LOGINSuasana di basement gedung Arkana Group terasa dingin dan pengap. Bau bahan kimia elastomer yang menyengat memenuhi indra penciuman, membuat suasana semakin mencekam. Julian berdiri di ambang pintu gudang bahan baku dengan napas memburu. Matanya liar, tangannya gemetar memegang pemantik api yang apinya sesekali menari seakan mengancam akan melahap ribuan galon bahan mudah terbakar di dalam sana.
"Julian, letakkan pemantik itu. Jangan bertindak bodoh!" suara Keenan menggema, rKeenan bergeser pelan, turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon kamar, menutup pintu kaca dengan rapat sebelum menerima telepon. [Ada apa, Nando? Apa ada yang penting?] desis Keenan dengan nada dingin.[Maaf mengganggu momen mu malam-malam, Keenan. Tapi kita punya masalah besar. Perusahaan farmasi saingan di luar negeri, baru saja merilis pengumuman bahwa mereka akan memblokir jalur distribusi polimer kita di pasar Barat kalau kita tidak menyetujui perjanjian kerjasama yang merugikan itu.]Rahang Keenan mengeras. Matanya yang tadi melembut kini berkilat tajam seperti predator.[Mereka pikir mereka siapa bisa mendikte Arkana?][Mereka tahu kita baru saja meluncurkan produk dan posisi kita sedang rentan karena fokusmu terbagi ke keluarga. Kamu harus masuk kantor besok pagi, Keenan. Kita harus membahas proyek ekspansi ke luar negeri secara agresif untuk memukul balik mereka. Rapat dewan direksi dijadwalkan jam sembilan pagi.]Keenan terdiam sejenak, melirik melalui pintu kaca
Perjalanan menuju Penthouse terasa begitu cepat karena pengawalan ketat membuat jalan lancar. Begitu sampai di dalam penthouse, Aruna merasa lega. Harum aroma terapi lavender yang biasa ia hirup menyambutnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Siang itu, di kamar utama yang luas, persaingan antara dua laki-laki Arkana, dimulai. Aruna baru saja selesai mandi dan sedang duduk di sofa panjang mengenakan daster sutra tipis yang memudahkan akses untuk menyusui. Kenzo mulai merengek, tanda bahwa ia lapar. Baru saja Aruna membuka kancing atas dasternya, pintu kamar terbuka. Keenan masuk dengan wajah yang terlihat sedikit kusut setelah menerima telepon dari kolega bisnisnya di luar negeri. Begitu melihat Aruna yang bersiap menyusui, langkah Keenan langsung tertuju ke sana. "Dia lapar lagi?" tanya Keenan, suaranya memberat saat melihat sekilas pucuk choco chips Aruna yang mulai terekspos. "Iya, sepertinya Kenzo sedang d
Aruna hanya bisa pasrah. Meski tubuhnya masih dalam masa pemulihan, gairah yang dipicu oleh sentuhan nakal Keenan membuat rasa nyeri pasca operasinya selalu terlupakan. Ia menggerakkan tangannya, menyelinap ke dalam celana Keenan, meraih 'naga' yang sudah menegang hebat dan berdenyut menuntut pelepasan. "Sshhh... Ya, Aruna... Mainkan untukku, dia selalu merindukan sentuhan mu.." rintih Keenan saat jari tangan terampil Aruna mulai bergerak naik turun secara intens. Keenan terus sibuk menjelajahi bagian atas tubuh Aruna, menghisap dan menggigit kecil area sensitif istrinya, sementara Aruna fokus memberikan kenikmatan pada suaminya melalui tangannya. Suara napas yang memburu dan desahan tertahan memenuhi ruangan itu, menciptakan gairah yang hanya milik mereka berdua. Setelah beberapa menit yang semakin intens, tubuh Keenan akhirnya menegang. Ia membenamkan wajahnya di dada Aruna saat semburan kenikmatan itu kembali datang. "Oouugghhh...
Malam itu, saat Aruna sedang mencoba menyusui Kenzo untuk pertama kalinya di ruang perawatan, Keenan berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa haru melihat istrinya menjadi ibu, namun ada juga rasa cemburu yang konyol muncul di hatinya.Aruna masih betah duduk bersandar di kursi laktasi yang nyaman, mendekap Kenzo yang mungil dalam pelukannya. Bayi itu tampak sangat tenang, mulut kecilnya bergerak-gerak teratur, menyusu dengan kuat pada dada Aruna.Wanita itu menunduk, menatap wajah putranya dengan rasa haru yang tak terbendung. "Anak pintar... Susunya enak, ya?" bisiknya lembut sambil mengelus pipi halus Kenzo.Namun, ketenangan itu mulai terusik karena suara helaan napas berat dari arah pintu. Keenan terus berdiri di sana, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Bukannya terlihat bangga, wajah tampan sang CEO itu justru tampak kesal. Matanya terus terpaku pada posisi kepala Kenzo yang menempel di dada Aruna."Sudah berapa lama
Aruna mulai bekerja. Ia membuka bibirnya yang merah, lalu melumat ujung naga itu dengan lembut. Lidahnya bermain lincah, memberikan sentuhan kombinasi antara hisapan kuat dan jilatan halus yang membuat tubuh Keenan bergetar hebat. Aruna menggunakan keterampilannya, memadukan gerakan tangan yang naik turun secara konsisten dengan bibirnya yang menghisap dalam."Oohh, sial... Aruna... Kamu sangat hebat," desah Keenan. Napasnya memburu, mengikuti irama desakan Aruna.Keenan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur secara reflek, masuk lebih dalam ke dalam mulut Aruna yang hangat dan basah. Setiap kali bibir Aruna menyentuh pangkalnya, Keenan mengerang panjang, urat-urat di lehernya menonjol, memperlihatkan betapa ia sangat menikmati 'servis' dari istrinya.Aruna tidak berhenti. Ia menatap ke atas, ke arah wajah Keenan yang tampak sangat tersiksa oleh kenikmatan. Ia ingin memberikan segalanya untuk suaminya malam ini. Ia mempercepat gerakan tangannya, sementara bibirnya menghisap kep
Keenan menoleh ke arah Aruna dengan alir berkerut lalu memeluk tubuh Aruna dengan erat sebelum pandangannya tertuju ke arah Papapnya. “Ada apa, Pa?! Kenapa tidak datang besok saja?! Sekarang tidak tepat..” gumamnya sambil menghela nafas beratAlexander tertawa kecil mendengar kata-kata putranya, ia berjalan mendekat ke sisi ranjang. "Papa tidak bisa menunggu sampai besok. Setelah melihat presentasi Aruna tadi, Papa tahu bahwa masa depan Arkana Global Medica ada di tangan kalian berdua. Dan lebih penting lagi, ada di tangan cucu Papa."Alexander meletakkan map hitam itu di atas pangkuan Aruna."Apa ini, Pa?" tanya Aruna bingung."Buka saja.. Kalian sudah menyiapkan nama untuk cucu Papa, kan?” Alexander memastikan. “Tentu saja, kami baru memulihkan nama untuknya. Kenzo Zevano Arkana..” kata Keenan dengan bangga.“Bagus!” Alexander mengembangkan senyumnya dengan lebar. Aruna membuka map tersebut dengan tangan gemetar. Matanya membelalak saat membaca dokumen di dalamnya. Itu akta p
Suasana didalam ruangan itu terasa hening seketika, apalagi saat mata Keenan mulai menggelap, rahangnya tampak mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Namun, bukannya meledak dalam teriakan dan kemarahan, Keenan justru tertawa rendah, suara tawa yang terdengar lebih menakutkan daripada teriakan
Zaskia menelan ludah, ia merasa aura di ruangan ini benar-benar berbeda. Ia merasa seperti sedang berada di dalam ruang interogasi polisi. Walaupun ragu, akhirnya Zaskia duduk di depan meja Keenan. "Saya sudah melihat portofolio mu. Menarik. Tapi di Arkana Group, kami tidak butu
Keenan mulai memberikan permainan lidah di sana. Ia menghisap choco chip Aruna dengan kuat, menciptakan sensasi yang membuat Aruna mencengkeram rambut Keenan erat. Desahan Aruna memenuhi ruangan CEO yang kedap suara itu. Keenan terus turun, memberikan ciuman-ciuman panas di sepanjang perut rata Ar
Di dalam ruangan, hening menyelimuti. Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. "Keenan... aku mau mati saja. Ini memalukan sekali..." isak Aruna pelan karena rasa malu yang sudah melampaui batas. Keenan berdiri, menghampiri Aruna dan memeluknya dari belakang







