LOGINEvan memandangi Celin yang sedang sibuk mengurus tubuhnya, terbayang kembali bagaimana wajah ceria Celin saat ia datang melamar, di awal pernikahan wanita itu sangat aktif dan riang namun perlahan ia berubah, wajah ceria itu terlihat tertekan, tingkahnya juga menjadi lebih tenang. "Kamu ingin bicara apa?" Celin berbalik dan berjalan ke arahnya. Evan buru-buru membuang muka ke samping. "Apa kau tidak penasaran dengan perempuan yang bersamaku?" "Kalau kamu ingin memperkenalkannya, lakukan saja, tidak usah bertele-tele," Celin terdengar ketus. "Dia Jeni, dia istriku juga, kami menikah sebelum aku menikahimu," Bagai petir yang menyambar di telinga Celin, untuk pertama kalinya ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, dadanya sakit dan sesak, Evan melirik untuk melihat keadaannya. "Aku harus menjelaskannya agar kau tahu, kau bukan satu-satunya istriku, dan..." "Aku mencintanya," Hancur luluh lantak sudah perasaan Celin. Tenggorokannya tercekat, tubuhnya berguncang hebat. "Aku lelah, Van." Celin akhirnya menyerah.
View MoreThe rain hit the windows hard that night. The mansion was silent, too silent.
Savannah sat on the edge of the couch, her hands folded tight. She had been waiting all day for Nathaniel to come home. She cooked dinner, but the food turned cold hours ago.
When the door opened, she stood fast. Her husband walked in, tall, cold, dark suit still on him. Nathaniel did not even look at her. He removed his watch, set it on the table, then placed a brown envelope beside it.
Savannah’s heart dropped.
“What is that?” she asked, her voice small.
Nathaniel sat down opposite her, his golden eyes sharp, no warmth. “Divorce papers,” he said. His voice was calm, but it cut through her like a knife.
Savannah froze. She reached for the envelope with shaking hands, pulled out the papers, and read the bold words. Divorce Agreement. Her lips trembled.
“You… you want to end it?”
Nathaniel leaned back. His face had no feeling. “This marriage should never have happened. You know that. Sign it, Savannah. Don’t drag it out.”
Her eyes filled with tears, but she bit her lip hard. “Nathaniel, why? What did I do wrong? I gave you everything. I—”
He cut her off coldly. “You were never my choice. This was forced. You were convenient. I don’t want convenient anymore.”
Savannah’s chest hurt like it was being torn apart. She remembered every night she stayed awake waiting for him, every time she prayed he would at least look at her as his wife.
“I love you,” she whispered. Her voice cracked.
Nathaniel’s eyes narrowed. “Love? Don’t use that word. Love has nothing to do with this. Don’t make yourself pitiful.”
Her tears slipped down. She wanted to scream, wanted to break everything, but her body shook too much. She looked at the paper again, then back at him.
“I won’t sign,” she said softly but firm.
Nathaniel’s jaw clenched. “You don’t have a choice. You think holding on will make me stay? You are wasting your time.”
Her heart bled. She stood up and moved closer. “Why are you doing this to me? After everything? Tell me why.”
Nathaniel’s voice dropped lower, cold like ice. “Because I don’t want you. Because when I see you, I feel nothing. That’s why.”
Savannah’s knees weakened. She almost fell, but she caught the table edge. The man she gave her whole world to was cutting her into pieces without even blinking.
She pressed a hand on her chest, trying to hold in the pain. Her tears fell to the papers. “I will not sign,” she repeated. Her voice broke, but she forced it out.
Nathaniel stood, his tall figure towering over her. His eyes burned with anger. “Don’t test me, Savannah. You will sign, one way or another.”
Savannah looked up at him, her lips trembling. For the first time, she saw no trace of the man she once thought she married. He was a stranger.
The silence was heavy. The rain outside grew louder.
Finally Nathaniel spoke again, slower this time. “Don’t make this ugly. Walk away with dignity. It will be better for both of us.”
Savannah shook her head, crying harder. “Better for you maybe. For me… you were everything, Nathaniel. I have nothing without you.”
He laughed bitterly. “Then maybe you should learn to stand without me.”
Her chest heaved. She wanted to scream that he was cruel, heartless. She wanted to tear the papers apart. But something inside her stopped her. She held her stomach without even thinking.
Nathaniel caught the small movement, his eyes narrowing. “What is it?”
Savannah froze, her palm still on her belly. Her lips parted, but no words came.
Nathaniel stepped closer, his tone sharp. “Savannah. What are you hiding?”
Her throat closed. Her heart raced. She looked into his eyes, full of hate, and knew this was the moment. She could not hide it forever.
Her voice came out in a whisper, broken but clear.
“I’m pregnant.”
Nathaniel’s face turned dark, his jaw locking tight. His golden eyes went cold as fire.
The room fell silent, the rain still beating the glass. Savannah’s tears fell harder as she waited for his answer.
But the look on his face was not joy. Not even surprise.
It was rage.
“You’re lying,” Nathaniel said, his voice low and dangerous.
Savannah’s breath hitched. She shook her head fast, crying. “I’m not lying, Nathaniel. I carry your child.”
He slammed his hand on the table, making her jump. “Enough! Do you think this will trap me? You think a child will make me stay?”
Her whole body trembled, her hands holding her belly tight. “It’s true. I swear—”
“Stop,” he growled, his voice cutting her like glass. He stepped closer, towering over her, his eyes burning with fury.
“You are nothing to me, Savannah. You hear me? Nothing. I will not let you use a lie to hold me.”
Her knees buckled, but she stood firm, clutching her stomach like her life depended on it. Her tears blurred everything.
“I’m telling the truth,” she whispered again, broken.
Nathaniel’s hand clenched into a fist, his chest rising heavy. He leaned close, his voice cold and final.
“If you really are pregnant… then you will raise that child alone. Because I will never be part of it.”
The words struck harder than death. Savannah’s breath caught. Her world collapsed.
Her eyes widened in shock, her tears unstoppable. Her heart screamed inside her chest, but no sound came out.
Nathaniel turned away, his back to her, his voice sharp as a blade.
“Sign the papers, Savannah. Or I will make you regret not doing it.”
The papers lay on the table, wet with her tears. Her hands shook as she looked at them, her body weak, her heart broken.
But she held her belly tighter. For the first time, she wasn’t only fighting for herself.
The rain thundered outside.
And Savannah knew… nothing would ever be the same again.
"Ya, kamu pantas menertawakan kebodohanku," Evan merasa kesal dengan dirinya yang dulu. "Tidak apa-apa, semua sudah berlalu," Celine berucap sambil mendekati Evan. "Terimakasih," Evan menatapnya penuh perhatian. "Untuk?" "Untuk semuanya, kalau dipikir-pikir sebenarnya cintaku sangat besar untukmu," "Oh iya?" "Aku sudah ditahap hampir gila demi mempertahankan hubungan pernikahan yang kamu tidak inginkan lagi, sampai Danil yang jelas-jelas rival bisnisku, aku mintai tolong untuk mengawasimu dan sempat-sempatnya aku cemburu setiap kali kamu mengobrol dengannya," "Mengawasiku?" "Aku menjadi sepecundang itu karena cinta, aku takut kamu pergi jadi aku menyuruhnya memberimu pekerjaan agar kamu tetap berada di sekitarku," "Kamu melakukan itu?" "Iya," "Ternyata kamu berjuang untukku?" Celine merasa terharu. "Aku melakukannya, bodoh ya?" "Aku suka," Celine tiba-tiba mencium pipi Evan lalu bersikap malu-malu. "Kamu yang memancingku Celine," Evan langsung memeluk Celine
Evan dan Celine akhirnya pulang ke rumah, Evan terlihat begitu segar dan kembali mendapatkan aura berwibawa yang selalu menjadi ciri khasnya, sebelumnya ia seperti pria yang selalu takut kehilangan dan tidak pernah tenang. Sekarang apalagi yang ia takutkan? apa yang ia benar-benar inginkan sudah berada di tangannya, sementara Celine terkesan lebih pemalu dan mudah tersenyum tidak seperti sebelumnya, ia selalu memaksa dirinya untuk tegas dan terkesan dingin, ia sungguh memaksakan diri untuk menahan semua perasaannya. Bi Asih yang melihat keduanya datang bersama sambil bergandengan tangan sampai tersenyum-senyum sendiri, ia juga bisa menilai perubahan dari sikap dan ekspresi keduanya. "Ada apa ini?" goda Bu Asih. "Bi, bantu Celine mengangkat barang-barangnya ke kamar," ucap Evan, sebelumnya mereka sudah ke kost tempat tinggal Ciline untuk mengambil barang-barang Celine, tentu saja setelah perdebatan panjang dan negosiasi yang tidak ada habisnya. "Bu Celine kembali tinggal di
"Kamu bisa menomorsatukan aku, Van?" Celine ingin meyakinkan dirinya. Evan meraih tangan Celine dan menggenggamnya untuk membuatnya yakin, kemudian ia mulai bercerita, "Sekarang di hatiku cuma kamu, Celine. Jenny sudah menjadi kenangan, Mita hanya kesalahan. Kamu yang memenuhi hatiku sekarang, misiku tentang cinta saat ini dan seterusnya cuma ingin denganmu, aku ingin membalas semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Oke dulu aku salah, dulu aku memanfaatkan perasaanmu, waktumu, tubuhmu bahkan menyebabkan anak kita meninggal, tolong biarkan aku memperbaikinya. Kalau perlu, kamu hukum aku, tapi jangan hukum aku dengan pergi meninggalkanku lagi, itu berat, rasanya sepi, saat Jenny pergi rasa sakit yang aku terima tidak begitu dalam, saat Mita mengatakan ingin ke luar negeri, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi saat kamu pergi, aku merasa sakit yang tidak bisa disembuhkan, aku merasa kosong sepanjang waktu, ternyata aku butuh kamu, aku cinta kamu, Celine." "Kamu terlal
Evan tidak menghubungi Celine seharian, sepertinya Celine juga tidak berniat melakukannya. Evan sudah merasakan perpisahan berkali-kali tapi kenapa kali ini cukup menyiksanya, jadi ia datang ke kantor Siregar, alasannya sudah jelas. "Apa yang kalian bicarakan?" suara itu membuat Danil yang baru saja ingin berbalik pergi dan juga Celine menoleh. "Kami membicarakanmu," Danil berlalu sambil menepuk pundak Evan. Sementara Celine langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Evan tidak mengatakan apapun, ia menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di depan meja Celine sambil memperhatikannya. "Ayo pergi ke suatu tempat," "Aku sedang bekerja dan kamu seorang bos kamu tidak pantas duduk di sini," "Kalau Danil pantas?" "Dia bos aku, dia ke sini untuk bertanya pekerjaan dan dia tidak duduk sama sekali" "Aku tidak peduli, lagi pula aku sedang duduk di hadapan istriku." "Lakukan saja sesukamu, Evan." Celine tidak peduli lagi, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Evan memaj












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews