Home / Rumah Tangga / Ditalak Suami Saat Sukses / Saat Rania Mulai Merasa Curiga

Share

Saat Rania Mulai Merasa Curiga

Author: Eka Suswanti
last update publish date: 2026-05-01 16:02:45

Pagi ini Rania bangun lebih awal. Alarmnya berbunyi jam 4 pagi. Ada orderan untuk acara hajatan kue 200 kotak. Rania mengerjakannya sendiri. Pesanan sudah masuk 3 hari yang lalu. Rania sudah mengangsur membentuk kotaknya. Sebagian isi kuenya sudah dikerjakannya kemarin. Pagi ini tinggal menambah kue yang asinnya. 

Rania sibuk di dapur. Sampai tidak sadar Dori pergi kerja tanpa pamit dengannya. Rania hanya ke kamar saat sholat subuh dan dilihatnya Dori sedang mandi. Sehabis sholat Rania tidak ada ke kamar lagi, sampai tersadar kenapa Dori kok belum berangkat kerja.

"Mas...mas." Panggil Rania sambil berjalan ke kamar. Saat dilihat tidak ada lagi.

Rania berpikir mungkin dia yang tidak sadar kalau Dori berpamitan. Rania lanjut lagi menyelesaikan orderannya yang harus dikirimkan ke tempat jam 11 siang. 

"Assalamualaikum, Bu Rania. Jangan lupa ya Bu, jam 11 sudah di sini." Telepon dari Buk Anda yang memesan kue kotak.

"Iya Bu, bantu share loc ya Bu," pinta Rania.

"Baik Bu, ini saya share loc," kata Bu Anda.

"Terima kasih, Bu," jawab Rania.

Rania sigap sekali. Semua pesanan selesai di jam 10 pagi dan dia kerjakan sendirian. Luar biasa sekali kegigihannya tiada tara. Tentunya untuk orderan ini Rania tidak buka dulu jualan seperti biasanya. Setelah semua selesai, Rania pesan mobil buat pengantaran orderannya. 

Serah terima pembayaran dilakukan secara online saja. Bu Anda memang sudah langgananan dengan Rania. Bahkan beberapa kali Rania dapat orderan dari relasinya Bu Anda. Kue buatan Rania memang enak dan ukurannya juga sesuai. 

"Bunda, makan," rengekan Gavin terbata. 

Sudah siang Gavin belum juga diberikan makan siang. Rania kelupaan masak karena persiapan orderannya. Rani pun menggoreng kan stok frozen ayam tepung di freezer. Sambil menyuapkan makan Gavin, Rania teringat dori. 

"Mas, tadi maaf ya aku sibuk di dapur." Rania mengirimkan pesan WA. 

Satu jam berlalu tidak ada balasan dari Dori. Rania pun tidak mengulang lagi mengirimkan pesan WA. Rania pikir mungkin Dori sedang banyak kerjaan. Padahal Dori sedang sibuk dengan Bella. Di saat Rania mengirim pesan, Dori sedang makan siang di resto dekat kantor mereka. 

"Mau minum apa?" tanya Dori ke Bella. 

"Es jeruk saja, Mas," jawab Bella. 

Pesanan makan siang ikan bila bakar tiba untuk hidangan makan berdua. Dori dan Bella makan sambil ngobrol seru tentang hobi mereka yang sama. Lalu berlanjut melihat rekomendasi lokasi ngecamp di HP Bella. Jarak mereka dekat sekali. Tak sengaja mata mereka beradu pandang. Bella salah tingkah. Dori mendadak jadi kaku. 

"Yuk, balik ke kantor," ajak Dori. 

Dori balik ke ruangannya begitu juga Bella. Kejadian siang itu bikin Dori tidak tenang. Dia merasa tidak enak. Bella berdebar tak karuan.

"Maaf ya, Mas." Bella mengirimkan pesan WA. 

"Tidak apa-apa, tidak ada yang salah," jawab Dori. 

"Aku tidak mau mengganggu rumah tangga, Mas," jelas Bella merasa bersalah. 

"Tidak, jujur aku senang ngobrol dan bertemu kamu," jawaban Dori yang bikin Bella makin salah tingkah. Bella membalas dengan emot senyum memberikan sinyal kalau dia juga merasakan hal yang sama. 

"Nanti aku pulang kemaleman. Gak usah ditungguin." Dori mengirimkan pesan ke Rania. 

"Ya, Mas. Semangat kerjanya ya." Rania membalas pesan denga cepat. Tapi setelah itu tidak ada balasan Dori.

Senja terbenam dengan jingga yang merona. Kumandang adzan Magrib mengisi indahnya senja. Dori keluar dari ruangannya langsung membawa tas, singgah di musholla terlebih dahulu untuk sholat Magrib. Setelah sholat Dori mengirimkan pesan ke Bella. 

"Bel, pulang bareng yuk." Dori dengan percaya diri mulai membuka hubungan lebih dengan Bella.

"Emangnya boleh, Mas?" tanya Bella. 

"Aman." Dori membalas pesan WA. 

"Sebentar ya aku lagi beres-beres berkas. 10 menit lagi selesai. Tungguin ya," pinta Bella. 

Jadi permulaan pulang bareng dan terus berkelanjutan. Jadwal makan bersama sebelum pulang kerja pun menjadi agenda wajib. Dori bahkan sering lupa lihat waktu dan berujung pulang kemaleman tanpa rasa bersalah. 

"Assalamu'alaikum." Dori mengetuk pintu rumah. 

"Waalaikumsalam,”  jawab Rania membuka pintu dan melihat jarum jam sudah di angka 11. 

"Belum tidur?" tanya Dori. 

"Belum, nungguin kamu. Mas sudah makan?" tanya Rania sambil membawakan tas suaminya. 

"Sudah tadi makan sama teman waktu di jalan pulang," jelas Dori. 

"Tadi kamu berangkatnya buru-buru ya? Aku sampai gak sadar kamu sudah berangkat." Rania bertanya dengan hati-hati. 

"Iya, tadi aku sudah manggil kamu. Tapi, kamu sibuk sekali di dapur. Jadi, aku pergi saja," jelas Dori. 

"Ya, sudah. Kamu mandi ya, bersih-bersih aku sudah siapkan air hangat buat mandinya." Rania berjalan ke kamar tidur meninggalkan Dori yang lagi membuka sepatunya. 

Rania masuk ke kamar. Kepalanya merasa ada yang berbeda dengan suaminya. Perasaannya gelisah tidak seperti biasanya. Dori langsung mandi dan masuk ke dalam kamar setelah mandi. Rania sudah menutup matanya, lampu tidur juga sudah menyala. Namun, Rania tidak benar-benar tidur. 

Jarum jam sudah di angka 12 malam lewat 10 menit. Dori pun sudah tertidur. Rania membuka mata dan memastikan Dori sudah benar-benar tidur. Tanda tanya yang penuh di kepala Rania memaksanya untuk mencaritahu. 

Pusat dari segala informasi ada di handphone. Rania tahu Dori selalu meletakkan handphone nnya di bawah bantal. Pelan-pelan Rania mengambil handphone dan membuka kuncinya dengan menggunakan sidik jari. 

Ada satu notif pesan WA belum terbuka muncul di bagian depan layar handpone (top up notif). Kontaknya disimpan dengan nama Mba admin. Sekilas isi pesannya terlihat ada emoticon senyum bahagia. Hati Rania merasa ada yang mengganjal dan membuatnya ingin mengetahui lebih banyak isi pesannya. 

"Astagfirulloh." Rania terkejut. 

Dadanya terasa sesak! Tubuhnya lemas, matanya berkunang-kunang, bibirnya gemetaran. Tangis Rania pecah di tengah malam. Setelah membaca semua isi pesan mereka, Rania berlari ke kamar mandi. Menangis sejadi-jadinya. Dunianya seketika terasa benar-benar runtuh. 

"Apa kurangku, Mas?" tanya Rania penuh kecewa di depan kaca kamar mandinya. Ia lihat dirinya begitu tidak menariknya. Kucel. Dasteran. Rambut dikuncir saja.

Rania tahu keinginantahuannya yang membuat hatinya sangat teriris. Tapi kalau tidak dicari tahu Rania akan tetap tertipu semakin lama lagi. Tidak ada yang pernah tahu ke depannya seperti apa. Tapi, paling tidak Rania bisa bersiap lebih awal untuk mengambil sikap. 

Setelah Rania menyelesaikan tangisannya di kamar mandi. Rania membersihkan wajahnya sebelum tidur. Sesak di dadanya membuat Rania tidak ingin tidur di sebelah Dori. Sulit mata Rania terlelap. Tak menyangka laki-laki yang amat dicintainya mulai memberikan rasa simPATI-nya ke perempuan. Bahkan pulang kerja bareng dan makan malam bersama. 

