Share

Bab 147

Author: Allina
last update Last Updated: 2026-01-13 11:59:40

Satu per satu papan kayu mulai dipasang di atas tubuh Emak, menutupi pemandangan wajahnya sedikit demi sedikit dari pandanganku.

Saat papan terakhir dipasang dan wajah Emak benar-benar hilang ditelan kegelapan liang lahat, aku merasa separuh jiwaku ikut terkubur di sana.

"Aaaaaa... Mak..." erangku tertahan sambil memanjat naik dari lubang kubur dengan bantuan tangan Kang Ujang.

Tanah merah mulai dicangkul, menimbun lubang itu hingga membentuk gundukan. Aku duduk bersimpuh di samping gundukan tanah basah itu, menaburkan bunga tujuh rupa dengan tatapan kosong.

Gerimis mulai turun semakin deras, berubah menjadi hujan yang cukup lebat. Para pelayat mulai membuka payung mereka masing-masing atau berteduh di bawah pohon kamboja.

Aku mendongakkan kepalaku yang basah kuyup, menatap ke sekeliling pemakaman yang mulai sepi ditinggal pelayat yang berlarian menghindari hujan.

Di seberang gundukan tanah makam, tepat di tepi lubang kubur yang baru ditutup, aku melihat pemandangan yang membuat hatik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 150

    "Bukan gitu, Sayang. Aku cuma nggak enak ati sama kamu," bantahku cepat, tanganku meraih tangannya yang ada di atas meja. "Kamu udah berkorban banyak banget buat aku dua hari ini. Kamu sopiri aku, kamu bayarin ambulans, kamu ikut kotor-kotoran. Aku ngerasa nggak pantes nahan kamu di sini lebih lama lagi.""Dengerin aku ya, Rafli," Shella membalas genggamanku erat. "Aku ngelakuin semua ini karena aku mau, bukan karena terpaksa atau kasihan sama kamu. Aku pacar kamu, calon istri kamu kalau kata tetangga tadi, jadi wajar dong kalau aku nemenin kamu pas lagi susah begini?""Tapi kerjaan kamu gimana? Sekretaris kamu pasti nyariin bosnya yang ilang tanpa kabar," tanyaku khawatir, teringat posisi pentingnya di perusahaan."Sekretaris aku pinter, dia bisa handle semuanya sementara waktu. Lagian aku ini pemilik perusahaan, suka-suka aku mau libur kapan aja," jawabnya dengan nada sombong yang dibuat-buat, mencoba menghiburku. "Udah ah, jangan bahas kerjaan. Mending kita masuk yuk, di luar udah

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 149

    Shella langsung meletakkan gelasnya, dia hendak menjawab bahwa dia tidak keberatan, tapi aku memotongnya lebih dulu. Aku meletakkan gelasku di meja dengan pelan, lalu menatap halaman rumah yang kosong tempat kemarin tenda terpal berdiri.Aku menggelengkan kepala pelan."Nggak, Paman. Rafli nggak mau balik sekarang. Rafli mau di sini dulu beberapa hari," jawabku dengan nada mantap, mataku menerawang jauh mengingat pesan terakhir Emak."Lho, terus kerjaanmu gimana, Le? Nanti bosmu marah kalau kamu bolos kelamaan," tanya Paman Sudra khawatir."Bosnya ada di sebelah Rafli, Paman, jadi aman," jawabku sambil melirik Shella sekilas, mencoba bercanda sedikit untuk mencairkan suasana. "Lagian, Rafli masih mau nemenin Emak dulu di sini, rasanya belum rela ninggalin rumah ini cepet-cepet.""Iya, Paman ngerti, namanya juga masih berduka," Paman Sudra mengangguk maklum."Selain itu, ada satu hal lagi yang harus Rafli kerjain, Paman," tambahku dengan nada serius, suaraku merendah. "Rafli harus bere

