MasukPintu kayu berukuran tinggi besar ini terbuka pelan. Udara dingin menerpa wajah Cahya. Meskipun terasa sejuk, tetapi tidak mampu mengurai rasa kawatir yang semakin pekat. Genggaman tangan Ethan yang semakin erat yang membuatnya sedikit bisa menyandarkan kecem asan.“Mami. Kami datang.”Kursi kerja dengan sandaran tinggi itu berputar. Menampilkan Nyonya William yang menatap mereka tanpa ekspresi. Tak apalah, paling tidak tidak tersirat ledakan kemarahan.Sekarang, Ethan dan Cahya yang berdiri hanya tersekat meja kerja marmer dengan Nyonya William. "Kalian tahu, kalian salah apa?" tanya Nyonya William. Wanita berambut putih itu melipat tangan kemudian bersandar, tanpa melepas pandangan dari keduanya. Ethan menegakkan badan sambil tersenyum. "Mami. Kami tidak melakukan kesalahan. Kami sudah menikah. Yang kami lakukan atas dasar cinta yang bermartabat."Cahya melirik ke suaminya. Wanita itu menunggu reaksi Nyonya William dengan harap-harap cemas. Genggamannya semakin mengerat dan semaki
“Kenapa ada di sini?” Cahya menatap suaminya yang menutup pintu perlahan. Kemudian membuka tirai sedikit mengintip ke arah luar.“Aman. Mami sudah istirahat di kamar.” Ethan tersenyum lebar dan mendekat. Satu kali rengkuhan, tubuh Cahya sudah berlabuh di pelukan.“A-apa tidak bahaya. Nyonya nanti__”“Stss…. Pasti ini ada pertanda kalau kita harus berterus terang kepada Mami.”“Tapi nanti kalau Nyonya marah gimana?”Ethan membubuhkan ciuman lembut di pucuk kepalanya. “Mami memang orangnya tegas, tetapi Mami bukan orang jahat, Aya. Percaya sama suamimu ini.”Dalam dekapan, Cahya merasakan kedamaian meskipun keresahannya masih begitu pekat. Bagaimana kalau Nyonya William murka dan mengusirnya? Dia sadar diri kalau bukan wanita yang sederajat dengan suaminya.Terbersit ide dia mengalah saja, daripada suaminya berselisih pendapat dengan orang tuanya. Dia bisa menghidupi Satria dan anak dalam kandungannya.Dalam hati Cahya berguman, “Aku tidak boleh serakah. Begitu banyak nikmat yang diberik
Bohong kalau Cahya merasa baik-baik saja meskipun dia berada dalam perlindungan suaminya. Jantung wanita itu nyaris copot menatap Nyonya William yang mendekat. Begitu juga Ethan.“Ethan! Kamu tidak memeluk Mami?”Terhenyak, langkah Ethan pun bergegas meninggalkan Cahya yang berdiri mematung. Dengan sendirinya, wanita ayu itu mengempiskan perut menyembunyikan kehamilannya.Ibu dan anak itu berpelukan. “Mami, bukankah rencananya datang minggu depan? Aku kaget.”“Aku bilang minggu-minggu ini, kan? Ada tiket dan Papimu bisa ditinggal, Mami langsung terbang.”“Kenapa tidak menelponku saat diperjalanan? Aku bisa menjemput di bandara.”“Kejutan, Ethan Sayangku.”“Keira pasti senang.”“Oh, iya. Mana cucuku! Mami kangen!” Wanita itu mengedarkan pandangan, kemudian bertumpu pada Cahya yang berdiri di sana. “Itu Cahya, kan? Wanita yang mengasuh cucuku?”Ujung-ujung jemari Cahya membeku seketika. Sorot mata Nyonya William yang terpusat kepadanya seperti penghakiman. Ethan menatap Cahya kemudian b
“Ah masih satu minggu lagi. Aku akan cari jalan keluar untuk Cahya,” guman Ethan sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.Mobil melaju membelah jalan by pass Nusa Dua. Jalanan mulai padat meskipun masih bisa jalan. Ethan memandang ke arah luar jendela. Lelaki itu terlihat tenang, tetapi di dalam kepalanya berputar dengan banyak rencana.“Cahya itu istriku. Kenapa aku harus menyembunyikan dia?” ucapnya setelah bergulir satu rencana.Baru saja dia memikirkan akan memindahkan Cahya ke Ubud. Di sana ada villa bagus yang sudah dia incar lama. Dia tidak berniat memindahkan Cahya dari rumah supaya tidak bertemu ibunya nanti. Mengingat latar belakang mereka menjadi suami istri, yang bisa memantik amarah ibunya. Apalagi Cahya sedang mengandung. Bukankah itu bisa membahayakan?“Atau, aku terus terang tentang Keira ke Mami? Dengan begitu dia akan menyambut kedatangan cucu yang dikandung Cahya.”Dahi Ethan semakin berkerut, kemudian dia menghela napas panjang sambil memijit pelipis. Ini seperti di
