Share

Tahu Alasannya

last update publish date: 2026-06-20 09:55:32
Kening Noah berkerut dalam melihat nomor asing ini, tetapi dia tetap menjawab panggilan itu.

“Halo, dengan Noah Bimantara di sini,” ucap Noah formal dengan nada suara yang masih terdengar sisa ketegasannya.

Keheningan sempat terjadi selama beberapa detik di seberang sana, hanya terdengar suara helaan napas yang sangat lirih dan sedikit bergetar.

Sampai akhirnya, sebuah suara wanita yang sangat dia kenali terdengar menyebut namanya.

“Noah.”

Tubuh Noah seketika membeku di tempatnya berdiri. Jantu
Aililea (din din)

Kakak, done 2 bab buat pagi ini. Kalian, masih betah sama cerita ini? Masih betah baca sehari 4 bab? Drop komentar kalian di bab, ya. Makasih

| 13
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Adeena
Nandira juga serba salah disini yg salah ya si Edo pencemburu brutal...
goodnovel comment avatar
Titin Susiyana
kasihan bgt si Nandira punya lagi stress semoga bisa lepas dari itu laki.
goodnovel comment avatar
Magda
makasih up nya semoga noah menemukan jalan keluar yg terbaik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Mantan Posesif   Persiapan

    Delapan bulan berlalu dengan cepat. Suasana di kediaman Radjasa mendadak sibuk. Usia kandungan Kiran sudah memasuki bulan kesembilan, dan hari perkiraan lahir hanya tinggal menghitung hari.Di kamar bayi yang berada tepat di sebelah kamar utama, para orang tua tampak sangat bersemangat menyelesaikan mendekor kamar bayi untuk menyambut kelahiran anak Kiran dan Elvano.Alina dan Kamila sibuk menyusun baju-baju bayi berukuran kecil ke dalam lemari, memasang kelambu, hingga menata sprei tempat tidur bayi. Sementara Aksa, Raihan, dan Surya berkumpul di sudut ruangan, sibuk merakit mainan gantung yang akan digantung di atas baby box.Kiran sendiri hanya duduk santai di sofa empuk kamar bayi seraya menikmati semangkuk buah potong segar karena gerakannya kini terbatas, ditemani Nindy yang juga ada di sana siang ini.Tangan Kiran mengusap lembut perutnya yang sudah sangat besar. Dia tersenyum-senyum sendiri memperhatikan kehebohan para kakek dan nenek yang ingin menyambut bayinya.“Mau aku

  • Dimanja Mantan Posesif   Super Hati-hati

    Keesokan harinya. Kiran sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah kondisinya dinyatakan membaik dan stabil oleh dokter. Elvano menjelma menjadi sosok suami yang super protektif dan sigap luar biasa. Sejak langkah pertama keluar dari pintu kamar rawat inap, Elvano tidak membiarkan Kiran membawa apa pun, bahkan tas kecil miliknya sendiri sudah bertengger rapi di bahu Elvano.Dengan penuh kehati-hatian, Elvano menuntun Kiran melangkah menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di parkiran. “Hati-hati,” ucap Elvano memastikan Kiran tidak terbentur tepian kabin seolah istrinya ini bisa pecah kalau tersenggol.Kiran hanya tersenyum melihat sikap Elvano yang berlebihan, tetapi dia senang melihat antusias Elvano menjadi calon ayah.Kiran duduk dengan nyaman di dalam mobil, Elvano memasangkan sabuk pengaman untuk Kiran dengan gerakan sangat lembut, memastikan tali pengaman itu tidak menekan perut istrinya terlalu kencang.“Sudah nyaman, ‘kan? Tidak ada yang menekan?” Elvano memas

  • Dimanja Mantan Posesif   Semua Bahagia

    Alina dan Kamila tak bisa menyembunyikan kecemasan mereka.Saat Alina hendak kembali menghubungi putranya, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar dengan nama Elvano terpampang di layar. Tanpa membuang detik, Alina langsung menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga."El! Kamu ke mana saja, sih?! Mama sama Mama Kamila nyari kamu dari tadi sampai pusing!" cecar Alina meluapkan kekesalannya. “Di mana Kiran? Apa kalian pulang? Apa Kiran sakit?”Suara Elvano terdengar tenang dari seberang panggilan dengan embusan napas lega. "Ma, maafkan aku sudah membuat kalian cemas. Aku tidak sempat pamit tadi karena buru-buru membawa Kiran ke rumah sakit."Kata 'rumah sakit' seketika membuat jantung Alina seolah berhenti berdetak. Wajahnya berubah pucat, memancing Kamila mendekat dengan kening berkerut."Rumah sakit?!" pekik Alina panik sampai membuat beberapa tamu di sekitarnya sempat menoleh. "Kiran kenapa, El? Sakit apa dia? Kenapa bisa sampai dibawa ke rumah sakit? Mama ke sana sekarang y

  • Dimanja Mantan Posesif   Kabar Baik

    Elvano membawa Kiran ke rumah sakit tanpa memberi kabar yang lain.Setelah mendaftar di loket, mereka menunggu beberapa saat, sampai akhirnya dipanggil masuk ke dalam ruang pemeriksaan.Suasana di dalam ruang pemeriksaan rumah sakit terasa dingin dan hening. Kiran berbaring di atas ranjang periksa dengan tirai putih yang melingkupinya. Di sampingnya, Elvano berdiri tak tenang. Elvano terus mengusap punggung tangan Kiran yang terasa dingin, sembari menatap cemas ke arah layar monitor ultrasound di sebelah dokter spesialis kandungan yang sedang memeriksa perut istrinya.Rasa khawatir menggulung dada Elvano. Bayangan tentang Kiran yang mendadak lemas, pucat, dan hampir pingsan di tengah kemegahan pesta pernikahan Noah dan Nindy tadi masih terekam jelas di ingatan."Bagaimana kondisi istri saya, Dokter? Kenapa dari sejak satu minggi ini hingga pagi tadi dia lemas dan mual-mual terus?" tanya Elvano dengan nada suara bergetar tak sabar.Dokter wanita paruh baya itu menghentikan gerakan al

  • Dimanja Mantan Posesif   Semakin Tak Sehat

    Elvano bergegas naik ke lantai atas setelah mendengar desakan sang mama.Begitu masuk ke dalam kamar. Tatapan Elvano tertuju pada Kiran yang berbaring di ranjang masih memakai pakaian kerja.“Ki,” panggil Elvano pelan. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di tepian ranjang sambil menatap Kiran.Kiran menoleh ke Elvano, wajahnya memang sedikit pucat.“Ada apa?” tanya Kiran dengan suara malas.Elvano sedikit ragu bertanya, tetapi demi memastikan, Elvano lantas berkata, "Mama tanya, apa kamu sudah datang bulan?”Kiran menatap pada Elvano dengan kening berkerut dalam. Kiran diam beberapa detik, lalu perlahan bangkit dari tidurnya.Kini Kiran duduk bersandar headboard sambil menatap Elvano setelah mengingat siklus bulanannya. “Sepertinya memang belum datang. Harusnya tanggap sepuluh kemarin, ini sudah tanggal berapa?” Kiran segera mengecek kalender di ponselnya. Dia sudah terlambat datang bulan 5 hari.Mata Kiran membola lebar memandang Elvano, sampai dia berkata, “Apa Mama mengira kalau ak

  • Dimanja Mantan Posesif   Coba Dipastikan

    Sampai di kantor, Kiran benar-benar tidak fokus bekerja. Badannya terasa melayang dan tidak bertenaga. Daripada memaksakan diri di balik meja kerjanya, Kiran melangkah pelan menuju sofa panjang di dalam ruangan Elvano, lalu merebahkan tubuhnya di sana.Elvano yang melihat istrinya mendadak berbaring langsung menghentikan pekerjaannya. Dia bangkit dan berjalan menghampiri sofa, lalu mendaratkan telapak tangannya di dahi Kiran."Kamu tidak demam, Ki. Tapi wajahmu pucat sekali," kata Elvano khawatir. "Beneran tidak mau ke dokter saja?"Kiran memejamkan mata sambil menggeleng pelan. "Enggak, El. Aku cuma kelelahan. Nanti juga hilang sendiri kalau dipake istirahat."“Tapi wajahmu agak pucat,” kata Elvano sambil menatap cemas.Kiran menggeleng pelan. Lalu dia membuka mata sedikit dan menatap suaminya. "El, aku mau buah. Tolong belikan buah segar, ya?"“Buah? Oke.” Elvano mengambil ponsel dari atas meja kerjanya, lalu kembali ke soda. "Aku pesankan sekarang," jawab Elvano cepat.Elvano lang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status