ВойтиSaat sampai di UGD.Noah turun dari dalam mobil dengan cepat. Dia berteriak memanggil petugas sebelum membuka pintu belakang untuk membantu Elvano mengeluarkan Kiran dari dalam mobil.Perawat lari tergopoh mendorong ranjang pesakitan. Begitu Kiran dibaringkan di atas brankar, perawat langsung membawa Kiran menuju ruang penanganan. Elvano terus menggenggam telapak tangan Kiran, sampai akhirnya terlepas karena perawat menahannya di luar.“Anda tunggu di luar, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien.”Elvano termangu mendengar apa yang perawat ucapkan.Hingga pintu di depannya tertutup, Elvano hanya bergeming dengan tatapan kosong.Bahkan luka di punggung tangannya, tidak mengalihkan ketakutan akan kondisi Kiran saat ini.Noah berdiri menatap pada Elvano yang hanya diam memandang ke pintu.Mereka sama-sama terpukul, tetapi sepertinya ketakutan terbesar ada pada diri Elvano ketimbang Noah sendiri.Tatapan Noah tertuju pada tangannya. Darah Kiran perlahan mengering, bau anyir
Dunia Elvano seakan berhenti tepat saat melihat tangan Kenny terarah di perut Kiran.Saat tangan Kenny ditarik ke belakang, tampak jelas merah darah yang menetes dari ujung belati di tangan Kenny.Mata Elvano membola lebar. Napasnya tersekat begitu melihat tubuh kekasihnya terhuyung pelan, sebelum jatuh ke aspal dengan kedua tangan masih terikat di belakang tubuh.“Kiran!” Suara Elvano keras meski sedikit bergetar.Tepat setelah itu, anak buah Kenny terlibat baku hantam dengan anak buah Theo.Sedang Elvano berlari kencang mengarah pada Kenny yang tertawa puas.Tawa itu benar-benar membuat Elvano ingin mencabik-cabik tubuh pria yang berani melukai kekasihnya.Elvano menerjang tubuh Kenny dalam satu kali lompatan, lututnya menghantam perut pria ini sampai jatuh terkapar.Begitu Kenny tersungkur di aspal. Elvano duduk di atas perut Kenny. Jari-jari tangan kiri Elvano mencengkram leher Kenny seolah siap mematahkannya.“Kamu berani menyakitinya? Kamu berani melukainya?” Kepalan tangan kana
Mata Kiran membola lebar. Kilau silver yang menembus indera penglihatannya membuatnya menggeleng pelan.“Kamu tidak akan melakukan itu.” Kiran tak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya. “El tidak akan melepaskanmu, dia akan menyeretmu ke penjara.” Kiran mencoba menggoyahkan niat pria ini.Namun, pria ini malah tertawa kecil.“Aku tidak takut mati.” Kenny mengangkat belatinya di udara.Brakk!Sebelum belati menghujam perut Kiran, suara benturan mengejutkan semua orang yang ada di dalam mobil bersamaan tubuh mereka yang terhuyung ke segala arah.Mobil berhenti setelah sebelumnya menabrak sebuah mobil yang melintang di depan mereka.“Mobil di depan muncul secara tiba-tiba.” Rekan Kenny menoleh ke belakang, wajahnya begitu panik.Tatapan Kenny tertuju ke mobil di depan mereka yang ringsek bagian sisinya karena benturan kuat. Sebelum pandangannya tertuju ke belakang, tiga mobil yang mengejar mereka kini mengepung.“Sial.” Kenny mengumpat. Saat ini tatapannya tertuju pada Kiran.Jari-jari K
Beberapa saat sebelum kejadian.Kiran asyik makan dengan Leya, sampai suara dentuman kecil mengejutkannya dan yang lainnya.“Api.”Suara itu terdengar di tengah kerumunan para tamu. Kiran menatap ke arah panggung, benar ada api di sana.Kiran panik, dia langsung menangkap tangan Leya. “Leya, ayo keluar dari sini.” Leya menatap bingung. “Kenapa Kakak Kiran? Tapi Mama belum ke sini, nanti Mama nyariin Leya.” “Panggungnya terbakar, kita keluar dulu.” Kiran sudah berdiri, tatapannya tertuju ke orang-orang yang mulai meninggalkan aula pesta. “Nanti Kakak Kiran yang akan cari Mama dan jelasin, oke.”Leya mengangguk sebelum turun dari kursi. Dia berjalan bersama Kiran menuju pintu keluar.Keduanya terdesak orang-orang yang berusaha keluar dari ruang pesta karena panik.Kiran mengajak Leya menepi agar tidak tertabrak tamu lainnya ketika mencapai luar. Mencarikan tempat yang aman dan luas agar Leya tidak terluka jika terdesak orang dewasa.Di tengah kepanikan. Di bawah lampu yang sedikit te
Saat Elvano dan Theo sampai di pintu yang tadi mereka gunakan untuk keluar. Para tamu sudah berhamburan keluar melalui pintu utama. Ada api muncul dari panggung yang ada di depan, menciptakan kepanikan yang luar biasa untuk semua tamu. “Kiran!” Elvano berteriak keras. Matanya menelisik ke setiap tamu yang sedang terburu-buru berlari meninggalkan tempat pesta. Elvano mulai panik tak mendapati Kiran di mana-mana. Sampai pandangannya tertuju pada sang kakak ipar yang berdiri panik sambil mengedar ke seluruh ruangan. “Theo, cari Arlo dan yang lain, aku akan membantu Ayudhia keluar dulu.” Setelah melihat Theo mengangguk, Elvano merangsek membelah kerumunan para tamu yang berbondong-bondong ingin meninggalkan ruangan. “Ayudhia.” Elvano memanggil sang kakak ipar. Saat tatapan Ayudhia tertuju ke arahnya, Elvano segera menarik tangan sang kakak ipar. “Bawa bayimu keluar dari sini.” “El, Leya tidak ada. Dia di mana? Dia tadi aku tinggal duduk sendirian di meja itu, tapi sekarang tidak
Kiran melangkah menuju meja Leya berada.Saat sudah berdiri di samping kursi Leya, Kiran menahan senyum melihat cara makan Leya yang begitu lahap.“Leya.” Kiran sedikit membungkuk ketika menyapa gadis kecil ini.Leya menoleh cepat masih dengan mulut yang penuh, Leya terlihat sangat senang.Setelah berhasil menelan seluruh makanan di mulut, Leya segera menyapa. “Kakak Kiran.” Senyum Leya melebar. Dia sampai turun dari kursinya.Kiran menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Leya.“Kamu tambah chubby, hmmm. Lihat pipimu, gemesin.” Kiran menusuk-nusuk pelan pipi Leya.Leya tertawa lepas. “Iya, soalnya kalau adik nggak mau makan bubur, Leya yang habisin.”Kiran tertawa kecil mendengar cerita Leya. “Kenapa duduk di sini sendiri? Mama dan Papa mana?” Kiran menegakkan tubuhnya, pandangannya mengedar ke seluruh ruangan mencari keberadaan Arlo dan Ayudhia.“Mama tadi mau kasih susu ke adik. Papa baru saja tadi pergi ke sana.” Leya menunjuk ke arah sang papa pergi.Pandangan Kiran akhirnya tertuju ke
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama







