LOGINCelyna menahan napas. Ia mulai bertanya-tanya bagaimana ibu mertuanya bisa mengetahui studio yang bahkan orang tuanya tidak ketahui?“Celyna, waktumu tidak banyak. Kita bisa berbicara baik-baik.”Celyna tidak sempat berpikir lebih jauh. Ia tidak bisa kabur, meskipun bisa. Semua itu hanyalah sia-sia, ia tidak akan bisa melarikan diri.Dengan berat hati, Celyna membukakan pintu. Matanya bertemu dengan mata ibu mertuanya, dingin.Sophia melangkah masuk, tanpa ragu.“Jadi, ini tempat persembunyianmu.” Sophia menatap sekelilingnya. “Apakah di tempat ini juga kamu bersenang-senang dengan kekasih gelapmu.”Deg—Celyna membeku. Sophia berterus terang. Lalu memutar tubuhnya menatap Celyna dengan tatapan tajam.“Aku tidak mempermasalahkan perselingkuhanmu. Kembali denganku, akhiri hubungan gelapmu dengan Caelan.”Celyna membuka katup bibirnya.“Bagaimana aku tahu?” Sophia tersenyum miring dengan kedua tangan yang disilangkan di bawah dada. “Sejak awal aku sudah tahu hubungan kalian. Jauh sebelu
Celyna gemetar, menatap Caelan. “Kau gila.”“Ya, aku tergila-gila padamu, Celyna. Aku ingin segera memiliki kamu seutuhnya, menjadi istriku.”Celyna terkejut, ia meneguk salivanya.“Sejak awal kita saling mencintai Celyna.”Caelan mendekatkan kembali wajahnya dan berusaha memagut kembali bibir Celyna. Celyna dapat merasakan napasnya, detak jantungnya.Perlahan tangan Celyna menyentuh dada Caelan.“Aku tahu kamu mencintaiku, aku juga mencintaimu.” Celyna menatap Caelan. “Jika di dunia ini aku bisa memilih, aku ingin terlahir sebagai putri dari keluarga biasa. Lalu bertemu denganmu, yang hanyalah Raiden saja.” Mata Celyna berkabut. “Bukan sebagai Celyna dari Diwangkara, dan bukan sebagai Caelan Kendrick.”Celyna mengecup bibir Caelan persekian detik, saat mata mereka bertemu ada cinta yang terlihat jelas di matanya.Celyna dan Caelan saling mendekatkan wajah mereka. Bibir menyatu, hangat, lembut. Mata perlahan terpejam, keduanya saling memagut kehangatan. Sementara tangan Caelan membela
“Bajingan!” umpat Kaizen marah melangkah maju menghampiri Caelan. “Lanjutkan ucapanmu, hei bajingan apa yang kau tahu tentangku.”Namun, Caelan sama sekali tidak menanggapinya. Saat mengejar Caelan, Sophia memanggilnya dengan nada tegas.“Kaizen, berhenti.”Kaizen menghentikan langkah kakinya menoleh, sementara Caelan tersenyum sinis dan sama sekali tidak berhenti. Hingga tubuhnya tidak lagi terlihat.“Ma, aku harus mengejar anak haram itu.”Sophia melotot tajam. “Jaga ucapanmu.”Kaizen mengepal tangannya, menghampiri ibunya.“Ikuti aku sekarang.”Kaizen tidak menjawab, tetapi dia tetap mengikuti langkah ibunya. Saat tiba di dalam sebuah ruangan, Sophia berbalik badan dan menampar wajah Kaizen secara tiba-tiba membuat Kaizen terkejut.“Ma, apa maksud semua ini?” Kaizen memainkan lidahnya di dalam mulut.“Masih tidak sadar apa kesalahanmu?”Kaizen tertawa kecil. “Dia memang anak haram. Itu sebuah fakta. Kenapa Mama sangat takut pada Papa dan Nenek?”Sophia menunjuk putranya. “Di rumah
Caelan tersenyum miring. ‘Sepertinya aku tahu siapa orangnya.’Setelah itu mereka meninggalkan rumah sakit. Namun, hati Celyna masih tidak tenang. Rasa bersalah itu terus menghantuinya. Neneknya orang paling dekat di dunia. Ia dapat merasakan rasa kecewa Laras, Caelan meraih tangan Celyna sembari tersenyum menatapnya.“Jangan pikirkan apa pun. Targetnya bukan kamu, tapi aku.”Celyna terkejut. “Kamu tahu siapa dia?”Caelan mengangguk pelan. “Ya, aku tahu. Jadi, serahkan semuanya padaku.”“Beritahu aku siapa orangnya.”Caelan tersenyum, dan tidak menjawabnya hingga mereka tiba di studio. Celyna merasa kecewa, karena Caelan memilih tidak memberi tahunya dan menyembunyikannya.“Kamu masih tidak mau memberitahuku?” tanya Celyna menatap Caelan yang kini sudah menutup pintu.Caelan meraih tangan Celyna. “Mengenai hal ini, kamu tidak perlu pikirkan. Serahkan semuanya padaku.”“Tapi, Cae, aku ingin tahu. Apa tidak bisa kamu memberi tahu aku?”Caelan tersenyum tipis dan menarik pipi Celyna.“Ak
