MasukJantungku berdegup sangat kencang seperti genderang perang saat aku melangkah ragu mendekati kursi panjang itu, lalu duduk di bagian paling ujung dengan jarak yang cukup sopan. Semua aku lakukan agar tidak memancing amarah sang macan betina yang sedang terluka ini.
Nona Shella tersenyum miring melihat tingkahku yang kaku, lalu dia menuangkan kembali cairan merah pekat itu ke dalam gelasnya dengan gerak
“Lho, Pak Budi ngapain ada di area pemakaman desa pinggiran ini sore-sore begini?” tanyaku dengan penggunaan nada suara yang lumayan keras.Ternyata dia adalah Pak Budi, sopir pribadi Nyonya Alika yang kini bekerja untuk Rafli. Pria paruh baya itu memutar seluruh pergerakan badannya menghadap lurus ke arah posisi berdiriku.“Eh, Mas Rafli sama Non Shella ternyata datang berkunjung juga ke mari hari ini.” Pak Budi membalas sapaanku dengan nada suara yang terdengar sedikit bergetar.Menyadari tatapan mataku, Pak Budi terlihat gugup dan buru-buru menyembunyikan sesuatu ke dalam saku celananya. Tangan kanan pria tua itu bergerak amat sangat cepat memasukkan sebuah benda kecil ke balik kain celana panjangnya. Wajahnya pucat seolah tertangkap basah melakukan kejahatan di depan kami berdua pada sore hari ini.“Bapak barusan masukin wujud barang apaan ke dalem saku celana kain itu?” tanyaku sambil menunjuk lurus ke arah pangkal paha kanannya.“Iya, tangan kanan Bapak tadi kelihatan buru-buru
“Iya, ini tangan aku udah pegang ujung kain kemeja kamu kenceng banget sedari tadi,” balas saudara perempuan tiriku itu sambil mempererat tarikan jari tangannya.“Kita berjalan kaki pelan-pelan aja menyusuri sela-sela batu nisan ini biar sepatunya nggak kotor. Kamu awas jangan sampai telapak kaki kamu salah menginjak rumput gundukan makam warga di sebelah kiri jalan.”Selesai memberikan peringatan, alas sepatu kami terus melangkah teratur menyusuri deretan batu nisan di berbagai sisi. Suasana area pemakaman luas ini terasa amat hening mendamaikan pikiran tanpa ada gangguan suara bising. Lensa bola mataku terus mencari letak titik gundukan tanah milik almarhumah ibuku di barisan kuburan depan.“Posisi tanah makam Ibu Sumiyati itu letaknya masih di deket bagian batang pohon beringin sana kan?” tanya Shella dengan suara napas sedikit terengah-engah.“Iya beneran persis, posisi letak tanah makamnya ada di area deket batang pohon gede pada bagian ujung sana. Ingatan rute jalan kamu rupanya
“Itu bangunan rumah tempat aku tinggal dari umur balita sampai tumbuh jadi pria dewasa berbadan besar. Ibu Sumiyati merawat perkembangan fisikku pakai curahan kasih sayang penuh di dalem rumah berukuran kecil itu. Kondisi bangunannya emang udah mulai kotor banget akibat tumpukan debu jalanan sekarang. Tembok bagian depannya juga udah dipenuhi banyak tempelan noda tanah basah dari cipratan roda kendaraan lain.”Keadaan rumah itu terlihat kosong dan sama sekali tidak terawat sejak Ibu Sumiyati meninggal dunia tiga bulan lalu. Debu tebal berwarna cokelat menutupi seluruh permukaan lantai teras depan secara merata. Daun pintu kayu utamanya juga sudah terkunci rapat menggunakan lilitan rantai panjang dan sebuah gembok besi.“Berarti bangunan rumah kecil ini beneran udah kosong total tanpa ada satupun suara penghuni dong sekarang?” tanya Shella menatap lekat ke arah bangunan kusam tersebut.“Iya, bangunan berukuran kecil ini udah ditinggalkan kosong semenjak ibu angkatku meninggal dunia pas
Layar kaca ponsel komunikasi itu menyala terang memperlihatkan letak nama Pak Sanjaya sebagai pihak pengirim deretan pesan tulisan tersebut.Aku segera memiringkan lensa bola mataku sedikit menuju arah tampilan layar alat komunikasi itu untuk membaca susunan paragraf di dalamnya.Rincian kalimat pada layar tersebut secara langsung mengirimkan fakta informasi paling baru bagi perangkat gawaiku siang ini. Ponsel Rafli bergetar menampilkan pesan dari Pak Sanjaya yang mengonfirmasi bahwa mobil di belakang adalah tim pengamanan tertutup.Para petugas kepolisian tanpa seragam itu memiliki rincian tugas utama untuk menjaga tingkat kelancaran perjalanan fisik aset logam kami sampai ke area gerbang pelataran perusahaan.“Tebakan hasil olahan jalan logikaku barusan sudah terbukti tepat senilai seratus persen tanpa ada cacat tebakan sama sekali, Shella. Pak Sanjaya baru saja menyelesaikan proses pengiriman sebuah teks pesan konfirmasi mengenai susunan status kepemilikan mobil polisi rahasia itu
Sesudah memutus sambungan telepon itu, kuletakkan kembali perangkat ponsel tersebut ke atas permukaan rata dasbor mobil. Rasa cemas mengenai hitungan kemungkinan terjadinya perampokan di tengah jalan layang ini benar-benar mengisi penuh isi kepalaku.Rombongan konvoi dua kendaraan kami memang sedang memuat puluhan keping batangan logam emas murni yang bernilai angka miliaran.Tepat di posisi kursi sampingku, Shella langsung menoleh ke arah kaca belakang mobil kami secara sangat cepat. Raut lapisan kulit wajah perempuan dewasa itu terlihat memancarkan rasa cemas melihat aksi kejar-kejaran kendaraan yang mulai terjadi. Matanya terus mengawasi pergerakan perputaran roda mobil SUV hitam di belakang aspal sana tanpa berani menutup kelopak matanya.“Mobil warna hitam itu makin menambah kecepatan putaran mesin bannya buat terus mengejar laju kendaraan kita, Rafli. Jarak bodi bemper depan mobil tinggi mereka makin dekat sekali sama bagian plat nomor logam di belakang kendaraan van Ko Ahiong.”
Aku dan Ko Ahiong lalu menarik daun besinya dan mengunci kembali pintu kontainer tersebut rapat-rapat memakai sistem penggunaan gembok digital canggih berteknologi sidik jari itu.Cahaya pancaran terik dari matahari siang perlahan mulai terlihat mencondongkan posisi letaknya menuju arah batas warna langit di wilayah barat pelabuhan laut ini.Kami berempat telah berhasil menuntaskan semua tahapan proses kegiatan pemindahan wujud barang kloter tahap awal ini dengan hasil capaian sangat aman.Kami segera berpisah dan meninggalkan area daratan sektor barat pelabuhan tersebut menggunakan letak kursi kemudi kendaraan roda empat masing-masing menuju ke aspal jalan raya ibu kota.“Kamu tolong bawa putaran ban mobil sedan ini dengan cara sedikit hati-hati aja di permukaan aspal jalan raya rute arah pulang ya, Rafli. Otot kaki paha aku ngerasa lumayan sangat pegal sehabis menahan beban tubuh berdiri sangat lama di ruang lantai logam kontainer pelabuhan tadi,” keluh Shella dari area ruang posisi







