MasukPagi ini Rania bangun lebih awal. Alarmnya berbunyi jam 4 pagi. Ada orderan untuk acara hajatan kue 200 kotak. Rania mengerjakannya sendiri. Pesanan sudah masuk 3 hari yang lalu. Rania sudah mengangsur membentuk kotaknya. Sebagian isi kuenya sudah dikerjakannya kemarin. Pagi ini tinggal menambah kue yang asinnya.
Rania sibuk di dapur. Sampai tidak sadar Dori pergi kerja tanpa pamit dengannya. Rania hanya ke kamar saat sholat subuh dan dilihatnya Dori sedang mandi. Sehabis sholat Rania tidak ada ke kamar lagi, sampai tersadar kenapa Dori kok belum berangkat kerja. "Mas...mas." Panggil Rania sambil berjalan ke kamar. Saat dilihat tidak ada lagi. Rania berpikir mungkin dia yang tidak sadar kalau Dori berpamitan. Rania lanjut lagi menyelesaikan orderannya yang harus dikirimkan ke tempat jam 11 siang. "Assalamualaikum, Bu Rania. Jangan lupa ya Bu, jam 11 sudah di sini." Telepon dari Buk Anda yang memesan kue kotak. "Iya Bu, bantu share loc ya Bu," pinta Rania. "Baik Bu, ini saya share loc," kata Bu Anda. "Terima kasih, Bu," jawab Rania. Rania sigap sekali. Semua pesanan selesai di jam 10 pagi dan dia kerjakan sendirian. Luar biasa sekali kegigihannya tiada tara. Tentunya untuk orderan ini Rania tidak buka dulu jualan seperti biasanya. Setelah semua selesai, Rania pesan mobil buat pengantaran orderannya. Serah terima pembayaran dilakukan secara online saja. Bu Anda memang sudah langgananan dengan Rania. Bahkan beberapa kali Rania dapat orderan dari relasinya Bu Anda. Kue buatan Rania memang enak dan ukurannya juga sesuai. "Bunda, makan," rengekan Gavin terbata. Sudah siang Gavin belum juga diberikan makan siang. Rania kelupaan masak karena persiapan orderannya. Rani pun menggoreng kan stok frozen ayam tepung di freezer. Sambil menyuapkan makan Gavin, Rania teringat dori. "Mas, tadi maaf ya aku sibuk di dapur." Rania mengirimkan pesan WA. Satu jam berlalu tidak ada balasan dari Dori. Rania pun tidak mengulang lagi mengirimkan pesan WA. Rania pikir mungkin Dori sedang banyak kerjaan. Padahal Dori sedang sibuk dengan Bella. Di saat Rania mengirim pesan, Dori sedang makan siang di resto dekat kantor mereka. "Mau minum apa?" tanya Dori ke Bella. "Es jeruk saja, Mas," jawab Bella. Pesanan makan siang ikan bila bakar tiba untuk hidangan makan berdua. Dori dan Bella makan sambil ngobrol seru tentang hobi mereka yang sama. Lalu berlanjut melihat rekomendasi lokasi ngecamp di HP Bella. Jarak mereka dekat sekali. Tak sengaja mata mereka beradu pandang. Bella salah tingkah. Dori mendadak jadi kaku. "Yuk, balik ke kantor," ajak Dori. Dori balik ke ruangannya begitu juga Bella. Kejadian siang itu bikin Dori tidak tenang. Dia merasa tidak enak. Bella berdebar tak karuan. "Maaf ya, Mas." Bella mengirimkan pesan WA. "Tidak apa-apa, tidak ada yang salah," jawab Dori. "Aku tidak mau mengganggu rumah tangga, Mas," jelas Bella merasa bersalah. "Tidak, jujur aku senang ngobrol dan bertemu kamu," jawaban Dori yang bikin Bella makin salah tingkah. Bella membalas dengan emot senyum memberikan sinyal kalau dia juga merasakan hal yang sama. "Nanti aku pulang kemaleman. Gak usah ditungguin." Dori mengirimkan pesan ke Rania. "Ya, Mas. Semangat kerjanya ya." Rania membalas pesan denga cepat. Tapi setelah itu tidak ada balasan Dori. Senja terbenam dengan jingga yang merona. Kumandang adzan Magrib mengisi indahnya senja. Dori keluar dari ruangannya langsung membawa tas, singgah di musholla terlebih dahulu untuk sholat Magrib. Setelah sholat Dori mengirimkan pesan ke Bella. "Bel, pulang bareng yuk." Dori dengan percaya diri mulai membuka hubungan lebih dengan Bella. "Emangnya boleh, Mas?" tanya Bella. "Aman." Dori membalas pesan WA. "Sebentar ya aku lagi beres-beres berkas. 