LOGINDi lobby RDJ.Senyum Aldo mengembang saat melihat Sabrina melangkah keluar dari dalam.Dia bergegas maju hingga mencapai pintu lobby. Tangannya terangkat melambai ke arah Sabrina yang sedang berjalan ke arahnya di tengah-tengah kerumunan karyawan lain yang juga ingin meninggalkan gedung.Saat bersamaan, Sabrina memperlambat langkahnya ketika melihat Aldo menunggunya.Jari-jarinya meremas tali tas yang melintang di depan dada. Haruskah dia menghindar atau tetap jalani saja apa yang ada di depan matanya?Bukankah Aldo juga mengatakan jika tidak akan menyerah padanya. Itu artinya, seberapa keras Sabrina menghindar, maka pria ini akan selalu mendekatinya.Sabrina menarik napas dalam-dalam, tatapannya masih tertuju pada senyum Aldo yang begitu tulus tertuju ke arahnya.Dia akhirnya kembali melangkah menuju tempat Aldo berdiri.“Kenapa kamu di sini?” Sabrina langsung bertanya begitu berdiri di hadapan Aldo.Kedua sudut bibir Aldo tertarik pelan. “Aku menunggumu. Bagaimana kalau aku antar pu
Kiran kembali ke lantai atas setelah menemui Yessica. Begitu keluar dari dalam lift, Kiran terkejut melihat Elvano sudah berdiri di hadapannya. “Apa yang kamu lakukan di sini, El?” Kiran menatap Elvano yang terus memandangnya. “Seharusnya aku yang tanya, kamu dari mana? Dan kenapa tidak memberitahuku?” Tatapan Elvano menuntut. Kiran mengembuskan napas pelan. Dia meraih ujung jari Elvano, lalu berkata, “Akan aku jelaskan, kita ke ruanganmu?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. Meski begitu dia tetap mengikuti permintaan Kiran. Mereka masuk ke dalam ruangan Elvano. Tempat yang paling aman untuk membahas masalah pribadi. “Jadi, sekarang kamu bisa ceritakan, dari mana kamu dan apa yang baru saja kamu lakukan sampai tidak memberitahuku?” Elvano menatap serius pada Kiran. Kiran menarik tangan Elvano, dia lebih dulu mengajak tunangannya ini duduk. “Akan aku ceritakan semua.” Kiran mulai bicara begitu mereka sudah duduk. “Aku baru saja menemui Yessica.” “Dia berani menemuimu? A
Kiran turun ke lantai bawah.Yessi. Nama itu yang resepsionis sebutkan.Apa Yessi adalah Yessica?Kiran tak bisa membendung rasa penasarannya. Dia harus memastikan, siapa yang ingin bertemu dengannya.Saat tiba di lobby. Kiran menghampiri meja resepsionis lebih dahulu.“Di mana orang yang ingin menemuiku?” Kiran lebih dulu bertanya, dia tersenyum dengan ramah pada resepsionis.“Saya memintanya menunggu di ruang tunggu lobby, Bu.” Tatapan Kiran tertuju ke arah resepsionis menunjuk. Dia mengangguk lalu berterima kasih dan pergi ke ruang tunggu lobby.Kiran melangkah menuju ruang tunggu. Tatapannya tak teralihkan dari bayangan yang terlihat dari balik jendela kaca besar ruang tunggu.Saat masuk ke dalam ruang tunggu, tatapan Kiran langsung tertuju pada sosok yang mencarinya.Kiran bergeming, tatapannya tak teralihkan dari wanita ini.“Anda mencari saya?” Kiran memastikan.Wanita bernama Yessi ini, bukanlah Yessica.Wanita ini berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Kiran.Dia ters
Sabrina berhenti melangkah. Dia membalikkan tubuhnya pelan, tatapannya tertuju pada Kiran yang berjalan menghampirinya.Mata Sabrina menyipit, semua yang dikatakan Aldo, pasti berasal dari Kiran.Sabrina melangkah menghampiri Kiran, begitu berdiri tepat di depan sahabatnya, Sabrina langsung berkata, “Kamu memberitahu Aldo apa yang aku katakan kemarin?”Kiran melipat bibir, senyumnya terangkat canggung. “Secara langsung, bukan aku yang memberitahu, tapi El yang memberitahunya karena aku memberitahu El.”Mulut Sabrina sampai terbuka mendengar ucapan Kiran.“Ki, kenapa harus cerita, sih?” Sabrina bingung, panik, malu.“Karena kamu tidak akan pernah bicara, jika tidak ada yang memaksamu bicara, Sab.” Kiran bicara dengan nada penuh penekanan. Sabrina mendadak lemas, matanya berkaca-kaca.Tetapi Kiran takkan menyerah pada Sabrina. Dia memegang kedua lengan Sabrina, lalu berkata, “Apa yang kamu ketahui tentang Aldo tidak benar sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana keputusan Aldo setelah mend
Sabrina menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan pelan. Tangannya perlahan menarik gagang pintu.Saat pintu terbuka, tatapannya langsung tertuju pada Aldo yang berdiri di hadapannya.Sabrina bersikap biasa, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa pun.Setelah membetulkan tali tasnya, Sabrina berkata, “Aku harus ke kantor.”Aldo senang Sabrina masih menemui dan mau bicara dengannya. Tanpa menanyakan perasaan Sabrina lagi, Aldo memilih berkata, “Aku antar.”Sabrina diam beberapa saat, sampai akhirnya mengangguk pelan, tak menolak niatan Aldo.Mereka keluar dari rumah bersama.Aldo mengantar Sabrina ke RDJ Group.Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam, membiarkan kecanggungan menguasai keheningan kabin ini.**Di rumah Elvano.Elvano baru saja bangun. Dia duduk di atas ranjang dengan kepala yang begitu berat.“Sial! Kepalaku sakit sekali.” Satu tangan Elvano menekan kuat kepalanya.Saat matanya terbuka sempurna. Dia baru menyadari jika ada di kamarnya.Dan, pakaiannya sudah berubah m
Sabrina tersentak.Matanya membola lebar, dan wajahnya seketika berubah tegang. Bibirnya sedikit bergetar saat matanya terus menyorot ke arah Aldo dengan tatapan tak percaya.“Ap-apa maksudmu? Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Sabrina tersenyum walau begitu kaku. Dia mengelak dari apa yang baru saja Aldo tanyakan.Aldo diam melihat reaksi Sabrina. Tatapannya tak goyah pada Sabrina, dia terus memandang wanita di depannya ini, yang sudah dia sukai sejak mereka masih duduk di bangku kuliah.“Beri aku kesempatan menjelaskan semuanya, sekali ini saja dan mengungkap apa yang aku rasakan selama ini.” Aldo kembali bicara. Kepalan tangan di atas pahanya semakin menguat.Sabrina hanya bisa diam kaku. Dia bergeming di tempatnya, tatapannya tak teralihkan dari Aldo.“Wanita yang pernah kamu lihat menciumku, itu kakakku namanya Cintya. Dan hadiah kemarin yang kamu pilihkan, itu untuk kakakku juga. Aku tahu kamu salah paham padaku selama bertahun-tahun ini. Tapi perasaanku masih sama seperti bertah







