MasukAurel merutuki kepergian James bersama Laura. Dengan bibir manyun gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke tempat mobilnya terparkir sejak tadi pagi. Ketika dia akan membuka pintu mobilnya, ia mendengar suara pria, "Naksir dosen ya, Non? Cewek ngejar-ngejar cowok yang udah punya anak istri tuh nggak banget keleus! Niat ngedrakor loe?"
Dengan tatapan setajam silet, Aurel mengedarkan pandangannya mencari dari mana asal suara sialan yang berani mengata-ngatainya itu. "Woiii ... keluar loe! Ngomong di depan muka gue, jangan cemen pake sembunyi!" teriak Aurel sarat emosi. "Makanye pake mata nyarinya ... gue di sebelah mobil loe, Dodol!" cemooh si cowok sialan yang dicari oleh Aurel. Dia keluar dari Lexus LS500 yang tadi ia buka kaca jendelanya saja. Aurel tahu berapa harga mobil tentengan cowok itu dan namanya pun tahu karena sosoknya cukup populer di daftar most wanted good looking boy Kampus FKH UGM. Biyan Alexandro Jatikusuma, nama cowok menyebalkan itu. Dia menusukkan telunjuknya ke dada pemuda itu. "Ruwet amat hidup loe mpe ngurusin hidup gue, Biyan! Emang kenapa kalau gue demen sama si James? Masalah buat loe?" cecar Aurel dengan nada melengking yang membuat Biyan merasa telinganya nyaris pekak nada. Nggiiiiiingg! Biyan meniup udara ke kepalan tangannya lalu menutupkannya ke telinganya kanan kiri untuk mengurangi ketidaknyamanan indera pendengarannya. Dia lalu menjawab, "Udahlah ... males gue ngobrol sama loe! Not particularly my business. Mau pelakor mode on ... go ahead ... lanjutin! Fine. Gue mau pulang, capek. Bye, Nini Pelet!" Pemuda itu naik kembali ke mobilnya tanpa memedulikan Aurel yang tampak kesal bersedekap menatap kepergiannya. "Anjriiittt masa gue dibilang 'Nini Pelet'?! Dasar cowok rese kuadrat! Awas loe besok, gue gembosin ban mobil loe empat-empatnya biar kapok ngesot loe pulang kampus, Biyan!" seru Aurel di dalam mobil Honda BRV merah metalik miliknya. *** "Mitha! Tungguin gue dong—" Teriakan Aurel dari parkiran mobil kampus menghentikan langkah sobat kental segenk-nya itu dan Mitha pun menunggunya. Mereka berdua pun berjalan dengan kaki jenjang yang seksi itu melintasi lobi Anatomi lalu keluar pintu lobi menuju ke selasar ruang kuliah 101. "Hai, Aurel Manis!" goda salah satu kakak angkatan gadis mahasiswi semester 2 itu saat berpapasan di selasar. Namun, Aurel hanya berdecih karena menurutnya pria itu nggak level menurutnya. Dia hanya melenggang begitu saja melewati pemuda itu dan terus berjalan menuju ruang kelas paginya. "Mit, elo udahan ya sukanya sama si Oppa James?" tanya Aurel setelah dia duduk di sebelah bangku Mitha di ruang 101. Kebetulan bangkunya hanya ada dua yang letaknya di baris agak depan, pagi itu adalah kuliah Parasitologi Umum Veteriner yang dibawakan Profesor Reynold. Banyak mahasiswi di angkatan Aurel dan Mitha yang kesengsem berat kepada profesor muda itu. Termasuk dua personil genk cewek-cewek kece lainnya yaitu Rosma dan Elvi yang duduk di baris kedua dari depan mimbar dosen. Mendengar pertanyaan sohibnya, Mitha pun menjawab, "Suka sih masih, tapi aku nggak enak sih sama Prof. Laura kalau terlalu agresif sama lakinya. Kayaknya sih aku give up, Rel!" "Tsskkk ... aku kemarin sore tuh