Share

Part 6

Penulis: Yuni Fediani
last update Terakhir Diperbarui: 2024-07-31 16:28:13

“Kamu yakin Qila nggak tahu kita di sini, Mas?”

Hana bersicepat menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.

Jantungku dan dia mungkin berdegup kencang secara bersamaan setelah mendengar ketukan pintu yang mendadak berbunyi tersebut.

Aku dan Hana saling menatap panik. Sesaat aku berfikir, kejadian kemarin jangan sampai keulang lagi, sekalipun itu Qila, dia nggak boleh tahu Hana di sini.

Kemudian, aku meraih baju dan celanaku yang berserakan di lantai dalam satu ayunan tangan.

“Biar aku yang buka pintu! Sayang, cepat kamu sembunyi di kamar mandi!”

“I—iya, Mas!”

Hana berdiri lalu ke ruangan berair itu dengan tergesa-gesa. Aku menganggukan kepalaku.

“Ya, tunggu sebentar!”

Suara ketukan itu berhenti seusai aku menyahutnya. Perlahan kubuka handle pintu, dan ternyata…

“Maaf, Pak. Apa ini milik Bapak? Tadi tertinggal di lobbi bawah,” ujar seorang waiter sambil memperlihatkan sebuah kunci mobil di tangannya.

Aku melepas helaan napas yang tertahan. Dada ini serasa meluas lagi setelah hampir rapat karena terhimpit dugaan-dugaan yang menakutkan tentang Qila.

“Oh, iya betul, ini milik saya. Terima kasih!” jawabku sembari menerima kunci mobil dari tangannya.

“Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi!”

Waiter itu pun lalu pergi dari hadapanku. Aku kembali masuk dan memastikan pintu terkunci dengan benar.

“Sayang…?” panggilku sembari mengetuk kecil pintu kamar mandi.

Perlahan pintunya terbuka sedikit, separuh wajah Hana yang tegang nampak terlihat.

“Aman,” kataku memberi kode padanya.

“Serius?” tanyanya masih ragu.

Aku menganggukan kepala. Pintu kamar mandi mulai terbuka lebar. Hana melangkah keluar, namun selimut yang dipakainya tersangkut handle pintu hingga jatuh dan membuat tubuhnya tak terbalut apapun. Seketika hasrat itu datang lagi.

“Ih… kamu…!” pekiknya manja saat aku justru merangkul balik ke dalam kamar mandi, ia paham apa yang akan aku lakukan padanya, dan kami menikmatinya di tempat itu.

“I love you,” bisikku di telinga Hana sambil melingkarkan tanganku di pinggang kecilnya.

Sisir yang digenggam untuk merapihkan rambutnya terhenti, kepalanya ditolehkan kepadaku hingga kedua bibir kami hanya berjarak beberapa centi dan menghias senyum manis.

“I love you too,” jawabnya, kemudian Indera pengecap aku dan dia disatukan membentuk ungkapan cinta secara visual.

Cinta pertamaku itu seharusnya yang menjadi istriku. Jika itu terjadi, betapa beruntungnya aku. Selain mencintaiku, dia juga benar-benar pandai memuaskanku secara kebutuhan batin. Aku semakin ingin memilikinya secara resmi untuk mengikat dia selamanya. Bayangan hidup bahagia dengannya sudah sering terlintas di pelupuk mata.

Sayangnya, semua itu harapan semu. Banyak hal yang aku harus lewati demi cintaku pada Hana. Istriku Qila, Ibu, belum lagi Yasha, apa jadinya nasib persahabatanku jika ia tahu bahwa selama ini istrinya sering bermain r*njang denganku dan juga Hana lebih mencintaiku dari pada dia.

“Mas?” tanya Hana pelan, sisir yang sempat berhenti mengurai rapi rambutnya ia gerakan lagi.

“Hemm!”

“Kapan janji kamu buat ceraikan Qila kamu tepatin? Kamu nggak lupa kan sayang, sama janji kamu?”

Hana mulai mempertanyakannya kepastian lagi.

Sepertinya keinginan menikah dan hidup bersama lebih antusias dia dari pada aku.

Menegakkan kepalaku dan melepaskan pelukanku dari belakang kepadanya. Sebenarnya aku juga masih bingung harus jawab apa. Belum ada satu alasan apa pun yang terlintas di kepala.

“Aku ingat kok, sayang. Tapi--!”

“Tapi apa Mas?”

Kali ini Hana benar-benar memaksa sisirnya berhenti merapihkan rambutnya yang masih basah. Ia berdiri dari duduknya dan berpindah di sampingku yang duduk di pinggiran ranjang.

Raut wajahnya berubah, terpasang ekspresi yang lebih serius dengan tautan alis di keningnya.

“Jangan bilang sama aku kalau kamu nggak jadi ceraikan Qila?” dugaan Hana memperhatikanku yang tadi tak melanjutkan bicara.

Kepanikan kecil tiba-tiba menyerangku tapi sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala bisa mengalihkan pembahasan yang sangat memojokan posisiku.

