Wulan sering diperlakukan tidak adil oleh ibunya sewaktu kecil dulu. Ibunya selalu bersikap pilih kasih dan lebih menyayangi adik-adiknya saja. Di masa tua ibunya, Wulan berniat membalas dendam. Dia bersikap pelit dan jahat pada ibunya. Dia ingin ibunya merasakan apa yang dulu sering dia rasakan.
Voir plus"Jangan sentuh makanan itu! Itu buat anak-anak. Bukan buat Ibu! Ibu makan saja sama tempe goreng," sergahku, setengah berteriak, saat tangan keriput Ibu hampir menyentuh pudding warna-warni yang baru saja aku susun rapi di atas meja makan.
"Iya, Lan. Maaf," jawab Ibu dengan raut wajah sedih.
Tangan itu langsung ditariknya kembali. Perlahan tubuh ringkihnya berbalik, lalu melangkah menjauh tanpa sepatah kata pun. Suaranya yang biasanya lembut kini hilang ditelan keheningan. Sedangkan aku hanya menatapnya sekilas lalu mengabaikannya.
"Ingat! Jangan makan apa pun tanpa izin dariku! Apalagi pudding itu. Nanti kalau gula darah Ibu naik lagi, aku juga yang repot. Uang pensiunan Ayah nggak cukup buat biaya berobat!" lanjutku, kali ini sambil duduk di lantai, melepas sepatu kerjaku yang terasa menyiksa setelah seharian mengaja.
"Iya, Lan. Ibu ngerti." Jawabnya lagi, dengan nada pasrah.
Ibu masih berdiri, tubuhnya membelakangi aku, kaku, seperti patung hidup. Aku tahu, walau tak menatap wajahnya, bahwa matanya pasti mulai digenangi air mata. Tapi aku tak peduli. Yang penting aku tidak melukainya secara fisik.
Aku berjalan meninggalkan Ibu, beranjak ke kamar, mengganti pakaian kerjaku dengan daster tipis yang lebih nyaman. Tak lama, terdengar suara langkah kaki kecil di teras.
"Mama ... Mama ..." suara si bungsu, nyaring seperti biasanya. Aku keluar menemui mereka, wajahku langsung merekah melihat anak-anakku pulang dengan peluh di wajah tapi tawa riang di bibir. Mereka baru pulang dari bermain.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku, membungkuk sedikit untuk meraih pelukannya. Meski sedikit bau asem, aku tetap mencintainya.
"Puddingnya mana, Ma? Aku sudah lapar. Pengen pudding yang lezat itu," ucapnya dengan mata berbinar dan mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Aku juga, Ma. Capek habis main bola. Panas banget di luar. Makan pudding dingin pasti segar banget," sambung si sulung sambil mengibas bajunya yang basah oleh keringat.
Aku tersenyum. "Itu di meja makan. Baru Mama keluarkan dari kulkas. Sebentar, Mama tuangkan fla-nya dulu, ya."
Mereka mengekor di belakangku seperti dua ekor anak bebek mengikuti induknya. Dengan hati-hati, aku menuangkan fla vanila ke atas pudding-pudding itu. Anak-anak menatap dengan tak sabar.
"Wow... pasti rasanya enak sekali," si bungsu berseru, nyaris tak sabar menunggu sendok menyentuh bibirnya. Bahkan mereka terlihat menahan air liur yang hampir menetes.
Tapi mataku menangkap sosok Ibu berdiri di sudut ruangan, setengah tersembunyi di balik rak buku. Pandangannya terpaku pada pudding-pudding yang kini mulai dinikmati oleh cucu-cucunya. Matanya basah, dan ada senyum kecil di sudut bibirnya, entah senyum bahagia melihat cucu-cucunya makan dengan lahap, atau senyum getir karena hanya bisa melihat tanpa ikut mencicipi.
Alisku mengernyit. “Ibu ngapain di sini? Lapar, ya? Sudah aku bilang, Ibu makan saja sama tempe goreng. Sisa kemarin sudah aku angetin pagi tadi. Aku taruh di lemari makan, biar nggak dimakan kucing tetangga. Udah, jangan ganggu anak-anak makan!” kataku tajam sambil berkacak pinggang.
“Iya, Lan. Ibu nggak akan minta makanan mereka kok.” jawabnya pelan. Ia pun berbalik dan berjalan perlahan ke dapur.
Kulihat dia mengambil piring plastik yang memang khusus aku sediakan untuknya. Aku tak mengizinkannya pakai piring kaca. Takut pecah. Aku malas merawatnya jika sampai kakinya terluka. Dia sudah tinggal di sini dengan gratis. Aku tidak mau direpotkan lagi dengan merawatnya jika kenapa-kenapa.