didamprat sama si Nenek Lampir Patologi tuh gegara meluk si Oppa James di parkiran kampus," cerita Aurel dengan volume rendah agar tidak terdengar teman-teman mereka yang lain. "What?! Nekad loe, Rel!" desis Mitha terkejut dengan kelakuan sahabatnya itu. "Cuma emang kupikir-pikir lama kelamaan kok tambah geje aja gue ya, maybe loh ... gue butuh pacar buat bantu redain obsesi gila ini. Ntarlah gue coba hangout clubbing malem, kali dapet kenalan mahasiswa kece dari kampus lain!" ujar Aurel dengan lesu. Tak lama kemudian profesor muda ganteng itu masuk ke ruang 101 dan menyapa mahasiswa-mahasiswinya, "Selamat pagi, Adik-adik semuanya. Bertemu kembali dengan saya Profesor Reynold Putra Hartanto Siregar di mata kuliah Parasitogi Umum Veteriner. Pagi ini materi kuliahnya adalah mengenai Ektoparasit." Reynold menghidupkan OHP dengan slide plastik mika bening dengan gambar ektoparasit lalu mulai menjelaskan lagi, "Ektoparasit ini dibagi menjadi 4 sesuai dengan klasifikasi bentuk tubuhnya yaitu caplak, pinjal, tungau, dan kutu. Untuk caplak dan tungau, mereka memiliki 4 pasang kaki. Sedangkan, kutu dan pinjal memiliki 3 pasang kaki." Ruang kuliah 101 hening ketika Reynold menyampaikan materi kuliahnya. Mahasiswi-mahasiswi seolah tersihir oleh ucapannya yang lembut mendayu dan terpesona oleh kegantengan wajahnya. "Rel, ini kabarnya gebetan kakak kelas semester 8 lho. Mendingan kamu kejar Prof. Rey aja yang masih single. Mirip Oppa Kimboem, nggak sih dia?" seloroh Mitha lalu menutup mulutnya agar tidak cekikikan. Aurel melirik sahabatnya itu lalu berbisik di telinga Mitha, "Ogah!" "Why??" bisik Mitha menaikkan kedua alisnya menatap Aurel. "Kemarin kepergok sama dia pas lagi mesumin si Oppa James. Masa lantas gue kejar-kejar dia juga sih? Gengsi donk!" ujar Aurel dengan volume pelan. Namun, Reynold merasa terganggu dengan kedua mahasiswi cantik dan tengil yang bolak-balik berisik sembari menatapnya. Dia pun berkata dengan tegas, "Kalian berdua mau ngikutin kuliah dari saya atau mau ribut aja? Kalau nggak niat kuliah mending keluar kelas saja!" Aurel dan Mitha celingukan seolah bingung mencari siapa yang kena omel dosen ganteng itu. "Iya. Kalian berdua yang pakai kemeja bunga Daffodil kuning sama kemeja pink," tegas Reynold hingga kedua gadis tengil itu tak dapat berkelit lagi. "Maaf, Prof. Kami mau ikut kuliah Anda," jawab Aurel mewakili Mitha juga. Reynold pun berpesan, "Seusai kuliah ini, kalian berdua temui saya di kantor Department Parasitologi Veteriner di lantai 2." Baik Mitha maupun Aurel menjawab, "Baik, Prof!" Kuliah itu pun berlanjut dengan serius hingga selesai 2 jam. Seusai jam kuliahnya, Reynold membereskan barang bawaannya lalu bergegas meninggalkan ruang kelas 101. Dia kembali ke ruang kantornya di lantai 2, sebenarnya dia pun sibuk. Namun, ia memang ingin memberi ceramah kedua mahasiswi yang tengil tadi. Kedua mahasiswi yang ribut di kelas kuliahnya tadi mengetok pintu kantor Reynold lalu berkata permisi. Reynold mempersilakan mereka berdua duduk di seberangnya. "Jadi apa yang kalian bicarakan saat saya memberikan kuliah tadi?" pancing Reynold sembari menatap wajah Aurel dan Mitha bergantian. Mitha menyikut lengan Aurel agar menjawab pertanyaan