendok selain yang ada di tangan Kiran.Senyum Kiran melebar. Kiran mengangkat sendok yang sudah berisi suapan makanan.“Untuk apa sendok lain? Aku yang akan menyuapimu hari ini.”Elvano menatap tak percaya, tetapi juga senang mendapat perhatian dari Kiran.“Buka mulutmu.” Satu suapan siap dimasukkan ke dalam mulu Elvano.Elvano membuka mulut. Dia menerima suapan dari Kiran.Tak hanya sekali, beberapa kali Kiran menyuapkan makanan ke mulut Elvano.“Kamu tidak makan?” Permukaan jempol Elvano menyentuh bibirnya yang terkena sisa makanan. Tatapa

  • Dimanja Mantan Posesif   Bertemu Kekasih

    Kiran menatap bingung.Kelopak matanya mengedip beberapa kali.“Melakukan apa, Bibi?”“Ini pun masih tanya.” Alina menepuk-nepuk pelan punggung Kiran. “Tentu saja, membujuk El. Minta dia tetap memikirkan istirahat dan makan yang teratur.”Bibir Kiran terlipat, kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Bibi tenang saja, aku pasti akan menasihatinya untuk tetap menjaga kesehatan.” Ucapan melegakan dari Kiran, membuat Alina bernapas panjang.“Ayahnya keras karena memikirkan kakaknya yang memiliki banyak beban tanggung jawab, karena itu El juga ditekan agar segera menguasai. Bibi hanya berharap setidaknya El memikirkan kesehatannya juga.”Kiran mengangguk-angguk lagi. “Bibi jangan cemas, aku akan menasihatinya.”Setelah bicara cukup lama.Alina pamit pulang.Kiran berdiri di dekat pintu.Dia diam cukup lama, sampai tatapannya tertuju ke rantang yang Alina berikan.Jika yang Alina katakan benar, berarti selama dua hari ini Elvano benar-benar penuh tekanan. Tetapi kenapa Elvano tidak bercerita p

  • Dimanja Mantan Posesif   Lembur Lagi

    Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak

    last update最終更新日 : 2026-03-19
  • Dimanja Mantan Posesif   Mematahkan Tuduhan

    Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama

    last update最終更新日 : 2026-03-19
  • Dimanja Mantan Posesif   Digoda Klien

    Kiran berusaha kembali menarik tangannya, tetapi pria ini tak melepas. “Kamu sangat manis.” Ucapan Robby membuat wajah Kiran semakin memucat. “Pak Elvano sudah mabuk, bagaimana kalau menemaniku sebentar?” Seluruh tubuh Kiran merinding ketika Robby mengusap punggung tangannya. Tangannya dia tarik

    last update最終更新日 : 2026-03-18
  • Dimanja Mantan Posesif   Menggantikan Posisi

    Sore hari. Dania bergegas berdiri dari kursi lalu menghampiri Elvano yang baru saja keluar dari ruang kerja. “Anda mau bertemu klien sekarang, Pak? Kalau begitu, saya akan bersiap-siap menemani Anda.” Dania bicara dengan penuh semangat. Senyumnya begitu lebar ketika menatap pada Elvano yang berd

    last update最終更新日 : 2026-03-18
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status