Masuk‘Meninggal?’ kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. ‘Apa maksudnya? Papa tidak sedang menulis surat wasiat, kan?!’Selama ini Keenan membenci Papanya. Ia mengutuk setiap tindakan Alexander yang otoriter. Namun, mendengar bahwa ada sebuah perjanjian yang dipersiapkan khusus untuk skenario sang Papa, membuat hatinya terasa berdebar dan sesak. Rasa sakit yang asing menjalar, sebuah rasa takut akan kehilangan yang belum pernah ia akui sebelumnya."Keenan!"Sebuah suara lembut yang sangat ia kenal memecah keheningan. Aruna keluar dari kamar Stella, wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa saat melihat postur tubuh Keenan yang tidak berdaya bersandar di dinding. Aruna segera berlari menghampiri dengan langkah kaki yang terburu-buru. "Keenan, ada apa?" Aruna langsung memegang kedua sisi wajah Keenan, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Nando, apa yang terjadi?"Keenan tidak menjawab. Ia
’Aku ingin dengar, apa yang dia bicarakan,’ Keenan melangkahkan kakinya tanpa mengeluarkan suara sama sekali saat menapak di atas lantai granit rumah sakit. Sepatunya seolah tidak menyentuh koridor lantai VIP yang begitu sunyi dan terasa mencekam.Sementara mata birunya yang tajam kini menyipit, tertuju sepenuhnya pada sosok Nando yang berdiri membelakanginya di ujung lorong, tepat di dekat jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota.Nando tampak gelisah. Bahunya menegang, dan satu tangannya yang bebas terus meremas pinggiran jasnya sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga."Iya... Aku tahu, semua masih aman padaku," bisik Nando, suaranya sangat rendah seakan takut pembicaraannya didengar seseorang. "Aku sedang menunggu saat yang tepat. Situasi di sini sangat tidak menentu... Tidak, jangan sekarang. Pak Alexander masih belum stabil."Keenan berhenti tepat tiga langkah di belakang Nando. Ia bisa mencium aroma kecemasa
"Keenan... Mama ada di sana," bisik Aruna sambil melirik ke arah ranjang Stella yang sudah kembali tertidur karena pengaruh obat penenang. "Mama sudah tidur, Sayang. Dan aku butuh kamu di tengah semua kekacauan ini," gumam Keenan. Ia mulai menciumi leher Aruna, mencari jejak kissmark yang ia buat di kantor saat pagi sebelumnya. Sentuhannya terasa begitu menuntut, seolah ingin menghapus rasa takut kehilangan Papanya dengan merasakan sentuhan istrinya secara penuh. Tangan Keenan merayap masuk ke balik kemeja sutra Aruna, meremas lembut pinggangnya. "Kamu tahu betapa bangganya aku padamu hari ini?" bisik Keenan tepat di telinga Aruna, napas panasnya membuat Aruna meremang. "Cara kamu menangani Papa, cara kamu bernegosiasi dengan Yosua... Kamu benar-benar Ratu di Arkana Group sekarang, sayang." Aruna melingkarkan lengannya di leher Keenan, memainkan rambut di tengkuk suaminya. "Aku hanya ingin kita
"Dokter! Lakukan sesuatu! Jangan biarkan dia pergi seperti ini!" teriak Keenan. Suaranya menggelegar di lorong rumah sakit yang sunyi, memecah ketegangan yang terasa mencekam. Tangannya mencengkram pinggiran kursi tunggu hingga kuku jarinyamemutih. Matanya yang biru, yang biasanya memancarkan otoritas dingin, kini bergetar hebat melihat tubuh Papanya tersentak keras di atas ranjang ICU setiap kali alat defibrilator itu dihantamkan ke dadanya. "Keenan, tenanglah..." Aruna mencoba meraih bahu suaminya, namun ia sendiri merasakan kakinya lemas. "Bagaimana aku bisa tenang, Aruna?! Dia belum membayar semua air mata Mama! Dia tidak boleh mati sebelum melihat kita berhasil!" Keenan berbalik, langsung menyambar tubuh Aruna ke dalam pelukannya yang menyesakkan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aruna, mencari sisa-sisa kewarasan dan kekuatannya di sana. Di dalam ruangan, suasana makin kacau. Suara bip panjang dari monit
Aruna tersenyum tipis, ia mendekat dan berbisik tepat di telinga Keenan, "Karena aku adalah istrimu, dan aku ingin pria yang kucintai tidak memiliki penyesalan dalam hidupnya. Sekarang, lepaskan aku sebentar, atau naga milikmu itu akan membuat ku tidak bisa meninggalkan rumah sakit ini." Keenan terkekeh rendah, rasa panas menjalar di tubuhnya saat merasakan napas Aruna di telinganya. Ia menarik tengkuk Aruna dan membungkam bibirnya dengan lumatan yang penuh gairah di koridor rumah sakit yang sepi itu. Ciuman yang menuntut, penuh rasa lapar yang belum tuntas dari kejadian di kantor tadi siang. "Segeralah kembali. Aku tidak bisa menjamin kewarasanku kalau kamu terlalu lama pergi disaat baru saja datang," bisik Keenan setelah melepaskan tautan bibir mereka. “Aku akan kembali secepatnya, Keenan..” Aruna melangkah kembali ke parkiran menuju mansion bersama sopir, sementara Nando menemani Keenan dirumah sakit.
[Kamu selalu tahu cara melunakkan hatiku, bahkan di saat aku ingin menjadi batu, Aruna. Baiklah, akan aku pikirkan sambil menunggumu datang ke sini..] [Baiklah aku kan segera datang, Keenan. Aku akan segera menyelesaikan draf ini dan menyusulmu. Aku merindukanmu,] bisik Aruna, memberikan sentuhan romantis untuk meredakan ketegangan suaminya. [Aku lebih merindukanmu. Cepatlah datang,] pinta Keenan dengan nada sensual yang membuat perut Aruna berdesir. Setelah panggilan terputus, Aruna masih menggenggam ponselnya erat. Suara berat suaminya yang penuh keletihan sekaligus hasrat yang tak tersembunyi masih terngiang di telinganya. Ada beban berat yang kini terpikul di pundak Keenan, beban sebagai seorang anak yang melihat ayahnya sekarat, sekaligus beban sebagai pemimpin yang harus menjaga agar kerajaan bisnisnya tidak runtuh. ‘Aku harus segera menyelesaikan sekarang, Keenan membutuhkan ku saat ini..’ Aruna me
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s







