MasukBab 75"Hmm, baiklah kalau kamu memaksa," helaan napas berat keluar dari mulut Ryan. "Aku mendengar beberapa staf dan model membanding-bandingkan kamu dengan Belviana. Mereka bilang... Belviana jauh lebih beruntung karena mendapatkan seorang CEO, sedangkan kamu... suamimu cuma seorang bawahan biasa dari suami adik tirimu sendiri."Brak!Emilie langsung terduduk bangun dari tidurnya, mengabaikan tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Wajahnya memerah padam ditutupi amarah yang membakar. "Siapa?! Siapa orangnya yang berani bicara sembarangan seperti itu, Sayang?!"Ryan ikut menggerakkan tubuhnya untuk duduk, menahan senyum puas yang hampir saja lolos dari bibirnya. Umpannya dimakan mentah-mentah. "Tenang, Sayang. Tenang... Aku berjanji akan membuktikan pada mereka kalau aku juga bisa naik ke jenjang yang lebih hebat," bisik Ryan penuh nada melankolis, lalu memotong ucapannya sendiri. "Meskipun... sepertinya butuh waktu yang sangat lama."Pria itu menunduk berpura-pura lesu.
Bab 74Emilie menurut pasrah. Dengan napas terengah-engah dan dada naik-turun meletupkan gairah, ia membuka kedua kaki jenjangnya lebih lebar, membiarkan area intinya terekspos sepenuhnya di depan mata Ryan.Ryan menyunggingkan senyum tipis—senyuman penuh kemenangan karena telah berhasil menjinakkan istrinya. Tanpa mengulur waktu lagi, ia kembali menundukkan kepala, membenamkan wajahnya di antara pangkal paha Emilie dan memberikan sapuan lidah yang jauh lebih bertenaga, cepat, dan presisi tepat di titik sensitif sang istri."AKHH! RYAN! S-SAYANGHH!"Emilie melengkungkan tubuhnya ke atas kasur, jarinya meremas kuat sprei hingga kusut. Gelombang kenikmatan yang teramat dahsyat menjalar hebat dari bawah hingga menusuk ke kepalanya. Sentuhan lihai dari lidah Ryan benar-benar melumpuhkan seluruh sel saraf kewarasannya."Ahh... Ryan! A-aku... aku mau keluar... ahh!" jerit Emilie pasrah, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saat puncak gairahnya makin mendekat.Ryan tidak menghentika
Bab 73"Sayang... bagaimana kalau kita pindah dan tinggal di apartemen saja?" ucap Emilie tiba-tiba.Deg!Ryan menahan ekspresi terkejutnya sekuat tenaga. Kedua alisnya hampir saja terangkat, namun dengan cepat ia menguasai diri. Pria itu tersenyum manis, lalu mengangkat jemari Emilie dan mengecup lembut punggung tangan istrinya.“Sialan! Aku sama sekali tidak rela kalau cewek ini sampai menginjakkan kaki apalagi tinggal di apartemenku!” umpat Ryan murka di dalam hatinya.Ryan memutar otaknya secepat kilat, memasang raut wajah serba salah yang teramat manis. "Hmm... aku mau saja, Sayang. Kalau memang itu murni keinginan kamu untuk pindah, ayo saja. Tapi kalau kamu melakukan ini cuma karena memikirkan perasaanku atas ucapan Mama tadi... aku rasa tidak perlu. Aku masih bisa menahannya kok," bisik Ryan penuh nada pengorbanan."Kenapa? Kamu tidak mau aku tinggal di apartemen kamu?!" Emilie mendadak menaikkan nada suaranya satu oktaf, matanya memicing curiga menatap Ryan."Bukan begitu, Sa
Bab 72“Kamu sudah pulang, Sayang?” Emilie yang sedang bersantai di ruang keluarga tampak terkejut saat melihat suaminya melangkah masuk ke dalam rumah.Ya, atas permintaan Charles dan Nia yang menginginkan pengantin baru itu tetap dekat dengan mereka, Emilie dan Ryan memang disuruh tinggal di kediaman utama keluarga itu. Tawaran yang tentu saja diterima Ryan dengan senang hati—dengan begitu, apartemen mewahnya bisa bebas ia jadikan tempatnya untuk bermain dengan wanita simpanannya. Nia yang duduk tak jauh dari Emilie otomatis ikut melirik jam dinding di ruangan itu. Alisnya bertaut heran melihat menantunya sudah berada di rumah saat jam kerja baru saja dimulai.Ryan memaksakan senyumannya sekuat tenaga, berusaha menutupi raut emosi dan kepanikan yang masih tersisa di dalam dadanya. “Hmm, iya, Sayang. Aku cuma cek pekerjaan sebentar tadi. Sisa urusannya sudah diselesaikan sama anggotaku. Mungkin sore nanti baru aku kembali ke kantor lagi untuk lihat hasil pemotretannya,” kilah Ryan s
Bab 71"Masalah apa, Sayang?" ulang Belviana, menatap lekat manik mata suaminya dengan dahi berkerut cemas.Ervin menghela napas pelan, lalu menjangkau Jemari lentik Belviana dan menarik lembut tubuh istrinya agar duduk nyaman di atas pangkuannya."Hari ini aku mengeluarkan Ryan dari perusahaan," ujar Ervin jujur, menyampaikan keputusan besarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi.Deg!Jantung Belviana berdegup kencang seketika. Sorot matanya membelalak kaget mendengar kabar mendadak itu. "S-Sayang? B-bukan karena masalah yang di studio tadi, kan?" tanya Belviana panik, takut kalau suaminya mengambil keputusan impulsif hanya karena dipicu rasa cemburu saat melihat Ryan di studio tadi.Ervin mengerutkan keningnya tipis, menatap balik istrinya. "Hmm, itu salah satunya," aku Ervin jujur tanpa ragu."Sayangggg..." rengek Belviana pelan, agak khawatir jika keputusan Ervin akan memicu konflik baru yang lebih besar dengan keluarga ibu tirinya.Ervin terkekeh pelan melihat reaksi polos istrinya. "
Bab 70Hap!Tanpa membuang kesempatan, Ervin langsung menyambar dan mengulum salah satu puncak dada Belviana yang merona, sementara tangan kekarnya meremas gemas gundukan yang satunya lagi. Hisapan yang kuat dan gigitan-gigitan kecil yang Ervin berikan di sana berpadu sempurna dengan tumbukan pinggulnya dari bawah yang makin cepat tak terkendali."Ahhh! Ervin... geli, Sayang... ahh! Aku... aku tidak tahan lagi!" jerit Belviana pasrah, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan napas yang makin terengah-engah.Sentuhan ganda di dada dan menghujamnya keperkasaan Ervin di intinya benar-benar membuat Belviana kewalahan. Dinding intimnya mencengkeram keperkasaan Ervin semakin ketat, memicu gelombang pelepasan kedua yang merayapi seluruh tubuhnya.Ervin yang merasakan jepitan nikmat dari istrinya ikut menggeram rendah, "Sama-sama, Sayang... kita keluar bersama!"Dengan beberapa sentakan akhir yang teramat dalam dan bertenaga, Ervin menumpahkan seluruh benih kehangatannya tepat di d







