Share

Bab 37. Siang Bersama

Author: Astika Buana
last update Last Updated: 2025-12-28 00:39:50

"Hore Ibu Aya pulang!"

Keira berlari menyambut kedatangan Cahya. Di belakangnya ada Satria menyusul. Seakan tidak mau kalah, si kecil juga memeluk kaki Cahya.

"Ibu ..... Catia kangen."

Dengan kedua tangan terentang, ibu muda itu berjongkok. Memeluk keduanya sambil membubuhkan ciuman.

"Hmm.... Anak-anak ibu harum semua. Pasti pinter tadi mandi dan keramas, kan?"

"Iya. Tadi Keira ikut mandiin adik Satria di bak. Asyik, ya, Dek? Kita main bebek semprot."

"Iyak." Satria mengangguk menyetujui cerita Keira.

"Kita masuk, yuk." Cahya beranjak berdiri.

Kedua anak kecil itu mengapit tangan kanan dan kiri. Sambil berjalan mereka menceritakan kegiatan saat Cahya tidak di rumah.

"Adik Satria nakal tidak?"

"Hmm.... sedikit. Tadi malam cari Ibu Aya. Tapi Keira jelasin kalau Ibu Aya cari uang untuk beli jajan Satria. Terus adek tidak merengek lagi."

Senyum Cahya mengembang. Rasa bahagia menyelusup di dada. Perasaan seorang ibu yang disambut anak-anaknya seusai berjibaku hiruk pikuk di luar sana.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 50. Pengasuh Anak atau Pengasuh Bapak?

    Pintu mobil berwarna merah itu terbuka. Kaki jenjang menggunakan sepatu hak tinggi berwarna merah, menunjukkan siapa yang datang. Wanita bergaya sosialita dengan baju terusan berwarna hitam dengan jaket kulit hitam yang dibagian leher dihiasi bulu-bulu.Jantung Cahya berdenyut lebih kencang. Dia melepaskan genggaman tangan Keira, kemudian dia memundurkan langkah di belakang Ethan. Lelaki itu pun mengerti, seakan menjadi tameng dia menegakkan diri.Sedangkan si kecil Keira justru berteriak senang.“Hai, Aunty Erika!”Erika menekuk kaki sambil merentangkan kedua tangan. Dia menyambut sang ponakan yang berlari ke arahnya.“Hmm…. Aunty kangen banget. Bagaimana kabarmu, Cantik?”“Senang, Aunty.”“Maaf, ya. Aunty lama tidak kesini.”“Tidak apa-apa. Keira tahu, pasti Aunty sibuk. Tidak usah kawatir karena Keira sudah ada yang menemani.” Gadis itu tersenyum lebar“Siapa?”“Ibu__”“Keira! Ayo berangkat sekolah. Nanti terlambat.” Ethan memotong ucapan Keira. Dia memberi tanda ke arah sopir untu

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan    Bab 49. Janji

    Sepulang kerja, Ethan langsung ke kamar anaknya-Keira.Dia mengedarkan pandangan. Tidak terlihat seseorang yang dicarinya. Hanya ada Keira dan Mbak Pengasuh. Seketika ketakutan mendera. Jangan-jangan ….“Papi…!” teriak Keira berlari memeluknya. Dia meloncat ke gendongan dan mengalungkan ke leher ayahnya.“Keira kok sendiri. Adik Satria mana?”“Adik tidur.”“Tumben. Biasanya menemani Keira belajar.”“Ibu Aya capek dan Adik Satria diajak tidur.”“Oh, gitu,” ucap Ethan sambil menurunkan anaknya.Lelaki itu menelan kekecewaan. Kemudian meninggalkan kamar Keira setelah mencium anaknya itu.Dengan kedua tangan masuk ke saku celana, Ethan berjalan dengan dahi berkerut dalam. Dalam pikirannya berputar tentang wanitanya. Apa yang terjadi kepada Cahya? Apa dia benar-benar marah?Ingin rasanya menemui Cahya yang meluruskan semuanya.Huuft!Wanita itu memang makhluk complicated!Ethan meneruskan langkah ke kamarnya. Dia melepas kasar kemeja dan menghempaskan diri ke ranjang. Dia berusaha mengoson

