แชร์

Papa Tahu

ผู้เขียน: Erna Azura
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-24 20:43:56

Ruang kerja Papa Nicholas di lantai tiga puluh delapan LZ Corp terkenal dingin dan kaku dengan segala protokoler. Tidak pernah sekalipun Axel merasa nyaman datang ke sini.

Tapi hari ini?

Suasananya terasa … lebih dingin dari biasanya.

Entah apa yang sang papa ingin bicarakan tapi sepertinya hal yang penting yang tidak boleh mama ketahui, pasalnya makan malam atau sarapan pagi adalah tempat untuk diskusi membahas segala macam permasalahan.

Pintu diketuk sekali.

“Masuk.”

Axel menelan ludah sebelum mendorong pintu. “Pa?”

Papa Nicholas duduk tegap di balik meja marmer hitam, kacamata baca bertengger di ujung hidung, tatapan tajamnya terfokus pada layar iPad.

Hanya satu detik Axel berdiri di ambang pintu sebelum sang presdir mengangkat wajah.

“Duduk di sini.”

Axel menarik kursi lalu duduk di depan sang papa. Punggung lurus. Tatapan dan ekspresi wajah tampak tegang.

Papa Nicholas menyipit. “Kamu kelihatan seperti mau sidang skripsi.”

Axel menggaruk tengkuk. “Karena… feeling aku
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (5)
goodnovel comment avatar
Dyandra Mulya
Wkwkwkwk ... Dasar AXEL, disogok Mobil BARU langsung Nyerocos JUJUR... Tapi ya Emg Sudah waktunya REX harus Membuka Diri pd Kluarga jika dia Menikahi ANITA yg juga Masih GADIS (bukan JANDA) karena Utk Menolong ANAK YATIM-PIATU sekaligus ANAK Almarhum ANWAR Sahabatnya yg berselingkuh dgn ADIKNYA ANITA
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
axel kocak bgt dah.... disogok baru ngaku hihihihih
goodnovel comment avatar
Mita Aprilia
Lucu banget sih keluarga ini. Yuhuuu...mobil baru Axel.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dimanja Suami Kontrakku   Adik yang Merindukan Sang Kakak

    Axel berdiri di tengah ruang keluarga besar itu dengan satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya menenteng tas belanja berlogo butik luar negeri. Wajahnya kosong. Kosong seperti jiwa yang baru saja dicabut separuhnya.“Xel.”Axel menoleh refleks.“Iya, Ma.”Mama Ayara duduk anggun di sofa, kaki disilangkan, tablet di tangan. Nada suaranya tenang—terlalu tenang—yang justru selalu menjadi pertanda buruk.“Tolong cariin Mama tiket ke Paris ya. Tapi jangan ekonomi. Mama trauma. Mama mau first class.”Axel menghela napas. “Ma… Mama kemarin baru pulang dari Paris pakai privat jet papa.”“Iya makanya sekarang pakai pesawat komersial aja, enggak enak hati Mama … lagian kemarin Mama ke Paris itu untuk belanja. Sekarang Mama mau ke Paris untuk healing,” jawab mama Ayara ringan, seolah dua hal itu sangat berbeda.Papa Nicholas yang sedari tadi duduk membaca koran bisnis dan pura-pura tidak mendengar sewaktu mama minta first class hanya berkomentar tanpa menoleh.“Sekalian carikan hotel

  • Dimanja Suami Kontrakku   Saingan Anita

    Malam turun perlahan di Bandung, membawa hawa dingin yang menyelinap lewat sela-sela pepohonan di halaman samping rumah. Lampu teras menyala temaram, cukup untuk menerangi kursi rotan dan meja kecil tempat Rex berdiri sambil menatap layar ponselnya yang bergetar pelan.Di dalam rumah, Nathan sudah tidur pulas. Napas kecilnya teratur, ritmenya tenang—seperti janji bahwa malam ini tak akan ada gangguan.Di ruang makan, Anita duduk dengan punggung lurus, laptop terbuka, kertas-kertas bahan ajar tersusun rapi. Sesekali ia mengetik, sesekali berhenti untuk membaca ulang, wajahnya fokus, alisnya sedikit mengerut—dunia dosen yang ia cintai.Getaran ponsel kembali terasa.Vano calling…Rex melirik sekilas ke arah pintu kaca. Anita masih tenggelam dalam pekerjaannya. Ia mengangkat telepon, melangkah satu langkah ke sisi teras agar suaranya tidak mengganggu.“Halo.”Di seberang sana, suara riuh café terdengar samar—gelas beradu, tawa kecil, musik lembut. Bukan Rex yang datang ke sana; ma

