LOGINPagi yang mendung itu Aurel sampai di kampus lebih awal, dia memarkir mobilnya di samping mobil Biyan yang berharga selangit itu. Entah apa pekerjaan orang tua cowok itu hingga bisa membawakan anak mereka supercar mahal begitu, batin Aurel sedikit iri bercampur penasaran juga.
Dia pun turun dari mobilnya dan menguncinya dengan remote. Sebelum beranjak jauh dari tempat mobilnya diparkir, Aurel pun memiliki ide iseng untuk menggembosi keempat ban mobil mewah milik Biyan. Dia pun celingukan melihat keamanan situasi area parkiran mobil kampus FKH itu. "Yes, mumpung sepi gitu loh!" sorak Aurel lalu segera berjongkok di samping mobil Lexus milik Biyan dan mulai menggembosi ban mobil itu satu per satu. Ketika Aurel sudah sampai di ban terakhir dari arah belakang punggungnya terdengar suara laki-laki yang tak asing di telinganya. "Lagi sibuk ngapain, Non?" "Busseeettt! Njriiittt!" seru Aurel mengumpat kasar dan jatuh terjengkang ke tanah dari posisi jongkoknya karena kaget setengah mati. Biyan bangkit berdiri dari posisi jongkoknya dan bersedekap menatap tajam ke arah wajah Aurel. "Bisa jelasin kenapa loe gembosin ban mobil gue?" tanya pemuda ganteng itu. Dengan jengah Aurel pun berdiri salah tingkah ter-gap melakukan tindakan isengnya dengan ban mobil Biyan. "JAWAB!" sentak Biyan galak sambil melotot pada gadis yang celingukan seperti ingin kabur di hadapannya. Aurel pun membatin, 'Mampus dah gue, apes amat ke-gap pas lagi on action. Gimana ini?!' Dengan terbata-bata gadis manis itu pun berkata, "Ma–maaf ... emm ... gu–gu–gue—" "Ngapain loe mendadak kayak si Blacky guk guk guk guk?! Gue nanya kenapa loe gembosin ban mobil gue? Gue gak butuh kata maaf loe, ngapain?! Tanggung jawab sekarang!" tuntut Biyan dengan nada mayor yang membuat Aurel sontak panik. "Bi ... please dong ... gue ada kuliah Prof. Untoro sebentar lagi, mau telat nih! Ntar aja ya kita selesaiin?" Aurel menangkupkan kedua belah telapak tangannya seperti menyembah-nyembah Biyan. Ketika Biyan melotot lagi kepadanya Aurel berkata dengan nada lunak, "pleasee ...." Setelah menghela napas meredakan kekesalannya dan melirik ban mobilnya yang gembos parah, Biyan pun menjawab gadis itu, "Kulepasin loe buat kuliah, TAPI ... ingat urusan kita belum selesai. Loe ngeselin tahu gak?! Dasar pecicilan!" "Hehehe ... oke, nanti dilanjut deh. Gue cabut dulu, Bi. Daaaahhh!" Aurel bergegas kabur meninggalkan Biyan yang berkacak pinggang menatap kepergiannya dengan tampang kesal. 'Suer si Biyan galak banget kalau lagi ngamuk! Ntar moga-moga gak ketemu dia dulu deh, seram,' batin Aurel sembari berlari-lari kecil melintasi lobi Lab. Anatomi untuk menuju ke ruang kuliah 101. Pagi ini ada kuliah Mikroanatomi seri 2, mata kuliah yang susah baginya karena detail yang harus dipelajari sangat banyak mulai dari bentuk penyusun sebuah sel hingga jaringan masing-masing organ tubuh. Jangan sampai mengulang karena dapat nilai C, C itu capek deh karena nanggung hanya sekadar cukup! pikir Aurel dengan jantung berdebar dan napas yang ngos-ngosan sehabis berlari-lari takut terlambat kuliah. Ternyata benar dia terlambat masuk, untungnya kuliah belum dimulai dan dosennya juga baru saja tiba di ruang kuliah 101. Dengan segera Aurel mengedarkan pandangannya mencari-cari Mitha dan ia pun menemukan sobat kentalnya itu yang mencarikannya bangku kosong di sebelahnya persis. Aurel pun lekas menghampirinya dan duduk di sana. "Selamat pagi, Adik-adik Mahasiswa Mahasiswi. Pagi ini kita akan mempelajari tentang jaringan kulit. Lapisan kulit terbagi menjadi dua yaitu epidermis dan dermis—" Prof. Untoro menjelaskan gambar penampang melintang jaringan kulit yang ada di layar LCD ruang kuliah 101. Tak ada satu pun yang berani berisik di kelas profesor tua yang terkenal killer itu termasuk genk cewek Aurel cs. Mereka mendadak kalem dan pendiam di kelas, padahal biasanya berisik dan sering kena tegur dosen lain saat mengikuti kuliah. Aurel menulis di secarik kertas lalu menaruhnya di meja Mitha. 'Tahu nggak kenapa gue hampir telat?' Mitha menulis singkat, 'WHY?' 'Gue ke-gap lagi gembosin ban Lexus si Biyan. Hehehe!' tulis Aurel lengkap dengan emoji rotfl di kertas itu lalu menaruhnya di meja Mitha lagi. Setelah membaca tulisan sobatnya itu Mitha menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi heran. 'Terus diapain loe sama Mas Biyan?' tulis Mitha kepo. 'Gue minta perhitungannya ntar aja, kan kuliah Prof. Un sih, seram kalau telat, gue gak mau cari mati ngebolos kuliah dosen killer!' balas Aurel di kertas yang sudah penuh dengan tulisan mendatar maupun miring di space yang kosong. Mitha mendengkus geli lalu menulis, 'Masih punya rasa takut juga loe, Rel. Kirain betina tangguh loe! Wkwkwkk.' Gadis badung itu memutar bola matanya menanggapi komentar Mitha. Kemudian mereka pun memerhatikan kembali kuliah Prof. Untoro yang sekalipun boring harus mereka ikuti dengan perhatian penuh. Itu mata kuliah sulit dengan 4 sks, bila harus mengulang akan menderita lahir batin. Setelah 90 menit kuliah Mikroanatomi seri 2 berakhir, para peserta kuliah pun membubarkan diri dari ruang 101. Aurel bersama teman segenk-nya pun keluar dari pintu dan akan menuju ke kantin kampus untuk menunggu jam kuliah berikutnya selain brunch, sarapan kesiangan sebelum waktu makan siang. Namun, di tengah jalan menuju ke kantin, Biyan bersedekap menunggu Aurel berjalan mendekat ke arahnya. Rasanya Aurel pengin kabur saja, dia malas harus bertanggung jawab atas keisengannya tadi pagi di parkiran mobil kampus. Dia pun mencoba membalik badan, tetapi ... "Loe, jangan coba-coba kabur, Non!" seru Biyan melangkah lebar menghampiri Aurel yang stuck di tempatnya berdiri tak jadi kabur. Lengan Biyan merangkul bahu Aurel sembari berkata, "Urusan kita yok kelarin. Mau ngobrol dimana?" 'Mampus dah gue!' keluh Aurel dalam hatinya mendongak menatap Biyan yang bertubuh jangkung di sisi kirinya. "Emm ... di–di–di kantin aja ya?" jawab Aurel grogi. "Rel, loe imut deh kalau lagi begini!" komentar Biyan seraya menertawakan adik kelasnya yang usil itu. Dengan wajah mencebik Aurel hanya bisa merutuki Biyan dalam hatinya. Dia masih berutang tanggung jawab dan entah apa yang akan diminta oleh pemuda itu darinya. Mereka berdua berjalan bersisian menuju ke kantin, lengan Biyan masih bertengger di bahu Aurel. "Bi, pacar baru loe tuh?" tanya teman seangkatan Biyan yang berpapasan di selasar ruang kuliah yang mengarah ke kantin kampus. "Huum ... pacar baru, cakep kan, Bro?!" sahut Biyan dengan sok keren menurut Aurel dan itu super duper nyebelin. Aurel rasanya ingin menjitak Biyan karena seenaknya mengaku-ngaku bahwa dia pacarnya. Sejak kapan gitu loh? M bingits ... M A L E S! Baginya Biyan itu boring sekalipun ortunya tajir. Mendadak Aurel jadi teringat pada pacar barunya, Prof. Reynold. Kalau dipikir-pikir lagi setelah mereka berkencan panas semalam, pacarnya itu memang cocok dijadikan idola mahasiswi semua angkatan seperti yang selama ini terjadi. Sayangnya mereka harus backstreet karena Mbak Hesti, kakak angkatan semester 8 itu sudah jadi tunangan si dosen ganteng. Masa iya dia mau battle adu jambak dengan Mbak Hesti gegara rebutan cowok? That's a shame, really! "Ehh ... kok bengong? Mau pesan apa nih?" tanya Biyan setelah duduk berhadapan dengan Aurel di meja kantin. Ketiga sobat Aurel mengamati kawan mereka dari meja pojok kantin sambil berbisik cekikikan yang Aurel duga sedang mengghibahi dirinya. Dia pun menghela napas dalam-dalam mengabaikan itu semua dan berkata, "Aku masih kenyang, mau jus mangga aja biar seger!" "Siap—tungguin ya kupesenin. Jangan kabur!" sahut Biyan lalu bangkit dari kursinya dan melenggang ke tempat pemesanan menu kantin. Aurel mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa pesan masuk ke inboxnya. Salah satunya dari Ayang Reynold, pacar barunya, si dosen ganteng. Dia pun tersenyum lalu membaca pesan itu. Kemudian ber-ohh sembari mengetik pesan balasan mengiyakan ajakan kencan nanti sore sepulang kampus.Dari balik jendela kamar tidurnya di resort Pulau Cendawan, Aurel menikmati pemandangan pagi pesisir pantai. Matahari baru saja naik lebih tinggi setelah merekah di ufuk timur. Biyan berlari-lari bersama anak-anak mereka di tepi Pantai Cinta.Aurel tidak ikut karena dia bertugas mengepak pakaiannya dan juga suaminya ke koper besar. Rencananya mereka sekeluarga akan berkunjung ke Yogyakarta. Biyan dipanggil ke kampus Kedokteran Hewan sebagai narasumber acara seminar enterpreneurship berbasis ilmu kedokteran hewan untuk OSPEK mahasiswa tahun ajaran baru.Dua belas tahun telah berlalu diwarnai suka duka, kehadiran buah hati tercinta satu per satu sehingga pasangan suami istri itu telah dikaruniai total empat anak; dua laki-laki dan dua perempuan. Urutannya dari yang sulung Arjuna, disusul setahun kemudian ada Renata, berlanjut tiga tahun kemudian Purbaya, dan pada tahun kelima lahirlah Abigail.Kebahagiaan keluarga dengan empat anak itu terasa sempurna. Mereka tak pernah terlibat konflik
"Maa, sini!" panggil Pak Harris Jatikusuma kepada istrinya di rumah mereka di Jakarta.Nyonya Puspa Narestri bergegas menghampiri suaminya di sofa ruang tengah. "Ada apa sih, Pa?" sahutnya."Ini anak kita ngawur banget. Masa dia baru ngaku kalau sudah punya istri dan pagi tadi cucu pertama kita lahir ke dunia. Ckckck, Biyan ... Biyan!" ujar Pak Harris kesal dengan tingkah putra bungsunya."Ahh ... yang benar saja, Pa. Mana fotonya?" balas Nyonya Puspa seolah-olah tak percaya.Maka Pak Harris menyerahkan HP di tangannya ke istrinya. Dia pun berkata, "Ini foto anak dan istri Biyan. Terus katanya, kita boleh jenguk mereka di Pulau Cendawan. Pantesan dia betah banget tinggal di sana, ternyata sudah punya istri tho!" "Wah, cantik istrinya. Cucu kita juga ganteng mirip banget sama Biyan sewaktu bayi. Ayo, Pa. Kita ke Pulau Cendawan sekarang aja mumpung masih belum petang!" desak Nyonya Puspa. "Oke, Mama siap-siap gih. Packing beberapa baju punyaku juga ya untuk menginap di sana nanti. Ini
Pagi itu seusai mandi, Aurel merasakan perutnya seperti diremas-remas. Dia melihat genangan air di lantai kamar mandi tepat di sekitar telapak kakinya berwarna merah muda."Ya Tuhan! Aku pecah ketuban ... mana Biyan?!" Aurel mendadak panik lalu berjalan tertatih-tatih ke luar kamar mandi. Dia mengedarkan pandangan ke seisi kamar tidur lalu berseru, "Biii! Aku sudah mau lahiran!" Sontak Biyan bangkit dari tempat tidur lalu segera membantu Aurel untuk berganti pakaian bepergian serta mengenakan pembalut khusus ibu hamil dan setelah melahirkan. Karena Biyan takut tak bisa fokus menyetir mobil, dia menyuruh sopir yang mengantarkan mereka ke rumah sakit satu-satunya di Pulau Cendawan.Sesampainya di rumah sakit, segera tim dokter dan perawat membantu memeriksa Aurel. Setelah itu diputuskan untuk Aurel melahirkan secara normal. Biyan terus menemani istrinya yang telah sah di mata hukum sejak dua bulan lalu. Dia menggenggam tangan Aurel yang berkeringat dingin. "Yang kuat ya, Sayang!" uca
"Halo, Biyan. Hasil putusan sidang perceraian Aurel dan Reynold sudah keluar hari ini. Saya baru saja menghadiri persidangannya," ujar pengacara yang disewa Biyan untuk membereskan perceraian Aurel di Yogyakarta.Memang sudah lima bulan proses perceraian itu bergulir tanpa kehadiran dari kedua kubu yang berseteru. Mereka mempercayakan ke tim kuasa hukum masing-masing sejak awal sampai pernikahan yang sah di mata negara itu ketok palu dinyatakan cerai."Halo, Bang Tommy. Gimana hasil putusannya, benar bisa bercerai 'kan?" tanya Biyan penasaran. Dia sedang berada di kandang kuda pagi itu dan menunggu Shaddow dipasang pelananya oleh anak kandang."Iya, benar. Sudah dah bercerai. Mengenai akte pernikahan kamu dan Aurel akan saya proses nanti secepatnya kalau memang semua data di kartu identitas Aurel sudah berubah menjadi janda!" jawab Tommy Simangunsong, pengacara yang mewakili kubu Aurel.Biyan pun tersenyum bahagia bercampur lega. "Makasih banyak, Bang Tommy. Fee untuk tim lawyer seger
Reynold yang mendapat panggilan dari bagian akademik karena ada surat penting dengan kop Pengadilan Negeri Kota Sleman, Yogyakarta sedang berdiri tegang memegang sepucuk surat di tangannya. Dia membaca isi surat yang merupakan gugatan perceraian atas nama Aurel melalui kuasa hukum Pengacara Hans Sebastian Wijaya. "Ini pasti karena hasutan Biyan! Mana mungkin tiba-tiba Aurel melayangkan gugatan perceraian?" gumam Reynold lirih. Belakangan ini pola tidurnya kacau karena insomnia. Lingkaran hitam di sekitar matanya menebal.Jadwal persidangan perdana akan digelar dua hari lagi di Pengadilan Negeri Sleman. Reynold bisa datang sendiri atau menunjuk pengacara untuk mewakilinya. Sekembalinya ke ruang kantornya, Reynold terpekur sembari duduk menatap ke luar jendela. Dia berencana terbang ke Perth untuk menemui Laura meskipun pesan-pesan darinya hanya dibalas singkat seperlunya oleh ibu dari putra kandungnya; Joshua.Dia sendiri yang salah karena meninggalkan Laura demi menikahi Aurel. Namu
"Aurel! Aurel, di mana loe?!" panggil Biyan saat memasuki bangunan induk resort satu-satunya di Pulau Cendawan.Wanita yang dicari oleh Biyan itu sedang mengobrol santai diselingi gelak tawa di dapur bersama dua ART dan Chef Arifin. Mereka menikmati berbagai camilan berbahan dasar tepung aci. Selain itu hasil panen Aurel di kebun belakang dapur diolah Chef Arifin menjadi lauk sayur dan juice buah."Biyan, aku di dapur!" jawab Aurel seraya melambaikan tangan ke pemuda yang masih mengenakan setelan jas abu-abu dengan kemeja putih tanpa dasi itu.Sepasang mata Biyan memancarkan kerinduan terhadap Aurel yang dia tutupi dengan pembawaan tenang terkendali di hadapan para bawahannya. "Ohh ... jadi ya dibikinin cilok dkk, Rel?" tukas Biyan santai."Iya, kenyang banget aku. Btw, kamu sudah makan apa belum dari Jakarta tadi, Bi?" tanya Aurel yang tumben lebih halus dan perhatian.Melihat perubahan sikap perempuan yang dicintainya, Biyan pun mencoba menanggapi dengan baik. Dia menjawab, "Sudah k







