LOGIN“Jadilah pacarku.” Freya Nayumi membeku. Di hadapannya berdiri Gavin Alderich—Presiden Direktur Hollow Holding Company sekaligus atasannya. Pria yang terkenal dingin, kejam, dan tidak mudah didekati. “Bos… apakah Anda menyukaiku?” Gavin menatapnya datar. “Apakah karena dipukul tadi kau menjadi bodoh?” Semua bermula ketika Freya tanpa sengaja menyaksikan sebuah pembunuhan. Sejak malam itu, sekelompok orang misterius terus memburunya. Rumahnya tidak lagi aman, sementara satu-satunya orang yang mampu melindunginya justru pria yang paling ingin ia hindari. Gavin menawarkan perlindungan dengan syarat: Freya harus menjadi pacar palsunya dan memiliki kontrak nyawa terhadapnya. Awalnya, semuanya hanyalah sebuah kesepakatan. Namun Freya segera menyadari bahwa Gavin menyimpan rahasia yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan. Di balik statusnya sebagai CEO konglomerat, Gavin memiliki identitas lain yang membuat siapa pun yang mengetahuinya bisa berada dalam bahaya. Semakin lama Freya berada di sisinya, semakin dalam ia terseret ke dunia Gavin—dunia yang dipenuhi ancaman, pengkhianatan, intrik keluarga, dan rahasia yang seharusnya tidak pernah ia ketahui. Yang lebih berbahaya adalah perasaan di antara mereka. Karena ketika hubungan palsu itu perlahan menjadi nyata, Freya harus menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada siapa yang ingin membunuhnya: Apakah Gavin benar-benar mencintainya… atau sejak awal Freya hanyalah bagian dari rencananya? Dia pikir menjadi pacar palsu Gavin adalah cara untuk menyelamatkan hidupnya. Ternyata, itulah awal dari bahaya terbesar dalam hidupnya.
View More"Kejar dia!"
Suara seorang pria menggema memecah kesunyian hutan.
Tak lama kemudian, derap puluhan langkah kaki menyerbu masuk ke antara pepohonan, diiringi gonggongan anjing pelacak yang membuat bulu kuduk meremang.
Freya Nayumi terus berlari tanpa alas kaki. Kerikil tajam dan ranting-ranting kering menggores telapak kakinya hingga berdarah, tetapi ia tak berani berhenti. Kemeja putih yang tadi pagi masih rapi kini dipenuhi noda tanah dan sobekan kecil akibat tersangkut dahan.
Napasnya memburu. Dadanya terasa terbakar.
"Tuhan... tolong selamatkan aku..."
Doanya keluar di sela napas yang gemetar. Sesekali cahaya senter menyapu pepohonan di belakangnya.
Mereka semakin dekat. Freya menggenggam erat ponselnya. Layar hanya menampilkan tulisan No Signal.
Sial.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Andai saja ia tidak berhenti di gang itu...
Andai saja ia tidak melihat pembunuhan tersebut.
Mungkin sekarang ia sudah berada di rumahnya sambil menikmati mi instan dan drama Korea favoritnya.
Namun, penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus berlari. Saat harapannya hampir padam, setitik cahaya putih muncul di kejauhan.
Ia mengangkat kepalanya.
Vila?
Tanpa berpikir panjang, ia mengerahkan sisa tenaganya menuju cahaya tersebut. Semakin dekat, bentuknya semakin jelas.
Sebuah vila kayu berukuran besar berdiri megah di tengah tanah lapang. Lampu-lampu di dalamnya masih menyala terang.
Harapan kembali memenuhi dadanya. Namun, langkahnya perlahan melambat. Di halaman rumah itu terparkir dua mobil mewah berwarna hitam yang tampak mengilap diterpa cahaya bulan.
"Memangnya ada orang kaya yang sedang main truth or dare di tengah hutan?"
Pikirannya sudah terlalu lelah untuk mencari jawaban. Selama ada kemungkinan seseorang bisa menolongnya, ia akan mengambil kesempatan itu.
Kriet...
Gerbang kayu setinggi pinggang terbuka perlahan. Gadis itu berjalan pelan melewati halaman yang dipenuhi rumput hijau. Suasana di sana begitu sunyi hingga suara langkahnya sendiri terdengar jelas.
Aneh... Kenapa tidak ada suara orang?
Sesampainya di depan pintu, ia mengangkat tangan, bersiap mengetuk.
Bruk!