  • Dimanja Suami Kontrakku   Dunia Rex

    Stevie tidak pernah terbiasa merasa tertinggal.Selama ini, jika Rex melangkah satu langkah, dia tinggal berdiri—dan Rex akan menunggu.Jika Rex menjauh, dia tinggal memanggil—dan Rex akan berbalik.Selalu begitu.Tapi hari ini berbeda.Stevie duduk di salah satu kafe lama di kawasan Jakarta Selatan, tempat yang dulu sering mereka datangi saat masih SMA. Meja kayu panjang di pojok dekat jendela—tempat nongkrong favorit “geng Rex” dulu—masih sama. Bahkan pelayan yang lewat barusan sempat menatapnya lama, seolah mencoba mengingat wajah yang pernah sering muncul bertahun-tahun lalu.Dan satu per satu, mereka datang.Bukan Rex.Melainkan teman-teman Rex dan Anita.Ada Vano, si paling cerewet yang dulu selalu jadi jembatan antara Rex dan dunia luar.Ada Ruben, pendiam tapi paling jujur—yang sering bilang Rex terlalu baik untuk orang-orang tertentu.Ada Raka, si paling santai, tapi justru paling tajam membaca situasi.Begitu mereka melihat Stevie, ekspresi mereka berubah.Bukan

  • Dimanja Suami Kontrakku   Tidak Lagi Terbagi

    “Eeeh … Nathan mau sekolah dianter papi mami ya?” Bu Hera bertanya dari teras rumahnya membuat keluarga kecil itu menoleh.“Iyaaa Nathan mau sekolah dianter papi … papi sekarang enggak akan pergi lagi,” jawab Nathan dengan nada tidak jelas.Bocah kecil itu kemudian diturunkan ke car seat dari gendongan sang ayah. “Kereeeen ….” Bu Hera mengacungkan dua jempol.“Pamit dulu Bu ….” Anita menyapa Bu Hera sebelum masuk ke dalam mobil.“Hati-hati ya … aduuuh, kalian ini pasangan serasi ya.” Bu Hera berujar ketika mobil Rex melewati rumahnya dan masih bisa Anita dan Rex dengar.Anita tersipu, menundukan pandangannya sebentar.Semua orang berkata demikian, dia dan Rex serasi, tapi apa iya?Rex tampak fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap lutut Nathan yang duduk di car seat belakang.Nathan terlihat segar dan bersemangat pagi ini, rambutnya rapi, tas kecilnya tergantung manis di punggung. Tidak banyak ocehan pagi ini—hanya senyum kecil dan dengu

  • Dimanja Suami Kontrakku   Harapan dan Kebahagiaan Baru

    Anita menutup mata.Ia merasakan tangan Rex yang hangat di kulitnya, mencoba menanggalkan pakaiannya, gerak jemari dengan gurat otot samar itu begitu hati-hati, seperti seseorang yang sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga—bukan sekadar tubuh, melainkan kepercayaan.Setiap sentuhan Rex seolah bertanya, dan setiap tarikan napas Anita adalah jawaban.Satu persatu kain di tubuh mereka luruh ke lantai seperti kecupan demi kecupan Rex yang terus turun ke leher lalu ke tulang selangka kemudian ke dada.Seperti tadi, Rex begitu bernafsu mengulum puncak di dada Anita.Hanya desahan yang bisa Anita cetuskan untuk memberitahu Rex kalau dia menikmatinya.Anita pikir Rex akan berhenti tapi bibir dan lidahnya terus turun ke perut, Rex sampai membungkuk dalam kemudian turun lagi ke selangkangan hingga pria itu berjongkok.“Rex …,” panggil Anita serak, matanya mulai berkabut.Rex mendongak, pria tampan itu tersenyum sebelum membenamkan wajahnya di antara kedua paha Anita.“Aaaah …,”

  • Dimanja Suami Kontrakku   Melanjutkan Apa yang Tertunda

    “Papi… lagi ngapain?”Suara kecil itu terdengar pelan, tapi cukup untuk membuat waktu berhenti.Rex dan Anita membeku bersamaan. Jantung mereka memukul keras di dalam sana.Nathan berdiri di dalam box bayi, kedua tangannya mencengkeram pagar kayu sambil menatap mereka yang berada di atas ranjang dengan mata setengah mengantuk. Rambutnya berdiri, pipinya merah karena baru bangun tidur.Anita refleks menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, napasnya tercekat.“Kamu sembunyi di dalam selimut, biar Nathan aku yang urus,” kata Rex berbisik.Anita mengangguk kemudian menutup tubuhnya hingga kepala menggunakan selimut.Setelah itu Rex turun dari atas ranjang sembari memakai celananya.Rex berdeham kecil, melangkah mendekati box bayi.“Nathan kenapa bangun, Buddy?” tanyanya lembut, suaranya sudah kembali normal—tenang, penuh kontrol.Nathan mengucek mata.“Papi… kok enggak pakai baju?”Rex tersenyum kecil, sama sekali tidak panik.Dia menyelesaikan dulu memakai kaosnya.“Papi k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status