MasukKalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah tentu tidak bisa menjadi utuh lagi.
Rania sangat tak menyangka bahwa semua yang selama ini diperjuangkannya untuk keluarga kecil mereka tak berarti apa-apa bagi suaminya. Laki-laki yang paling dia cintai dan orang yang selalu menjajdi prioritas dibandingkan dirinya sendiri. Usai Rania membuka semua isi chat mereka, handphone diletakkan kembali di tempatnya. Rania berpikir keras apa yang harus dia lakukan untuk pernikahan ini. Tapi hati kecil Rania masih ingin bertahan, ia tidak rela kalah dengan semua yang sudah dikorbankannya. "Selamat pagi, Mas," sapa Rania yang lagi memasak nasi goreng seafood di dapur. "Pagi Bun," jawab Dori. "Sarapan dulu ya, Mas baru ke kantor. Sudah lama kita tidak sarapan bareng," kata Rania dengan suara yang dibesarkan supaya Dori yang lagi di kamar mandi dengar. "Tapi aku buru-buru," jawab Dori. "Ayolah, Mas. Sebentar saja, ini sudah ready kok sarapannya. Aku tunggu di meja makan ya. Jangan lama-lama mandinya," pinta Rania. Rania sudah siap untuk sarapan bareng. Gavin masih pules tidur di kamar. Dua piring nasi goreng seafood, dua gelas milo panas, dan sepiring bakwan siap untuk disantap. Rania hanya ingin merasakan momen berdua bersama suaminya. Hati yang terluka perlu obat untuk mereda. Rania mencoba menemukannya. Melihat bagaimana hatinya merespon saat bersama dengan suami quality time sejenak di pagi hari. "Ayo, Mas," panggil Rania ke kamar melihat Dori yang lagi berpakaian. "Iya, sebentar," jawab Dori. Dori keluar kamar dengan memegang tas kerjanya dan HP. Meja makan yang jarang sekali didudukinya belakangan ini terasa canggung. Dori meletakkan HP nya di atas meja. Nasi goreng buatan Rania disantap lahap. Selama sarapan obrolan mereka biasa saja seolah memang Rania tidak mengetahui apa-apa. Nasi goreg seafood buatan Rania memang favorite Dori. Sekejap saja sudah habis. Dori berdiri untuk mencuci tangannya. Satu pesan masuk mengubah ketenangan Rania menjadi ledakan. Pesan masuk berisi PAP dari perempuan yang sudah merusak hubungan suami istri ini. "Perempuan ini memang tidak tahu diri." Rania berteriak sambil memegang HP Dori. Dori yang lagi mencuci tangannya langsung berlari ke meja makan dan merampas HP dari tangan Rania. "Lancang sekali kamu memegang HPku." Dori berteriak. "Lebih lancang mana dengan perempuan yang menggoda suami orang? Lebih lancang mana, Mas?" Rania menatap Dori. "Tidak usah menuduh tanpa bukti," jawab Dori seolah tidak bersalah. "Chat mesra, foto bersama, apa itu masih kurang jadi bukti?" Rania memegang baju Dori. "Sudahlah, aku mau berangkat kerja." Dori melepaskan genggaman Rania. "Apa tunggu ada bukti kalian tidur bareng baru bisa disebut bukti dia perempuan murahan?" Rania berteriak. "Perempuan itu tidak salah apa-apa," jawab Dori. "Mengganggu suami orang itu tidak salah? Harusnya aku percaya saat ada yang menyampaikan melihat kamu jalan dengan perempuan lain. Harusnya aku langsung curiga. Tapi aku terlalu percaya kamu, Mas." Rania berkata sambil berteriak. Dori memasang sepatunya. Bergegas ingin berangkat bekerja. Rania mengambil tas kerjanya. Memaksa Dori untuk menjawab semua pertanyaannya. "Jawab, Mas. Jawab," minta Rania. "Aku yang sudah tidak mencintaimu lagi," kata Dori datar. "Segala yang aku upayakan selama ini tidak ada