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 48. Ternyata Hanya Pemuas

    Seketika dunia seakan berhenti berputar. Sesuatu rahasia yang digenggam rapat-rapat ternyata ada yang mengetahui. Cahya tidak bisa berkata-kata, sampai tangan pengasuh itu menyentuh lengannya.“Tidak usah sungkan, Mbak Cahya. Semua yang di sini mengerti dan itu tidak buruk.”“S-semua?” Mata Cahya melebar.Pengasuh itu mengangguk sambil tersenyum.“Termasuk Pak Chef?”“Iya.”Tak sadar kedua tangan Cahya meremat. Seperti pencuri yang ketahuan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ada yang dia takutkan berikutnya.“Hmm… Bu Hanum?” tanya Cahya takut-takut. Dia menatap lekat Mbak Pengasuh. Menunggu jawaban.“Nah, kalau itu saya tidak tahu, Mbak. Dan kami pun tidak akan ikut campur kehidupan pribadi Tuan dan Mbak Cahya. Itu hal wajar, kok. Toh kalian sama-sama lajang. Dan kata Pak Chef__”“Ha? Jadi kalian membicarakan kami?”Dalam hati, Cahya mulai malu. Pak Chef adalah orang yang di-tua-kan di sini setelah Bu Hanum. Selain sudah lama kerja dengan keluarga William, dia juga terkenal orang yang

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 47. Teman Wanita di Ranjang

    Mendadak kepala Ethan pening. Dengan satu tangan dia memijit pelipis berulang kali. Tangan kanannya meremat kemudi.Masih terngiang ucapan Cahya, “S-saya bukan wanita yang bisa 'dipakai', Tuan."Hatinya mencelos tatkala mata wanita itu berkaca-kaca dan kemudian mengaliri pipi.“Apakah aku sebegitu jahatnya kepada dia? Sungguh, aku tidak pernah menganggapkan wanita jalang,” ucapnya dalam hati.Bahkan ketika dia memberikan uang cash dan kartu yang dulu Cahya tolak, wanita itu tetap menggeleng. Padahal, Ethan tahu betul kalau Cahya tidak membawa apapun termasuk uang dan ponsel.“Aya, please. Jangan over thingking. Apapun keadaannya, kamu adalah wanitaku. Kamu tidak percaya dengan tanda ini dan ini?” Ethan menunjuk perhiasan yang dipakai Cahya.Kemudian lelaki itu menghela napas panjang. “Aku tidak pernah memberi seperti ini kepada wanita. Termasuk kepada mantan istriku. Hanya kamu wanitaku, Aya.”Wanita itu tersenyum miris. Tertawa kecil seakan mentertawakan dirinya sendiri. “Iya benar.

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 46. Ingin Tidak Mau

    “Ada apa Galang?”“Tuan Alberto mendadak akan singgah ke kantor. Bos Ethan dimana? Saya jemput?”Ethan melihat ke arah dirinya sendiri. Hanya handuk melilit di pinggang dan belum berpakaian.“Tidak usah dijemput. Aku mempunyai waktu berapa lama?” Tubuhnya mencondong ke arah cermin. Dia menyunggar rambut. Meskipun wajahnya terlihat segar, tetapi rambutnya masih benar-benar basah. Bisa memicu pertanyaan kalau siang bolong dia muncul dengan wajah seperti ini.“Sekitar dua jam. Tuan Alberto masih makan siang di Ubud.”“Good! Satu setengah jam aku sampai ke kantor,” jawab Ethan kemudian menutup sambungan telpon.Kemudian dia memeriksa laci. Mungkin saja ada pengering rambut. Nihil. Ini hanya villa untuk singgah saja tanpa ada perlengkapan keseharian. Yang tersedia hanya perlengkapan mandi dan tidur saja.“Belikan saya hair dryer. Sekarang juga. Saya kasih waktu lima menit!” perintah Ethan ke pak penjaga.Sebentar lagi dia menemui investor lama sekaligus sahabat orang tuanya. Dia tidak bole

  • Dimanjakan sang Majikan Tampan   Bab 45. Berpikir

    “Cahya nanti kalau besar nanti ingin jadi apa?”“Mau jadi putri seperti di buku dongeng.”“Tidak ingin jadi dokter atau presiden?”Cahya kecil menggeleng.“Kenapa?” tanya ayahnya lagi.Kemudian menunjukkan satu buku tebal berisi dongeng dari manca negara. Berisi cerita tentang Snow White, Aurora, Ariel, Jasmine, bahkan Cinderalla. Ibunya sedari kecil membacakan itu sebagai pengantar tidur.“Karena kalau putri nanti ada pangeran keren yang menolong. Seperti di buku ini. Ketika pangeran datang menunggang kuda putih, semua yang membuat putri sedih akan hilang.”Wanita yang sudah menjadi dewasa itu mendesah mengingat yang diinginkannya waktu kecil dulu.Kenyataan ternyata tidak seindah tertulis di dalam buku. Ketika pangeran datang mengulurkan tangannya, justru itu awal kehidupan yang tidak mudah.Kisahnya memang mirip dengan dongeng para putri ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, kehidupan Cahya berbalik seratus delapan puluh derajat. Memang dia tidak diperlakukan seperti upik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status