Halo semuanya, jangan lupa mampir ke buku baruku ya. Berjudul "Gairah Terlarang: Sahabat Suamiku, Nafsu Rahasiaku" (✿◠‿◠) Jangan lupa tinggalkan ulasan bintang lima dan juga jejak komentar, terima kasih(✿◠‿◠)
“Apa yang kamu lakukan?” desis Daryan dengan nada tajam. Matanya menghunus ke mata Arfan yang berdiri di hadapannya. “Kenapa kamu mengajak istriku bertemu di cafe?” Arfan hendak membuka suara, tapi Daryan belum selesai. “Tidak usah mengelak, ini bukan pertama kalinya aku melihat ini, Arfan! Taman, cafe, dan ...,” suaranya merendah, penuh intimidasi. “Kamu ini dokter atau pacar sewaan, huh?!” Alis tebal Arfan langsung bertaut, bukannya tersinggung dengan ucapan Daryan dia hanya mengulas senyum tipis. “Mari kita bicara sebagai teman saja, supaya lebih enak,” katanya dengan nada angkuh. “Aku dokter, dan kamu CEO. Apa yang kamu ketahui tentang bisnis, belum tentu aku ketahui ... begitu pula sebaliknya.” Daryan menyeringai tipis, penuh sindiran. “Kamu pintar bicara, ya? Sayangnya, kamu terlalu sering muncul di tempat yang bukan seharusnya. Kalau konseling, lakukan di ruang praktik. Bukan di taman. Bukan di cafe. Atau kamu memang sengaja pakai jas putih itu buat kedok?” Arfan tida
“Tahanan nomor 415, dapat kunjungan,” teriak petugas penjara, suaranya keras hingga terdengar oleh Bella yang tengah duduk bersandar di dinding dengan tatapan kosong usai membersihkan halaman belakang kantor. Tapi wanita itu sama sekali tidak bergerak, ia tak sadar kalau nomor tahanan yang dipanggil oleh petugas adalah miliknya. “Tahanan nomor 415 atas nama Bellastia Cardenza mendapatkan kunjungan,” petugas berteriak lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Begitu mendengar namanya, Bella terlonjak kaget. Ia buru-buru bangkit, sapu dan sekop di tangannya terjatuh ke lantai. “Saya dapat kunjungan?” tanya Bella pada petugas wanita yang menatapnya dingin. “Hm,” sahutnya singkat, “Ayo ikut saya.” Bella dengan cepat mengekori langkah petugas, “Ini pasti kak Dewa, dia pasti berubah pikiran dan bakal bawa aku keluar dari sini. Semoga.” Ia mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, berdoa dan penuh harap. Sebelum masuk ke ruang kunjungan, petugas tadi memakaikan borgolnya kem
Saat ini Daryan baru saja tiba di basement apartemen istrinya. Ia tak langsung turun untuk naik ke lantai atas, melainkan memeriksa apakah sang istri sudah tiba di apartemen. Daryan mengeluarkan iPadnya, dan terlihat sang istri sudah pulang. Ia mengangkat alis saat Savana terlihat duduk di tepi ranjang dengan jumper bayi biru muda yang dipeluk erat. Wajahnya yang biasanya penuh kelabu kini terlihat hangat. Bahagia. Savana menciumi pakaian mungil itu, seolah sedang memeluk bayi. Daryan mengerutkan kening, hatinya mendadak bergetar aneh. Ia tak tahu pasti apakah itu kelegaan, haru, atau justru kecurigaan. Segera, ia meraih ponselnya dari saku jasnya dan menekan nama istrinya di layar ponsel. Savana mengangkat setelah beberapa detik, suaranya terdengar agak parau, mungkin karena tangis yang sempat reda. “Halo?” “Aku di basement,” ujar Daryan singkat. “Aku di jalan mau ke apartemen kamu. Aku pengen ketemu sama kamu sayang, boleh kan? Kamu udah pulang kan dari konseling?” Sav
“Halo, dok,” sapa Savana begitu panggilannya dengan Arfan tersambung. “Saya udah sampe di taman, Anda di mana?” matanya melirik ke sekitar taman mencari Arfan. “Di sini, saya di bangku taman. Lihat ke arah barat, saya lambaikan tangan ke arah kamu,” kata Arfan di balik telepon. Savana membawa pandangannya ke arah barat taman, dan mendapatkan Arfan sudah melambaikan tangan padanya. Ia tersenyum kecil dan memutuskan panggilan, lalu menghampiri pria itu. Arfan duduk seorang diri hanya mengenakan pakaian biasa, kemeja putih garis hitam dan celana bahan. Tak ada jas putih dokternya, hanya datang membawa diri dan sebuah kotak di pangkuannya. “Dok, Anda dari tadi?” tanya Savana begitu tiba di hadapan Arfan. Arfan segera menggeleng. “Tidak juga, saya baru sampai. Silakan duduk, Savana.” Wanita itu segera mendudukan diri di sebelah Arfan, tetap menjaga jarak. “Saya kira saya telat cukup lama, dok. Gak enak kalau sampai membuat dokter menunggu pasiennya terlalu lama, karena kan saya
“Nelpon sama siapa dia tengah malam begini?” gumam Daryan dengan kening mengerut, matanya fokus pada layar iPad yang menampilkan rekaman CCTV di kamar istrinya—Savana tengah menerima panggilan dan tampak merasa lebih tenang setelah menerima panggilan tersebut. “Apa teman kampusnya itu?” gumam Daryan lagi. Ia melipat kedua tangan di dada, lalu meraih ponsel dan mencari kontak Revanza. Tak butuh waktu lama, Revanza langsung menjawab panggilan Daryan. “Ada apa, Dar?” suara di seberang sana terdengar berat dan serak, Daryan tahu temannya itu pasti baru saja menerima nafkah batin dari istrinya. “Kalau sibuk, aku telepon besok lagi, Za,” kata Daryan dengan nada rendah, sudah menurukan ponselnya untuk memutuskan panggilan. Tapi belum sempat, Revanza langsung menjawab cepat. “Nggak, Dar. Aku udah selesai. Kalau penting, ngomong aja.” Daryan menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan mulai mengatakan maksudnya menghubungi temannya itu. “Aku butuh alat penyadap di kamar istriku,
Suara detak jam dinding menemani ruang praktik malam itu sekitar pukul sembilan malam. Seorang wanita paruh baya duduk di hadapan Arfan, matanya sembab, menyeka air mata dengan tisu yang sejak tadi tak lepas dari genggaman. “Saya gak tahu lagi harus bagaimana, dok. Suami saya sudah tujuh tahun meninggal, anak-anak sibuk dengan keluarga masing-masing. Saya cuma ... ngerasa kosong,” lirih wanita itu, suaranya bergetar. Arfan mengangguk pelan, mencatat sesuatu di notes-nya. “Perasaan itu valid, Bu. Kesepian memang bisa menggerogoti mental, apalagi kalau tidak dibagi dengan siapa pun.” Wanita itu hanya mengangguk. Arfan tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Kita bisa mulai dari rutinitas baru. Hal-hal kecil yang bisa bikin Ibu merasa ‘ada’. Kita atur sesi lanjutan minggu depan, ya?” Saat wanita itu berdiri dan mengucap terima kasih pelan, Arfan membalas dengan ramah. Namun sesaat setelah pintu ruang praktik tertutup kembali, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar dua kal