Antara Mencintai dan Melupakan

Antara Mencintai dan Melupakan

last updateLast Updated : 2025-05-29
By:  ZizizaqCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.8
13 ratings. 13 reviews
78Chapters
37.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Evan memandangi Celin yang sedang sibuk mengurus tubuhnya, terbayang kembali bagaimana wajah ceria Celin saat ia datang melamar, di awal pernikahan wanita itu sangat aktif dan riang namun perlahan ia berubah, wajah ceria itu terlihat tertekan, tingkahnya juga menjadi lebih tenang. "Kamu ingin bicara apa?" Celin berbalik dan berjalan ke arahnya. Evan buru-buru membuang muka ke samping. "Apa kau tidak penasaran dengan perempuan yang bersamaku?" "Kalau kamu ingin memperkenalkannya, lakukan saja, tidak usah bertele-tele," Celin terdengar ketus. "Dia Jeni, dia istriku juga, kami menikah sebelum aku menikahimu," Bagai petir yang menyambar di telinga Celin, untuk pertama kalinya ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, dadanya sakit dan sesak, Evan melirik untuk melihat keadaannya. "Aku harus menjelaskannya agar kau tahu, kau bukan satu-satunya istriku, dan..." "Aku mencintanya," Hancur luluh lantak sudah perasaan Celin. Tenggorokannya tercekat, tubuhnya berguncang hebat. "Aku lelah, Van." Celin akhirnya menyerah.

View More

Chapter 1

Bagian 1 Anugerah Terindah

Merupakan anugerah terindah bagi seorang perempuan jika memiliki suami berwajah tampan paripurna dan pewaris tunggal dari keluarga kaya. Paket komplit dengan sifatnya yang pengertian dan bertanggung jawab.

Hanya satu hal yang belum membuat Celine puas, yaitu kata 'Aku mencintaimu' yang belum pernah ia dengar selama dua tahun pernikahannya. Ia memiliki segalanya dari Evan, kecuali hatinya. Hak dan kewajiban sebagai istri terpenuhi, tapi perasaan Evan bukan miliknya. Ia tidak pernah melihat cinta di mata Evan.

Ia juga ingin tahu siapa yang memiliki hati suaminya, tapi ia takut jika faktanya memang ada orang lain. Pada akhirnya, ia hanya bisa bersabar dan berharap suatu saat hati Evan berpihak padanya, sekaligus bersiap-siap seandainya tidak sesuai harapannya.

"Aku akan ke luar negeri besok," ucap Evan seperti biasanya, seolah luar negeri bukan perjalanan jauh lagi baginya. Hampir setiap bulan ia mengatakan itu pada Celine, bahkan pernah hanya berselang seminggu saja.

"Untuk apa?"

"Untuk pekerjaan dan ada hal lainnya." Evan berkata jujur. Hal itu cukup membuat Celine bungkam dan bersikap tampak penurut. Takut jika banyak bertanya membuatnya kecewa, ia hanya bisa mengelabui perasaannya dengan berpura-pura sibuk. Ia sebenarnya adalah gadis yang ceria dan energik dua tahun lalu, entah sejak kapan ia berubah menjadi penurut.

"Oke, akan kusiapkan kebutuhanmu."

"Heem!" gumam Evan.

Celine sedang berkutat dengan koper dan baju-baju Evan, saat Evan tiba-tiba berada di belakangnya.

"Kali ini aku agak lama, aku harus mengurus seseorang," ucap Evan dengan aura dinginnya. Celine berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk memandangi Evan dan memberikan seulas senyum, lalu kembali melanjutkan.

"Kamu tidak penasaran siapa orangnya?"

Celine menggeleng, lalu berkata,

"Bukan urusanku, kan?" Lebih tepatnya ia takut kalau itu nama seorang perempuan.

"Aku akan penuhi kewajibanku sebagai suami sebelum pergi," Evan mendekat, lalu memeluk pinggang Celine. Ia tahu maksud Evan.

"Tidak perlu," tolak Celine cepat. Sayangnya Evan tidak membiarkannya. Ia sangat pandai membuat Celine menyerah. Evan sangat lihai memainkan perannya di atas tubuh Celine. Ia juga menikmati desahan dan erangan yang terdengar dari mulut Celine, hanya saja tatapannya seolah hanya memenuhi tuntutan nafsunya. Seperti sebuah rutinitas terencana dan harus dilakukan. Mereka tertidur setelahnya.

Keesokan harinya...

"Aku pergi dulu," ucap Evan sebelum masuk ke dalam mobil. Tidak ada sentuhan selamat tinggal, hanya sebuah senyuman yang dipaksakan. Celine membalas seperlunya. Ia memandang nanar kepergian Evan yang entah akan kembali kapan. Suaminya selalu seperti itu, datang dan pergi seenaknya. Saat ia berkata akan pergi lama, Celine tidak bisa menghitung berapa lamanya. Ia sudah terbiasa dengan itu. Ia akan bekerja agar mengurangi beban pikirannya.

Celine bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan. Ia melakukan itu bukan karena kekurangan uang, hanya kebetulan ia berbakat di bidang itu dan menjadikannya sebagai pelarian dari rasa kesepiannya. Selain itu, agar kuliahnya selama empat tahun tidak terasa sia-sia.

"Celine, tolong buat flyer periklanan untuk proyek ini," ucap seseorang membuyarkan konsentrasinya. Ia menerima berkas yang disodorkan kepadanya.

"Baik," balasnya.

"Karyamu yang terbaik," pujinya sebelum meninggalkan Celine.

"Terima kasih!"

Ya, Celine yang terbaik saat membuat desain grafis. Idenya cemerlang dan desainnya selalu hidup, seperti kepribadiannya yang ceria. Tapi itu dulu. Sekarang ia hanya menuangkan semuanya ke dalam karyanya.

Dua bulan berlalu. Evan sudah pergi selama itu. Mereka tidak pernah benar-benar saling berhubungan. Mereka hanya berbicara sebentar dan mengabarkan hal-hal yang biasa, tidak sampai membuat hati Celine berbunga-bunga karena sebuah ucapan rindu atau sekadar sapaan layaknya suami yang sedang bepergian.

Hari ini, saat pulang kantor, ia menyaksikan hal yang paling menyakitkan di sepanjang pernikahannya. Evan sudah berada di rumah bersama seorang perempuan yang tengah duduk di atas kursi roda. Ia sangat cantik. Evan memandangnya penuh cinta.

"Celine!" seru Evan begitu melihatnya.

"Kapan kamu datang?" Celine membawa kakinya yang terasa berat untuk masuk. Ia tidak mau menyinggung tentang wanita itu.

"Tadi pagi," jawab Evan.

"Oh." Entah sejak kapan hubungan mereka sekaku ini. Semua karena Evan tidak pernah membalas perlakuan Celine.

"Kau tidak penasaran siapa dia?" tanya Evan. Ia menunjuk wanita yang sedang duduk di kursi roda. Wanita itu tidak berekspresi dan tatapannya kosong.

"Nanti saja, aku sedang lelah," Celine tidak mau memberi Evan kesempatan.

Celine tidak membiarkan pikiran apa pun hinggap di benaknya. Ia segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.

"Aku mau bicara." Ternyata Evan sudah menyambutnya saat keluar dari kamar mandi.

"Biarkan aku berpakaian dulu." Celine mencoba menghindar, tapi Evan sepertinya sudah terdesak untuk membahasnya. Tapi setelah melihat penampilan Celine yang hanya menggunakan handuk setinggi paha dengan bagian dada yang terbuka, ia urungkan niatnya sementara.

Entah kenapa ia merasa gugup. Apa karena ia tidak berhubungan selama dua bulan? Ia bisa saja melakukannya sekarang, tapi waktunya sedang tidak tepat.

"Berpakaianlah dulu," ucap Evan. Celine menurut.

Evan memandangi Celine yang sedang sibuk mengurus tubuhnya. Terbayang kembali bagaimana wajah ceria Celine saat ia datang melamar. Di awal pernikahan, wanita itu sangat aktif dan riang, namun perlahan ia berubah. Wajah ceria itu terlihat tertekan, tingkahnya juga menjadi lebih tenang.

"Kamu ingin bicara apa?" Celine berbalik dan berjalan ke arahnya. Evan buru-buru membuang muka ke samping.

"Apa kau tidak penasaran dengan perempuan yang bersamaku?" Lagi-lagi menanyakan itu.

"Katakan saja, tidak usah bertele-tele."

"Dia Jenny, dia adalah istriku," ucap Evan dengan entengnya.

Bagai petir yang menyambar di telinga Celine. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dadanya sakit dan sesak. Evan melirik untuk melihat keadaannya.

"Aku harus menjelaskannya, kau bukan satu-satunya istriku."

"Dan aku mencintainya."

Jadi perempuan itu yang mengisi hati Evan? Hancur luluh lantak sudah perasaan Celine. Ia tiba-tiba beku tak berdaya. Dua tahun menunggu kata itu keluar dari mulut Evan, tapi begitu keluar ternyata bukan untuk dirinya.

"Aku sudah lelah, Van," ucap Celine dengan tenggorokan yang terasa tercekat. Akhirnya ia menyerah. Ia beranjak dari duduknya, lalu pergi begitu saja.

"Kamu mau ke mana?!" Evan segera mengejarnya sambil terus menahannya.

"Aku belum selesai bicara," Evan sedikit putus asa menghentikannya.

"Masih ada yang harus aku katakan, kau pasti bisa mengerti." Evan masih berusaha, meski Celine sudah masuk ke dalam mobilnya. Celine tidak ingin banyak bicara, ia hanya ingin segera pergi. Marah dan mengamuk juga tidak ada gunanya, melakukannya hanya akan tampak sia-sia.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

madchan
madchan
Yang lagi emosi tapi nggak jelas kenapa, baca ini, dijamin langsung jelas emosinya kenapa. Celine, Celine. Bikin geleng-geleng kepala saja perempuan satu ini. Tapi ada Lo di dunia nyata. ...️
2026-06-22 13:18:27
1
0
Larose
Larose
ceritanya ok dan kl lagi pengen marah2 dibaca aja ges hahaha karena karakter tokoh utamanya diluar ekspektasi
2026-06-20 01:42:03
1
1
Weni Saliza
Weni Saliza
bgus sekali ceritanya
2026-05-23 23:10:28
1
0
Andriana Tanara
Andriana Tanara
klo aku pilih melupakan
2026-04-28 13:15:08
2
0
April1972
April1972
Bagooooos, jangan sampai ga dibaca ya
2026-04-22 17:45:39
2
0
78 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status