"Kenapa kamu setega ini, Mas?" Rania melihat Dori yang terlelap. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Sesak yang Tak Ingin Diingat

    Rania berusaha tenang, menenangkan sesak yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Bukan belum move on dari luka, tapi ternyata melihat luka itu ada di depan matanya belum menjadi hal yang biasa baginya. Ethan selesai dari kamar mandi dengan Gavin. Ethan tahu laki-laki yang bersama perempuan hamil itu adalah Dori. Ethan duduk di depan Rania. Mengkondisikan Gavin lalu memegang jemari Rania yang terasa dingin."Minum dulu ya," ucap Ethan mengelus punggung Rania."Terimakasih ya," jawab Rania."Apa mau kita pulang saja?" tanya Ethan."Gak papa, aman. Kita selesaikan saja dulu makannya," ucap Rania."Baik, kasih tahu aku kalau kamu sudah gak bisa ya," kata Ethan."Iya," jawab Rania.Rania pelan-pelan melanjutkan makannya. Ethan meninggalkan meja makan sejenak dan pergi ke meja kasir untuk memesan dua gelas es krim. Tak lama es krimnya diantarkan ke meja mereka. "Ini Mas dua es krimnya," ucap pelayan resto."Wuah, Gavin mau ya om," teriak Gavin kesenangan."Satunya buat kamu, makan y

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Jakarta dengan Segala Cerita

    Landing di Jakarta tepat pukul 16:30. Ethan sudah menunggu di pintu kedatangan. Begitu keluar Rania sudah melihat Ethan melambaikannya tangannya. Gavin langsung melepaskan gandengan tangan Rania dan berlarian ke Ethan. Momen yang membuat Rania terharu sekali melihat Gavin yang begitu sayangnya ke Ethan. Anak kecil selalu tahu siapa yang bisa mencintainya dengan tulus. Ethan sudah tepat untuk bisa mengisi peran ayah yang diinginkan Gavin. Tapi Rania masih belum siap untuk membiarkan hatinya kembali diisi secara penuh oleh Ethan sebagai seorang suami. Meski Ethan bukanlah Dori, tapi tetap rasa takut itu belum bisa lenyap seutuhnya. "Om baik," teriak Gavin lari ke pangkuan Ethan. "Gavin apa kabarnya?" tanya Ethan menggendongnya. "Baik banget Om kan sekarang jumpa sama Om baik," jawab Gavin. "Turun yuk, Om Ethan capek lo entar gendong Gavin," ucap Rania tersenyum. "Gpp kok Ran, aman," jawab Ethan. Ethan membawa Rania ke lobby menunggu mobilnya diambilin. Begitu mobil tiba m

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Tiket ke Jakarta yang Tiba-tiba

    Kehidupan Rania setelah gagal di pernikahan pertama memang hanya ingin fokus ke Gavin. Dia tak berpikir untuk kembali merajut hubungan cinta kasih dengan seseorang karena berpikir akan sulit untuk menemukan orang yang juga mencintai anaknya. Bagi Rania kebahagian Gavin lebih penting dari hidupnya. Sepulang jalan dengan Gavin kemarin, Rania merasa anaknya membutuhkan sosok ayah untuk bisa menemaninya. Anak laki-laki membutuhkan ayahnya di masa tumbuh kembang ini karena ad aktivitas yang serunya dilakukan bersama ayah. Gen Alpha memang anak-anak yang cenderung bijak dan kritis. Rania merasakan sekali dari Gavin yang semakin hari semakin pintar. Usianya sudah 4 tahun. Sejauh ini Rania belum berpikir untuk memasukannnya sekolah. "Bunda, Gavin anak baik atau nakal?" tanya Gavin di jalan menuju pulang. "Baik dong," jawab Rania. "Kalau baik kenapa ya Allah belum mengabulkan doa Gavin?" tanya Gavin. "Emangnya anak Bunda yang ganteng ini doa apa ke Allah?" Rania nanya balik. "Ga

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Berusaha untuk Pulih Seutuhnya