“Selamat pagi, sayang-sayangnya papi!” Ethan menghampiri meja makan.Keira dan Satria yang sedang makan didampingi pengasuh pun menoleh bersama. Awalnya mereka terlihat terkejut, kemudian senyum mereka mengembang sempurna. Terutama Keira yang langsung beranjak dari tempat duduk. Mata gadis kecil itu berbinar sarat dengan kerinduan.“Papi…. Selamat pagi.”Ethan tersenyum dan langsung menyambut Keira. Telapak tangan yang awalnya bergerak ragu, kemudian memeluk tubuh setinggi pinggangnya itu setelah Cahya mensejajarinya.Mata Cahya mengedip dan mengangguk. Wanita itu tersenyum lega saat suaminya mengingat yang dia ucapkan. Semalam setelah kebersamaan mereka, Cahya dan Ethan berbincang lama sambil tiduran. Sang istri rebah di lengan suami.“Jalan hidup kita sering tidak tertebak, ya. Kita bertemu dengan kesalahan dan berakhir bahagia seperti sekarang ini,” ucap Cahya sambil mengusap-usap dada Ethan yang berbulu.“Siapa bilang itu kesalahan?”“Iya, gara-gara aku salah kira kamu sopir taxi o
“Apa aku kembalikan dia kepada keluarga Siska saja?”Cahya terkesiap.“Keira?! Jangan! Jangan, Sayangku. Bagiku Keira sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau berpisah dengannya,” sahut Cahya sambil memegang kedua tangan suaminya."Tapi, Aya. Kamu tahu tidak, setiap melihat dia pikiranku langsung membayangkan Siska bersama dengan lelaki bangsat itu. Kamu tahu rasanya sebagai suami saat membayangkan istrinya dipakai lelaki yang aku tidak tahu siapa dia?!” Mata Ethan menyala nyalang. Kedua alisnya bertaut. “Saya mengerti. Tetapi semua ini bukan salah Keira, Sayang. Dia tidak tahu apa-apa. Coba kamu bayangkan kalau menjadi Keira. Dari lahir yang dia tahu inilah rumahnya. Kamulah papinya.""Tapi bagaimana dengan aku?" ucap Ethan dengan sorot mata memohon. Cahya menghela napas. Ini sungguh berat. Kemudian dia berguman, "Jangan sampai kesalahan orang dewasa menyakiti Keira yang tidak bersalah.”"Aku pun berpikir demikian, Aya."Mereka sama-sama terdiam.“Tapi, Aya. Itulah yang membuat
Banyak yang ingin berubah, tetapi enggan kehilangan kebiasaan yang lama. Itu yang terdengar sepele, tetapi berat untuk dilaksanakan.Cahya nyaris kehilangan waktu untuk bersantai.Sepulang kerja, langsung menemani Satria dan Keira. Istirahatnya pun selalu ada buku di tangan. Menjelang tidur digunak
[Aya, saya masih ada meeting di luar. Jangan ke restoran kalau saya tidak ke sana] Cahya membaca pesan dari Ethan, kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas tanpa membalas.Ini sudah sekian pesan yang masuk setelah Pak Sopir memberikan nomor telponnya kepada majikan, setelah dia enggan mengangkat tel
Sepulang kerja, Ethan langsung ke kamar anaknya-Keira.Dia mengedarkan pandangan. Tidak terlihat seseorang yang dicarinya. Hanya ada Keira dan Mbak Pengasuh. Seketika ketakutan mendera. Jangan-jangan ….“Papi…!” teriak Keira berlari memeluknya. Dia meloncat ke gendongan dan mengalungkan ke leher ay
Pintu mobil berwarna merah itu terbuka. Kaki jenjang menggunakan sepatu hak tinggi berwarna merah, menunjukkan siapa yang datang. Wanita bergaya sosialita dengan baju terusan berwarna hitam dengan jaket kulit hitam yang dibagian leher dihiasi bulu-bulu.Jantung Cahya berdenyut lebih kencang. Dia me







