LOGINSeketika dunia seakan berhenti berputar. Sesuatu rahasia yang digenggam rapat-rapat ternyata ada yang mengetahui. Cahya tidak bisa berkata-kata, sampai tangan pengasuh itu menyentuh lengannya.“Tidak usah sungkan, Mbak Cahya. Semua yang di sini mengerti dan itu tidak buruk.”“S-semua?” Mata Cahya melebar.Pengasuh itu mengangguk sambil tersenyum.“Termasuk Pak Chef?”“Iya.”Tak sadar kedua tangan Cahya meremat. Seperti pencuri yang ketahuan dan tidak tahu harus berbuat apa. Ada yang dia takutkan berikutnya.“Hmm… Bu Hanum?” tanya Cahya takut-takut. Dia menatap lekat Mbak Pengasuh. Menunggu jawaban.“Nah, kalau itu saya tidak tahu, Mbak. Dan kami pun tidak akan ikut campur kehidupan pribadi Tuan dan Mbak Cahya. Itu hal wajar, kok. Toh kalian sama-sama lajang. Dan kata Pak Chef__”“Ha? Jadi kalian membicarakan kami?”Dalam hati, Cahya mulai malu. Pak Chef adalah orang yang di-tua-kan di sini setelah Bu Hanum. Selain sudah lama kerja dengan keluarga William, dia juga terkenal orang yang
Mendadak kepala Ethan pening. Dengan satu tangan dia memijit pelipis berulang kali. Tangan kanannya meremat kemudi.Masih terngiang ucapan Cahya, “S-saya bukan wanita yang bisa 'dipakai', Tuan."Hatinya mencelos tatkala mata wanita itu berkaca-kaca dan kemudian mengaliri pipi.“Apakah aku sebegitu jahatnya kepada dia? Sungguh, aku tidak pernah menganggapkan wanita jalang,” ucapnya dalam hati.Bahkan ketika dia memberikan uang cash dan kartu yang dulu Cahya tolak, wanita itu tetap menggeleng. Padahal, Ethan tahu betul kalau Cahya tidak membawa apapun termasuk uang dan ponsel.“Aya, please. Jangan over thingking. Apapun keadaannya, kamu adalah wanitaku. Kamu tidak percaya dengan tanda ini dan ini?” Ethan menunjuk perhiasan yang dipakai Cahya.Kemudian lelaki itu menghela napas panjang. “Aku tidak pernah memberi seperti ini kepada wanita. Termasuk kepada mantan istriku. Hanya kamu wanitaku, Aya.”Wanita itu tersenyum miris. Tertawa kecil seakan mentertawakan dirinya sendiri. “Iya benar.
“Ada apa Galang?”“Tuan Alberto mendadak akan singgah ke kantor. Bos Ethan dimana? Saya jemput?”Ethan melihat ke arah dirinya sendiri. Hanya handuk melilit di pinggang dan belum berpakaian.“Tidak usah dijemput. Aku mempunyai waktu berapa lama?” Tubuhnya mencondong ke arah cermin. Dia menyunggar rambut. Meskipun wajahnya terlihat segar, tetapi rambutnya masih benar-benar basah. Bisa memicu pertanyaan kalau siang bolong dia muncul dengan wajah seperti ini.“Sekitar dua jam. Tuan Alberto masih makan siang di Ubud.”“Good! Satu setengah jam aku sampai ke kantor,” jawab Ethan kemudian menutup sambungan telpon.Kemudian dia memeriksa laci. Mungkin saja ada pengering rambut. Nihil. Ini hanya villa untuk singgah saja tanpa ada perlengkapan keseharian. Yang tersedia hanya perlengkapan mandi dan tidur saja.“Belikan saya hair dryer. Sekarang juga. Saya kasih waktu lima menit!” perintah Ethan ke pak penjaga.Sebentar lagi dia menemui investor lama sekaligus sahabat orang tuanya. Dia tidak bole
“Cahya nanti kalau besar nanti ingin jadi apa?”“Mau jadi putri seperti di buku dongeng.”“Tidak ingin jadi dokter atau presiden?”Cahya kecil menggeleng.“Kenapa?” tanya ayahnya lagi.Kemudian menunjukkan satu buku tebal berisi dongeng dari manca negara. Berisi cerita tentang Snow White, Aurora, Ariel, Jasmine, bahkan Cinderalla. Ibunya sedari kecil membacakan itu sebagai pengantar tidur.“Karena kalau putri nanti ada pangeran keren yang menolong. Seperti di buku ini. Ketika pangeran datang menunggang kuda putih, semua yang membuat putri sedih akan hilang.”Wanita yang sudah menjadi dewasa itu mendesah mengingat yang diinginkannya waktu kecil dulu.Kenyataan ternyata tidak seindah tertulis di dalam buku. Ketika pangeran datang mengulurkan tangannya, justru itu awal kehidupan yang tidak mudah.Kisahnya memang mirip dengan dongeng para putri ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, kehidupan Cahya berbalik seratus delapan puluh derajat. Memang dia tidak diperlakukan seperti upik
Cahya menarik selimut sampai ke dada. Dia memegang erat dengan tangan masih gemetar. Tubuh masih menggigil menyisakan hasrat usai kebersamaan mereka.Meskipun ... ini tidak sepenuhnya seperti harapan.“Aya, kamu membuatku tidak tahan.”“Kenapa kamu membuatku gila?”“Sungguh aku ingin melumatmu tanpa henti.”Bisikan sang majikan disela sentuhan, masih terngiang di setiap kata.Mata wanita muda itu memejam. Ujung-ujung jemari begitu dingin mengingat jejak gairah beberapa detik yang lalu. Napas sang majikan yang menghangatkan di setiap jengkal kulit, menenggelamkannya di samudra indahnya cinta.Kedua orang dewasa itu seakan berlomba mendaki kerinduan. Namun, tidak terduga pada titik pertemuan sang majikan tersadar pada konsekuensi. Tubuh Ethan menegang, dia menatap lekat wanita yang membuatnya gila ini.“Kamu membawa pengaman?”“T-tidak. Saya tidak pernah membawa hal seperti itu,” jawab Cahya sambil menahan napas. Untuk apa dia membawa 'pengaman'? Hal yang terjadi sekarang ini tidak per
Bab 43. Pelepasan“Aya, kita pergi sekarang!”Suara Ethan setelah pintu terbuka. Cahya terkejut dan buru-buru mengembalikan bingkai foto itu. Gerakan Ethan yang buru-buru, menyebabkan foto itu menimpa foto lainnya.“T-tuan….”“Biarkan saja. Nanti saya yang membereskan!”Tangan Ethan menggenggam kuat tangan Cahya. Melupakan pertanyaan yang bergumul di kepala Cahya tentang foto orang tuanya itu.Sang Majikan bergegas seakan kehabisan waktu. Dia tidak menuju ke pintu, tetapi ke arah yang berlainan. Ternyata ada meja kerja di balik partisi dari lukisaan ukiran kayu. Di sampingnya ada lemari tinggi.“Kita lewat sini.” Lemari itu bergeser, menunjukkan ada cahaya di ujung lorong.Masih berpegangan tangan, Ethan melangkahkan kaki lebar-lebar yang ternyata bermuara di parkiran khusus direksi. Pintu mobil dibuku, Ethan mendorong pelan Cahya sambil tangan satunya melindungi kepala wanita itu.“Kita mau kemana?”“Kemana saja asal jangan ada Keira,” jawab Ethan sambil menginjak gas.Deru mobil dan







