로그인Kakak, done 2 bab buat pagi ini, selamat membaca
Kiran memaksakan senyum ramah di wajahnya saat menatap pada Edo yang masih memandangnya.Kiran tenang meski isi kepalanya dipenuhi tanda tanya besar karena sikap Edo ini. “Ah, iya, Pak Edo. Kebetulan sekali.” Kiran bicara dengan nada suara begitu tenang. “Kami baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien.” Kiran menjelaskan singkat.Edo mengangguk-angguk paham. Senyumnya tidak luntur sedikit pun, bahkan binar matanya terlihat begitu bersahabat, sangat berbeda dengan kilat penuh amarah yang terlihat malam tadi di UGD.“Anda sendiri?” Kiran berbalik bertanya, dia ingin melihat sikap Edo apakah akan berubah seperti semalam.Di luar dugaan Kiran, Edo tersenyum dan tak menunjukkan tanda-tanda kesal atau tak suka.“Hanya baru saja makan siang dan sekarang harus kembali ke kantor.” Nada bicara Edo begitu tenang tanpa emosi.Kiran mengangguk-angguk pelan. Melihat perubahan Edo ini, Kiran berinisiatif bertanya, “Bagaimana dengan kondisi Nona Nandira, Pak? Apa keadaannya sudah membaik?”Jika
Keesokan harinya.Kiran keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Saat baru saja menutup pintu kamarnya, dia melihat Noah yang juga baru saja keluar dari kamar.Kiran melangkah mendekat. Saat berdiri di dekat sang kakak, Kiran memperhatikan penampilan sang kakak yang tampak kontras dengan setelan jas mahalnya. Wajah Noah terlihat sedikit lesu, ada lingkaran hitam samar di bawah mata Noah.“Sini, aku rapikan dasimu. Agak miring itu.” Kiran mengulurkan tangan ke kerah kemeja Noah yang baru saja menghadapnya.Noah tidak menolak. Dia hanya berdiri diam, membiarkan jemari adiknya lincah membetulkan simpul dasinya yang sedikit longgar. Saat Kiran selesai merapikan ikatan dasinya, senyum Noah terangkat kecil. “Terima kasih.”Kiran mengangguk pelan, dia menatap lekat-lekat wajah Noah yang benar-benar terlihat lesu tak bersemangat. “Apa semalam kamu begadang?”Noah langsung memalingkan wajahnya sedikit ke samping, menghindari kontak mata dari Kiran. “Tidak. Aku tidur tepat waktu.”“
Di rumah sakit.Di salah satu ruang rawat inap.Nandira perlahan membuka matanya. Tatapannya tertuju ke langit-langit kamar yang begitu asing untuknya saat kesadarannya sudah kembali dengan sempurna.Aroma desinfektan menusuk indera penciumannya, dan Nandira baru menyadari kalau selang infus terpasang di tangannya.Saat dia menoleh ke samping, kedua pundaknya bergedik pelan, atmosphere di tempat ini terasa mencekam kala tatapannya bertemu dari sorot mata Edo yang dingin. Edo berdiri di samping ranjang, menatap Nandira dengan pandangan sedingin es. Kedua tangan Edo dimasukkan ke dalam saku celana, tidak ada raut kelegaan sama sekali di wajahnya saat melihat Nandira akhirnya sadar.Nandira memilih tidak banyak bicara. Dia mencoba bangun sendiri meski tubuhnya masih sangat lemas dan kepalanya masih sedikit pening.“Sudah puas membuat drama di pesta kolegaku?” Suara Edo terdengar datar tetapi sarat akan intimidasi.Nandira tersentak. Dia baru saja bisa duduk dan sudah ditembak dengan p
Mata Noah membola lebar mendengar tuduhan dari mulut adiknya sendiri. Dia mundur setengah langkah, menatap Kiran dengan ekspresi tidak percaya.Noah mendengkus. “Selingkuh?” Ulangnya dengan tatapan tak percaya. Noah tertawa hambar sebelum kembali menatap pada Kiran. “Kiran, apa aku terlihat seburuk itu? Bagaimana bisa kamu menuduhku berselingkuh dengan istri orang? Aku bahkan baru bertemu lagi dengannya setelah belasan tahun.”Kiran masih menyipitkan mata. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan sorot matanya masih memperlihatkan keraguan. “Lalu kenapa Pak Edo bisa posesif dan curiga seperti itu, Noah? Tidak mungkin seorang pria bertingkah seolah ingin menyingkirkanmu, jika bukan karena suatu alasan yang kuat. Dan, ucapan Pak Edo mengarah ke sana. Kamu mengganggu istrinya dan pria itu tak menyukainya!”Noah membuang napas kasar melalui mulutnya, kedua tangan sampai berkacak pinggang dengan ekspresi wajah nyaris frustasi.Sejenak Noah mengalihkan pandangan dari sang adik, lalu sa
Mobil sport merah Elvano perlahan menepi di bahu jalan yang agak temaram.Di bawah lampu jalan yang kekuningan,Noah sudah berdiri menunggu di samping mobilnya. Tubuhnya langsung menegak saat matanya menatap ke arah mobil Elvano yang baru saja berhenti.Noah berdiri tenang menunggu, sampai Kiran dan Elvano turun dari mobil lalu menghampiri Noah."Bagaimana kondisi Nona Nandira? Apa dia baik-baik saja?" Noah langsung memberondong Kiran dengan pertanyaan begitu Kiran tiba di hadapannya.Kiran mengembuskan napas panjang, dia merapikan sedikit gaunnya yang tertiup angin malam. Lalu menatap sang kakak lagi. "Nona Nandira baik-baik saja. Kata Pak Edo, dia hanya kelelahan." Noah mengembuskan napas pelan mendengar balasan Kiran. Wajahnya terlihat lebih lega.Kiran menatap lurus ke dalam manik mata sang kakak, lalu dia kembali bicara, "Tapi jujur saja, sikap suaminya benar-benar tidak mengenakkan, Noah."Noah tertegun sejenak, keningnya berkerut dalam. "Tidak mengenakkan bagaimana maksudmu?"K
Di rumah sakit.Kiran dan Elvano berjalan menuju UGD setelah mendengar permintaan Noah yang meminta mereka memastikan kondisi Nandira.Kiran penasaran kenapa Noah peduli pada istri orang, tetapi sang kakak memohon agar Kiran lebih dulu melihat kondisi Nandira, sebelum Noah nanti menceritakan semuanya.Mereka masuk ke UGD, tatapan mereka tertuju pada Edo yang berdiri di depan salah satu ruang penanganan.Kiran dan Elvano berhenti sejenak, keduanya saling tatap lalu mengangguk bersama.Kiran dan Elvano mendekati Edo."Selamat malam, Pak Edo." Kiran menyapa begitu berdiri di dekat Edo.Edo menoleh setelah mendengar suara Kiran. Dia menatap Kiran dan Elvano yang berdiri di dekatnya."Anda siapa?" tanya Edo dengan nada dingin. Dia menyipitkan mata, menatap Kiran dengan pandangan penuh selidik. "Saya ingat. Anda wanita yang tadi di pesta dan bicara dengan Noah Bimantara, bukan? Ada urusan apa Anda di sini?" Kiran tetap tersenyum walau sedikit tidak senang dengan nada bicara Edo yang tak me







