เข้าสู่ระบบBab 47
Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat perlahan mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar presidential suite. Belviana dan Ervin memutuskan untuk check-out lebih awal dari hotel bintang lima tersebut, lantaran Ervin harus menghadiri agenda meeting yang cukup penting bersama jajaran direksi pagi ini.
Saat Belviana sedang merapikan beberapa barang bawaannya di depan meja rias, Ervin memanggilnya dengan suara bariton yang terdengar beg
Bab 77'Emilie'Belviana menatap layar itu sejenak sebelum menoleh pada Ervin dengan kening berkerut bingung. Ervin yang melihat nama pemanggil di ponsel istrinya seketika mengubah raut wajahnya menjadi dingin dan waspada."Angkat saja, Sayang. Biar aku dengar apa lagi yang mau dikatakan wanita itu," ujar Ervin tenang, merengkuh kembali pinggul Belviana dari samping untuk memberikan ketenangan.Belviana mengangguk pelan. Ia menggeser ikon hijau di layar ponselnya lalu mengaktifkan mode loudspeaker agar Ervin bisa ikut mendengarkan."Halo," sapa Belviana singkat dan datar."Bel, datang ke restoran A malam ini pukul tujuh tepat. Malam ini ada sedikit syukuran untuk suamiku yang baru saja diangkat jadi Direktur Operasional!" suara Emilie terdengar begitu nyaring dari seberang telepon, sarat akan nada pamer dan keangkuhan yang meluap-luap.Belviana tidak langsung menjawab. Ia melirik Ervin yang kini berdiri tepat di sampingnya dengan alis menukik tajam. "Aku harus tanyakan ke Kak Ervin du
Bab 76Dua minggu berlalu.Suasana di Dream Entertainment kembali tenang dan berjalan tanpa adanya gangguan dari Ryan.Pagi itu, Ervin sedang menyandarkan panggulnya di tepi meja kerja, tersenyum tipis memperhatikan Belviana yang sedang sibuk mengecek dokumen di sofa ruangannya. Rumah tangga mereka makin manis, dan Ervin memastikan tidak ada satu pun bayang-bayang masa lalu yang bisa mengusik ketenangan istrinya.Tok, tok.Pintu ruangan terbuka. Milo melangkah masuk membawa sebuah map tipis di tangannya. Senyuman tipis terukir di wajah asisten kepercayaannya itu."Tuan," sapa Milo penuh hormat, melirik sekilas pada Belviana sebelum beralih menatap Ervin. "Kabar yang Anda tunggu akhirnya tiba."Ervin menegakkan posisinya, menatap Milo lurus. "Soal parasit itu?""Benar, Tuan," Milo mengangguk, menyodorkan laporan di tangannya. "Tuan Charles resmi mengangkat Ryan sebagai Direktur Operasional di perusahaannya sejak awal minggu ini. Tampaknya Nyonya Nia dan Emilie berhasil mendesak Tuan Ch
Bab 75"Hmm, baiklah kalau kamu memaksa," helaan napas berat keluar dari mulut Ryan. "Aku mendengar beberapa staf dan model membanding-bandingkan kamu dengan Belviana. Mereka bilang... Belviana jauh lebih beruntung karena mendapatkan seorang CEO, sedangkan kamu... suamimu cuma seorang bawahan biasa dari suami adik tirimu sendiri."Brak!Emilie langsung terduduk bangun dari tidurnya, mengabaikan tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Wajahnya memerah padam ditutupi amarah yang membakar. "Siapa?! Siapa orangnya yang berani bicara sembarangan seperti itu, Sayang?!"Ryan ikut menggerakkan tubuhnya untuk duduk, menahan senyum puas yang hampir saja lolos dari bibirnya. Umpannya dimakan mentah-mentah. "Tenang, Sayang. Tenang... Aku berjanji akan membuktikan pada mereka kalau aku juga bisa naik ke jenjang yang lebih hebat," bisik Ryan penuh nada melankolis, lalu memotong ucapannya sendiri. "Meskipun... sepertinya butuh waktu yang sangat lama."Pria itu menunduk berpura-pura lesu.