dosen bertampang good looking itu. Dia mau jawab ngomongin si dosen nggak sampai rasanya, malu sampai ke ubun-ubun mah. Kalau menyangkut putus urat malu, Mitha yakin sobatnya itu lebih ahli dan tebal muka. "Ehm ... kami tadi membicarakan Anda, Prof. Oya kalau boleh tahu, apa Anda masih single? Berhubung saya nggak enak ngejar-ngejar Prof. James yang seperti kemarin Anda bilang sudah beristri dan beranak tiga 'kan? Mungkin saya coba mendekati Prof. Rey saja ... begitu?" Aurel berceloteh seperti bibirnya blong remnya, baik Mitha maupun Reynold sendiri sampai bengong mendengarnya. Setelah berhasil menguasai dirinya kembali Reynold pun berdehem lalu tersenyum seraya menjawab, "Tobat, Non! Kamu terlalu halu deh, saya mana mau dikejar-kejar mahasiswi binal seperti kamu. Bisa-bisa kepala saya migren setiap hari!" "Apa saya kurang cantik, Prof? Kalau dibanding Mbak Hesti bukannya saya lebih sexy dan good looking ya? Otak saya juga encer sekalipun selengekan, semester 1 kemarin saya IPK 3.9 tuh, almost perfect yes!" cerocos Aurel mempromosikan dirinya di hadapan Reynold. Sementara itu Mitha yang lebih kalem hanya bisa tersenyum simpul menanggapi ke-badass-an ucapan sahabat kentalnya. Reynold bersandar di kursinya sembari memerhatikan penampilan Aurel. Dia merasa tergelitik juga dengan ucapan mahasiswi tengil di hadapannya itu. Sedangkan, rekannya lebih kalem dan pendiam. "Kalau kamu, namanya siapa? Sepertinya lebih kalem pembawaan kamu ya? Kok bisa temenan sama kawan kamu yang kayak petasan tahun baru begini?" seloroh Reynold menanyai Mitha yang dari tadi hanya terdiam. "Nama saya Mitha, Pak. Kami memang berteman dekat, dia baik kok sebenarnya di balik sikapnya yang agak frontal," jawab gadis asal Bandung itu. Mendengar logat kedua gadis cantik di hadapannya, Reynold pun menebak, "Apa Aurel asalnya dari Surabaya? Dan Mitha asalnya dari Bandung?" Kedua gadis itu mengangguk serempak. Kemudian Reynold pun tertawa tanpa menyampaikan alasannya. "Prof. Rey, kalau nggak ada lagi yang ingin disampaikan, kami ingin pamit!" ujar Aurel lagi. Entah ada apa dengan Reynold, tetapi dia bisa begitu gemas berhadapan dengan kelugasan Aurel. Dia lalu berkata, "Mitha, kamu boleh pergi. Aurel kamu tetap di ruangan saya!" Maka Mitha pun segera bangkit dari kursinya dan menepuk bahu Aurel yang mengerutkan alisnya menatap sahabatnya yang terbebas dari situasi mengesalkan ini dengan mudah. Gadis itu pun memasang tampang mencebik yang bagi Reynold cenderung tampak imut. "Prof, saya kenapa nggak boleh pergi juga?" tanya Aurel kepo memandang wajah dosennya itu lekat-lekat. Dengan santai Reynold membuka laptop di mejanya sembari menjawab, "Kamu nemenin saya di sini biar saya ada hiburan. Sekalian pedekate aja juga boleh sesuai sama keinginan kamu tadi kan? Promosinya lumayan menarik, saya suka mahasiwi yang sexy, good looking, lebih keren dari tunangan saya, dan berotak encer. Hmm ... paket komplit ya buat dijadikan istri. Usia kamu berapa Aurel?" Dalam hatinya Aurel merutuki lidahnya yang remnya blong dan cari mati itu. Dia pun menjawab, "Sembilan belas mau dua puluh tahun, bulan depan." "Ahh ... saya suka daun muda, lebih seger. Kita pacaran ya, Aurel yang sexy, good looking, berotak encer? Panggil saya Rey Sayang saja, oke?" tukas Reynold ceria. Aurel membelalakkan matanya dengan mulut ternganga kaget. Dia tak menyangka efek dari ketengilannya akan diminta dosennya menjadi pacar dadakan begini. Sepertinya Reynold kali ini sedang kumat gilanya karena terpancing oleh tingkah Aurel yang tengil luar biasa. Dia asal saja bicara tanpa memikirkan apa akibatnya untuk hubungannya dengan Hesti dan yang lainnya.Dari balik jendela kamar tidurnya di resort Pulau Cendawan, Aurel menikmati pemandangan pagi pesisir pantai. Matahari baru saja naik lebih tinggi setelah merekah di ufuk timur. Biyan berlari-lari bersama anak-anak mereka di tepi Pantai Cinta.Aurel tidak ikut karena dia bertugas mengepak pakaiannya dan juga suaminya ke koper besar. Rencananya mereka sekeluarga akan berkunjung ke Yogyakarta. Biyan dipanggil ke kampus Kedokteran Hewan sebagai narasumber acara seminar enterpreneurship berbasis ilmu kedokteran hewan untuk OSPEK mahasiswa tahun ajaran baru.Dua belas tahun telah berlalu diwarnai suka duka, kehadiran buah hati tercinta satu per satu sehingga pasangan suami istri itu telah dikaruniai total empat anak; dua laki-laki dan dua perempuan. Urutannya dari yang sulung Arjuna, disusul setahun kemudian ada Renata, berlanjut tiga tahun kemudian Purbaya, dan pada tahun kelima lahirlah Abigail.Kebahagiaan keluarga dengan empat anak itu terasa sempurna. Mereka tak pernah terlibat konflik
"Maa, sini!" panggil Pak Harris Jatikusuma kepada istrinya di rumah mereka di Jakarta.Nyonya Puspa Narestri bergegas menghampiri suaminya di sofa ruang tengah. "Ada apa sih, Pa?" sahutnya."Ini anak kita ngawur banget. Masa dia baru ngaku kalau sudah punya istri dan pagi tadi cucu pertama kita lahir ke dunia. Ckckck, Biyan ... Biyan!" ujar Pak Harris kesal dengan tingkah putra bungsunya."Ahh ... yang benar saja, Pa. Mana fotonya?" balas Nyonya Puspa seolah-olah tak percaya.Maka Pak Harris menyerahkan HP di tangannya ke istrinya. Dia pun berkata, "Ini foto anak dan istri Biyan. Terus katanya, kita boleh jenguk mereka di Pulau Cendawan. Pantesan dia betah banget tinggal di sana, ternyata sudah punya istri tho!" "Wah, cantik istrinya. Cucu kita juga ganteng mirip banget sama Biyan sewaktu bayi. Ayo, Pa. Kita ke Pulau Cendawan sekarang aja mumpung masih belum petang!" desak Nyonya Puspa. "Oke, Mama siap-siap gih. Packing beberapa baju punyaku juga ya untuk menginap di sana nanti. Ini
Pagi itu seusai mandi, Aurel merasakan perutnya seperti diremas-remas. Dia melihat genangan air di lantai kamar mandi tepat di sekitar telapak kakinya berwarna merah muda."Ya Tuhan! Aku pecah ketuban ... mana Biyan?!" Aurel mendadak panik lalu berjalan tertatih-tatih ke luar kamar mandi. Dia mengedarkan pandangan ke seisi kamar tidur lalu berseru, "Biii! Aku sudah mau lahiran!" Sontak Biyan bangkit dari tempat tidur lalu segera membantu Aurel untuk berganti pakaian bepergian serta mengenakan pembalut khusus ibu hamil dan setelah melahirkan. Karena Biyan takut tak bisa fokus menyetir mobil, dia menyuruh sopir yang mengantarkan mereka ke rumah sakit satu-satunya di Pulau Cendawan.Sesampainya di rumah sakit, segera tim dokter dan perawat membantu memeriksa Aurel. Setelah itu diputuskan untuk Aurel melahirkan secara normal. Biyan terus menemani istrinya yang telah sah di mata hukum sejak dua bulan lalu. Dia menggenggam tangan Aurel yang berkeringat dingin. "Yang kuat ya, Sayang!" uca