Dengan tenang, Ibu mengisi piringnya dengan nasi dingin dari dalam bakul. Ia tahu nasi dari rice cooker bukan untuknya. Nasi hangat hanya untuk aku, suami dan anak-anakku. Paha ayam panggang dan sayur sop segar juga bukan untuknya. Dia hanya makan dengan tempe goreng sisa kemarin yang kupanaskan pagi tadi.
Sementara anak-anakku sudah selesai makan, beranjak dari kursi dan menaruh piring mereka di wastafel.
"Taruh aja di situ. Biar nanti Nenek yang nyuci," kataku, sambil menyendok nasi hangat dan sepotong ayam ke piringku sendiri. Aroma ayam panggang yang kubeli sepulang kerja menguar kuat, menggoda selera. Aku makan dengan lahap karena perutku sudah keroncongan.
Selesai makan, kulemparkan pandanganku ke wastafel. Bertambah satu lagi tumpukan piring kotor. Ibu masih makan di ujung dapur, tak bersuara, tak menoleh. Perlahan-lahan dia bangkit dari duduknya, menggulung lengan baju lusuhnya, dan mulai mencuci piring.
Aku membaringkan tubuhku di sofa, memejamkan mata sejenak. Tubuhku letih, pikiranku penuh. Hari ini, aku harus mengajar tambahan karena jadwal kelas tiga yang makin padat jelang ujian. Rasanya pantas jika aku ingin sedikit istirahat, membiarkan tubuhku rileks sambil menonton TV.
Di kejauhan, terdengar suara gemericik air dari wastafel. Suara piring saling beradu. Lalu sesekali batuk kecil dari tenggorokan Ibu yang sudah tak sekuat dulu.
Aku menengok sebentar. Ada rasa puas melihat ibu demikian. Api dendam itu terbakar lagi. Meski bertahun-tahun berlalu, belum bisa aku melupakan rasa sakit itu.
"Kamu itu anak durhaka!" Begitu orang-orang sering melabeli diriku. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku bisa membalas sakit hatiku pada ibuku.
Mereka hanya tidak tahu saja, bagaimana ibu memperlakukanku semasa kecilku dulu. Dan sekarang, saat dia sudah tua, saat dia tidak punya lagi kekuatan untuk melawanku, aku membalas semua rasa sakitku.
***Kutarik napas dalam-dalam. Udara di sini memang masih bersih, belum banyak tercemar polusi seperti di pusat kota, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Ada yang menekan di dalam sana—sesuatu yang tidak bisa kulihat tapi kurasakan jelas. Seperti gumpalan awan kelabu yang menggantung di langit-langit dada, siap menurunkan hujan air mata kapan saja.Aku melirik ke sekeliling. Jalan setapak menuju perpustakaan itu sunyi, hanya ada beberapa murid yang lalu-lalang. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa aku sedang berperang dengan pikiranku sendiri.Kadang rasa khawatir ini membuatku sulit mengendalikan diri. Seolah ada bara yang tak kunjung padam di dalam hati. Ingin menangis, tapi di sini bukan tempat yang bagus untuk meluapkannya.Langkah kakiku berderap pelan, menyusuri lorong panjang menuju perpustakaan. Aroma buku tua dan AC yang sedikit bocor dari dalam sudah mulai tercium. Tapi justru di sela-sela kesunyian ini, kenangan masa kecilku kembali menyeruak, hadir dengan begitu jelas seolah b
"Harusnya tidak perlu kalau hanya untuk sepotong roti, Bu. Kecuali jika anak ibu terlalu pelit dan perhitungan," ujar Asih dengan nada dingin yang penuh sindiran. Ia memang selalu punya cara menyulut emosi, terutama emosiku."Sudah, sudah. Asih, ayo kita kembali ke depan!" akhirnya ibu kepala sekolah turun tangan, menengahi sebelum percakapan di dapur itu menjadi semakin tak terkendali."Ibu katanya tadi mau ke toilet," celetuk Kinanti dengan polos, entah sengaja atau tidak."Ndak usah. Nanti saja," sahut ibu kepala sekolah cepat-cepat, lalu pergi dengan langkah cepat kembali ke ruang utama.Satu per satu staf dan guru meninggalkan dapur. Beberapa yang tadinya hendak ke toilet mendadak berubah pikiran, mungkin karena ingin menghindari canggungnya suasana. Hening menggantung di udara seperti lem yang menempel di tenggorokan. Anak-anakku membantuku mengeluarkan suguhan ke meja tamu. Tapi saat acara selesai, aku sadar banyak piring masih penuh. Kue-kue yang sudah susah kusajikan tak ter
Sedangkan yang lain masih tertegun berdiri di tempatnya, Asih langsung menyelonong melewatiku tanpa peduli pada tatapan semua orang. Dia melangkah cepat, nyaris tergesa, seolah ingin segera menghapus pemandangan yang tak layak dari depan matanya.Ia menghampiri ibu yang terduduk lemas di lantai. Ibu sedang berusaha membersihkan bungkus roti bluder yang jatuh dan kini kotor terkena debu. Tangannya gemetar, bukan hanya karena usia, tapi karena malu. Mata ibu menunduk, seakan ingin lenyap dari tempat itu."Ayo saya bantu bangun, Bu!" ucap Asih sembari meraih tangan ibu. Nadanya terdengar tegas, tapi juga menyiratkan amarah yang dipendam. Ia mengangkat tubuh ibu perlahan. Ibu berdiri dengan terbata, lalu meletakkan kembali roti bluder itu ke atas piring.“Jangan dikembalikan, Bu! Ambil saja. Biar saya yang bayar!” kata Asih, tajam.Tangannya menyelusup ke dalam tas selempang cokelatnya, lalu mengeluarkan dompet bermerk yang seolah ikut bicara bahwa dia punya cukup—atau lebih—untuk mengat
Satu minggu kemudian...Sejak pulang kerja, aku sibuk wira-wiri mengambil pesanan makanan untuk acara arisan guru hari ini. Beberapa penjual bersedia mengantar ke rumah, tapi ada juga yang menolak pengantaran, jadi aku harus mengambilnya sendiri. Badanku lelah, tapi kupaksakan demi jamuan yang sempurna. Aku ingin semuanya tampak rapi dan enak disajikan. Tidak boleh ada yang kurang."Satu, dua, tiga ..." Aku menghitung satu-satu makanan apa yang sudah tersaji di meja. Di ruang makan, beberapa buah segar sudah siap tersusun di atas meja. Anak-anak membantuku menatanya ke dalam piring-piring saji. Mereka tampak semangat, walaupun sesekali tangan mereka hendak mencomotnya. Kue-kue basah baru saja diambil oleh Danar dan langsung dipindahkan ke nampan panjang berlapis renda. Aku mengatur semuanya dengan detail, seolah ini bukan sekadar arisan, tapi pesta penting yang harus sempurna."Tinggal bluder yang belum datang," gumamku sambil melihat jam dinding."Tolong coba hubungi kontak karyawa
Pagi yang dimulai seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di balik jendela kamar, tapi suara aktivitas dari dapur dan jalanan kecil di depan rumah sudah mulai terdengar. Aku tengah bersiap untuk berangkat kerja. Baju kerja sudah rapi tergantung di gantungan belakang pintu, tas sudah aku susun sejak malam. Anak-anak sudah berangkat lebih dulu bersama ayahnya. Rumah terasa sedikit lebih sepi setelah kepergian mereka.Namun, ada satu suara yang sedari malam belum juga hilang—tangisan bayi yang memekakkan telinga.Sejak semalam, suara itu tak berhenti. Tangisan panjang, sesenggukan, lalu kembali meraung. Ibu bolak-balik ke ruang tamu, sesekali mengintip dari balik gorden. Wajahnya muram. Aku yang dari tadi hanya memperhatikan akhirnya membuka suara."Anak siapa sih yang nangis terus dari tadi malam, Bu? Bikin tidur nggak nyenyak," gerutuku sambil memijat pelipis. Mataku terasa berat. Kepala pun berdenyut. Rasanya aku hanya sempat tidur satu atau dua jam malam tadi."Ya
Tanpa mencium tangannya seperti biasa, aku menyalakan motor dan melesat pergi. Mood-ku sudah rusak sejak sore, dan sekarang makin keruh. Aku benci diceramahi. Aku bukan anak kecil. Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan Lastri... dia memang sudah keterlaluan. Dia yang duluan memulai drama itu di depan ibu-ibu kompleks."Kenapa dia selalu dibela? Selalu dianggap baik sedangkan aku adalah sebaliknya. Padahal aku nggak pernah ngusik hidup orang lain. Soal bagaimana perlakuanku pada ibu, itu urusanku." Aku mendumel sepanjang jalan. Entahlah ... rasanya ibu dan suamiku selalu memihak pada Lastri. Padahal dia bukan siapa-siapa. Sengaja kupacu motor dengan kecepatan tinggi meski dingin angin terasa menyiksa. Sesampainya di rumah Kinanti, suasana lebih hangat. Rumah kecilnya penuh suara tawa dan obrolan para guru. Sejenak, beban yang menyesakkan dadaku sedikit terangkat."Kenapa, Buu, kok wajahnya ditekuk begitu? Biasanya datang sumringah," goda Kinanti yang menyambutku di depan. "Lagi bete,"
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Commentaires