Home / Romansa / Dirty Office / Bab 253 CEO Baru Arkana

Share

Bab 253 CEO Baru Arkana

Author: Cynta
last update Last Updated: 2026-03-05 17:00:58

​Aruna mengabaikan protes Keenan sejenak dan menjawab Alexander. "Saya menerima tawaran menjadi staf divisi riset, Pak Alexander. Saya ingin membuktikan kepada semua orang bahwa saya berada di perusahaan ini karena kemampuan saya, bukan karena saya merayu CEO. Saya akan mulai dari bawah lagi."

​Keenan menarik tangan Aruna dengan kasar, memaksa wanita itu duduk di tepi ranjang. Matanya berkilat marah. "Kamu gila? Mereka akan menginjak-injakmu di sana, Aruna! Tanpa aku di kantor,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dirty Office   Bab 262 Gosip dari Balik Ruang CEO

    Keenan yang memperhatikan dan mendengarkan semuanya merasa begitu cemas, ia pun tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mencegah Aruna. ​[Aruna, jangan masuk ke sana sendirian. Aku bersumpah, kalau dia menyentuhmu, aku akan meledakkan server perusahaan itu sekarang juga,] suara Keenan terdengar serak dan penuh ancaman di telinganya. ​[Tenang, Keenan. Kamu menonton semuanya, kan? Dia tidak akan berani macam-macam di kantor saat semua orang sedang memperhatikanku,] bisik Aruna lirih sambil melangkah menuju lantai atas. ​Begitu pintu lift terbuka di lantai CEO, suasana sunyi langsung menyambutnya. Namun, kesunyian itu terasa begitu mencekam. Aruna melewati meja sekretaris yang kini diisi oleh Zaskia. Sahabatnya itu memberikan tatapan cemas. Zaskia berdiri, berpura-pura merapikan dokumen saat Aruna lewat. ​"Hati-hati, dia sedang dalam suasana hati yang... Aneh," bisik Zaskia nyaris tak terdengar. ​Aruna mengang

  • Dirty Office   Bab 261 Aruna Terperangkap di Dalam

    ​Di apartemen, Keenan yang sedang memantau audio ruangan Aruna tapi tiba-tiba mendengar suara batuk-batuk yang hebat dan suara gemeretak api. [Aruna?! Aruna, jawab aku! Apa yang terjadi?!] ​Tidak ada jawaban. Keenan panik. Ia mencoba menghubungi ponsel Aruna, tapi dialihkan ke kotak suara. Keenan pun segera menghubungi Nando, "NANDO! KE RUANGAN ARUNA SEKARANG! ADA YANG TIDAK BERES!" teriak Keenan dengan sangat panik. ​Nando tidak membuang waktu. Ia berlari menuruni tangga darurat menuju lantai bawah tanah. Saat sampai di depan gudang riset, asap sudah keluar dari celah pintu. ​"ARUNA!" Nando menendang pintu itu dengan sekuat tenaga. BRAKK! BRAKK! BRAKK! Pintu akhirnya terbuka setelah tendangan ketiga. Nando segera menerjang masuk ke dalam menerobos kepulan asap. Ia melihat Aruna sudah tersungkur di lantai dekat meja riset, tangannya masih berusaha meraih sebuah kotak berisi data risetnya. ​"A

  • Dirty Office   Bab 260 Sabotase Laboratorium

    ​Keenan mencoba membuka pintu mobil, namun Aruna menahannya dengan sekuat tenaga. Ia memeluk leher Keenan, membenamkan wajahnya di dada pria itu. ​"Keenan, jangan! Jangan hancurkan rencana kita hanya karena bajingan mabuk itu!" isak Aruna. "Dengarkan aku... jika kamu menyerangnya sekarang, Alexander akan punya alasan untuk memenjarakanmu lagi. Kita butuh Global Medika. Kita butuh bukti kejahatannya. Tolong, tenanglah demi aku... Demi bayi kita." ​Mendengar kata 'bayi', tubuh Keenan yang tegang perlahan melunak. Ia mengatur napasnya yang memburu, meski matanya masih berkilat penuh amarah. Ia mencium kening Aruna dengan kasar, menyalurkan rasa protektifnya yang luar biasa. ​"Satu kali lagi... Kalau dia menyentuhmu satu kali lagi, aku tidak akan peduli pada rencana apa pun. Aku akan meratakan gedung itu," desis Keenan. ​Keenan menoleh pada Nando. "Nando, pastikan CCTV kejadian tadi diamankan. Itu akan jadi kartu as kita nanti.