    Angin yang berhembus pagi ini terasa amat menyejukkan. Menyapu wajah Rania dengan lembut. Tiap helaan napas terasa begitu melegakan. Intruksi di setiap titik berhasil membuat Rania mendapatkan ketenangan. Pelepasan energi negatif yang sangat bermanfaat sekali. "Satu, dua, tiga, hembuskan perlahan-lahan hingga hitungan delapan lalu buka matanya," ucap intrukstur yoganya. Setelah selesai semua peserta bertepuk tangan menutup kegiatan yoganya. Rania masih duduk di atas matrasnya. Kemudian dia dihampiri oleh intrukstur yoganya. "Rania, kamu baik-baik saja?" tanyanya. "Sudah lebih baik," jawab Rania dengan tersenyum. "Sering-sering latihan yang ringan-ringan saja di rumah. Kamu bisa lihat di channel saya untuk menenangkan diri," ucap intrukturnya. "Baik kak, terimakasih ya," kata Rania. "Hidup akan selalu membawa kita pada masalah demi masalah. Kita cuma perlu menemukan cara yang tepat untuk melewatinya," jelas instruktur yoganya. "Iya kak, siap," jawab Rania. Rania pelan

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Obrolan Pertama yang Tak Direncanakan

    "Ada siapa itu?" Mama Ethan mengintip layar HP Ethan yang sedang VC. "Ada Gavin nih, Ma," ucap Ethan."Hai Oma," kata Gavin dengan akrabnya."Halo, kamu yang namanya Gavin?" tanya Mama Ethan. "Iya, Oma. Oma mamanya Om Ethan ya?" tanya Gavin balik."Iya," jawab Mama Ethan. "Oma, boleh gak Om Ethan ke Semarang lagi?" tanya Gavin bikin Rania jadi panik mendengarnya."Gavin tinggalnya di Semarang?" tanya Mama Ethan."Iya Oma, boleh gak Oma?" tanya Gavin."Ma, maaf ya Gavinnya suka asbun," Rania terpaksa nimbrung menunjukkan wajahnya."Loh, ada mamanya Gavin," canda Mama Ethan."Maaf ya Ma," kata Rania gak enak hati."Gak papa kok, Mama senang dengan anak sepintar Gavin," ucap Mama Ethan."Iya ma, maaf. Salam kenal ya Ma, Saya Rania," kata Rania. "Iya, mama tahu kok. Ethan sudah sering cerita soal kamu," goda mama ke Ethan."Jangan dipercaya," kata Ethan tertawa."Rania kapan main ke Jakarta?" tanya Mama Ethan."Wuah, kita ke Jakarta yok Bun," ucap Gavin asbun lagi."Aduh, Gavin," kata

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Kerinduan Sosok Ayah

    Anak-anak tidak bicara apa yang ia rasakan, tapi sikapnya bisa menunjukkan apa yang ia rasa tanpa disadari. Gavin yang tadinya lari-larian dengan riang, seketika berdiri kaku di depan seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola dengan ayahnya. "Gavin," panggil Rania. Gavin tidak menyahut. Matanya berkaca-kaca. Rania tahu Gavin sedang melihat anak dan ayahnya yang lagi seru bermain. "Bunda, kenapa ya Gavin gak bisa bermain dengan ayah juga?" tanya Gavin yang usianya belum empat tahun tapi sudah sangat bijak. "Gavinkan bisa main dengan Bunda," jawab Rania. "Orang bisa bermain dengan ayahnya, seru sekali Bun," kata Gavin. Seketika mata Rania terasa hangat, ada yang menggenang di pelupuk matanya. Rania mengelap matanya menahan genangan itu jatuh ke pipi. "Gavin sedih ya?" ucap Rania memvalidasi perasaan anak yang menjadi kekuatannya bertarung melewati kenyatan pahit di dalam hidupnya. "Iya Bun," jawab Gavin memeluk Rania. Rania memeluk erat Gavin. Menahan sekuatnya

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Kepercayaan Menjadi Kunci

    Hidup kadang memang tidak adil bagi mereka yang tulus. Kadang ketulusan dibalas dengan kejahatan yang tak terkira. Cinta Rania untuk suaminya tak pernah menuntut banyak, hanya ingin dicintai dengan ikhlas. Tak meminta kehidupan yang mewah, hanya ingin hidup yang berkah.“Gak papa, Mas. Ini saja sud

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Support Tulus Seorang Istri

    Perempuan tinggi semampai dengan bibir yang merah alami ini selalu tersenyum menyambut pagi. Pagi yang selalu hetic. Dikejar-kejar waktu menyiapkan beragam kue-kue basah di pagi hari tak membuat senyumnya menjadi kecut. Meja lipat yang tiap pagi ia buka. Kue-kye disusunnya di atas meja dengan rapi.

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Titik Balik Kenyataan Pahit

    Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Rania yang Dijatuhi Talak

    Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status