LOGIN"Launching dulu," ujar Keiron saat ditanya Salsa. Salsa bertanya apakah mereka akan kondangan dulu atau lauching. Tapi Keiron langsung membalas 'launching' dulu. Salsa terheran dengan bosnya itu. Acara bahagia milik adiknya, tapi ia malah masih sibuk kerja. Padahal acara lauching-nya sudah bisa diserahkan ke bawahannya termasuk Salsa-tim desain. "Bapak gak ke sana dulu?" tanya Salsa sambil merapihkan letak berkas di tangannya. Mereka sedang berjalan menuju tempat acara launching. "Gak ada waktu. Kita rampungkan dulu acara launching yang hanya setengah hari ini." "O--oke, Pak," sahut Salsa pasrah. Ia mengikuti langkah Keiron yang begitu lebar. Selama setengah hari ke depan, Salsa menyaksikan sisi lain dari Keiron. Keiron bukan lagi pria yang berusaha mendekatinya atau bos yang kaku di ruang rapat. Dia adalah seorang komandan perang. Keiron mengawasi setiap sudut venue, mengecek pencahayaan, memastikan display produk terlihat sempurna, hingga menegur staf jika ada satu bro
Saat pintu ruang ganti terbuka, Salsa keluar dengan gaun pertama. Itu adalah gaun berbahan silk premium dengan potongan A-line yang jatuh menjuntai anggun hingga ke lantai. Hijabnya dipadukan dengan gaya clean look yang simpel menggunakan bahan senada, memberikan kesan sangat berkelas sekaligus menjaga kesantunannya. Salsa yang biasa memakai pakaian sederhana tapi anggun di kantor, tampak pangling melihat bayangannya sendiri di cermin besar. "Gimana, Pak? Terlalu berlebihan nggak ya buat saya?" tanya Salsa sambil merapikan letak hijabnya yang sedikit bergeser karena grogi. Keiron yang sedari tadi bersikap dingin, mendadak kehilangan kemampuannya untuk berdeham. Ia menatap Salsa lewat pantulan cermin. Gaun itu menutupi tubuhnya dengan sempurna namun tetap menonjolkan aura yang berbeda. Cantik, tenang, dan sangat berwibawa. "Tutup tirainya," perintah Keiron pelan, suaranya sedikit parau. "Loh, kenapa? Bapak nggak suka?" tanya Salsa khawatir kalau ia terlihat jelek. "Bukan,"
Dua minggu berlalu sejak insiden kabur ke toilet itu, dan Salsa bisa bernapas lega karena Keiron benar-benar menghentikan aksi "interogasi berkedok PDKT"-nya. Pria itu kembali ke setelan pabrik, menjadi bos robot yang super sibuk. Karena Victor sedang kuliah di US sana, Keiron harus turun tangan langsung memantau persiapan peluncuran produk terbaru dari Haul Cosmetic. Salsa mengira badai sudah berlalu. 'Tuh kan, bener. Pak Keiron kemarin cuma khilaf karena kurang oksigen,' batin Salsa senang sambil merapikan sisa berkas pasca rapat besar Haul Cosmetic sore itu. Namun, kelegaan Salsa langsung runtuh ketika ruang rapat mulai kosong dan hanya menyisakan dirinya serta sang CEO. "Salsa, tetap di tempat. Ada draf lanjutan Haul Cosmetic yang harus dievaluasi sekarang," ucap Keiron formal, bahkan tanpa mendongak dari tabletnya. Salsa menelan ludah, refleks memeluk tasnya. "Eh? Tapi Pak, ini sudah jam pulang kantor—" "Ini perintah atasan, Salsa. Ikut saya sekarang." Keiron berdiri, me
Sebenarnya Keiron sudah diberikan tips and tricks untuk merayu perempuan dari Edric, tapi semua mental dari logika Keiron. Ia mendengus mendengar wejangan Edric. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tangan di dada dengan dahi berkerut dalam. "Membuat nyaman? Itu terlalu umum dan gak efisien, Ed," sahut Keiron dingin, menolak mentah-mentah trik adiknya. "Dalam bisnis, kalau kita menginginkan sebuah aset, kita memberikan penawaran terbaik sejak awal. Pendekatan lo itu terlalu banyak membuang waktu dan tidak logis." Edric hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Terserah lo deh, Bang. Jangan nangis kalau besok Salsa langsung bikin surat resign!" Sebelum keluar kamar, Edric berkata lagi. "Intinya gue udah kasih saran. Diterima silahkan, enggak yah tanggung sendiri resikonya." ••• Pagi-pagi sekali, Salsa berjalan menuju meja kerjanya dengan lingkaran hitam di bawah mata. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan Keiron di taman. 'Nggak mungkin. Itu p
Keiron terdiam, terpaku mendengarnya. "Kalau misalnya nanti saya diapa-apain atau digosipkan macam-macam gara-gara terlihat dekat atau bicara dengan Bapak," lanjut Salsa dengan sepasang mata hitam pekatnya yang menatap lurus ke dalam manik mata Keiron, "ya saya tinggal jawab saja kalau gak ada hal yang bisa mereka khawatirkan dari pertemuan kita. Ini murni urusan profesional antara atasan dan bawahan. Saya tidak takut dengan pandangan orang, selama saya berdiri di jalan yang benar." Seketika itu juga, benteng logika Keiron kembali dibuat takjub oleh pola pikir Gen-Z milik Salsa yang begitu lugas, berani, dan bebas dari beban ketakutan sosial yang selama ini mengungkung dirinya sendiri. Keiron mengembuskan napas panjang, meresapi rasa lega yang semakin membuncah di dalam hatinya. "Baiklah kalau itu mau kamu. Temui saya di lobi sore nanti," jawab Keiron halus, suaranya terdengar sangat tenang. "Baik, Pak. Saya permisi kembali ke ruangan dulu," pamit Salsa membungkuk hormat, sebel
Keiron sebenarnya sudah sangat kebal dengan pertanyaan-pertanyaan klise yang kerap menyapa telinganya. "Apakah kamu sudah punya pacar?", "Apakah kamu belum ada niatan menikah?", atau "Kapan pangeran sulung Kingsley melepas masa lajang?" adalah makanan sehari-harinya di setiap pertemuan keluarga besar maupun interaksi dengan kolega bisnis. Sebagai pewaris utama, ia terbiasa memblokir semua tuntutan itu dengan tameng kesibukan kerja yang luar biasa padat.Namun, pertahanan mental Keiron mendadak sedikit terusik pagi ini. Di dalam grup obrolan keluarga, sang ayah, Kieran Kingsley, baru saja mengumumkan sebuah kabar besar: persiapan menuju pernikahan Julian dan Vanessa di Boston sudah semakin dekat, dan Julian dipastikan akan pulang ke Indonesia dua minggu lagi untuk mengurus berkas administrasi dan beberapa persiapan akhir.Melihat rentetan ucapan selamat dan stiker meriah dari adik-adiknya di layar ponsel, Keiron terdiam di kursi kerjanya. Ia jadi mulai memikirkan jalan hidupnya sendiri
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Kieran. Ia berkecak pinggang di ambang pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Siti dan Victor langsung menjauh, tapi kemudian Siti menjawab. "Kita cuma lagi berdebat seperti biasa saat di kampus. Kamu udah selesai makan?" tanya Siti mendekati
Kieran sibuk menjawab telpon grup dari ketiga anaknya yang lain. Edric sudah marah-marah secara langsung, kini giliran Keiron, Victor, dan bahkan Julian yang ada di Amerika. "Kita rapat keluarga aja besok. Buat Julian bisa online aja," ujar Kieran sudah lelah diberondong omelan. "Pih, seriousl
Kieran hampir saja buka mulut, tapi Keiron langsung memberi tatapan peringatan pada sang adik. Selain Kieran, Keiron ai sulung juga begitu disegani oleh adik-adiknya, jadi adik-adiknya tak berani membantah. Meski Edric kelihatan ingin berdiri, ia menahannya. Hal itu membuat Siti tambah yakin, kala
Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan







