LOGIN
Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu ruang kantornya. Dia menaikkan pandangannya dari meja ke arah pintu kaca itu. Ternyata Aurel, mahasiswi baru yang sempat menyukainya dulu. Berminggu-minggu James menghindarinya karena selain disibukkan dengan kelahiran Keira, ia juga tidak ingin membuat istrinya bersedih bila berdekatan dengan mahasiswi.
"Ya, masuk aja, Aurel!" seru James dari dalam kantornya. Gadis manis itu pun membuka pintu lalu berjalan ke kursi di hadapan dosen idolanya. Aurel duduk dengan anggun mengangkat kaki kanannya dan menumpangkannya di kaki kirinya, rok sepan putih setengah paha yang ia kenakan memamerkan kulit mulusnya yang licin. Mata James pun bisa melihatnya, tetapi dia bukan tipe pria mata keranjang jadi hanya diam tak bereaksi dengan pemandangan yang menarik itu. "Ehm ... tumben pagi-pagi sudah ngecengin saya, Rel. Ada keperluan apa nih?" canda James tertawa pelan seraya bersandar di kursinya. "Kangen! Apa Oppa Ganteng nggak kangen sama Aurel?" balas gadis berambut cokelat panjang lurus sepunggung itu. Tak lupa ia menambahkan senyum menggoda di bibirnya. James terbatuk-batuk mendadak salah tingkah dengan jawaban frontal gadis itu. Kemudian dia minum air putih di gelas yang disediakan di mejanya. Setelah itu James berkata, "Aku sudah punya anak 3, Rel. Mending cari yang masih single lah, teman kamu atau kakak angkatan 'kan banyak yang available tuh!" "Aku maunya kamu sih, Oppa Sayangkuhhh!" Aurel mulai mode pepet maksimal. Dia bangkit berdiri lalu berjalan ke kursi James. Dosen ganteng itu memicingkan matanya melirik ke Aurel yang berdiri di sampingnya. "Maunya apa ini kok deket-deket? Kita di kampus lho!" tegur James seraya beringsut menjauh. "Mending mana ... dicekek apa dipeluk aja?" tantang Aurel menaruh kedua tangannya di pundak James. "Ehh ... please ya, jangan main-main sama saya! Saya ini dosen kamu lho—" James menepis tangan Aurel dari pundaknya. Namun, hal itu malah membuat gadis itu hilang keseimbangan dan jatuh menimpa James. Tentu saja James otomatis menangkap tubuh Aurel dengan posisinya tertindih di bawah. Tanpa melewatkan kesempatan yang tak datang dua kali, Aurel pun segera menciumi wajah James. Pipinya lalu bibir James, semua tak lepas dari serbuan kecupan dari bibir Aurel, sementara telapak tangannya menyusup masuk ke kemeja James membuat pakaian dosennya berantakan. "Astaga, Bang!" Seruan terkejut dari ambang pintu kantornya membawa kesadaran James dan sekaligus menghentikan aksi gila Aurel di atas tubuh dosennya itu. "Rey! I—ini nggak seperti yang kamu lihat, jangan bilang ke Laura, tolong ... dengar penjelasanku dulu!" ujar James syok sekaligus cemas. Dia lalu tersadar dan berkata kepada Aurel, "Tolong turun dari badan saya, Rel. Kamu parah deh!" Gadis belia itu pun menuruti James karena ada Prof. Reynold yang mengajar Parasitologi Umum Veteriner di angkatannya. Dia sungkan juga terlihat begitu binal di hadapan pria muda good-looking itu. Akhirnya Aurel duduk di kursi di hadapan James dengan kepala tertunduk malu. Reynold pun masuk ke dalam ruang kantor James. Tadinya ia ingin menemui James untuk merujuk penelitian thesis anak S2 bimbingannya ke koleganya itu. Dia duduk di kursi kosong yang ada di samping Aurel. "Bang James ada apa tadi sama si Aurel? Nggak pacaran backstreet sama mahasiswi 'kan?" ujarnya curiga. Dia menatap kedua orang itu bergantian. James pun berdecak kesal lalu menjelaskan, "Tsskk ... aku tuh baru saja sampai di kantor, mau mulai kerja terus Aurel dateng katanya kangen dan deketin aku. Dianya hilang keseimbangan ngejatuhin badanku. Itu yang sebenarnya tadi terjadi, aku nggak ada niatan macam-macam!" Mendengar penjelasan James, akhirnya Reynold pun mengerti. Dia juga sering mendapat godaan semacam itu dari mahasiswinya. Yang cantik dan nekad-nekad di kampus sih memang banyak, terlebih statusnya yang masih single di publik membuat godaan semakin tak terbendung. Pernikahannya dengan Laura di Las Vegas itu adalah secret marriage yang hanya diketahui oleh keluarga mereka saja. "Rel, kamu jangan godain suami orang dong! Prof. James ini anaknya sudah 3 lho, sekalipun masih kece, tapi kamu jangan ngerebut laki orang!" nasihat Reynold kepada Aurel yang membuat wajah gadis itu merona antara malu dan ingin menangis dicap pelakor oleh Reynold. Dia pun bangkit berdiri dari kursi lalu berpamitan, "Saya permisi dulu, Prof!" Aurel segera kabur dari ruang kantor James tanpa banyak mulut. Reynold pun menghela napas panjang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Aurel yang mengambek itu. Dia lalu bertanya kepada James, "Bang, sudah berapa lama begini sama Aurel?" "Ya elah, Rey. Ini baru sekali dan ogah terulang lagi. Aku cinta mati sama istriku, masa mau korbanin rumah tangga buat main-main bikin affair sama mahasiswi labil. Sorry to say, nggak segila itu aku!" sahut James dongkol dengan pertanyaan Reynold. "Sorry, Bang. Kukira sudah lama. Oya, aku ke mari ada urusan sama Bang James. Mahasiswa S2 bimbinganku itu hasil penelitiannya cenderung ke arah comprehensive case Mikrobiologi. Aku pikir lebih baik kulimpahin berkas thesisnya ke bawah bimbingan Bang James aja. Bisa ya?" ujar Reynold fokus ke tujuannya mengunjungi James. Maka James pun menanggapi dengan serius, "Bisa. Namanya siapa, Rey? Tolong bilang ke dia untuk menghadap langsung ke aku. Nanti akan kubimbing penulisan thesisnya sesuai hasil penelitian dia." Menjelang pukul 16.00 WIB, James yang tidak ada jadwal praktikum di laboratorium Mikrobiologi dengan ceria membereskan barang bawaannya lalu bergegas mengunci ruang kantornya. Dia turun dengan tangga manual ke lantai satu untuk menjemput Laura di Lab.PA. "Honey, apa kamu sudah selesai kerja?" sapa James sambil berdiri di ambang pintu kantor Laura. Laura yang sedang membaca berkas skripsi mahasiswa bimbingannya pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu. "Ohh, James ... tumben pulang cepat? Nggak ada praktikum sore ini?" tanyanya. "Nggak ada, gimana kalau kita pulang on time sebelum hujan turun, Laura?" ujar James sembari memandangi Keira yang sedang terlelap di baby stroller. "Oke, aku setuju. Bagaimana kalau kamu ambil mobil dulu untuk jemput kami di depan lobi Lab. PA?" jawab Laura sambil membereskan barang bawaannya. "Hmm ... tunggu di lobi PA ya kalau sudah selesai beres-beres, Honey. Aku pergi ambil mobil sekarang," pamit James meninggalkan kantor istrinya sambil menenteng tas kerjanya. Tanpa James sadari dari belakangnya ada seseorang yang mengikutinya hingga ia tiba di samping mobilnya. Pantulan bayangan dari kaca jendela Fortuner putih itu yang membuat