10 menit lagi selesai. Tungguin ya," pinta Bella. Jadi permulaan pulang bareng dan terus berkelanjutan. Jadwal makan bersama sebelum pulang kerja pun menjadi agenda wajib. Dori bahkan sering lupa lihat waktu dan berujung pulang kemaleman tanpa rasa bersalah. "Assalamu'alaikum." Dori mengetuk pintu rumah. "Waalaikumsalam,” jawab Rania membuka pintu dan melihat jarum jam sudah di angka 11. "Belum tidur?" tanya Dori. "Belum, nungguin kamu. Mas sudah makan?" tanya Rania sambil membawakan tas suaminya. "Sudah tadi makan sama teman waktu di jalan pulang," jelas Dori. "Tadi kamu berangkatnya buru-buru ya? Aku sampai gak sadar kamu sudah berangkat." Rania bertanya dengan hati-hati. "Iya, tadi aku sudah manggil kamu. Tapi, kamu sibuk sekali di dapur. Jadi, aku pergi saja," jelas Dori. "Ya, sudah. Kamu mandi ya, bersih-bersih aku sudah siapkan air hangat buat mandinya." Rania berjalan ke kamar tidur meninggalkan Dori yang lagi membuka sepatunya. Rania masuk ke kamar. Kepalanya merasa ada yang berbeda dengan suaminya. Perasaannya gelisah tidak seperti biasanya. Dori langsung mandi dan masuk ke dalam kamar setelah mandi. Rania sudah menutup matanya, lampu tidur juga sudah menyala. Namun, Rania tidak benar-benar tidur. Jarum jam sudah di angka 12 malam lewat 10 menit. Dori pun sudah tertidur. Rania membuka mata dan memastikan Dori sudah benar-benar tidur. Tanda tanya yang penuh di kepala Rania memaksanya untuk mencaritahu. Pusat dari segala informasi ada di handphone. Rania tahu Dori selalu meletakkan handphone nnya di bawah bantal. Pelan-pelan Rania mengambil handphone dan membuka kuncinya dengan menggunakan sidik jari. Ada satu notif pesan WA belum terbuka muncul di bagian depan layar handpone (top up notif). Kontaknya disimpan dengan nama Mba admin. Sekilas isi pesannya terlihat ada emoticon senyum bahagia. Hati Rania merasa ada yang mengganjal dan membuatnya ingin mengetahui lebih banyak isi pesannya. "Astagfirulloh." Rania terkejut. Dadanya terasa sesak! Tubuhnya lemas, matanya berkunang-kunang, bibirnya gemetaran. Tangis Rania pecah di tengah malam. Setelah membaca semua isi pesan mereka, Rania berlari ke kamar mandi. Menangis sejadi-jadinya. Dunianya seketika terasa benar-benar runtuh. "Apa kurangku, Mas?" tanya Rania penuh kecewa di depan kaca kamar mandinya. Ia lihat dirinya begitu tidak menariknya. Kucel. Dasteran. Rambut dikuncir saja. Rania tahu keinginantahuannya yang membuat hatinya sangat teriris. Tapi kalau tidak dicari tahu Rania akan tetap tertipu semakin lama lagi. Tidak ada yang pernah tahu ke depannya seperti apa. Tapi, paling tidak Rania bisa bersiap lebih awal untuk mengambil sikap. Setelah Rania menyelesaikan tangisannya di kamar mandi. Rania membersihkan wajahnya sebelum tidur. Sesak di dadanya membuat Rania tidak ingin tidur di sebelah Dori. Sulit mata Rania terlelap. Tak menyangka laki-laki yang amat dicintainya mulai memberikan rasa simPATI-nya ke perempuan. Bahkan pulang kerja bareng