تسجيل الدخولSaat Elvano dan Theo sampai di pintu yang tadi mereka gunakan untuk keluar. Para tamu sudah berhamburan keluar melalui pintu utama. Ada api muncul dari panggung yang ada di depan, menciptakan kepanikan yang luar biasa untuk semua tamu. “Kiran!” Elvano berteriak keras. Matanya menelisik ke setiap tamu yang sedang terburu-buru berlari meninggalkan tempat pesta. Elvano mulai panik tak mendapati Kiran di mana-mana. Sampai pandangannya tertuju pada sang kakak ipar yang berdiri panik sambil mengedar ke seluruh ruangan. “Theo, cari Arlo dan yang lain, aku akan membantu Ayudhia keluar dulu.” Setelah melihat Theo mengangguk, Elvano merangsek membelah kerumunan para tamu yang berbondong-bondong ingin meninggalkan ruangan. “Ayudhia.” Elvano memanggil sang kakak ipar. Saat tatapan Ayudhia tertuju ke arahnya, Elvano segera menarik tangan sang kakak ipar. “Bawa bayimu keluar dari sini.” “El, Leya tidak ada. Dia di mana? Dia tadi aku tinggal duduk sendirian di meja itu, tapi sekarang tidak
Kiran melangkah menuju meja Leya berada.Saat sudah berdiri di samping kursi Leya, Kiran menahan senyum melihat cara makan Leya yang begitu lahap.“Leya.” Kiran sedikit membungkuk ketika menyapa gadis kecil ini.Leya menoleh cepat masih dengan mulut yang penuh, Leya terlihat sangat senang.Setelah berhasil menelan seluruh makanan di mulut, Leya segera menyapa. “Kakak Kiran.” Senyum Leya melebar. Dia sampai turun dari kursinya.Kiran menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Leya.“Kamu tambah chubby, hmmm. Lihat pipimu, gemesin.” Kiran menusuk-nusuk pelan pipi Leya.Leya tertawa lepas. “Iya, soalnya kalau adik nggak mau makan bubur, Leya yang habisin.”Kiran tertawa kecil mendengar cerita Leya. “Kenapa duduk di sini sendiri? Mama dan Papa mana?” Kiran menegakkan tubuhnya, pandangannya mengedar ke seluruh ruangan mencari keberadaan Arlo dan Ayudhia.“Mama tadi mau kasih susu ke adik. Papa baru saja tadi pergi ke sana.” Leya menunjuk ke arah sang papa pergi.Pandangan Kiran akhirnya tertuju ke
Kiran keluar dari rumah untuk melihat siapa yang menunggu.Sampai tatapannya tertuju pada Noah.Tetapi kakaknya ini memakai kemeja polos dengan celana panjang biasa.“Kenapa kamu menungguku?” Kiran memastikan.“Elvano memberiku undangan untuk ikut datang ke pestanya, hanya saja aku merasa kedatanganku akan menciptakan masalah, jadi lebih baik aku datang tapi tidak masuk ke ruang pesta.” Noah tersenyum setelah bicara. “Anggap saja aku sopirmu. Aku akan menunggu di luar dan memastikan kamu tetap aman.’Kiran terenyuh. Tiba-tiba saja dadanya berdenyut cepat mendengar ucapan Noah yang penuh perhatian padanya.“Baiklah, hanya semalam ini saja menjadi sopirku, selebihnya kamu adalah kakakku.” Setelah bicara, Kiran tertawa kecil karena candaannya.Sedang Noah kini bergeming mendengar ucapan Kiran, rasanya masih benar-benar tak menyangka Kiran sudah menyebutnya sebagai kakak lagi.“Baiklah, ayo kita pergi. Terlambat sedikit saja, Elvano akan mengamukku dikira aku menghambat kedatanganmu.” Kir
Elvano menghela napas pelan.“Apa pun tujuannya, dia salah tempat.” Elvano menoleh pada Kiran, tatapannya penuh perhatian pada kekasihnya ini. “Kiran sudah dua kali mengalami rumor miring seperti ini. Jadi, ketiga kalinya tidak akan membuat Kiran tersudut.”Setelah bicara, kedua sudut bibir Elvano tertarik membentuk lengkungan kecil.“Apalagi, ada keluargaku yang melindungi Kiran juga. Wanita itu bisa berbuat apa di Radjasa?” Elvano kembali bicara tanpa mengalihkan tatapan dari Kiran.Noah menatap bergantian pada Kiran dan Elvano yang tersenyum sambil saling tatap.Dia seperti berada di tempat dan waktu yang salah.Tubuh Noah mendadak merinding. “Bisakah kalian tetap ingat, jika di sini, di tempat ini, di meja ini, ada aku, aku, ya aku di sini harus menyaksikan kemesraan kalian?” Noah kesal sendiri, dia menatap bergantian pada Kiran dan Elvano.Elvano dan Kiran menoleh bersamaan.“Memangnya kami memperlihatkan kemesraan?” Pertanyaan Elvano membuat Noah semakin kesal.“Sudahlah, suka
Noah tersentak.Wajahnya merah padam bersamaan jari-jarinya yang kini mengepal kuat.“Apa maksudmu? Kamu mau menuduh ayahku berselingkuh dengan Martha, lalu wanita gila itu sekarang mengincar Kiran untuk balas dendam. Itu maksudmu?” Suara Noah menggeram tertahan. Ingin meledak tetapi masih ditahan untuk menjaga situasi tetap kondusif.“Tenanglah, itu hanya tebakanku. Banyak spekulasi yang bisa kita pikirkan, tapi mendengar cerita dari orang yang aku temui, semuanya mengarah ke sana.” Theo bicara dengan sangat santai menghadapi sikap Noah.Noah mendengkus kasar. Dia memalingkan muka untuk menahan diri agar emosinya tak meledak.“Kehidupan keluargaku baik-baik saja selama bertahun-tahun ini. Kami begitu harmonis, jadi jaga pemikiranmu itu.” Noah bicara sedikit ketus.Kiran diam mencerna ucapan Theo. Bisa saja semua yang Theo katakan memang benar.Hanya saja, tanpa bukti lebih jelas, mereka juga tidak bisa langsung menyimpulkan.“Masalah ini belum jelas arahnya.” Kiran membuka suara.Tata
Sore hari.Kiran duduk di mobil Elvano.Dia menoleh pelan ke sang kekasih yang sedang mengemudi.“Apa yang Theo katakan?” Kiran menahan penasaran sejak Elvano mengatakan jika Theo sudah mendapat informasi soal Martha.“Aku juga belum tahu, tapi Theo bilang sudah ada petunjuk dan ingin bertemu langsung untuk membahas ini.”Kiran mengangguk-angguk mendengar penjelasan Elvano.“Kamu sudah menghubungi Noah?” tanya Elvano saat menoleh sekilas pada Kiran.Kiran mengangguk pelan. “Aku sudah mengirim pesan padanya untuk datang ke kafe yang kamu katakan tadi.”Elvano mengangguk-angguk pelan.Mereka tiba di kafe yang dituju.Kiran dan Elvano keluar dari mobil, kemudian berjalan masuk ke kafe.Saat menginjakkan kaki di dalam kafe, tatapan mereka tertuju ke lantai dua kafe ini.Theo menunggu di atas.Elvano dan Kiran naik ke lantai atas. Setibanya di sana, ternyata Noah sudah tiba lebih dulu dari mereka.“Kamu tiba lebih awal?” Kiran menatap Noah yang sudah duduk satu meja dengan Theo.“Kebetulan
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama







