Share

BAB 6

“Ma, kira-kira hari ini kita makan nasi lagi nggak ya?” tanya Nurul dengan nada penuh harap.

“Semoga aja ya, Sayang,” jawabku. “Semoga aja nanti Mama disuruh masak lagi.”

“Kok semalam Mama nggak disuruh masak ya? Emangnya Om itu nggak makan malam?” tanyanya penasaran. Kasihan anakku. Mungkin semalam ia berharap bisa makan dengan nasi lagi. Tapi setelah wanita misterius itu pergi, Redy belum ada datang ke kamar ini sampai sekarang. Jadi terpaksa kami makan malam dengan biskuit.

“Mungkin dia beli makanan di luar, Rul. Lagi pula dia kayaknya belum sepenuhnya bisa percaya sama Mama untuk keluar dari kamar ini,” kataku.

Nurul memonyongkan bibir. Aku tertawa kecil melihatnya. “Sabar ya Rul. Nanti juga lama-lama kita akan keluar dari sini,” hiburku.

“Kapan Ma?”

“Mama nggak tahu sayang, tapi Mama akan terus berusaha. Mama cuma minta, jangan terlalu sering ngomongin soal keluar dari sini ya. Biar ini jadi rahasia kita aja,” kataku. Aku takut Nurul keceplosan dan Redy tahu niatku yang hendak melarikan diri. Itu bisa saja merusak rencana kaburku. Apalagi semalam kudengar mereka punya niat untuk melenyapkan kami.

“Ma, gimana kalau...”

“Ssstt...” aku memotong kalimat Nurul saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

Seperti biasa, hanya Redy yang selalu muncul setiap kali pintu itu terbuka. Tampaknya hari ini dia bangun lebih awal dari biasa. Mata dan wajahnya terlihat lebih segar.

“Ayo keluar. Masak dan berkemas. Hari ini kerjaanmu lebih banyak,” katanya.

Aku mengangguk dan bersiap. Kucium Nurul dan Melina sebelum pergi melangkah keluar kamar.

Pekerjaan dimulai dengan memasak. Hari ini aku memasak beberapa menu. Sepertinya Redy baru saja habis belanja. Ada ikan, ayam, tahu, tempe dan beberapa sayuran hijau.

“Ini untuk stok makanan beberapa hari. Aku hanya akan belanja setiap hari Minggu dan Rabu. Kau atur, jangan sampai sebelum waktunya aku belanja, stok sayur dan lauknya sudah habis.”

Aku mengangguk. “Iya Bang.”

“Kau hanya kuberi kesempatan untuk keluar kamar setiap pagi. Hanya untuk memasak dan berkemas. Setelah selesai masak kau boleh membawa sepiring nasi serta sedikit sayur dan lauk. Yang penting masih ada makanan yang bisa kumakan untuk siang dan sore. Paham?” titahnya.

Aku mengangguk dengan senang. Sesuai harapan, aku bisa mendapat makanan dengan membantunya memasak dan berkemas. Nurul pasti bahagia.

Kini aku memilah dan membagi stok makanan yang baru dibeli Redy. Membuat food preparation bukanlah sebuah hal yang sulit buat seorang ibu rumah tangga yang punya tiga orang anak sepertiku. Ditambah lagi selama menjadi istri Mas Edar, aku dituntut untuk harus pandai berhemat karena sifat suamiku yang sangat pelit. Ia hanya memberiku jatah kurang lebih 20 ribu per hari untuk belanja.

Aku sedang mencuci beras dan mengukur air dengan jari tanganku, saat Redy mendekat dan melihat dengan antusias apa yang sedang kukerjakan.

“Kenapa Bang?” tanyaku.

“Bisa ajarkan aku masak nasi? Setiap aku memasak nasi kadang terlalu lembek dan kadang masih mentah.” Katanya, membuatku hampir menghamburkan tawa. Oh, jadi nasi yang selama ini diberikan padaku dalam keadaan yang kadang masih mentah itu, dia sendiri yang masak?

“Pakai jari Bang, segini airnya kalau berasnya setengah kilo,” ajarku.

“Kalau aku masak nasi, kenapa cepat basi ya?”

“Tempatnya Abang cuci nggak tiap mau masak yang baru?”

Dia menggeleng. “Aku malas.” Jawabnya, dengan sangat singkat dan jujur.

“Mmm... Pantesan. Kalau masak baru, pakai tempat nasi sebelumnya dan nggak dicuci, nasi akan cepat basi,” kataku. “Kalau Abang nyuci berasnya nggak bersih juga bisa buat cepat basi.”

Redy tampak mengangguk paham. Ia langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sementara aku tersenyum dengan sedikit menyeringai. Tak ku sangka, mendekatinya bisa semudah ini.

Redy duduk di ruang tamu. Tak seperti kemarin yang menungguiku sambil bekerja. Untuk sementara, aku hanya bisa melihat keadaan sekitar. Aku masih belum berani untuk mengambil alat atau senjata yang bisa digunakan untuk melarikan diri nantinya. Aku tak mau gegabah dan mengambil risiko, nyawa anak-anakku bisa berada dalam bahaya kalau aku salah melangkah.

Aku akan mengambil hatinya, membuat Redy mempercayaiku. Selain punya tujuan untuk kabur dari sini, aku juga ingin mencari informasi tentang siapa dalang dari penyekapan ini. Selain bebas, aku juga ingin balas dendam.

Dengan cekatan aku mengerjakan tugasku. Sambil memasak aku merapikan dapur dan mencuci barang-barang yang kotor. Rasa senang membuat aku begitu bersemangat untuk menyelesaikan semua dan membawakan makanan ke kamar untuk anak-anakku.

“Aku boleh membersihkan ruangan lain Bang?” tanyaku, saat aku selesai masak dan ia bersiap untuk makan.

“Iya, bersihkan dua kamar di depan,” perintahnya.

Tak perlu berlama-lama aku langsung menuju ke tempat yang dimaksud. Aku sempat membuang napas, melihat keadaan kamar yang belum dibersihkan saja sudah membuat aku letih hanya dengan memandangnya. Kamar ini luar biasa kotor dan pengap. Seperti kamar tempatku disekap, jendela kamar ini tak ada yang terbuka. Saat ku cek, ternyata dipaku luar dalam. Mungkin agar aku tak bisa melarikan diri.

Banyak baju kotor berserakan di lantai. Kupungut dan kukumpulkan dalam satu tempat besar. Setelah aku menyapu ruangan, kubawa baju-baju kotor itu ke belakang.

“Mau apa kamu?” tanya Redy saat melihatku mulai merendam baju-baju itu.

“Aku mau cuci baju Bang,” kataku.

“Tugasmu cuma masak dan membersihkan rumah. Aku tak suka pakaianku dipegang orang lain,” katanya.

Aku sempat terdiam. “Maaf Bang, tapi udah terlanjur kurendam pakai sabun. Kalau nggak langsung dicuci dan dijemur, nanti bajunya bau apek,” kataku.

“Hah, ya udah. Kali ini aja.”

Aku kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan mencuci baju. Namun tak lama Redy datang mendekatiku dengan terburu-buru.

“Ayo cepat, masuk lagi ke kamar. Ada yang datang!” katanya sambil menarik paksa tanganku.

“Tapi Bang, ini belum selesai.”

“Udah biarin. Masuk aja, kalau nggak ku hajar kamu!” ancamnya.

Aku kecewa sekali. Padahal aku ingin tahu siapa yang datang. Kalau yang datang adalah perempuan itu, ini adalah kesempatanku untuk mengetahui siapa otak penyekapan mengerikan yang menimpaku.

Aku semakin merasa kecewa saat masuk ke kamar dan Redy mengunci pintunya. Aku baru sadar, belum sempat mengambil makanan di dapur yang tadi kumasak. Untuk kumakan bersama dengan anak-anakku.

“Redy, tumben jam segini udah bangun? Rumahmu juga rapi, dan sepertinya kau sudah masak.”

Itu suara lelaki. Dan sepertinya tak hanya satu orang. Apa aku menjerit saja, meminta pertolongan?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status