dan makan malam bersama. "Kenapa kamu setega ini, Mas?" Rania melihat Dori yang terlelap.Rania melihat Gavin dari kaca mobil hingga hilang dari pandangannya. Ethan memutar lagu indie For Revenge di perjalanan. Lagu hits era ini yang banyak relate dengan cerita hidup. Rania menatap Ethan diam-diam tanpa diketahuinya. Sosok laki-laki yang mampu mencuri hati Gavin, satu-satunya tujuan hidupnya hari ini. "Mas gak merasa lelah nemenin saya?" tanya Rania memulai obrolan. "Lelah kenapa?" tanya Ethan. "Iya dari kemarin sepertinya sibuk membantu saya urusan pembukana butik ini, gak ada kemana-mana refreshing," ucap Rania. "Tujuan saya ke Semarangkan memang buat itu, kenapa saya harus merasa jadi kerepotan?" jawab Ethan tersenyum. "Iya, saya merasa gak enak aja sih," kata Rania. "Saya senang menemani kamu," jawab Ethan. Sudah sampai di parkiran, Ethan menatap Rania, tatapan mereka terpaku lama, degub jantung keduanya berdebar kencang, begitu cepat kejadian itu terjadi. "Maaf," kata Ethan menghentikan dekapannya. "Aku juga minta maaf," balas Rania salah tingkah. "Aku
Hati tidak pernah tahu kapan ia akan bergerak menemukan kenyamanan, apa lagi setelah dihajar kecewa yang bertubi-tubi. Jangankan berpikir untuk kembali menjalin hubungan, membayangkannya saja tidak pernah dilakukan Rania karena ia takut hanya memupuk kecewa dan membuat lukanya semakin dalam. Semua orang yang terluka berusaha sembuh, tapi Rania tak pernah memikirkan untuk sembuh dengan mencari orang lain sebagai pelariannya. "Kapan kamu mau mulai membuka hati?" Mama pernah melemparkan pertanyaan itu ke Rania. "Bagiku kebahagian Gavin sudah lebih dari segalanya, Ma" jawab Rania dengan yakin tanpa berpikir akan ada sosok laki-laki seperti Ethan yang hadir di hidupnya. Malam ini ada rasa yang berbeda. Rania terbaring di atas kasurnya mengingat kejadian tadi siang dengan Ethan. Jantungnya berdegup kencang saat berada di dekat Ethan. Ada rasa tenang tiap melihat senyuman di wajah laki-laki yang belum ia kenal jauh tapi terasa begitu memiliki arti di hidupnya kini. "Belum tidur?"
Keberanian memulai perjalanan baru membutuhkan support sistem yang membuat diri memiliki keyakinan. Ethan hadir memberikannya untuk Rania. Sejak awal ia yakin Rania mampu bangkit dari keterpurukannya. "Loh, Mas kapan ke sininya?" ucap Rania kaget keluar dari kamar melihat ada Ethan yang lagi main dengan Gavin. "Baru saja," jawab Ethan. "Kok gak bilang dulu mau ke sini?" tanya Rania. "Tadinya mau ke toko, tapi saya pikir ke rumah kamu saja biar kita bisa langsung lihat lokasi butik," jelas Ethan. "Beneran mau survei lokasi butik hari ini?" tanya Rania kaget. "Iya, saya rasa kamu sudah siap," ucap Ethan. "Mandi dulu lah Ran, nanti Ethan kelamaan lo menunggu kamu," kata Mama nimbrung. "Gak papa bu, saya juga masih main dengan Gavin," ucap Ethan tersenyum. "Oke, maaf ya mas, sebentar saya siap-siap dulu," jawab Rania. Rania bergegas ke kamarnya untuk siap-siap. Gavin kelihatan senang main dengan Ethan. Padahal baru jumpa, tapi seperti sudah kenal lama. Pemandangan ini m