Sebuah benda keras menghantam tengkuknya. Pandangannya langsung berputar. Tubuhnya roboh ke tanah.
Hal terakhir yang sempat ia lihat hanyalah sepasang sepatu kulit hitam mengilap berdiri di hadapannya. Lalu, semuanya berubah gelap.
"Kenapa kau memukulnya?"
Seorang pria berambut cepak menatap temannya dengan kesal sambil mengangkat tubuh Freya ke dalam rumah.
"Bos bilang jangan memukul wanita. Kau malah memukulnya!"
Pria botak itu menggaruk belakang kepalanya dengan wajah bersalah.
"Tapi... Bos juga membunuh wanita."
"Ssst!"
Temannya buru-buru menutup mulut pria itu.
"Itu beda! Jangan asal ngomong! Mau dilempar ke laut oleh Bos?"
Pria botak langsung menelan ludah.
"Oke... aku diam."
Mereka baru saja membaringkan Freya di atas sofa kulit cokelat ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong.
Kedua pria itu spontan berdiri tegak. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis mereka. Sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahu keduanya. Mereka menoleh bersamaan.
Seorang pria berwajah manis sedang tersenyum lebar.
"Hampir pipis, ya?"
"Kin!"
Keduanya langsung memegangi kaki pria itu.
"Tolong jangan lapor ke Bos!"
Kin hanya tertawa geli melihat tingkah mereka.
"Kenapa kalian malah sujud padaku?"
Belum sempat mereka menjawab, suara langkah kaki lain kembali terdengar. Kali ini lebih tenang dan lebih berat.
Tak...
Tak...
Tak...
Seketika senyum Kin menghilang. Semua orang langsung berdiri tegak. Seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan melalui pintu samping.
Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak mahal dan pas di tubuhnya. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara sorot matanya begitu dingin hingga membuat suasana ruangan ikut membeku.
Tatapannya beralih ke sofa.
"Kenapa kalian berlutut?"
Kin langsung menunjuk gadis yang terbaring di sofa.
"Mereka menculik seorang gadis."
Kedua bawahan itu hampir menangis.
"Bukan, Bos! Dia sendiri yang datang ke sini!"
Pria itu menghampiri sofa. Tatapannya jatuh pada wajah gadis yang masih pingsan. Beberapa detik berlalu. Ekspresinya yang semula datar berubah menjadi heran.
Ia mengenali wajah itu karena beberapa kali mereka bertemu saat rapat bulanan. Freya Nayumi, staf Departemen Pemasaran Hollow Foods, salah satu anak perusahaan Hollow Grup.
Tanpa berkata apa-apa, Gavin menyentil telinga kedua bawahannya dengan keras.
"Aduh!"
Pria botak buru-buru menjelaskan seluruh kejadian dari awal hingga akhir.
"Kami benar-benar tidak menculiknya, Bos! Dia datang sendiri!"
Temannya mengangguk cepat mengiyakan. Saat itulah gadis yang pingsan mengerang pelan. Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Langit-langit kayu dengan lampu putih besar menyambut pandangannya. Kepalanya masih berdenyut. Ia duduk perlahan sambil memijat tengkuknya.
Pandangannya berkeliling hingga berhenti pada sosok pria yang duduk tepat di hadapannya. Pria itu bertubuh tinggi, kulitnya putih, hidungnya mancung.
Setelan jas hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat seperti aktor Korea. Freya menyipitkan mata.
Beberapa detik kemudian, matanya membelalak lebar.
"Bo... Bos?!"
Pria itu menghela napas panjang.
"Sudah sadar?"
Freya menatapnya bergantian dengan ruangan mewah di sekelilingnya. Otaknya berhenti bekerja. Lalu, matanya membelalak.
Bagaimana mungkin seorang presiden direktur perusahaan besar berada di sebuah vila terpencil di tengah hutan?
Apa ini mimpi? Atau kepalanya masih terbentur terlalu keras?
Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapan tajamnya tak pernah lepas dari karyawannya yang masih bingung.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya datar.
Namun, cukup membuat tengkuk Freya meremang. Bibir sang gadis bergetar. Ia ingin berbohong, tetapi melihat keadaan dirinya yang berlumuran tanah dan penuh luka, kebohongan apa yang masih bisa dipercaya?
Dengan gugup ia menundukkan kepala.
"A-aku... dikejar sekelompok orang, Bos."
Tangannya meremas ujung rok hingga kusut. Dalam hati ia terus berdoa. Tolong jangan tanya lebih jauh... tolong jangan tanya lagi...
Tatapan Gavin semakin tajam.
"Kenapa mereka mengejarmu?"
"Aku... aku tidak tahu..." jawab Freya cepat.
"Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, Nona."
"Namaku Freya, Bos."
Gavin mengangguk lalu segera berdiri. Freya langsung berdiri di depan Gavin sambil mengangkat dua jarinya seperti orang sedang bersumpah.
"Bos! Aku benar-benar tidak tahu tempat ini! Aku juga tidak tahu kalau Bos tinggal di sini. Aku bersumpah tidak akan menceritakan apa pun kepada siapa pun! Tolong jangan bunuh aku!"
Ruangan mendadak hening. Gavin terdiam. Perkataannya juga terdengar masuk akal.
Di balik tembok, Kin mengintip dengan wajah penasaran. Ketika Freya ingin berbicara lagi, dua bawahan Gavin berlari masuk dengan napas memburu.
Mereka membisikkan sesuatu ke telinga Kin. Seketika wajah Kin langsung berubah serius dan berjalan menghampiri Gavin.
"Vin... Mereka menemukan jejaknya. Mereka sedang menuju vila."
Tatapan Gavin seketika berubah dingin. Aura santainya menghilang begitu saja. Dalam satu langkah panjang ia sudah berada di depan Freya.
Gavin mencondongkan tubuhnya. Tatapannya tajam.
"Katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi?"
Tangannya perlahan memegang kedua bahu gadis itu agar menghadap dan menatapnya. Air mata mulai mengalir.
"Itu... itu..." Freya menangis. "Itu jalan menuju rumahku, Bos..."
Gavin menatap gadis itu beberapa detik tanpa berkedip. Lalu, ia meraih asbak kristal di atas meja.
TRANG!
Asbak itu menghantam lantai hingga pecah berkeping-keping. Semua orang di ruangan langsung terdiam.
"Kesabaranku ada batasnya," desis Gavin.
Kemudian, ia melepaskan jasnya hingga meninggalkan kemeja putihnya saja dan kembali memasang wajah yang tenang.
"Serahkan dia pada mereka."
Freya memberontak saat kedua pria yang membawanya tadi kini memegangi kedua tangannya dan menariknya.
"Tidak, tidak, Bos... Bos, tolong aku. Aku tidak mau mati... Kumohon..."
"Aku akan melakukan apa pun asal kau menyelamatkanku."
"Menjadi pelayanmu juga tidak apa-apa..."
"Jadi pesuruhmu seumur hidup juga boleh."
Freya berlutut sambil merapatkan kedua tangannya. Gavin melihatnya dan mengetukkan ujung sepatunya ke lantai hingga mengeluarkan ritme yang senada.
"Kau yakin? Pikirkan baik-baik. Setelah kau berjanji, tidak ada jalan kembali."
Sudut bibir Gavin terangkat tipis.
Freya mengangguk berulang kali dan merapatkan tangan sambil terus memohon. Ia tidak mau mati dibunuh oleh mereka.
Gavin kemudian melirik ke bawah. Gadis itu tidak memakai sepatu hingga kakinya luka dan berdarah. Kemeja dan roknya sudah kotor. Tubuhnya gemetar ketakutan.
"Baik, aku bisa menyelamatkanmu. Tetapi sebagai gantinya, kau tidak boleh berbohong padaku untuk seterusnya," ujar Gavin sedikit mengancam.
Freya mengangguk mengiyakan dan akan menjawab apa pun pertanyaan bosnya itu.
Gavin berjalan dan membuka pintu vila. Empat pria berpakaian hitam telah berdiri di halaman. Sudut bibir Gavin terangkat tipis.
"Kalian sedang mencari seseorang?"
Salah satu pria menjawab, "Ya, seorang gadis."
Gavin tidak langsung menjawab, tetapi menatap langit. Tidak hujan.
Lalu, ia mengamati mereka yang memakai jas hujan serta seekor Pitbul cokelat yang sesekali menggonggong.