Bab 74Emilie menurut pasrah. Dengan napas terengah-engah dan dada naik-turun meletupkan gairah, ia membuka kedua kaki jenjangnya lebih lebar, membiarkan area intinya terekspos sepenuhnya di depan mata Ryan.Ryan menyunggingkan senyum tipis—senyuman penuh kemenangan karena telah berhasil menjinakkan istrinya. Tanpa mengulur waktu lagi, ia kembali menundukkan kepala, membenamkan wajahnya di antara pangkal paha Emilie dan memberikan sapuan lidah yang jauh lebih bertenaga, cepat, dan presisi tepat di titik sensitif sang istri."AKHH! RYAN! S-SAYANGHH!"Emilie melengkungkan tubuhnya ke atas kasur, jarinya meremas kuat sprei hingga kusut. Gelombang kenikmatan yang teramat dahsyat menjalar hebat dari bawah hingga menusuk ke kepalanya. Sentuhan lihai dari lidah Ryan benar-benar melumpuhkan seluruh sel saraf kewarasannya."Ahh... Ryan! A-aku... aku mau keluar... ahh!" jerit Emilie pasrah, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat puncak gairahnya makin mendekat.Ryan tidak menghentika
Bab 73"Sayang... bagaimana kalau kita pindah dan tinggal di apartemen saja?" ucap Emilie tiba-tiba.Deg!Ryan menahan ekspresi terkejutnya sekuat tenaga. Kedua alisnya hampir saja terangkat, namun dengan cepat ia menguasai diri. Pria itu tersenyum manis, lalu mengangkat jemari Emilie dan mengecup lembut punggung tangan istrinya.“Sialan! Aku sama sekali tidak rela kalau cewek ini sampai menginjakkan kaki apalagi tinggal di apartemenku!” umpat Ryan murka di dalam hatinya.Ryan memutar otaknya secepat kilat, memasang raut wajah serba salah yang teramat manis. "Hmm... aku mau saja, Sayang. Kalau memang itu murni keinginan kamu untuk pindah, ayo saja. Tapi kalau kamu melakukan ini cuma karena memikirkan perasaanku atas ucapan Mama tadi... aku rasa tidak perlu. Aku masih bisa menahannya kok," bisik Ryan penuh nada pengorbanan."Kenapa? Kamu tidak mau aku tinggal di apartemen kamu?!" Emilie mendadak menaikkan nada suaranya satu oktaf, matanya memicing curiga menatap Ryan."Bukan begitu, Sa
Bab 72“Kamu sudah pulang, Sayang?” Emilie yang sedang bersantai di ruang keluarga tampak terkejut saat melihat suaminya melangkah masuk ke dalam rumah.Ya, atas permintaan Charles dan Nia yang menginginkan pengantin baru itu tetap dekat dengan mereka, Emilie dan Ryan memang disuruh tinggal di kediaman utama keluarga itu. Tawaran yang tentu saja diterima Ryan dengan senang hati—dengan begitu, apartemen mewahnya bisa bebas ia jadikan tempatnya untuk bermain dengan wanita simpanannya. Nia yang duduk tak jauh dari Emilie otomatis ikut melirik jam dinding di ruangan itu. Alisnya bertaut heran melihat menantunya sudah berada di rumah saat jam kerja baru saja dimulai.Ryan memaksakan senyumannya sekuat tenaga, berusaha menutupi raut emosi dan kepanikan yang masih tersisa di dalam dadanya. “Hmm, iya, Sayang. Aku cuma cek pekerjaan sebentar tadi. Sisa urusannya sudah diselesaikan sama anggotaku. Mungkin sore nanti baru aku kembali ke kantor lagi untuk lihat hasil pemotretannya,” kilah Ryan s