Malam itu hujan turun perlahan membasahi jalanan. Udara dingin rasanya ikut masuk ke dalam mobil, membuat tubuh gemetaran. Rania juga kelelahan jadi badannya terasa kurang fit hingga menggigil. Ethan yang melihat itu memberikan jaketnya ke Rania, "Pakai ini ya biar kamu hangat," ucap Ethan. "Gak usah Mas," Rania menolak. "Gak papa pakai nanti kamu jadi meriang," ucap Ethan. "Makasih ya," mereka jadi saling bertatapan mata. Ada debar yang Ethan rasakan, ingin rasanya ia mendekap Rania ke pelukannya. Tapi Ethan menahan diri, tidak mau Rania jadi ilfil. Ethan harus sabar untuk membuat Rania luluh dengannya. "Rumah saya yang warna abu-abu itu ya Mas," ucap Rania. "Oh oke," jawab Ethan. "Mau singgah dulu Mas," tawar Rania. "Sudah malam, gak enak," kata Ethan. Mama Rania melihat di balik gorden, tak lama Gavin keluar mengejar mamanya. Ethan melihat dari kaca mobil dan tersenyum melihat Gavin yang lucu. "Pulang sama siapa tadi Ran?" tanya mama. "Itu ma, bosnya aku dari Jakart
Ethan sudah siap untuk ke tempat Rania. Jam 19:00 Ethan sudah di jalan menuju lokasi yang sudah di share loc. Ingatan tentang Nara masih saja membayangi pikirannya."Rania bukan Nara, bukan Nara," Ethan membatin je dirinya sendiri berulang kali.15 menit dari hotel ke lokasi Rania. Ethan sampai di depan ruko kecil tempat Rania live berjualan online dan tempat packing orderannya. Ethan datang membawa makanan yang sudah ia pesankan ke supirnya untuk dibeli."Assalamualaikum," ucap Ethan memasuki ruko yang pintunya terbuka satu."Waalaikumsalam," jawab Rania yang berdiri dari tumpukan pesanan."Gak papa, duduk saja," ucap Ethan."Gak telepon dulu tadi Mas," ucap Rania."Iya, gak papa. Lagian gak nyasar juga kok." Ethan tersenyum."Duduk di sini saja Mas," ucap Rania menarik kursi di dekat meja kerjanya."Ini saya bawaain makanan buat anggota kamu," ucap Ethan."Repot-repot banget Mas," Rania mengambil dan memberikannya ke anggota."Sepertinya ruko ini sudah tidak bisa lagi menerima stok
Pagi yang cerah di Hari Minggu jadi bagian menyenangkan untuk Nara. Menikmati pagi dengan berlari di area Jogging Track Undip sekaligus jadi spot lari yang menyenangkan. Pagi itulah menjadi pagi yang istimewa karena bertemu dengan Ethan.Ethan yang tak sengaja pagi itu juga main ke Jogging Track Undip. Ethan melihat Nara yang lagi Jogging mengutip sampah dan membuangnya ke tong sampah. Jarang banget di hari ini masih ada orang yang peduli dengan hal kecil, apa lagi itu bukan tugasnya.Pertemuan tak di sengaja itu menjadi awal Ethan mengingat wajah Nara. Sepulang dari jogging gak sengaja bertemu lagi di tempat sarapan nasi pecel."Maaf Mas, boleh minta tisunya?" tanya Nara yang membuat Ethan kaget bisa ketemu lagi."Iya, ambil saja," jawab Ethan."Terimakasih," kata Nara.Ethan mau balik ke hotel, tapi melihat Nara lagi kekusahan di parkiran."Kenapa motornya" tanya Ethan."Ini bocor, mana lagi buru-buru," jawab Nara."Mau ke kantor?" tanya Ethan."Tidak, lagi ada janji sama teman buat
Hidup kadang memang tidak adil bagi mereka yang tulus. Kadang ketulusan dibalas dengan kejahatan yang tak terkira. Cinta Rania untuk suaminya tak pernah menuntut banyak, hanya ingin dicintai dengan ikhlas. Tak meminta kehidupan yang mewah, hanya ingin hidup yang berkah.“Gak papa, Mas. Ini saja sud
Perempuan tinggi semampai dengan bibir yang merah alami ini selalu tersenyum menyambut pagi. Pagi yang selalu hetic. Dikejar-kejar waktu menyiapkan beragam kue-kue basah di pagi hari tak membuat senyumnya menjadi kecut. Meja lipat yang tiap pagi ia buka. Kue-kye disusunnya di atas meja dengan rapi.
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt







