MasukMata Kiran membola lebar mendengar pengakuan Kamila.Bukan hanya Kiran, semua orang juga langsung tersenyum lega mendengar penuturan wanita ini soal hubungan Noah dan Nindy.Suasana ruang keluarga yang semula sempat tegang kini berubah penuh kehangatan."Lamarannya akan diadakan sebulan lagi," tambah Noah memajang senyum lebar. "Mengingat Kiran juga baru saja menikah, kami merasa waktu sebulan cukup pas untuk persiapan."“Baguslah.” Nada bicara Kamila sedikit mencair lebih hangat dari sebelumnya. “Dengan begitu, kamu bisa cepat-cepat nyusul Kiran, masa kakaknya kalah dari adiknya.” Kali ini ucapan Kamila mengandung sedikit nada sindiran.Kiran melipat bibir mendengar ucapan Kamila, sepertinya mulai terbiasa dengan sikap sang mama yang seperti ini.Raihan mengangguk-angguk setuju. Dia memandang Noah dan Nindy dengan raut bahagia. "Papa akan siapkan semuanya. Yang penting kamu dan Nindy benar-benar serius membina rumah tangga nantinya.""Pasti, Pa," sahut Noah cepat tanpa keraguan sediki
Di kediaman Radjasa. Suasana rumah terasa begitu hangat dan ramai. Seluruh keluarga sedang berkumpul menyambut kepulangan Kiran dan Elvano dari liburan honeymoon mereka.Kamila dan yang lain berdiri di depan teras, mereka menunggu kedatangan Kiran dan Elvano yang sedang dijemput dari bandara.“Kenapa mereka belum sampai-sampai? Memangnya jalanan di weekend begini macet?” Kamila menatap pada Alina yang duduk di sampingnya.“Duh, ya mana kutahu.” Alina juga sebenarnya tak sabar. “Mungkin bentar lagi, Aksa juga bilang sudah dalam perjalanan pulang sejak 30 menit lalu.”Kedua wanita itu benar-benar sangat antusias menunggu kedatangan anak mereka pulang.Sampai beberapa saat kemudian, mobil yang menjemput Kiran dan Elvano tiba, memasuki halaman rumah lalu berhenti tepat di area parkir depan garasi.Alina dan Kamila berlomba mendekati mobil, keduanya menunggu dan menyambut Kiran yang baru saja keluar dari dalam mobil.“Mama.” Tatapan Kiran tertuju bergantian pada Kamila dan Alina.Kamila l
Noah meninggalkan rumah dengan senyum tak lekang dari bibirnya.Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju toko kue milik orang tua Nindy, karena Noah tahu jika Nindy ada di sana saat ini. Begitu sampai di depan toko kue, Noah memarkirkan kendaraan dengan rapi. Lalu dia bergegas melangkah masuk dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.Saat masuk ke dalam toko, tatapan Noah langsung tertuju pada Nindy yang sedang mengecek beberapa nota di dekat kasir. “Nindy,” panggil Noah sambil melangkah mendekat.Tatapan Nindy langsung tertuju ke arah suara Noah, dia terkejut melihat kekasihnya ini di sana.Bukannya senang, raut wajah Nindy justru berubah cemas. Nindy menutup buku catatannya, lalu melangkah meninggalkan meja kasir."Noah? Kenapa kamu ke sini?" Nindy berjalan mendekati Noah dengan kening berkerut. "Bukannya hari ini kamu bilang ada janji bertemu klien?""Sudah aku batalkan. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar urusan klien," jawab Noah dengan tatapan tak t
Noah membeku di tempatnya berdiri. Apa Noah tidak salah mendengar? Apa yang mamanya katakan tidak benar?“Mama bilang tadi mau melamar, ‘kan?” Noah masih seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Mata Noah membola lebar saat otak cerdasnya mampu mencerna maksud sang mama. Sampai dia baru menyadari jika sang mama sudah menjauh darinya, tatapannya langsung tertuju punggung Kamila yang mulai melangkah menjauh menuju area dapur.Begitu tersadar dari rasa terkejutnya, Noah bergegas mengejar langkah Kamila."Ma! Tunggu, Ma!" Noah memotong jalan Kamila dan berdiri tepat di depannya. Matanya menatap Kamila penuh rasa tidak percaya. "Maksud Mama apa? Mama tidak bercanda, 'kan?" Noah memastikan, tatapannya tertuju pada wajah sang mama yang begitu datar.Kamila berdiri sambil menghela napas kasar. Wajahnya tetap terpasang ekspresi sok datar dan cuek. "Kenapa? Tidak mau dilamarkan? Ya sudah kalau tidak usah. Jadi tak usah buang-buang waktu."Kalimat bernada tak peduli dari sang
Nindy melipat bibirnya saat mendengar pertanyaan sang mama. Dia diam beberapa detik, berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi sebenarnya kepada sang ibu."Dulu, aku dan Noah pernah membohongi Bibi Kamila, Ma." Nindy jujur karena masalah ini dia belum pernah membicarakan dengan sang mama. "Aku dan Noah berpura-pura pacaran di depan Bibi. Karena itu Bibi Kamila masih kesal padaku, padahal sekarang kami benar-benar pacaran." Nindy menatap canggung ke sang mama, karena dia sudah berani membohongi orang tua.Indah tersentak sampai matanya membola lebar. Meski dia tak percaya dengan apa yang baru saja Nindy katakan, tetapi Indah hanya bisa menghela napas panjang."Kenapa kamu bisa bohong begitu, Nindy?" tanya Indah dengan nada tertahan, tak menyangka anak perempuannya melakukan hal sejauh itu.Nindy kembali diselimuti penyesalan jika ingat akan kejadian itu. Tetapi, dia juga salah."Dulu aku dan Noah masih sama-sama baru kenal, Ma. Keadaannya rumit saat itu," balas Ni
Nindy melirik ke Kamila setelah mendengar pertanyaan ibunya. Dia tak langsung menjawab, Nindy sedikit panik saat mendapati Kamila memandangnya dengan tatapan datar. Namun, Nindy sadar kali ini dia harus berani. Dia harus membuktikan kepada Kamila bahwa tidak ada lagi hal yang dia sembunyikan.Nindy menarik napas pelan, menguasai dirinya agar tidak tegang, lalu menatap ibunya dengan tenang. "Kenal, Ma. Beliau ini Bibi Kamila ... mamanya Noah."Indah seketika terkejut. Matanya membola lebar saat kembali menatap pada Kamila dengan ekspresi tidak percaya. Indah tentu sudah tahu soal Noah, pria yang kini sedang menjalin hubungan dengan putrinya.Atmosfer di meja itu mendadak tegang. Saat Indah ingin membuka bersuara, Kamila sudah lebih dulu memotong."Apa Ibu tahu kalau Nindy dan putra saya pacaran?" tanya Kamila dengan nada suara yang sulit ditebak.Indah melihat ekspresi Kamila yang begitu datar. Dia berdeham pelan dan berusaha tetap tenang. "Tahu, Bu. Noah sering main ke toko juga, ka