"Halo, Biyan. Hasil putusan sidang perceraian Aurel dan Reynold sudah keluar hari ini. Saya baru saja menghadiri persidangannya," ujar pengacara yang disewa Biyan untuk membereskan perceraian Aurel di Yogyakarta.Memang sudah lima bulan proses perceraian itu bergulir tanpa kehadiran dari kedua kubu yang berseteru. Mereka mempercayakan ke tim kuasa hukum masing-masing sejak awal sampai pernikahan yang sah di mata negara itu ketok palu dinyatakan cerai."Halo, Bang Tommy. Gimana hasil putusannya, benar bisa bercerai 'kan?" tanya Biyan penasaran. Dia sedang berada di kandang kuda pagi itu dan menunggu Shaddow dipasang pelananya oleh anak kandang."Iya, benar. Sudah dah bercerai. Mengenai akte pernikahan kamu dan Aurel akan saya proses nanti secepatnya kalau memang semua data di kartu identitas Aurel sudah berubah menjadi janda!" jawab Tommy Simangunsong, pengacara yang mewakili kubu Aurel.Biyan pun tersenyum bahagia bercampur lega. "Makasih banyak, Bang Tommy. Fee untuk tim lawyer seger
Reynold yang mendapat panggilan dari bagian akademik karena ada surat penting dengan kop Pengadilan Negeri Kota Sleman, Yogyakarta sedang berdiri tegang memegang sepucuk surat di tangannya. Dia membaca isi surat yang merupakan gugatan perceraian atas nama Aurel melalui kuasa hukum Pengacara Hans Sebastian Wijaya. "Ini pasti karena hasutan Biyan! Mana mungkin tiba-tiba Aurel melayangkan gugatan perceraian?" gumam Reynold lirih. Belakangan ini pola tidurnya kacau karena insomnia. Lingkaran hitam di sekitar matanya menebal.Jadwal persidangan perdana akan digelar dua hari lagi di Pengadilan Negeri Sleman. Reynold bisa datang sendiri atau menunjuk pengacara untuk mewakilinya. Sekembalinya ke ruang kantornya, Reynold terpekur sembari duduk menatap ke luar jendela. Dia berencana terbang ke Perth untuk menemui Laura meskipun pesan-pesan darinya hanya dibalas singkat seperlunya oleh ibu dari putra kandungnya; Joshua.Dia sendiri yang salah karena meninggalkan Laura demi menikahi Aurel. Namu
"Aurel! Aurel, di mana loe?!" panggil Biyan saat memasuki bangunan induk resort satu-satunya di Pulau Cendawan.Wanita yang dicari oleh Biyan itu sedang mengobrol santai diselingi gelak tawa di dapur bersama dua ART dan Chef Arifin. Mereka menikmati berbagai camilan berbahan dasar tepung aci. Selain itu hasil panen Aurel di kebun belakang dapur diolah Chef Arifin menjadi lauk sayur dan juice buah."Biyan, aku di dapur!" jawab Aurel seraya melambaikan tangan ke pemuda yang masih mengenakan setelan jas abu-abu dengan kemeja putih tanpa dasi itu.Sepasang mata Biyan memancarkan kerinduan terhadap Aurel yang dia tutupi dengan pembawaan tenang terkendali di hadapan para bawahannya. "Ohh ... jadi ya dibikinin cilok dkk, Rel?" tukas Biyan santai."Iya, kenyang banget aku. Btw, kamu sudah makan apa belum dari Jakarta tadi, Bi?" tanya Aurel yang tumben lebih halus dan perhatian.Melihat perubahan sikap perempuan yang dicintainya, Biyan pun mencoba menanggapi dengan baik. Dia menjawab, "Sudah k