“Kalian?”Suara Laras terdengar berat, Celyna menatap neneknya dengan mata yang mulai berembun. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan gemetar di suaranya.“Nenek…,” ucapnya pelan, “aku tidak ingin berbohong lagi. Iya, kami… kami memang sudah saling mengenal sejak di London.”Laras membeku. Sorot matanya perlahan meredup, seperti seseorang yang baru saja menyingkap tirai masa lalu dan menemukan sesuatu yang terlambat ia sadari.“Jadi,” bisiknya nyaris tak terdengar, “pria ini kekasihmu yang pernah ingin kamu kenalkan padaku di masa lalu?”“Ya, itu saya,” sela Caelan lembut. “Satu lagi, maaf karena saya menyamar sebagai Kaizen saat itu. Saya tidak bermaksud menipu Anda, atau siapa pun. Tapi saya ingin melihat Celyna tanpa tekanan, tanpa semua kebohongan yang mengelilingi hidupnya.”Ruangan itu mendadak hening. Celyna menunduk, air mata jatuh lagi.“Kenapa kalian tidak mengatakan ini sejak dulu?” suara Laras terdengar lirih, namun menusuk. “Kenapa harus sekarang, setelah semuanya
“Jadi benar dia di sana?” tanya Maura masih terkejut.“Ya,” jawab Davis pelan, sorot matanya memiliki makna tersembunyi. “Aku akan membawanya pulang bersama dengan ibumu.”Maura menggeleng pelan. “Tapi kamu tidak perlu ke sana sekarang. Belum saatnya.”“Belum saatnya?” Davis menatap tajam. “Sudah berapa kali kamu bilang begitu, Maura? Sampai kapan kita akan diam, sementara semuanya diatur tanpa kendali? Ibumu di sana, Celyna juga, dan kamu hanya bilang belum waktunya?”Maura menghela napas panjang. “Kamu tahu sendiri keadaan sekarang sedang rumit. Aku tidak ingin kalau kehadiranmu justru membuat keadaan tambah kacau. Ibu sedang tidak sehat, dan aku yakin Celyna pun belum siap bertemu.”Davis tersenyum miring. “Sejak kapan kamu peduli pada ibu dan anakmu, Maura?”Ucapan Davis menusuk hati Maura, membungkam mulutnya. Davis yang berdiri, tangannya mengepal erat.“Jika ibumu ada di sini, maka Celyna akan mengikutinya. Maura sadarlah, bukankah itu keinginan kita. Apa kamu sudah lupa? Denga
Celyna terpaku. Kata-kata neneknya menggema di kepalanya, membuat napasnya tercekat. “Aku sudah tahu semuanya…” kalimat itu terus berulang seperti gema yang tidak mau berhenti. Bersama detak jantungnya terus berpacu cukup kuat.“Nenek, maksud Nenek apa?” suara Celyna parau. Ia menggenggam tangan ne
Laras memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan gejolak yang sejak tadi mengguncang dadanya. Suara langkah Maura mendekat, pelan tapi tegas, menandakan awal dari sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.“Ma, tolong tenang dulu. Aku cuma mau—”“Tenang?” Laras menatap putrinya tajam. “Kamu pikir ak
Pagi itu, suasana di ruang makan keluarga Diwangkara tampak sepi. Davis duduk seraya menatap tab di tangannya scroll berita tentangnya, dan berita tentang Celyna sudah tenggelam. Sementara Maura baru saja menaruh cangkir teh di hadapannya. Setelah Davis meletakan tab di meja sebelahnya, ia menatap
Celyna menatap wajah Caelan lama, seolah mencari sesuatu di matanya. Ia bisa melihat dengan jelas, ada keyakinan atau mungkin keberanian yang belum sepenuhnya ia punya. Tapi bibirnya hanya bergerak pela