James tersadar lalu membalik badannya. "Aurel? Ada perlu apa?" tanya James dengan nada biasa sekalipun aslinya dia kepo juga dikuntit mahasiswi yang ngefans berat kepadanya. Gadis cantik itu berlari menubruk tubuh James lalu memeluknya erat-erat. Dia berkata, "Oppa James, Aurel tuh sarangeyo banget sama kamu!" Namun, James menepis kedua lengan Aurel yang memeluknya erat sembari menatap wajah gadis itu lekat-lekat, ia menjawab, "Seperti yang tadi Profesor Reynold bilang ke kamu. Aku ini pria beristri dan beranak 3. Di sebelah mana gitu aku bisa main gila? Coba bilang!" Dengan berani Aurel menarik kerah kemeja James hingga mereka berdua berdiri berdekatan. "That's not my business, James! Aku hanya peduli perasaanmu ke aku dan sebaliknya. Mendingan si nenek sihir itu kamu titipin ke Profesor Reynold aja, mereka berdua pacaran 'kan?" Ketika mendengar tuduhan Aurel ke Laura dan Reynold, mendadak James seolah kehilangan kata-katanya. Dia ragu, tetapi mungkin saja mereka berdua masih dekat seperti dulu tanpa sepengetahuannya. "Kamu salah, Aurel. Pacar Profesor Rey itu Hesti, kakak angkatan kamu semester 8. Jangan sok tahu deh! Udahan kamu pulang aja, ini sudah sore ntar ketemu orang nggak bener lagi sendirian di kampus," kelit James lalu membuka pintu mobilnya sendiri karena dia sudah membuat Laura menunggu lama. Namun, Aurel memeluk tubuh James sekali lagi dari belakang. "Jangan pergi, James!" serunya. Dari arah belakang bahu Aurel ditarik kuat-kuat disusul sebuah tamparan keras di pipi. "PLAKKK!" Suara pertemuan telapak tangan dan pipi itu terdengar nyaring di telinga James. Dia terkejut setengah mati melihat tindakan istrinya yang baru kali ini begitu barbar. "Laura?!" "Aku sudah dengar kok omongan mahasiswi pelakor ini. Katamu aku nenek sihir 'kan? Lantas kamu siapa? Upik abu? Hahh ... masih bocah sudah gaya-gaya pelakor, kamu pamit sekolah di Yogyakarta ke ortu, tapi kenyataan malah godain dosen kamu yang sudah punya anak istri, nggak malu tuh?" Laura bersedekap memberikan kuliah budi pekerti instant 2 sks khusus untuk mahasiswi baru itu. Sementara Aurel memegangi pipi kanannya yang terasa pedih terkena tamparan telak dari Laura. Dia mengerutkan kedua alisnya sembari menatap Laura dengan sorot mata penuh kebencian. Aurel pun berseru sembari berkacak pinggang, "Alaa ... nggak usah sok bijak. Bu Laura juga waktu dideketin mahasiswa-mahasiswa ganteng juga iya-iya aja 'kan? Perlu saya mention namanya satu per satu gitu, mumpung ada suaminya? Si Joel ... Hendrawan ... Biyan ... dan mungkin masih banyak yang nggak agresif, tapi sudah niat!" "Bukan urusanmu, Dek! Kalau James, dia suamiku dan jelas jadi urusanku karena kamu godain dia pake peluk-peluk segala. Gatel!!" sembur Laura sembari memeluk pinggang suaminya dengan posesif. Sebenarnya James merasa senang juga dalam hatinya karena Laura tak gentar berjuang mempertahankan posisinya sebagai seorang istri di hadapan mahasiswi yang usianya berdekade lebih muda darinya. Dia tersenyum lebar seraya membelai rambut panjang wanita favoritnya itu. "Rel, kamu sudah paham 'kan sekarang kalau 'bojoku galak' (istriku galak). Jadi udahan deh ngejar-ngejar aku, kasihan kamunya kalau didamprat begini," ujar James dengan nada simpatik. Dia lalu mendaratkan kecupannya di bibir Laura. "Bener nggak, Honey?" "Pulang kita, Hubby! Kasihan Keira nungguin sama Mikha tuh di lobi dari tadi," jawab Laura lalu bergegas ke sisi bangku sebelah pengemudi seraya sengaja menubruk bahu Aurel. "Dammit!" rutuk Aurel geregetan kepada istri profesor idolanya itu. Entah kenapa dia jadi merasa receh sekali karena habis didamprat habis-habisan oleh Laura setelah ke gap merayu James tadi. Sebelum naik ke mobilnya, James pun berkata, "Jangan di belakang mobilku, Non. Ntar sakit kalau ketubruk, oke?" Kemudian ia pun naik ke bangku pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya mundur sebelum menuju ke lobi depan gedung PA.Reynold yang mendapat panggilan dari bagian akademik karena ada surat penting dengan kop Pengadilan Negeri Kota Sleman, Yogyakarta sedang berdiri tegang memegang sepucuk surat di tangannya. Dia membaca isi surat yang merupakan gugatan perceraian atas nama Aurel melalui kuasa hukum Pengacara Hans Sebastian Wijaya. "Ini pasti karena hasutan Biyan! Mana mungkin tiba-tiba Aurel melayangkan gugatan perceraian?" gumam Reynold lirih. Belakangan ini pola tidurnya kacau karena insomnia. Lingkaran hitam di sekitar matanya menebal.Jadwal persidangan perdana akan digelar dua hari lagi di Pengadilan Negeri Sleman. Reynold bisa datang sendiri atau menunjuk pengacara untuk mewakilinya. Sekembalinya ke ruang kantornya, Reynold terpekur sembari duduk menatap ke luar jendela. Dia berencana terbang ke Perth untuk menemui Laura meskipun pesan-pesan darinya hanya dibalas singkat seperlunya oleh ibu dari putra kandungnya; Joshua.Dia sendiri yang salah karena meninggalkan Laura demi menikahi Aurel. Namu
"Aurel! Aurel, di mana loe?!" panggil Biyan saat memasuki bangunan induk resort satu-satunya di Pulau Cendawan.Wanita yang dicari oleh Biyan itu sedang mengobrol santai diselingi gelak tawa di dapur bersama dua ART dan Chef Arifin. Mereka menikmati berbagai camilan berbahan dasar tepung aci. Selain itu hasil panen Aurel di kebun belakang dapur diolah Chef Arifin menjadi lauk sayur dan juice buah."Biyan, aku di dapur!" jawab Aurel seraya melambaikan tangan ke pemuda yang masih mengenakan setelan jas abu-abu dengan kemeja putih tanpa dasi itu.Sepasang mata Biyan memancarkan kerinduan terhadap Aurel yang dia tutupi dengan pembawaan tenang terkendali di hadapan para bawahannya. "Ohh ... jadi ya dibikinin cilok dkk, Rel?" tukas Biyan santai."Iya, kenyang banget aku. Btw, kamu sudah makan apa belum dari Jakarta tadi, Bi?" tanya Aurel yang tumben lebih halus dan perhatian.Melihat perubahan sikap perempuan yang dicintainya, Biyan pun mencoba menanggapi dengan baik. Dia menjawab, "Sudah k
"Bi, bolehin gue main ke kebun di belakang dapur ya besok pagi!" pinta Aurel di telepon malam itu. "Boleh, tapi janji dulu loe. Jangan main kabur seenaknya, besok juga gue balik ke pulau kok!" jawab Biyan yang masih berada di Jakarta. Aurel pun berkata, "Iya ... iya, gue janji kagak bakalan aneh-aneh. Loe parno amat sih kalau gue pergi!" "Hmm ... ya daripada ntar loe dimakan macan kayak tempo hari, ilang dong harapan gue punya bini sama anak!" balas Biyan selengekan. Dia tidur di rumah orang tuanya yang ada di Jakarta kali ini karena helikopter tak diizinkan menyeberang selama badai topan masih mengamuk di Laut Jawa.Mendengar jawaban Biyan, sejenak Aurel mengerutkan keningnya. Nasibnya telah ditentukan untuk menjadi istri Biyan, dia tak bisa menolak hal itu selama terkurung di pulau terpencil ini."Ya udah. Sampai besok, Biyan. Gue mau tidur, udah malem!" pungkas Aurel.Namun, Biyan berkata sebelum mengakhiri telepon mereka, "Rel, gue ada beliin loe buku-buku buat hiburan selama d
"Bik Indah, apa Biyan berpesan agar saya tidak diizinkan keluar kamar selama dia pergi?" tanya Aurel yang bosan terpenjara di ruangan tertutup itu sepanjang hari.Wanita berusia sekitar 40 tahun itu pun menjawab, "Iya, Non. Maklum ... sudah beberapa kali Non Aurel kabur dan celaka. Ini kalau nggak ada tuan muda, siapa yang bisa bantuin?" Jawaban sederhana itu menyadarkan Aurel tentang kebodohannya. Untung dia tidak mati dimakan macan atau keracunan akibat gigitan hewan liar dulu. Meskipun Biyan selalu memperkosa Aurel, tetapi pria itu sangat peduli kepada keselamatannya."Ya sudah, saya tidur aja, Bik Indah. Bosen dikurung dalam kamar terus!" tukas Aurel kesal. Perempuan muda itu naik ke tempat tidur lalu memeluk gulingnya erat-erat. Dia berandai-andai bisa meninggalkan pulau terpencil yang entah apa namanya, Biyan tak mau memberi tahunya karena takut Aurel akan meminta bantuan dari luar. Misalnya, Prof. Reynold untuk menjemputnya.Dalam kondisi pikiran tak tenang, Aurel terbawa ke
Bunyi desau angin ribut di luar bangunan utama resort terdengar mengerikan. Beberapa pohon tinggi berusia tua tumbang hingga ke akar-akarnya di hutan Pulau Cendawan. Langit telah berubah gelap seluruhnya, tak ada bintang maupun rembulan. Hanya awan tebal bergulung-gulung di langit sedari siang tadi."Bi, sampai kapan listrik dimatiin sih?" Gelap banget di luar!" ucap Aurel dengan suara bergetar ketakutan."Napa loe, takut?" tanya Biyan seraya tertawa mengejek."Kagak ... gue ... gue cuma nggak tenang aja semua serba gelap, gimana kalau tiba-tiba tsunami dari lautan?" kelit Aurel sembari berjalan mondar mandir memeluk dirinya sendiri di dekat dinding kaca kamar yang menghadap ke arah pantai langsung.Biyan bangkit dari kursi goyang empuknya lalu menangkap pinggang Aurel. "Berhenti mondar mandir kayak setrikaan. Loe bikin gue senewan lama kelamaan, Rel!" "Hmm ... gue kagak mau loe perkosa lagi ya! Udah gelap-gelap begini, ada badai pula. Waras dikit napa, Bi?!" sergah Aurel karena dipe
"Bi, loe udah berapa lama punya hak milik pulau antah barantah ini sih?" tanya Aurel penasaran."Ini hadiah wisuda sarjana gue kemarin, Rel. Sebelumnya ini punya bule, dia bangun resort segala macem di sini. Sayangnya, dia ngerasa sulit buat cari duit dengan kondisi pulau yang tanpa penghuni, semua mesti disuplai dari Pulau Jawa gitu. Bokap lantas nawar buat dibeli dari WNA itu!" jawab Biyan yang cukup memberi gambaran bagi Aurel.Pasangan itu duduk berboncengan di atas pelana kuda yang berjalan lambat di tepi pantai. Air laut yang tidak begitu dalam di sekitar pulau kecil itu berwarna biru muda jernih. Seandainya Aurel tidak menjadi tawanan cinta Biyan, dia merasa akan betah di Pulau Cendawan. "Gue pengin sekali-sekali snorkeling apa diving di sini deh, Bi. Loe izinin kagak?" celetuk Aurel.Biyan yang memeluk Aurel dari belakang punggung gadis itu menjawab, "Boleh, ntar bareng gue setelah balik dari Jakarta. Jangan coba-coba nyelem sendiri. Gue kuatir loe kena ubur-ubur apa bulu bab







