FAZER LOGINKeesokan harinya.Kiran berjalan lesu menuju mobil Elvano yang sudah menunggunya di depan rumah. Begitu masuk ke dalam mobil, Kiran langsung memasang sabuk pengaman lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah yang begitu kusut.“Ada apa, hm? Masuk mobil kenapa wajahmu cemberut begitu masam seperti itu, hm?” Elvano langsung memastikan saat melihat raut wajah Kiran yang terlihat begitu banyak beban. “Apa ada masalah lagi?” tanya Elvano lagi.Kiran mengembuskan napas pendek. “Banyak, El. Terutama masalah yang sedang dihadapi Noah saat ini.”Kening Elvano berkerut dalam, dia mengembuskan napas kasar lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Bimantara. “Noah lagi, Noah lagi. Ada apa lagi dengan kakakmu itu?” Wajah Elvano yang kini kusut karena Kiran akhir-akhir ini sibuk mengurus masalah Noah.“Apa lagi kalau bukan soal Pak Edo, El.” Kiran menoleh pada Elvano, dia menatap serius ke tunangannya ini yang sedang sibuk menyetir. “Ternyata dugaan kita benar, El. Pak Edo sengaja me
Nandira menggeleng kuat. Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Edo, mencoba melepaskan jari-jari suaminya yang menekan kuat lehernya. Pasokan udara di tenggorokannya tersendat, wajah Nandira kini merah padam dalam hitungan detik. Dia kesulitan bernapas, apalagi sekadar mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Edo.Edo akhirnya melepaskan jari-jarinya dari leher Nandira yang sudah berwajah pucat sambil mendorong kasar tubuh Nandira hingga jatuh berbaring di atas sofa.Nandira terbatuk-batuk, dia meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Napasnya memburu, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi udara di paru-parunya lagi.Edo berdiri di depan Nandira dengan tatapan mata yang berkilat murka. “Aku tanya sekali lagi, Nandira! Apa yang baru saja kamu lakukan dengan laptop itu?!” Suara Edo keras menuntut.Nandira masih berusaha mengatur napasnya. Dia tetap tenang saat menatap pada Edo. “Aku tidak melakukan apa-apa,” jawabnya lirih. Sorot mata Nandira begitu tegas
Noah mengembuskan napas kasar dari mulutnya. Dia menyandarkan punggungnya kembali ke sofa, menatap kosong ke depan.“Nandira mengatakan jika dia yang akan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Dia berjanji akan membantuku lepas dari Pak Edo dan memastikan perusahaan Bimantara tidak akan hancur ataupun terkena penalti kontrak.” Noah menjelaskan dengan nada suara yang terdengar sedikit ragu.Karena bagaimanapun, Noah juga tidak tahu apa rencana Nandira.Kiran tersentak.Kiran mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Noah dengan sorot mata tak percaya. “Apa maksudnya itu, Noah? Bagaimana bisa dia menjamin hal sebesar itu sementara suaminya sendiri yang memegang kendali penuh atas kesepakatan proyek ini?”Noah menggeleng pelan, raut wajahnya semakin lesu. “Aku juga tidak tahu, Kiran. Dia tidak menjelaskan apa pun. Tapi, ada satu kalimatnya yang terus mengusik pikiranku. Nandira mengatakan jika dia tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi. Kalimat itu diucapkan dengan nada ya
Malam hari. Di kediaman keluarga Bimantara.Kiran sedang fokus menatap layar laptopnya saat mendengar suara ketukan pintu.Tatapan Kiran tertuju ke arah pintu, lalu dia berteriak, “Masuk.” Pintu terbuka perlahan, Kiran melihat Noah yang masih mengenakan kemeja kerja yang kancing atasnya sudah terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Pria itu melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak begitu kuyu.Kiran mengerutkan kening melihat sang kakak malah ke kamarnya bukan istirahat lebih dulu. “Noah? Kamu baru pulang? Habis lembur? Penampilanmu berantakan sekali.” Kiran memberondong pertanyaan dengan nada candaan.“Ya, baru pulang.” Noah menjawab lesu. Noah melangkah mendekati sofa tunggal dekat Kiran, lalu mendudukkan tubuhnya di sana dan menyandarkan punggungnya sambil menghela napas kasar.Saat tatapan Noah tertuju pada Kiran yang sudah kembali fokus ke laptop, Noah lalu bertanya, “Kamu sendiri? Masih sibuk dengan laptopmu?”Kiran mengangguk kecil sambil kembali mengetik beberapa
Edo meninggalkan perusahaan dan segera pulang ke kediamannya.Begitu sampai di rumah. Edo melangkah lebar menyusuri koridor rumahnya dengan emosi yang meledak. Dia berjalan cepat untuk segera sampai ke kamar.Beberapa pelayan yang berpapasan dengan Edo langsung menunduk takut dan menepi, tidak berani sekadar menyapa melihat wajah sang majikan yang merah padam dengan urat rahang yang menonjol di bawah permukaan kulit.Brak!Edo mendorong pintu kamar hingga menghantam dinding dengan keras sampai suaranya memekakkan telinga.Nandira tersentak, tatapannya tertuju ke arah pintu kamar. Dia melihat wajah Edo yang dipenuhi amarah.Nandira berdiri dari posisinya, dia menatap kedatangan suaminya yang berjalan cepat menghampirinya.Kecemasan mulai menyelimuti perasaan Nandira, tetapi sedetik kemudian, Nandira berusaha menguatkan hatinya menerima konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan.Edo semakin dekat dengan Nandira, begitu tiba di hadapan Nandira, Edo melempar stopmap berisi surat pengun
Noah terkejut mendengar ucapan Nandira yang terdengar begitu putus asa. Rasa penasaran dan cemas bercampur aduk di dalam benaknya.“Nandira, apa maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Noah bicara dengan nada pelan tetapi sarat akan kecemasan.Sejenak, Noah mendengar suara isakkan dari seberang panggilan, lalu suara helaan napas panjang yang mengiringi.“Kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi, Noah. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah jangan bertindak gegabah. Jangan mendatangi Edo atau membalas perlakuannya dengan emosi.”Noah mengerukan kening lalu jari-jarinya memijat pelipis pelan. “Bagaimana aku bisa tenang kalau kamu tiba-tiba menelpon dan memberitahuku semua ini?”“Tenanglah, Noah.” Suara Nandira kembali terdengar dari seberang panggilan. “Aku yang akan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah terjadi karenaku. Kali ini aku tidak akan lari lagi.”Kening Noah benar-benar berkerut bingung mencerna maksud ucapan Nandira.“Aku akan memastikan perusahaanmu tid