  • Dirty Office   Bab 259 Inovasi Baru Aruna

    ​Di dalam ruang bawah tanah yang kini menjadi wilayah kekuasaannya, Aruna menatap monitor laptop dengan tatapan serius. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard, menyusun formula molekul polimer terbaru yang ia yakini akan mengubah standar industri alat kontrasepsi dunia. ​"Sedikit lagi... Kalau elastisitasnya ditambah 0,5%, ketipisannya bisa mencapai 0,01 milimeter tanpa risiko robek," gumam Aruna dengan mata yang mulai memerah karena kurang tidur. ​Earphone kecil di telinganya bergetar. Suara berat Keenan terdengar, mengisi kesunyian ruangan pengap itu. ​[Aruna, istirahatlah. Ini sudah jam dua siang dan kamu bahkan belum menyentuh air minummu,] tegur Keenan. Meski suaranya terdengar otoriter, ada nada kecemasan yang mendalam di sana. ​Aruna tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras. [Aku hampir menemukannya, Keenan. Inovasi ini... Ini akan menjadi tiket kita untuk membungkam Julian dan para direks

  • Dirty Office   Bab 258 Strategi Setelah Puncak Gairah

    Aruna tersenyum melihat reaksi Keenan, ia mulai melepaskan pakaiannya sendiri di depan mata Keenan yang menggelap karena gairah. Dalam remang lampu kamar, lekukan tubuh Aruna tampak seperti pahatan paling indah di mata Keenan. Aruna merangkak naik kembali, memposisikan dirinya di atas pangkuan Keenan. ​"Aruna... Kamu akan membunuhku dengan cara seperti ini," gumam Keenan parau. Tangannya yang besar merayap naik, meremas kedua squishy Aruna dengan penuh tuntutan, sementara ibu jarinya memainkan puncak choco chips hingga Aruna melenguh panjang. “Sshhh.. Oouugghhh..” ​Ciuman mereka kembali bertaut, kali ini lebih dalam dan basah. Lidah mereka saling memagut, bertukar saliva yang semakin liar. Aruna mulai bergerak perlahan di atas Keenan, memberikan gesekan lembut yang membuat Keenan mengumpat dalam keinginan yang menyiksa. ​"Ahhh... Aruna... Cepat masukkan, sayang," pinta Keenan sambil mencengkram paha Aruna, membantunya menga

  • Dirty Office   Bab 257 Gairah di Apartemen Kecil

    ​Mereka sampai di depan sebuah gedung apartemen menengah, Keenan tampak ragu. Unitnya berada di lantai 12. Saat pintu terbuka, aroma kayu, furnitur lama dan udara yang agak lembab menyambut mereka. Ruang tamunya kecil, hanya ada sofa sederhana, televisi, dan dapur minimalis yang menyatu. Tapi masih ada dua kamar dengan kamar mandi di masing-masing kamar. ​"Maaf, Aruna. Tempat ini jauh dari kemewahan yang biasa kuberikan padamu," kata Keenan pelan saat Nando meletakkan koper terakhir di sudut ruangan. ​Aruna melihat sekeliling. Ia melihat jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu kota yang sederhana. Ia berbalik dan merangkul leher Keenan. "Ini sempurna, Keenan. Tidak ada pelayan yang menguping, tidak ada pengawal di depan pintu, dan tidak ada Papa atau Mama yang bisa masuk sembarangan. Di sini, kita hanya kita berdua.." ​Keenan tertegun, lalu ia tersenyum tulus, senyum yang jarang sekali terlihat. Ia menarik pinggang Aruna, menekan tubuh wanita itu ke tubuhnya yang masih te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status