Bab 17: Lelang Luar Biasa Ketika aku menunjuk kalung berlian itu, Gavin menggeleng dan berkata, “Penyamaran kita kali ini hanya sebagai utusan perusahaan biasa. Bukan konglomerat, jadi penampilan harus disesuaikan.” “Oh.” Freya menunduk malu. Lalu Kin menariknya untuk melihat-lihat etalase aksesori. “Lagian, memakai perhiasan mencolok seperti itu di negara Pilino tidak aman.” Freya mengernyitkan dahi. “Kenapa? Bukankah ini imitasi?” Kin tertawa. “Ini imitasi tingkat tinggi. Permata ini memang berlian, tapi tingkat kemurniannya tidak 100 persen. Kalaupun dijual, harganya tetap mahal.” Mulut Freya menganga mendengar penjelasan Kin. “Properti penyamaran pun harus seserius itu?” batinnya. Gavin kemudian membuka etalase dan mengambil sebuah kalung emas putih dengan liontin delima. Ukiran kecil pada bagian rantainya terlihat sangat cantik. Tanpa banyak bicara, Gavin memakaikan kalung itu ke leher Freya, lalu mengajaknya berdiri di depan cermin besar yang ada di ruan
Kin yang tidak menyangka akan melihat adegan seperti itu sampai membelalakkan mata.Sekretaris ini… apakah salah minum obat? batinnya.“Maafkan saya, Bu. Pak Kin sudah memberitahuku sebelumnya bahwa Anda akan datang, tetapi saya malah lupa dan mengabaikan Anda.”Wanita itu terus berlutut sambil memohon maaf.“Kenapa kamu terus berlutut? Tolong berdiri.”Freya memegang lengan sekretaris tersebut dan mencoba membantunya berdiri. Namun, wanita itu justru semakin menundukkan kepalanya.“Kin…”Suara desisan Gavin terdengar dari dalam ruangan.Freya menoleh, dan melihat Gavin Alderich berdiri di ambang pintu dengan Tristan yang tepat berada di belakangnya.“Bos… eh, Honey…” ucap Freya terbata.Seketika itu juga wajah sekretaris wanita tersebut berubah pucat. Matanya membelalak, lalu bibirnya bergetar.“Tolong jangan pecat saya, Pak! Bu! Saya benar-benar minta maaf!”Kin memejamkan mata sebentar. "Astaga" Gavin melirik tajam ke arah Kin.Kin yang takut dirinya ikut disalahkan segera melangk
Freya berlatih selama sepuluh hari, mulai dari mengenali dan merakit senjata hingga mempelajari sedikit bela diri khusus.Gavin mengajarinya CQC (Close-Quarters Combat), dan Freya mampu belajar dengan cepat serta menguasainya dengan cukup baik.Terkadang, pelatihnya digantikan oleh Lucien ketika Gavin harus menghadiri rapat atau bertemu dengan klien besar.Benar kata Tristan tentang julukan orang dari neraka itu. Lucien bahkan tidak pernah tersenyum. Wajahnya seperti sudah di-setting seperti itu sejak lahir.“Kau harus menjaga fisikmu agar selalu bugar, Freya,” ucap Lucien.“Yes, Sir!” jawab Freya dengan suara lantang.Lucien menaikkan alisnya. Sambil bersedekap, ia berkata,“Untuk CQC, latihan itu akan terus berlanjut. Bos sudah mendaftarkan dirimu di akademi bela diri khusus.”Freya mengangguk. Ia tahu bahwa bela diri tidak mungkin dikuasai hanya dalam waktu singkat.Namun, setidaknya ia sudah mengetahui beberapa teknik dasar.Hari ini adalah latihan terakhirnya, dan Freya merasa ba
“Tentu saja. Apakah kau di sini untuk tidur?” Gavin berkata sarkastis, membuat Freya tersenyum canggung.“Kemarilah,” perintah Gavin yang kini sudah berdiri di depan shooting lane paling tengah.Freya berjalan mendekat. Gavin kemudian memasangkan earmuff ke kepalanya.“Ingat, kode senjata ini adalah Apel 17,” ucap Gavin sambil memegang sebuah pistol Glock 17.“Kaliber sembilan milimeter. Magasin standar tujuh belas peluru. Panjang keseluruhannya sekitar dua puluh sentimeter, dengan laras sekitar sebelas sentimeter.”Freya menaikkan alisnya, menatap si Apel dengan bingung.“Kau harus menghafalnya.”“Apa?” Freya hampir berteriak karena suaranya teredam earmuff.Gavin mengangguk.“Ada sekitar sepuluh jenis buah yang kita jual. Kau harus mengingat semua nama, jenis, bahkan spesifikasinya.”Freya membelalak tak percaya.“Waktumu hanya tiga hari untuk mempelajari semuanya.”“Bos, bukankah ini terlalu tidak masuk akal?” tanya Freya.Gavin menatap tajam kepadanya, lalu berkata pelan,“Lalu, s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.