LOGINWillow’s life was already a dangerous temptation, sharing a roof with four handsome, towering, and domineering stepbrothers who push every boundary between family and fantasy. But when her father is murdered and her home drenched in blood, on the same day a truth unfolded: her stepbrothers weren't always what they seemed, they were lycans and fate had cruelly marked her to them. Now on the run from traitors of her pack and hunted by an unknown enemy who wants her blood to break a curse she doesn't even have a slightest clue of, Willow is trapped between the pull of her stepbrothers' touch and the fear of surrendering to them completely. The more they protect her in her new surrounding, the more she falls for them and wants to explore her fantasies. They all made a promise to return Willow back to her pack when she's ready and reclaim her father's title as Alpha, but as jealousy began to creep in and the desire to share her diminished into a heated rivalry, can they fulfill their promise to her or this is to be a bond even the moon goddess might regret?
View More"Tidurlah denganku!" kata Dion yang membuat Renata membatu.
Air mata Renata merembes keluar, dirinya tidak menduga kalau Dion atasannya meminta hal yang tidak seharusnya diminta oleh seorang pria beristri.
Renata menatap Dion dengan tatapan yang tak biasa, dia tidak menduga jika Dion tega terhadap bawahannya sendiri.
Suami Renata sakit keras saat ini sehingga dia memerlukan banyak uang untuk biaya operasi sang suami dan Dion lah opsi terakhir Renata namun syarat dari Dion pantang dilakukan.
Apa ini, bagaimana bisa seorang istri tidur dengan pria lain saat suaminya sakit keras?
"Pak, suami saya sedang sakit keras bagiamana anda bisa meminta saya untuk tidur dengan anda?" tanya Renata dengan air mata yang terus mengalir.
Dion tertawa lalu beranjak dari kursi kebesarannya, dia mendekati Renata dan
meletakkan sebagian pantatnya di ujung meja dengan kaki yang ikut menumpu tubuhnya."Itu masalah kamu Renata, aku hanya memberikan dua opsi, pertama tidur denganku dan dapatkan uangnya. Kedua, kamu menolak permintaan aku dan melihat suami kamu meregang nyawa," kata Dion.
Air mata Renata mengalir semakin deras, hatinya sungguh tercabik, dilema kini bersarang di hatinya. Apa dia terima saja keinginan Dion, toh Andika suaminya juga nggak akan tau.
"Cepatlah Renata, aku tidak ada waktu menunggumu berpikir apalagi dibarengi dengan tangisan yang membuat aku muak," ucap Dion.
Renata mengiba dan memohon namun Dion tidak mau diajak berunding sehingga mau nggak mau dirinya menyetujui keinginan Dion.
"Baiklah," kata Renata.
Tersungging senyuman di bibir Dion, akhirnya dia dapat menyalurkan hasrat yang selama sebulan ini tak tersalurkan.
Dion adalah seorang CEO, dia memiliki istri seorang dokter, sedangkan Renata adalah staf di kantor Dion. kemungkinan Dion kurang perhatian dan sentuhan dari sang istri.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Dion.
"Satu Milyar," jawab Renata.
Dion membolakan matanya, tak disangka Renata memerlukan uang yang sangat banyak.
"Banyak sekali," sahut Dion.
"Anda bisa memotong dari gaji saya setiap bulan Pak?" ucap Renata.
Dion tertawa, kalau dipotong dari gaji, berapa tahun Renata baru bisa melunasinya.
"Karena kamu adalah staf aku jadi kamu nggak perlu hutang," tukas Dion.
Mata Renata berbinar tak disangka Dion masih berbiak hati padanya.
"Terima kasih pak," ucap Renata.
"Tapi satu kali kamu tidur denganku aku akan membayarnya seratus juta, kalau kamu memerlukan uang satu milyar bearti kamu harus tidur denganku sepuluh kali," ungkap Dion.
Lagi-lagi Renata membolakan matanya, dia kira Dion hanya sekali tidur namun Dion meminta lebih.
Kalau dipikir seratus juga adalah nilai yang kecil jika ditukar dengan harga dirinya tapi bagaimana lagi? biaya rumah sakit untuk pasien kanker memang tidak murah apalagi harus kemoterapi dan lain-lain.
"Kenapa harus begitu?" tanya Renata.
"Seratus juta itu sudah angka yang fantastis mengingat kamu tidak virgin lagi, tapi kalau menurut kamu harga yang aku tawarkan terlalu murah, kamu cari saja orang lain," jawab Dion lalu dirinya beranjak dan siap-siap untuk pulang.
Pikiran Renata kalut, dia sungguh dilema. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima harga yang ditentukan bos nya tersebut.
"Bagus, habis ini ikut aku ke hotel," kata Dion.
"Baik Pak," sahut Renata.
Setibanya di kamar hotel, Dion membersihkan diri lalu keluar dengan handuk kimono yang sudah di sediakan oleh pihak hotel sedangkan Renata hanya diam membatu di sofa sembari meremat jari-jemarinya.
Dion menghela nafas, dia sungguh kesal dengan Renata yang malah duduk mematung di sofa.
"Renata, apa kamu pikir dengan hanya duduk di sana hasrat aku akan tersalurkan?" protes Dion.
"Maaf pak, kalau begitu saya mandi dulu," sahut Renata lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setalah selesai mandi, Renata keluar dengan memakai pakaiannya kembali. Dion yang melihatnya menepuk tempat di sampingnya meminta Renata untuk mendekat.
"Kemari lah Renata," titah Dion.
Dengan langkah pelan dan tubuh gemetar, Renata mendekati Dion, dia duduk di tepi ranjang dengan pandangan ke bawah alias menunduk.
"Kalau kamu duduk membelakangi aku kira-kira kapan kita bisa memulai percintaan kita Renata." Lagi-lagi Dion protes pada Renata.
Dion sungguh heran perasaan Renata adalah wanita bersuami seharusnya dia tau bagaimana adabnya orang yang akan bercinta.
"Maaf Pak," kata Renata.
Renata menghela nafas, perlahan dia mendekat namun masih dengan pakaian lengkapnya.
"Kamu sungguh membuat aku pusing, aku memberi kamu pilihan, aku atau kamu sendiri yang melepas pakaian kamu," kata Dion dengan nada yang tinggi.
"Biar saya saja," sahut Renata dengan takut.
"Oh ya tapi aku ingatkan, kamu jangan sekali-kali baper dengan percintaan panas kita, ini hanya untuk kesenangan semata nggak lebih," kata Dion.
Renata mengangguk sambil melepas satu persatu kancing bajunya.
Setelah semua terlepas dari tubuhnya, Renata menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Aku heran denganmu, baju dilepas tapi kini tubuh dibungkus selimut, mau kamu itu apa?" tanya Dion heran.
"Saya malu pak," jawab Renata, seakan tidak ingin tubuhnya dinikmati oleh Dion.
"Buka!" bentak Dion, dirinya sudah kehilangan kesabaran.
Dengan gemetar Renata membuka selimut yang menutup tubuhnya dan kini tubuhnya polos di samping Dion.
Dion menelan salivanya, sungguh Renata memiliki tubuh putih bersih dengan bagian dada yang lumayan besar.
"Apa kamu siap dengan percintaan panas kita?" tanya Dion yang juga ikut melepas handuk kimono yang dia pakai.
Langsung saja Dion menerjang Renata, dengan hasrat yang terus bergejolak dirinya menikmati bibir manis Renata, tangannya terus bergerilya menjelajah seluruh tubuh wanita yang akan memuaskannya.
Air mata Renata lolos sudah, tubuh yang seharunya dia jaga untuk sang suami kini harus dia bagi dengan pria lain yang tak lain adalah bosnya sendiri.
"Maafkan aku mas Andika yang telah berhianat," batin Renata.
Lidah Dion terus menjelajah pucuk dada Renata sehingga membuat Renata mengeluarkan desahan lirih.
Puas dengan dada Renata dia segera menyatukan miliknya dan milik Renata.
"Aaahhhhhhh," lengu-han panjang dari keduanya terdengar nyaring.
Baik Dion maupun Renata sama-sama merasakan nikmat yang luar biasa. Goa yang masih sempit membuat Dion terasa dijepit.
"Nikmat sekali Renata, bagiamana bisa wanita bersuami memiliki goa yang begitu menggigit seperti ini," kata Dion yang mulai memaju mundurkan miliknya.
"Iya," sahut Renata dengan memejamkan matanya membayangkan kalau yang bercinta dengannya adalah Andika sang suami.
Renata memang masih memiliki goa yang sempit karena dirinya baru dua tahun menikah dan setahun terakhir ini dirinya jarang sekali disentuh karena sakit yang diderita Andika sang suami.
Keduanya hanyut dalam percintaan panas penuh nikmat hingga mereka lupa kalau mereka adalah istri dan suami orang.
Branches clawed at my arms and face as I ran. My lungs burned, legs shaking so badly I thought they’d buckle with every step. Sweat stung my eyes, soaked my shirt, and plastered hair to my neck. I didn’t dare look back. I couldn’t stop. If I stopped, Kris’s scream would catch up to me, or worse…the thing inside him would.The village edge appeared through the trees like a promise. I burst into the clearing, gasping, stumbling, almost falling. As I entered through the entrance, faces turned to me. Whispers rippled. I didn’t care.Zane was already moving toward me, shirtless, heaving, skin streaked with dirt and drying blood from the gash on his forehead. His eyes were black, furious, searching every inch of me before he reached me.He didn’t speak. Just cupped my face with both hands and kissed me hard, tasting like salt and fear and relief. Then he scooped me up, one arm under my knees, the other around my back, holding me against his chest like I might disappear again.“You okay?”
Kris bent down without warning, hooked one arm behind my knees and the other around my back, and hoisted me up onto his shoulder like I weighed nothing. My stomach pressed against the hard ridge of his muscle, my head dangled down his back. The world tilted beneath me…dirt path, bushes, Zane’s still body shrinking behind us as he took me away.Two lycans stepped out from the thick bushes, moving towards us, their eyes fierce and dangerous. They were tall, scarred, dressed in leader clothes filled with furs.They look like scouts. One clapped slowly, the sound sharp in the quiet forest. The other grinned.“Good work, Kris,” the first one said, voice low and approving. “The Lycan king will be pleased. We were beginning to think we’d be hanging out here and waiting on you forever.”Kris didn’t answer. He just adjusted his grip on my thighs and kept walking, boots crunching leaves.They were waiting?My head banged. How did he? I thought no one knew the location of the village except for
The spear tip hovered an inch from Zane’s throat. One twitch and blood would spill.I couldn’t breathe. My feet moved before my brain caught up.“Stop,” I said, voice cracking but loud enough to cut through. I pushed between Zane and the spear, palms raised. “Just stop. Please.”Zane’s hand shot to my shoulder, trying to shove me back. “Willow…”“No.” I shook him off, heart slamming so hard I thought it would bruise my ribs. “No more blood. Not today. Not any of you.”The men didn’t lower the spears. Their eyes stayed cold, locked on us.“I’d go with them," my lips moved before I realized. I just wanted to end it all. It was too much.“You're not going with them," Zane argued.“No she's not," Thane gripped my waist gently and pulled me back. “Willow stays with us.""Then none of you are going anywhere,” the man in front shouted. "You're not walking past us."Axel stepped forward, calm, almost bored. “You want one person to stay behind, right? Fine. Take me. Leave the rest.”The lead m
I woke to the sound of the birds whistling outside, yawning with my mouth wide open before looking around.Somehow we’d all ended up on the couch last night, too wired to separate, too tired to care about comfort.The four of them had arranged themselves around me like a living barricade, Kris stretched out at one end, legs hanging off, Thane curled against the armrest on my left, Axel half-slumped on the floor with his back to the couch legs, Zane sprawled closest to me, one arm thrown across the backrest.Kris turned around to me, realizing I had woken up. I was second to wake before the others stretched and opened their eyes.The morning sun slipped through the little splintered holes in the boarded window, throwing thin golden spears across the dusty floor and over their faces. Dust motes drifted in the light like tiny ghosts.No one spoke.Kris stirred first. A low, rumbling yawn broke the quiet. He rubbed a hand over his face, eyes still heavy. His eyes met mine again, he looked
The men retreated backwards, following the lady with their eyes still on us. Finally they got out and shut the door behind them.I froze where I stood. I couldn't turn back to my stepbrothers. I was nervous, I was scared, my fingers twitched around the dagger.The old man's head was on the ground,
“Zed," Zane called his name coldly.Zed walked towards us confidently, swaggering. He stood face to face with Zane and stared him in the eyes.“Where is my cable?"Zane didn't say a word back.He tilted his head, checking both of Zane’s hands. Then his eyes moved to mine.“Where's my cable Zane?"M
The door creaked open just wide enough for the violent elder to step inside. No one else followed. He stood there alone, broad shoulders filling the frame, the same man who’d thrown himself between us and the mob earlier. His eyes swept the room, over Zane’s hand still hovering near his knife, ove
The violent elder…the one who had just declared he would fight alongside us…shoved his way between Zane and the surging crowd, arms spread wide like he could physically hold back the tide of rage.“Enough!” he bellowed, voice cutting through the air. “Think, all of you! Before you spill blood and d
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.