LOGINMasukin ke daftar baca kamu😘
"Kalau lu nolak ikut gue malam ini... gue bakal cium lu di sini sekarang juga. Dan gue gak main-main." Ancaman Edric yang dilayangkan tepat di depan bibirnya membuat Vega membeku sepenuhnya. Deru napas cowok itu terasa begitu dekat, dan tatapan matanya yang tajam tidak memperlihatkan sedikit pun keraguan. Vega tahu persis, anak bungsu keluarga Kingsley ini nekat dan sama sekali tidak peduli pada aturan perjamuan formal seperti ini. Terang-terangan ia menyeret anak gadis orang dan merayunya di depan banyak orang. "Kamu... bener-bener gila, Edric," bisik Vega dengan nada tertahan, napasnya naik turun menahan debar jantungnya yang tak karuan. "Gue emang gila. Jadi mending lu nurut kalau gak mau perjamuan ini makin heboh," balas Edric rendah, makin mengikis jarak di antara mereka. Namun, sebelum bibir Edric benar-benar mendekat atau Vega sempat membalas, sebuah suara berat penuh wibawa dan sarat akan amarah yang dingin menggelegar dari ujung lorong pilar marmer. "Lepaskan tan
Suara gemericik air dari pancuran bilik mandi baru saja terhenti ketika Keiron keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Rambut hitamnya yang setengah basah dibiarkan berantakan, meneteskan sisa air ke atas bahu tegapnya. Ia melangkah mendekati tempat tidur king size di mana Salsa sedang duduk bersandar sambil melipat pakaian hangat hasil perjalanan mereka kemarin. Keiron mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap istrinya lekat-lekat sebelum meraih jemari manis Salsa. "Sal," panggil Keiron dengan suara berat dan serak khasnya. Salsa menghentikan tangannya, lalu mendongak menatap suaminya. "Kenapa, Mas?" Keiron menghela napas pendek, mengusap punggung tangan Salsa dengan ibu jarinya. "Aku mikirin soal pernikahan kita. Selama ini kita jalan keluar selalu kucing-kucingan. Waktu bulan madu kemarin aja kita harus pakai kacamata hitam, topi, sampai nyari rute sepi cuma demi terhindar dari kamera wartawan. Aku ngerasa gak bebas banget ngajak kamu jalan." Salsa tersenyum tipis,
Edric terdiam sepenuhnya di bawah naungan topinya. Kata-kata Salsa mendadak berputar-putar di dalam kepalanya, memicu simpul-simpul baru di otaknya. Vega yang selalu berpakaian kusam di kampus, Vega yang takut interaksinya dengan Edric terlihat mahasiswi lain, hingga ancaman peretasan semalam... semuanya cocok dengan analisis Salsa yang kedua. Gadis itu bukannya sekadar membencinya tanpa alasan. Gadis itu sedang berusaha keras mempertahankan benteng perlindungan yang sudah disiapkannya sejak awal. "Gitu ya..." gumam Edric sangat pelan, hampir tertelan oleh suara gesekan dedaunan yang ditiup angin dan gelak tawa Siti serta Kieran yang sedang mengelitik Baby Maya di ujung kain piknik. "Ingat ya, Ed," tambah Salsa lagi dengan suara yang lebih lembut. "Cowok kalau cuma tertarik karena penasaran, biasanya bakal nyerah pas dapet penolakan keras. Tapi kalau lu emang beneran punya perasaan... penolakan itu cuma ujian kecil." Edric menarik topi hitam dari wajahnya. Ia mendudukkan tubu
Salsa pun memutuskan untuk berbalik arah dan kembali menuju kamarnya di lantai atas, membiarkan sepasang suami istri itu menikmati waktu berkualitas mereka tanpa gangguan. Untung saja, baik Kieran maupun Siti sama sekali tidak menyadari keberadaannya di atas tangga tadi. . Di kamarnya, Edric sedang berbaring terlentang di atas kasur besarnya, melempar-lempar bola kasti kecil ke udara lalu menangkapnya kembali secara berulang-ulang. Pikirannya benar-benar berkecamuk. Kata-kata Kieran di ruang kerja terus berputar di kepalanya, beradu dengan ingatan akan tatapan marah Vega di koridor kampus tadi sore. "Kalau kamu makin jauh masuk ke kehidupan anaknya, urusannya bukan cuma soal perasaan kalian berdua...” suara Papi-nya bergema di ingatan. Lalu disusul oleh bentakan Vega. “Jauhin aku, Edric. Bikin hidup aku tenang lagi seperti sebelum kamu hadir!” Edric menangkap bola kastinya kuat-kuat, lalu menghentikan gerakannya. Ia memiringkan badan, meraih ponsel yang tergeletak di
Setelah Edric tak terlihat, Kieran menghela napas panjang. Pria berkharisma tinggi itu memijit pelipisnya pelan sebelum akhirnya bangkit dari kursi kebesarannya. Ia mematikan lampu meja, merapikan setelan kemejanya yang sedikit kusut, lalu melangkah keluar menuju ruang keluarga utama mansion Kingsley. Suasana ruang keluarga lantai dasar sangat tenang malam itu. Televisi berukuran besar menyala tanpa suara, menampilkan tayangan berita finansial. Di sofa empuk bernuansa krem, Siti duduk menyilangkan kaki dengan kedua tangan terlipat kaku di dada. Begitu Kieran melangkah masuk, mata sang Siti langsung mengunci pergerakan suaminya. Tatapannya sangat tajam, sarat akan intimidasi yang mendadak membuat sang pria hot nan tampan itu menghentikan langkahnya sejenak. Kieran menyunggingkan senyum tipisnya yang menawan, berusaha mencairkan ketegangan. "Ada apa sih, Sayang? Kok ngeliatin aku kayak mau menelan hidup-hidup gitu?" Siti tidak membalas senyuman itu. Matanya melirik ke arah l
Sejak insiden peretasan yang berujung imbang malam itu, pikiran Edric benar-benar terus tertuju pada Vega Wijaya. Cowok populer yang biasanya selalu dikejar-kejar kaum hawa di kampus itu kini justru membalikkan keadaan. Perasaannya tidak bisa dibohongi lagi. Ada rasa penasaran mendalam yang perlahan berubah menjadi ketertarikan yang nyata. Edric mulai secara terang-terangan melancarkan aksinya untuk mendekati cewek berkacamata tebal itu. Pagi itu di kantin utama kampus, Edric tanpa ragu membawa nampan makanannya dan langsung duduk tepat di hadapan Vega yang sedang fokus membaca buku tebal sambil mengunyah roti. "Sepi amat makan sendirian," sapa Edric santai, lalu meletakkan minuman kotak favorit Vega di samping piring gadis itu. Vega mendongak, matanya menatap Edric dari balik kacamata besarnya dengan pandangan datar. "Edric, bisakah kamu duduk di meja lain?" "Kenapa? Meja ini kan fasilitas umum," jawab Edric terkekeh, lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menata