artinya, Mas?" tanya Rania. "Aku tidak merasa kehadiranmu sebagai istri yang semestinya. Kamu hanya sibuk dengan kesibukanmu," jawab Dori datar seakan dialah yang tersakiti selama ini. Jawaban yang teramat jujur dari seorang laki-laki untuk menyakiti hati ibu dari anaknya. Jawaban yang membuat Rania terdiam tanpa suara. Dori mengambil tas kerjanya dan pergi tanpa berkata apa pun lagi. Rania melihat Dori pergi seperti melihatnya pergi untuk selamanya sebagai laki-laki yang pernah amat ia cintai. Rania berjalan menutup pintu rumahnya. Lalu duduk di meja makan. Nasi goreng seafood yang ada di piringnya belum habis. Rania mengambil piring itu dan membuang sisanya ke tong sampah. Itu akan menjadi yang terakhir bagi Rania membuat nasi goreng seafood. "Bun....daaa..," suara Gavin terbata-bata memanggil Rania. Entah sejak kapan Gavin bangun. "Iya, nak." Rania mendekati Gavin dan memeluknya erat. Hari itu menjadi sebuah permulaan baru bagi Rania. Hari yang berat untuk dia lalui ke depannya. Kalau saja Dori mengakui kesalahan dan mengatakan ia khilaf, Rania pasti masih mempertimbangkan untuk menyelamatkan rumah tangga mereka. Lantas yang terjadi di luar prediksi. Apa lagi yang harus dipertahankan dari seseorang yang nyata tidak lagi ingin bersama. "Istri sudah tahu," Dori mengirim pesan WA ke Bella. "Serius?" balas Bella. "Iya, aku sudah jujur sama Rania," balas Dori. "Jujur soal apa?" tanya Bella. "Soal aku yang sudah tidak mencintainya lagi," jelas Dori. "Beneran?" tanya Bella tak percaya. "Nanti jam makan siang aku tunggu di tempat biasa," balas Dori mengajak bertemu. Sebuah hubungan hanya bisa diperbaiki kalau keduanya punya niat dan perasaan yang sama untuk menyelamatkan. Berjuang di hubungan yang salah satunya tidak lagi ada di jalan yang sama hanya akan menyakiti diri sendiri. Sekeras apa pun Rania ingin bertahan, tidak ada artinya jika Dori telah memilih Bella. "Aku sudah selesai dengan Rania." Dori mengataka dengan yakin sambil memegang tangan Bella. "Istrimu tahu aku orangnya?" tanya Bella. "Tahu karena dia melihat PAP yang kamu kirim tadi pagi. Mungkin juga sudah melihat isi chat kita," jelas Dori. "Apa nanti dia tidak tiba-tiba datang ke sini menyerang aku?" tanya Bella cemas. "Tidak. Rania tidak akan berani. Kalau pun dia berani aku yang akan menghadangnya dan melindungimu," jawab Dori denga kebucinannya. "Terima kasih ya, Mas," jawab Bella tanpa merasa telah menyakiti Rania. Bella merasa dia pemenangnya karena lebih dipilih Dori ketimbang istrinya yang sudah lama bersama. Bella berpikir bahwa ia tidak salah karena memang suami orang ini yang mendekatinya. "Kamu sabar ya. Aku akan segera menyelesaikan semua prosesnya," kata Dori. "Iya, Mas." Bella memegang tangan Dori. Sejak penyampaian Dori atas perasaanya tadi lagi ke Rania, dia menjadi lebih berani untuk menunjukkan kedekatannya dengan Bella. Biasanya setelah makan siang mereka balik ke ruangan masing-masing, kali ini berjalan bersama. Tidak takut lagi digosipin karena Rania sudah tahu yang sebenarnya. Di rumah dengan hati yang hancur, Rania tetap mengurusi Gavin. Menyuapkannya makan, sebisa mungkin untuk tidak mengabaikan Gavin di tengah remuk hatinya. Anak yang masih kecil itu belum tahu apa-apa dengan yang terjadi. Rania melihat Gavin yang sekecil ini apa harus kehilangan sosok ayahnya nanti. "Bunda menyayangimu." Rania memeluk Gavin.Rania berusaha tenang, menenangkan sesak yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Bukan belum move on dari luka, tapi ternyata melihat luka itu ada di depan matanya belum menjadi hal yang biasa baginya. Ethan selesai dari kamar mandi dengan Gavin. Ethan tahu laki-laki yang bersama perempuan hamil itu adalah Dori. Ethan duduk di depan Rania. Mengkondisikan Gavin lalu memegang jemari Rania yang terasa dingin."Minum dulu ya," ucap Ethan mengelus punggung Rania."Terimakasih ya," jawab Rania."Apa mau kita pulang saja?" tanya Ethan."Gak papa, aman. Kita selesaikan saja dulu makannya," ucap Rania."Baik, kasih tahu aku kalau kamu sudah gak bisa ya," kata Ethan."Iya," jawab Rania.Rania pelan-pelan melanjutkan makannya. Ethan meninggalkan meja makan sejenak dan pergi ke meja kasir untuk memesan dua gelas es krim. Tak lama es krimnya diantarkan ke meja mereka. "Ini Mas dua es krimnya," ucap pelayan resto."Wuah, Gavin mau ya om," teriak Gavin kesenangan."Satunya buat kamu, makan y
Landing di Jakarta tepat pukul 16:30. Ethan sudah menunggu di pintu kedatangan. Begitu keluar Rania sudah melihat Ethan melambaikannya tangannya. Gavin langsung melepaskan gandengan tangan Rania dan berlarian ke Ethan. Momen yang membuat Rania terharu sekali melihat Gavin yang begitu sayangnya ke Ethan. Anak kecil selalu tahu siapa yang bisa mencintainya dengan tulus. Ethan sudah tepat untuk bisa mengisi peran ayah yang diinginkan Gavin. Tapi Rania masih belum siap untuk membiarkan hatinya kembali diisi secara penuh oleh Ethan sebagai seorang suami. Meski Ethan bukanlah Dori, tapi tetap rasa takut itu belum bisa lenyap seutuhnya. "Om baik," teriak Gavin lari ke pangkuan Ethan. "Gavin apa kabarnya?" tanya Ethan menggendongnya. "Baik banget Om kan sekarang jumpa sama Om baik," jawab Gavin. "Turun yuk, Om Ethan capek lo entar gendong Gavin," ucap Rania tersenyum. "Gpp kok Ran, aman," jawab Ethan. Ethan membawa Rania ke lobby menunggu mobilnya diambilin. Begitu mobil tiba m
Kehidupan Rania setelah gagal di pernikahan pertama memang hanya ingin fokus ke Gavin. Dia tak berpikir untuk kembali merajut hubungan cinta kasih dengan seseorang karena berpikir akan sulit untuk menemukan orang yang juga mencintai anaknya. Bagi Rania kebahagian Gavin lebih penting dari hidupnya. Sepulang jalan dengan Gavin kemarin, Rania merasa anaknya membutuhkan sosok ayah untuk bisa menemaninya. Anak laki-laki membutuhkan ayahnya di masa tumbuh kembang ini karena ad aktivitas yang serunya dilakukan bersama ayah. Gen Alpha memang anak-anak yang cenderung bijak dan kritis. Rania merasakan sekali dari Gavin yang semakin hari semakin pintar. Usianya sudah 4 tahun. Sejauh ini Rania belum berpikir untuk memasukannnya sekolah. "Bunda, Gavin anak baik atau nakal?" tanya Gavin di jalan menuju pulang. "Baik dong," jawab Rania. "Kalau baik kenapa ya Allah belum mengabulkan doa Gavin?" tanya Gavin. "Emangnya anak Bunda yang ganteng ini doa apa ke Allah?" Rania nanya balik. "Ga
Angin yang berhembus pagi ini terasa amat menyejukkan. Menyapu wajah Rania dengan lembut. Tiap helaan napas terasa begitu melegakan. Intruksi di setiap titik berhasil membuat Rania mendapatkan ketenangan. Pelepasan energi negatif yang sangat bermanfaat sekali. "Satu, dua, tiga, hembuskan perlahan-lahan hingga hitungan delapan lalu buka matanya," ucap intrukstur yoganya. Setelah selesai semua peserta bertepuk tangan menutup kegiatan yoganya. Rania masih duduk di atas matrasnya. Kemudian dia dihampiri oleh intrukstur yoganya. "Rania, kamu baik-baik saja?" tanyanya. "Sudah lebih baik," jawab Rania dengan tersenyum. "Sering-sering latihan yang ringan-ringan saja di rumah. Kamu bisa lihat di channel saya untuk menenangkan diri," ucap intrukturnya. "Baik kak, terimakasih ya," kata Rania. "Hidup akan selalu membawa kita pada masalah demi masalah. Kita cuma perlu menemukan cara yang tepat untuk melewatinya," jelas instruktur yoganya. "Iya kak, siap," jawab Rania. Rania pelan
"Ada siapa itu?" Mama Ethan mengintip layar HP Ethan yang sedang VC. "Ada Gavin nih, Ma," ucap Ethan."Hai Oma," kata Gavin dengan akrabnya."Halo, kamu yang namanya Gavin?" tanya Mama Ethan. "Iya, Oma. Oma mamanya Om Ethan ya?" tanya Gavin balik."Iya," jawab Mama Ethan. "Oma, boleh gak Om Ethan ke Semarang lagi?" tanya Gavin bikin Rania jadi panik mendengarnya."Gavin tinggalnya di Semarang?" tanya Mama Ethan."Iya Oma, boleh gak Oma?" tanya Gavin."Ma, maaf ya Gavinnya suka asbun," Rania terpaksa nimbrung menunjukkan wajahnya."Loh, ada mamanya Gavin," canda Mama Ethan."Maaf ya Ma," kata Rania gak enak hati."Gak papa kok, Mama senang dengan anak sepintar Gavin," ucap Mama Ethan."Iya ma, maaf. Salam kenal ya Ma, Saya Rania," kata Rania. "Iya, mama tahu kok. Ethan sudah sering cerita soal kamu," goda mama ke Ethan."Jangan dipercaya," kata Ethan tertawa."Rania kapan main ke Jakarta?" tanya Mama Ethan."Wuah, kita ke Jakarta yok Bun," ucap Gavin asbun lagi."Aduh, Gavin," kata
Anak-anak tidak bicara apa yang ia rasakan, tapi sikapnya bisa menunjukkan apa yang ia rasa tanpa disadari. Gavin yang tadinya lari-larian dengan riang, seketika berdiri kaku di depan seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola dengan ayahnya. "Gavin," panggil Rania. Gavin tidak menyahut. Matanya berkaca-kaca. Rania tahu Gavin sedang melihat anak dan ayahnya yang lagi seru bermain. "Bunda, kenapa ya Gavin gak bisa bermain dengan ayah juga?" tanya Gavin yang usianya belum empat tahun tapi sudah sangat bijak. "Gavinkan bisa main dengan Bunda," jawab Rania. "Orang bisa bermain dengan ayahnya, seru sekali Bun," kata Gavin. Seketika mata Rania terasa hangat, ada yang menggenang di pelupuk matanya. Rania mengelap matanya menahan genangan itu jatuh ke pipi. "Gavin sedih ya?" ucap Rania memvalidasi perasaan anak yang menjadi kekuatannya bertarung melewati kenyatan pahit di dalam hidupnya. "Iya Bun," jawab Gavin memeluk Rania. Rania memeluk erat Gavin. Menahan sekuatnya
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt
Pagi ini Rania bangun lebih awal. Alarmnya berbunyi jam 4 pagi. Ada orderan untuk acara hajatan kue 200 kotak. Rania mengerjakannya sendiri. Pesanan sudah masuk 3 hari yang lalu. Rania sudah mengangsur membentuk kotaknya. Sebagian isi kuenya sudah dikerjakannya kemarin. Pagi ini tinggal menambah ku
Hidup kadang memang tidak adil bagi mereka yang tulus. Kadang ketulusan dibalas dengan kejahatan yang tak terkira. Cinta Rania untuk suaminya tak pernah menuntut banyak, hanya ingin dicintai dengan ikhlas. Tak meminta kehidupan yang mewah, hanya ingin hidup yang berkah.“Gak papa, Mas. Ini saja sud