“Bu—bukan sayang, maksud aku, tapi gimana dengan Yasha? Bukankah kamu pun belum bercerai dari dia jadi, kita nggak perlu terburu-buru juga!” alibiku mengulur masalah.

“Mas Yasha lagi? Kamu nggak perlu khawatir dengan dia, Mas. Aku juga secepatnya bakal menggugat cerai dia biar kita bisa nikah secara resmi!”

Ternyata Hana sudah sejauh itu memikirkan hubungan terlarang ini. Dia yang semakin serius dan berjuang demi menikah denganku, sementara aku yang justru memperbaiki hubungaku dengan Qila demi warisan dan masa depanku.

“Makasih ya, sayang. Aku nggak nyangka kalau kamu akhirnya bakal memilih aku buat jadi teman hidup kamu.”

“Ya, Mas. Seandainya dulu, aku nggak salah memilih, mungkin aku sekarang nggak menyesali keadaan kita sekarang,” ujarnya, meletakan kepala di atas bahuku.

Perasaan Hana ternyata sejalan dengan perasaanku, aku semakin yakin untuk mempertahankan dia apa pun keadaannya, meski harus kehilangan Qila, dan menghancurkan persahabatanku. Hana adalah prioritas dihati aku.

“Kamu sabar ya, aku pasti akan perjuangin kamu!” Aku mengelus kepala Hana.

***

“Hati-hati ya, sayang!”

Aku mengecup kedua pipi dan kening Hana sebelum ia masuk ke dalam taksi online yang aku pesankan.

Setelah itu, aku bergegas pulang sebelum malam tiba karena, sebisa mungkin aku harus menyembunyikan pertemuanku dengan Hana ini.

Kunci otomatis mobilku kutekan, siap masuk dan meluncur pulang. Tapi, aku terkesiap saat seseorang menepuk pundaku dari belakang.

“Hei!”

“E-elu?”

Jantungku rasanya mau copot, mengetahui ternyata yang datang adalah..

Bersambung…..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
qila dungu mmang pantas dibohongi krn gampang oercaya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dinikahi karena Warisan, Berujung dapat Suami Baru yang Sultan   Part 31

    “Sebenarnya apa?” tanya Mirza penasaran.“Sebenarnya Mas Yasha tidak sakit, dia normal dan baik-baik saja. Selama ini akulah yang mengelabuinya. Aku yang menukar hasil pemeriksaan dirinya dengan hasil yang palsu,” terang Hana tanpa rasa bersalah.Mirza terkejut, tak percaya dengan apa yang dilakukan istri sirinya itu.“Nggak mungkin! Kamu pasti bohong. Sudahlah Hana, aku nggak akan bisa kamu kelabui seperti Yasha!” Sangkal Mirza menatap tajam.“Aku berkata benar, kamu nggak ada hak atas anak ini, Mas. Lagi pula, aku hanya ingin anakku hidup bahagia dan mewarisi harta ayahnya, Yasha. Jadi, mulai sekarang, kita coba lupakan saja hubungan kita,” tegas Hana.Mirza mengatur nafasnya yang serasa sesak tiba-tiba. Gumpalan darah berkumpul diwajahnya, seolah gambaran amarah yang tertahan. Sesekali ia menelan ludah, seakan menelan kepahitan yang baru saja di dengarnya, dan Hana bisa melihat itu.Ia paham apa yang dimaksud istri sirinya itu, Hana hanya ketakutan, dia dan calon bayi mereka akan h

  • Dinikahi karena Warisan, Berujung dapat Suami Baru yang Sultan   Part 30

    “Siapkan mobil, kita akan ke rumah sakit!”Perintah Yasha pada Dito sesampai di rumah. Setelah assisten rumah mengabarkan yang terjadi pada Hana tadi, Yasha bergegas pulang.“Hana, Hana. Bagunlah!”Yasha menepuk-nepuk pipi Hana. Kemudian menempelkan dua jarinya di sekitar leher, alhasil dugaannya dia masih bernyawa. Namun, hanya saja wanita yang baru saja ditalaknya itu tak kunjung sadar.“Apa yang sebelumnya terjadi?”“E—Ibu tadi mendadak mual dan mengeluh sakit kepala, Pak! Terus nggak lama dia pingsan, itu saja yang saya tahu!” jawab Bi Harti, Assissten Rumah tangga Yasha. Tidak banyak berfikir lagi, Yasha langsung membawa Hana ke dalam mobil yang sudah Dito siapkan untuk meluncur ke rumah sakit.Pasca pulang makan malam, Yasha dan Hana bertengkar hebat. Hana bersikeras tak ingin berpisah dari Yasha, sementara suaminya itu sudah menjatuhkan talak beberapa kali.Hana yang kecewa, mengurung diri dalam kamar. Tak mau makan, minum, bahkan mungkin ia tak membersihkan diri setelah dari

  • Dinikahi karena Warisan, Berujung dapat Suami Baru yang Sultan   Part 29

    “Hentikan pembicaraan kalian!” Bentak Mirza pada Qila dan Yasha.“Kenapa, ada masalah dengan pembicaraan kita?” tanya Yasha tegas.“Gue muak dengan kemunafikan lo,Yash!”“Gue munafik?” Tertawa tajam, “Apa lo nggak pernah ngaca, siapa yang lebih munafik antara gue sama lo!” sambung Yasha.Suasana memanas, sepertinya Yasha mulai tersulut emosi. Entah apa yang membuat Mirza meradang amarah tiba-tiba.“Kurang aj*r!”Mirza keluar dari bangku dan berusaha menyerang Yasha, tapi itu tak berhasil lantaran spontan ditahan oleh Hana.Istri rivalnya itu justru yang mengendalikan emosinya.“Sabar, tolong kamu jangan seperti ini!” Hana menarik tangan Mirza mundur ke belakang. Sementara Qila masih dalam posisinya.“Apa-apaan kamu, Mas! Kenapa kamu bersikap memalukan seperti ini pada tamu kita!” Qila berusaha menenangkan.“Mulai sekarang dia bukan tamuku, apalagi sahabatku!Mulai detik ini juga dia adalah rivalku!” hardiknya sambil menunjuk muka Yasha dengan telunjuknya.Mereka saling menatap tajam.

  • Dinikahi karena Warisan, Berujung dapat Suami Baru yang Sultan   Part 28

    Akhir pekan,“ Tumben masak banyak, biasanya istri pemalas kayak kamu cuma bisanya nyuruh-nyuruh si Yanti buat bikin makanan!” Celetuk Mirza sambil pandangannya berkeliaran di atas meja makan.Sajian makanan yang terpanjang lumayan banyak dan menggiurkan selera makan.Sikap Mirza makin lama makin susah ditebak, apalagi semenjak dia tahu Yasha mengalihkan kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Qila, walau itu hanya tipuan belaka.“Iya dong, Mas, kan malam ini kita akan kedatangan tamu istimewa,” jawab Qila masih menyabarinya.“Tamu istimewa? siapa? “ tanya Mirza heran.“Nanti juga kamu tahu, lebih baik kamu bersiap-siap saja, karena sebentar lagi mereka akan datang! ” jawab Qila.Beberapa detik kemudian, bel pintu berbunyi. Qila beranjak meninggalkan Mirza yang masih berdiri di hadapannyahadapannya untuk membuka pintu. Sementara Mirza yang masih dengan penasarannya mengintip dibalik tembok.“Jadi tamu itu.. Ah! Sial! Mereka nggak boleh lihat aku seperti ini! Aku harus berpenampi

  • Dinikahi karena Warisan, Berujung dapat Suami Baru yang Sultan   Part 27

    “Maaf, Pak! Tolong jangan begini!” Dito menahan bahu Mirza hingga membuat jasnya berantakan dengan tangannya. Namun, ia berhasil masuk sampai di depan meja kerja Yasha.“Minggir!” kesal Mirza membentak pegawai pribadi Yasha itu.“Maaf Pak Yasha, orang ini memaksa masuk. Saya sudah mencegahnya tapi--!”“Biarkan dia!” ucap santai Yasha sembari memberi kode agar Dito keluar ruangan saja.Mirza merapihkan jasnya dengan kasar setelah lelaki bertubuh gempal itu keluar ruangan.“Yasha! Apa maksud lo membatalkan kerja sama perusahaan gue secara sepihak!” tanya lantang Mirza.Yasha berdiri sembari menghela nafas pendek. Kedatangan Mirza sudah diduganya sebelum memutuskan kerja sama sepihak itu.“Kenapa, ada masalah dengan keputusan gue? Perusahaan ini milik gue, ya terserah gue dong mau bagaimana!” jawabnya dengana tatapan tajam.“Tapi lo nggak bisa seenaknya gitu dong! Gue udah abis-abisan keluarin modal, buat tender yang udah lo setujuin dari awal ini!” Mirza meradang.“Gue bakal balikin mod

  • Dinikahi karena Warisan, Berujung dapat Suami Baru yang Sultan   Part 26

    Sesampai di rumah.“Qil! Qila!” teriakan Mas Mirza dari luar pintu rumah serentak dengan gedoran keras pada pintu.“Ya, sabar!” sahutku.Ingin sekali aku mengacuhkannya jika sikapnya tidak mengganggu Kiana tidur.“Lama banget sih buka pintunya!” hentaknya sembari melangkah masuk.Semenjak aku mengetahui pernikahan sirinya dengan Hana, saat itu pula aku mengetahui kalau suamiku telah berubah seratus delapan puluh derajat. Pria yang selama ini aku kenal penyayang, lembut, sekarang tak kulihat setitik pun sifat itu darinya.Mas Mirza yang sekarang sangat kasar, kejam, bahkan ia tak ragu untuk membuatku terluka, dan yang aku takutkan sewaktu-waktu adalah keselamatan Kiana. Putri kecilku yang tak berdosa tak tahu jika nahkoda kebanggaanya itu telah berubah menjadi seorang perompak.Kemudian ia langsung nyelonong ke kamar. Dulu, setelah capek pulang kerja sekali pun, ia pasti sempatkan menengok Kiana di kamarnya, namun kali ini tidak. Bahkan, koper besarnya itu ditinggal begitu saja, tanpa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status