Share

bab 3 Melepas kaca mata.

last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-29 10:25:28

"Naura apakah seperti ini dirimu tanpa topeng?" ucap Daniel dengan suara dingin.

"Kak Daniel, kamu salah paham ... Aku ... " Belum sempat Naura melanjutkan ucapannya, telepon sudah terputus.

Dia limbung terduduk diatas lantai dengan wajah lesu.

Air mata terus luruh dan mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Ntah berapa lama Naura menangis, tapi tiba-tiba ia merasa lapar.

Saat matanya menatap ke arah jendela yang ada didalam kamar, hari sudah gelap.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka, menampilkan Helena yang datang bersama banyaknya pelayan.

"Kamu lulus menjadi menantuku? Dan aku akan memberikan uang saku 200 juta perbulan."

Ucapan Helena membuat kedua bola mata Naura membelalak, dia yang sulit mempercayai ucapan wanita cantik dihadapannya sampai mencubit pahanya beberapa kali.

Helena tersenyum ramah padanya, "Sekarang kamu mandi, lalu makan malam. Karena nanti malam kamu harus menyerahkan tubuhmu lagi untuk penyempurnaan putraku."

Walaupun Naura pintar, ucapan Helena terdengar sangat ambigu.

Dia tidak mengerti, tapi karena sekarang ini dia sudah tidak memiliki tempat singgah.

Penawaran 200 juta perbulan, sungguh sangat menggiurkan.

Dia memilih untuk patuh, segera masuk ke dalam kamar mandi.

Saat masuk ke dalam kamar mandi, Naura kembali takjub.

Saat melihat kamar mandi sangat mewah, bahkan disana sudah disediakan handuk yang diberikan bordir atas namanya.

Hati Naura menghangat, karena sejak kepergian ibunya.

Tidak ada orang yang memperlakukan dirinya istimewa, termasuk juga Daniel.

Daniel hanya memberikan kehangatan semu, nyatanya berpacaran dengannya lebih dari 3 tahun, Daniel sering melupakan janjinya bahkan mengabaikan dirinya.

Seperti tiga hari lalu, saat dirinya berulang tahun ke 20 tahun.

Daniel menjanjikan akan membawanya melihat matahari terbenam, tapi sampai malam tiba.

Pacarnya itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya, bahkan yang lebih memilukan.

Daniel malah lebih memilih datang ke pesta ulang tahun Laura yang diadakan disebuah hotel mewah.

Daniel hanya mendekatinya saat membutuhkan sosoknya.

Mengingat hal itu, hati Naura kembali merasa sakit hati.

Tak berselang lama pintu diketuk.

Naura yang sudah selesai mandi, buru-buru memakai jubah mandinya.

Dia keluar, dan disana dia sudah disambut beberapa orang perias yang duduk didepan kursi make up.

Helena tersenyum hangat saat menatapnya, "Tolong nanti malam puaskan putraku lagi!"

Naura tecengang mendengar ucapan Helena. Dia memberanikan diri untuk bertanya, "Bukankah Tuan Liam sudah meninggal?"

Ekspresi wajah Helena langsung berubah buruk, bahkan langsung menjambak Naura. "Putraku tidak pernah mati, beraninya kamu menanyakan hal itu padaku?"

Jantung Naura seperti melompat dari tempatnya, bukankah dari tadi Helena terlihat ramah dan tersenyum padanya.

Tapi kenapa bisa berubah tiba-tiba seperti ini, bahkan yang aneh.

Naura melihat kedua bola mata Helena berubah menjadi merah darah.

Seorang wanita paruh baya dengan baju pelayan mendekat dan menyuntikkan sesuatu ditubuh Helena.

Tak berselang lama, Helena pingsan.

Beberapa pelayan dengan sigap membopong tubuh Helena.

Naura sedikit merasa ngeri.

Lamunan Naura tiba-tiba buyar, saat pelayan paru baya yang sebelumnya menyuntikkan sesuatu ke tubuh Helena menghampiri dirinya.

"Perkenalkan, nama saya Sania. Saya kepala pelayan di keluarga Arnold."

Naura menatap Sania dengan tatapan dalam, dan Sania membalas tatapannya dengan penuh ketulusan.

"Kamu nggak perlu takut. Kesehatan Nyonya Helena memang buruk setelah Tuan Liam meninggal dunia, dia hanya seorang ibu yang begitu kehilangan putranya ... " Sania menghentikan ucapannya setelah alaram jamnya berbunyi.

Dia menarik pergelangan tangan Naura dengan lembut, menuntunnya untuk duduk dimeja rias.

Naura memilih menurut.

"Rias dengan cepat, kita sedang dikejar waktu. Karena seharian nona kita sudah berpuasa, dia harus ada waktu untuk makan!" titah Sania pada lima perias yang ada disana.

Mereka dengan cekatan menyapukan make up ke wajah Naura yang sebenarnya sangat cantik setelah kaca matanya dilepas.

Naura menjadi panik, setelah kaca matanya dilepas. "Tolong bantu pakaikan kaca mata saya lagi, takutnya saya nggak bisa melihat!"

"Nona, kamu lebih cantik kalau tanpa kaca mata. Tuan tidak menyukai wanita berkaca mata," ucap Sania dengan nada lembut. "Bahkan selera Tuan Liam untuk seorang wanita sangatlah tinggi!"

Naura malah semakin bingung, lantas dia bertanya. "Tuan yang Anda maksud, apakah Tuan Liam?"

Sania menjawab wajah serius. "iya."

Naura bingung lantas memijat pelipisnya. Karena semua orang dirumah ini mengatakan jika Liam sudah mati, dan sekarang ... Naura merasa bingung.

Kalau memang Liam selamat, bukankah harusnya Liam sudah menampakkan batang hidungnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati   bab 91 Tamat.

    Suara tangisan bayi lahir pun terdengar, dari balik kabut asap terlihat Helena dan juga dewa vampir. Liam sempat membeku, tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat karena ketakutan, "Kalian jangan bawa istri dan anakku!" Helena menatap suaminya, wajahnya nampak sedih. Para dokter yang membantu persalinan tiba-tiba pingsan. Bahkan bayi yang sebelumnya nampak menangis kencang, sekarang sudah tidak terdengar suaranya lagi. Waktu sekarang ini seakan berhenti, hanya Liam dan Naura yang masih sadar. Sementara Naura sendiri, ntah kenapa ia merasa tubuhnya bugar seperti tidak terjadi apapun. Ia ingin mengambil bayi yang ada di sampingnya, tapi bayinya langsung di ambil Helena. Sebelumnya Naura masih belum menyadari, apa yang terjadi di ruang persalinan. Setelah tubuhnya bugar, kesadarannya pulih seratus persen. Akhirnya ia menyadari, kalau terjadi sesuatu yang tak biasa di ruang persalinan. Wajah Naura sangat tegang. "Ibu mertua ... " kata Naura dengan tatapan berkaca-kaca, s

  • Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati   bab 90 Steven melepaskan Naura.

    "Naura, apakah aku masih memiliki kesempatan?" Tanya Steven, sekarang ini ia sedang duduk di kursi sofa yang ada di rumah Naura. Naura menyesap tehnya, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Bukankah dari awal kamu mengatakan kita hanya akan menjadi teman? Jujur, aku sudah nggak ingin membuka hatiku untuk siapa- pun." Steven menghembuskan napas kasar. Naura yang melihat wajah muram Steven, sedikit merasa takut kalau sampai tiba-tiba Steven mencekik lehernya karena marah, tapi ia buru-buru menghilangkan segala pemikiran buruknya itu. Steven yang bisa menebak apa yang sekarang ini ada didalam pikiran Naura, berkata dengan nada lembut. "I'ts okey kalau kamu nggak bisa. Naura aku nggak akan memaksamu, kalau begitu aku akan pamit pergi ke luar negeri." Naura menatap Steven dengan tatapan terkejut, "Keluar negeri?" tanyanya. Ia sangat terkejut, mengingat selama ini Steven tidak membahas tentang pergi ke luar negeri. Steven menganggukkan kepalanya. "Ibuku mengkhawatirkan aku, kala

  • Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati   bab 89 Perpisahan.

    Hari ini Liam merasa sangat sedih, karena harus melepaskan ibunya dan juga Sania yang pergi bersama dewa vampir untuk meninggalkan dunia ini. Bukan hanya itu saja, Yanuar dan juga Victor juga ikut. Walaupun sedih, tapi ada kelegaan dari dalam diri Liam. Kalau Daniel juga ikut pergi. Sementara Naura, nampak terisak. Tangannya memegang tangan ibunya, seakan enggan melepaskan. "Meskipun ibu di nobatkan menjadi orang terburuk di dunia ini, kamu tetap ibu yang terbaik untukku ... " ujar Naura penuh kepedihan, seraya melepaskan ibunya. Karina hanya bisa mengangguk sedih, bagaimana pun juga Naura darah dagingnya. Memangnya awalnya ia membenci Naura dan enggan membesarkan gadis itu. Tapi setelah beberapa waktu bersama, Karina sadar ia sangat menyayangi Naura. Kebersamaan dengan putrinya itu akan menjadi kenangan yang berharga. Tiba-tiba Karina berteriak kesakitan, saat Yanuar menarik tali gaib yang membuat lehernya tercekik. "Kamu harus membayar semua kejahatan yang ka

  • Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati   bab 88

    Akhirnya Naura bisa keluar dari kampus itu dengan selamat, setelah Helena menyetujui semua permintaan suaminya. Ia masuk ke dalam mobil Helena bersama dengan Helena, sedangkan Steven ntah pergi kemana. "Naura, aku mau menitipkan Liam padamu. Bagaimana pun juga, dia itu jodohmu," ujar Helena dengan ekspresi sedih. Naura memegang tangan Helena, guna menenangkan ibu mertuanya yang terlihat tidak tenang. "Aku akan berusaha untuk memafkan Liam. Tapi aku minta maaf, karena aku nggak bisa berjanji." Helena menghembuskan napas kasar, "Baiklah. Aku nggak akan memaksamu. Aku hanya ingin mengatakan, setelah ini aku dan Sania akan kembali ke alam vampir. Aku harap kamu jaga diri dan Liam dengan baik." Naura terkejut, "Bibi Sania ikut?" Helena menjawab, "Iya. Karena sebenarnya dia juga bagian dari kaumku. Makanya dia satu-satunya orang yang paling mengerti aku di bandingkan siapapun." Sementara itu, di tempat lain. Yanuar sedang berbicara dengan dewa vampire. "Kamu nggak bis

  • Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati   bab 87 Kedatangan dewa vampir.

    Akhirnya Naura memilih untuk pergi ke kamar mandi umum kampus, dari pada membuatnya semakin pusing. Ia tidak memilih salah satu dari mereka. Saat keluar dari kamar mandi, hanya Steven yang ada disana. Liam dan Daniel sudah tidak ada. Tapi sekarang Naura merasa aneh, dengan suasana kampus. Kenapa ia merasa jika para penghuni kampus seperti boneka? Tingkah dan sikap mereka terlihat begitu datar. Bahkan wajah mereka terlihat sangat pucat. Lalu tatapanya beralih ke arah Steven yang sekarang ini sedang menatapnya. "Naura, ada apa?" tanya Steven. Sebenarnya Naura ingin sekali menanyakan tentang keberadaan Liam dan Daniel pada Steven, tapi ia takut kalau disangka dirinya masih peduli dan menyimpan perasaan. Jadi ia memutuskan untuk tidak banyak bertanya. "Ayo kita kembali ke kelas!!" titah Steven. Naura mengangguk, walaupun sekarang ia merasa perasaannya tidak enak. Tapi Steven yang sebelumnya bucin padanya, nggak mungkin memiliki niat menyakitinya bukan?

  • Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati   bab 86 Naura pusing mengahadapi Liam, Daniel, Yanuar dan Steven di kampus.

    "Steven…" ujar Liam dengan suara tercekat, matanya membelalak saat sosok itu melangkah masuk ke ruang perkuliahan di universitas Taruna. Wajahnya yang dulu penuh semangat kini menampilkan ekspresi tenang namun tajam, mengenakan jas dosen yang rapi, membawa aura berbeda dari yang pernah mereka kenal. Daniel dan Naura yang berada di dekatnya juga tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka; Daniel menggigit bibir bawahnya, sementara Naura menatap Steven dengan campuran rasa penasaran dan was-was. Hanya Yanuar yang tetap bersikap santai, seperti sudah menduga kedatangan Steven sejak lama. "Kalau kamu sudah tidak mau memberikan kesempatan untuk Liam dan Daniel," suara Steven terdengar dalam namun penuh makna, "sepertinya aku yang masih memiliki kesempatan." Ada nada menantang dalam ucapannya, seolah ingin membuka babak baru dalam hubungan mereka yang penuh ketegangan. Sebelum Naura sempat menjawab, Steven berbalik dan melangkah ke depan kelas, membalik halaman materi kuliah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status