เข้าสู่ระบบMantap, Iruna tersenyum lebar saat mengetahui tetangga sebelah rumahnya, Arlan, sudah bercerai. Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri ketika sedang menyiram tanaman di depan rumah bagaimana istri pria itu pergi membawa koper dan masuk ke dalam mobil setelah menorehkan luka yang teramat dalam kepada Arlan dan anaknya, Kirara. Ini adalah kesempatannya untuk mendekati pria yang telah lama ia perhatikan itu.
ดูเพิ่มเติมIruna menghela napas kecewa. Ujung selang di tangannya sedikit terkulai saat menyadari tidak ada sapaan manis atau sekadar basa-basi selamat pagi dari Arlan kali ini. Namun, rasa kecewa itu hanya bertahan sepersekian detik—tergantikan oleh kepuasan beracun ketika mengingat fakta bahwa pertunjukannya semalam benar-benar ditonton oleh sang pria.Iruna tidak mungkin tak tahu. Ia sempat melihat dengan jelas bagaimana tubuh tinggi Arlan membeku kaku di atas balkon.Senyum lebar merekah indah di wajah jelitanya. Mengingat kembali ekspresi terkejut Arlan—yang bahkan sampai tak menyadari rokoknya terlepas dari jemari—membuat dada Iruna bergetar hebat oleh sensasi yang tidak dapat diterjemahkan.Mungkin ia harus memberikan pertunjukan susulan malam ini.Oh, hanya dengan memikirkan ia akan mempersembahkan ketelanjangan dirinya khusus untuk Arlan saja sudah cukup untuk membuat darahnya mendidih riang. Seandainya Arlan adalah tipe pria mesum murahan yang digerakkan oleh selangkangan semata, sudah
Otak Arlan mendadak kosong. Sel-sel sarafnya seolah berhenti berfungsi.Tubuhnya membeku kaku di tempat, sementara napasnya tertahan pasrah di pangkal tenggorokan. Batang rokok di jemarinya terlepas, jatuh meluncur ke lantai dingin tanpa harga diri. Namun, Arlan tetap bergeming.Ini salah. Ini dosa besar.Suara nuraninya menjerit, mengingatkan bahwa mengintip privasi tetangga adalah tindakan yang sangat tidak terpuji. Seharusnya ia membalikkan badan detik ini juga dan bersembunyi di balik kegelapan rumahnya. Namun, meski logika di dalam kepalanya berteriak menyuruh pergi, realitasnya ia tak sanggup memalingkan wajah. Ia terhipnotis sepenuhnya oleh lekuk tubuh Iruna dan gerakan jemarinya di balik celah gorden yang temaram.Ia menyaksikan ekspresi di wajah wanita itu. Iruna—tetangga yang biasanya tampil begitu anggun, ramah, dan bersahaja—kini tampak begitu berantakan, tenggelam dalam gairah murni. Mendesah pasrah dengan bibir terkelupas basah."Papa..."Tubuh Arlan tersentak hebat, se
"Ah—!"Iruna mendesah panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan kepuasan yang brutal.Dadanya naik turun dengan cepat, menuntut pasokan oksigen untuk mengisi paru-parunya yang seakan kehabisan udara. Punggungnya yang semula tegang kini meluruh, bersandar nyaman pada dinding porselen bak kamar mandi yang dingin. Perlahan, ia merapatkan kembali sepasang paha mulusnya yang sempat terbuka lebar, sembari menarik keluar sebuah benda panjang dari dalam keintimannya.Itulah mainan terbarunya. Benda yang terbungkus rapi dalam paket yang tiba tadi pagi.Ukurannya jauh lebih besar dan tebal dibanding milik yang lama. Iruna sengaja memesannya setelah berbulan-bulan mengamati gerak-gerik Arlan—mengira-ngira dan mengukur proporsi tubuh pria itu secara presisi dalam kepalanya.Iruna terkekeh rendah, suara tawanya bergema halus di dinding kamar mandi yang basah. Ia menatap benda silikon berkilat di tangannya. Tentu saja mainan itu memberinya pelepasan fisik, namun benda mati tetaplah benda mati;
Matahari dengan mudah tergelincir ke ufuk barat, membiaskan warna jingga ke seantero klaster. Iruna berdiri di halaman depan rumah, kembali memegang selang untuk menyiram tanamannya. Sore hari di kompleks perumahan itu selalu diisi riuh riang anak-anak yang baru pulang sekolah. Jalanan aspal yang tadi pagi menjadi saksi bisu kehancuran rumah tangga Arlan, kini bertransformasi menjadi area bermain.Anak-anak itu tertawa, bercanda ria sembari mendiskusikan film animasi terbaru yang ingin mereka tonton bersama keluarga di akhir pekan.Namun, fokus Iruna sama sekali tak terdistraksi oleh keriangan itu. Manik mata cokelat madunya melayang halus ke sudut teras rumah sebelah. Di sana, sosok kecil Kirara Gavindra duduk termenung. Bocah tujuh tahun itu hanya memeluk lututnya, mengisolasi diri dari teman-temannya.Sungguh malang. Terguncang secara emosional setelah sang ibu pergi begitu saja tanpa sudi menoleh. Iruna menggeleng pelan dengan helaan napas halus. Sebuah pemandangan yang tak hanya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.