MasukSuara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari balik pintu ruangan CEO. Aruna berusaha melepaskan diri dari dekapan Keenan, ia semakin meronta dalam pangkuan Keenan, jantungnya pun berdegup kencang karena ketakutan.
"Keenan, aku mohon... Lepaskan aku. Jangan seperti ini!" rintih Aruna, air matanya sudah membasahi pipi. Keenan justru mempererat pelukannya, satu tangannya mencengkeram pinggang Aruna dengan posesif, sementara tangan lainnya sengaja mengusap[Halo, Zaskia? Ada apa?] Di seberang telepon, suara Zaskia terdengar sangat panik dan lelah. Di belakangnya, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang dan bersahutan. [A-Aruna! Syukurlah kamu angkat! Aduh, Aruna... Kenzo dan Kenzie rewel sekali!] teriak Zaskia di telepon. [Sepertinya mereka merasakannya kalau kamu tidak ada di mansion. Sejak tadi mereka tidak mau minum susu, tidak mau digendong suster, mereka terus berteriak mencari 'Mamama'!] Aruna seketika merasa dadanya sesak mendengar tangisan kedua buah hatinya. [Astaga... Kenzo, Kenzie…] [Aku sudah mencoba segala cara, Aruna! Bahkan mainan kesukaan mereka tidak mempan. Mereka mulai agak demam karena terus menangis. Kamu dimana? Bisa pulang sebentar?] tanya Zaskia penuh harap. Aruna menoleh ke arah Keenan yang juga bisa mendengar suara tangisan itu melalui speaker telepon. Wajah Keenan yang tadi keras karena am
Keenan berdiri mematung di koridor rumah sakit, mencerna setiap kata yang diucapkan dokter mengenai adanya residu zat kimia dalam tubuh Papanya. Rahangnya mengeras, otot-otot di lengannya mulai menegang. Ia menoleh ke arah Nando dengan tatapan tajam. “Nando,” suara Keenan rendah namun penuh penekanan. “Katakan padaku sekarang... Apa kamu sudah mengantongi nama pelaku? Siapa bajingan yang berani melakukan ini?” Nando tampak sedikit gemetar, ia segera menetralkan ekspresinya. “Belum, Keenan. Aku belum bisa memastikan siapa pelakunya. Tapi satu hal yang pasti, orang ini adalah orang dalam yang tahu rutinitas Om Alexander dengan sangat detail.” “Brengsek!” Keenan mendesis, tangannya mengepal kuat. “Cari tahu sekarang juga! Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk menangkap pelakunya, lacak siapapun yang mendekati meja Papa hari ini!” Nando mengangguk cepat. “Aku akan segera ke kantor pusat sekarang
Keenan mendekap Aruna erat, tangannya yang melingkar di pinggang istrinya itu kini bergetar karena amarah yang tertahan. Tak lama kemudian ia akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, kini pandangannya kembali ke arah Nando. "Seseorang mencoba mengaksesnya file itu, Nando..." suara Keenan rendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti geraman predator. "Dan kamu masih bersikeras merahasiakan isinya dariku? Di saat ada bajingan yang mencoba mencurinya di bawah hidung kita?!" Nando menatap layar ponselnya dengan wajah yang semakin pucat. Cahaya dari layar itu memantulkan kecemasan yang mendalam di matanya. "Keenan, tolong mengertilah. Enkripsi draf ini sangat berlapis. Akses ilegal itu baru mencapai lapisan pertama, belum menyentuh inti drafnya. Om Alexander sudah memprediksi hal ini akan terjadi." "Memprediksi?" Aruna menyela, matanya yang cerdas menyipit waspada. Ia menyentuh lengan Keenan, mencoba menjadi p
‘Meninggal?’ kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. ‘Apa maksudnya? Papa tidak sedang menulis surat wasiat, kan?!’Selama ini Keenan membenci Papanya. Ia mengutuk setiap tindakan Alexander yang otoriter. Namun, mendengar bahwa ada sebuah perjanjian yang dipersiapkan khusus untuk skenario sang Papa, membuat hatinya terasa berdebar dan sesak. Rasa sakit yang asing menjalar, sebuah rasa takut akan kehilangan yang belum pernah ia akui sebelumnya."Keenan!"Sebuah suara lembut yang sangat ia kenal memecah keheningan. Aruna keluar dari kamar Stella, wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa saat melihat postur tubuh Keenan yang tidak berdaya bersandar di dinding. Aruna segera berlari menghampiri dengan langkah kaki yang terburu-buru. "Keenan, ada apa?" Aruna langsung memegang kedua sisi wajah Keenan, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Nando, apa yang terjadi?"Keenan tidak menjawab. Ia
’Aku ingin dengar, apa yang dia bicarakan,’ Keenan melangkahkan kakinya tanpa mengeluarkan suara sama sekali saat menapak di atas lantai granit rumah sakit. Sepatunya seolah tidak menyentuh koridor lantai VIP yang begitu sunyi dan terasa mencekam.Sementara mata birunya yang tajam kini menyipit, tertuju sepenuhnya pada sosok Nando yang berdiri membelakanginya di ujung lorong, tepat di dekat jendela besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota.Nando tampak gelisah. Bahunya menegang, dan satu tangannya yang bebas terus meremas pinggiran jasnya sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga."Iya... Aku tahu, semua masih aman padaku," bisik Nando, suaranya sangat rendah seakan takut pembicaraannya didengar seseorang. "Aku sedang menunggu saat yang tepat. Situasi di sini sangat tidak menentu... Tidak, jangan sekarang. Pak Alexander masih belum stabil."Keenan berhenti tepat tiga langkah di belakang Nando. Ia bisa mencium aroma kecemasa
"Keenan... Mama ada di sana," bisik Aruna sambil melirik ke arah ranjang Stella yang sudah kembali tertidur karena pengaruh obat penenang. "Mama sudah tidur, Sayang. Dan aku butuh kamu di tengah semua kekacauan ini," gumam Keenan. Ia mulai menciumi leher Aruna, mencari jejak kissmark yang ia buat di kantor saat pagi sebelumnya. Sentuhannya terasa begitu menuntut, seolah ingin menghapus rasa takut kehilangan Papanya dengan merasakan sentuhan istrinya secara penuh. Tangan Keenan merayap masuk ke balik kemeja sutra Aruna, meremas lembut pinggangnya. "Kamu tahu betapa bangganya aku padamu hari ini?" bisik Keenan tepat di telinga Aruna, napas panasnya membuat Aruna meremang. "Cara kamu menangani Papa, cara kamu bernegosiasi dengan Yosua... Kamu benar-benar Ratu di Arkana Group sekarang, sayang." Aruna melingkarkan lengannya di leher Keenan, memainkan rambut di tengkuk suaminya. "Aku hanya ingin kita
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