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 148

    Setelah prosesi pemakaman selesai dan kami kembali ke rumah, suasana duka masih menyelimuti setiap sudut ruangan gubuk kami. Aku duduk bersandar di dinding anyaman bambu ruang tengah, menatap kosong ke arah bekas tempat keranda Emak diletakkan tadi pagi.Meskipun tubuhku lelah luar biasa karena perjalanan jauh dan emosi yang terkuras, mataku sama sekali tidak bisa terpejam, rasanya setiap kali aku menutup mata, bayangan wajah Emak yang tersenyum terakhir kali selalu muncul menghantui.Jam dinding terus berdetak, jarum pendeknya sudah melewati angka dua belas.Para pelayat dan tetangga yang membantu membereskan tikar dan gelas kotor sudah pulang satu per satu ke rumah masing-masing, menyisakan keheningan yang mencekam di rumah ini. Hanya ada aku yang masih duduk melamun seperti patung, dan Shella yang duduk di kursi kayu sambil memijit pelipisnya karena kelelahan."Raf, ini udah mau jam satu lho, kamu beneran nggak mau tidur barang sebentar aja?" tanya Shella dengan suara serak, dia ba

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 147

    Satu per satu papan kayu mulai dipasang di atas tubuh Emak, menutupi pemandangan wajahnya sedikit demi sedikit dari pandanganku.Saat papan terakhir dipasang dan wajah Emak benar-benar hilang ditelan kegelapan liang lahat, aku merasa separuh jiwaku ikut terkubur di sana."Aaaaaa... Mak..." erangku tertahan sambil memanjat naik dari lubang kubur dengan bantuan tangan Kang Ujang.Tanah merah mulai dicangkul, menimbun lubang itu hingga membentuk gundukan. Aku duduk bersimpuh di samping gundukan tanah basah itu, menaburkan bunga tujuh rupa dengan tatapan kosong.Gerimis mulai turun semakin deras, berubah menjadi hujan yang cukup lebat. Para pelayat mulai membuka payung mereka masing-masing atau berteduh di bawah pohon kamboja.Aku mendongakkan kepalaku yang basah kuyup, menatap ke sekeliling pemakaman yang mulai sepi ditinggal pelayat yang berlarian menghindari hujan.Di seberang gundukan tanah makam, tepat di tepi lubang kubur yang baru ditutup, aku melihat pemandangan yang membuat hatik

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 146

    Saat pagi menyongsong, Pak Modin, tokoh agama di desa kami yang memimpin prosesi pemakaman, sudah berdiri di samping tempat pemandian jenazah darurat yang dibuat dari batang pisang dan ditutupi kain jarik bekas. Beliau memanggilku dengan lambaian tangan, meminta anak laki-laki satu-satunya dari almarhumah untuk menunaikan tugas terakhirnya sebagai bentuk bakti yang paling akhir."Rafli, ayo sini, Le. Kamu harus ikut mandiin Emakmu buat yang terakhir kalinya, jangan cuma nonton dari jauh," panggil Pak Modin dengan suara tegas namun lembut.Aku mengangguk pelan, langkah kakiku terasa sangat berat saat berjalan mendekati area tertutup itu, rasanya seperti ada batu besar yang diikatkan di kedua pergelangan kakiku."Iya, Pak. Rafli siap. Rafli mau bersihin Emak sampe bersih banget," jawabku dengan suara serak, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang aku punya.Shella, yang sejak semalam tidak tidur barang semenit pun, berjalan mengiringi langkahku sampai ke batas kain penutup peman

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 145

    Di sana, di samping keranda Emak, Shella masih duduk bersimpuh dengan posisi yang sama seperti saat aku tinggalkan tadi."Maksud Mbah si Shella?" tanyaku pelan, mataku terpaku pada sosok wanita kota itu."Iya, siapa lagi kalau bukan Neng geulis yang itu, dari tadi sore Mbah perhatiin dia nggak ada capeknya nemenin kamu," sambung Pak RT ikut menimpali pembicaraan. "Padahal kelihatan banget dia orang kaya, orang kota yang biasa hidup enak, tapi dia mau duduk di tiker pandan kasar, mau salaman sama warga yang tangannya kotor, bahkan tadi dia ikut bantu Paman Sudra beresin piring kotor.""Sayang banget Emakmu nggak sempet lihat kamu nikah sama Neng itu, Le, padahal kalian itu serasi banget kalau dilihat-lihat," ucap Mbah Suratman dengan nada penyesalan yang tulus. "Yang satu gagah, yang satu ayu, persis kayak manten di gambar kalender.""Iya, bener kata Mbah Suratman, Fli. Kelihatan banget mbaknya itu sayang setengah mati sama kamu," tambah Kang Ujang sambil membuang abu rokoknya ke tanah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status