Godaan Terlarang Adek Ipar

Godaan Terlarang Adek Ipar

last updateLast Updated : 2026-05-06
By:  Miss JaweliaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pernikahan Alana dan Arga tampak sempurna,harmonis, mapan, dan sukses. Namun setelah Alana keguguran, segalanya berubah. Ibu mertua datang mengambil alih, sementara Arga lebih memilih membela ibunya daripada memahami luka sang istri. Di saat Alana merasa kehilangan dan kesepian, kehadiran adik ipar justru menawarkan perhatian yang seharusnya diberikan suaminya. Di tengah rumah tangga yang mulai retak, Alana dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan janji yang kian menyakitkan, atau terjerumus dalam godaan yang bisa menghancurkan segalanya.

View More

Chapter 1

Keguguran

“Bisa diam gak sih? Tangisan kamu berisik banget!”

Bentakan Arga membuat Alana tersentak. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi bukannya mendapat pelukan atau kata-kata penghiburan, suaminya yang baru pulang dari kantor malah memarahinya dengan wajah penuh kekesalan.

Alana langsung menunduk. Jemarinya meremas ujung dasternya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan langkahnya masih terasa lemas setelah kehilangan banyak darah akibat keguguran.

Dua tahun pernikahan…Baru kali ini Tuhan menitipkan janin di rahimnya.Namun belum sempat ia mendengar detak jantung bayinya lebih lama, calon anak itu sudah pergi meninggalkannya.

Dan yang lebih menyakitkan, orang yang paling ia harapkan untuk menguatkannya justru menjadi orang pertama yang menyalahkannya.

“Ini pasti karena kamu gak dengerin omongan Mama,” ucap Arga dingin tanpa rasa kasihan. “Orang hamil itu jangan malas-malasan, Alana. Makanya kandungan kamu jadi lemah!”

Air mata Alana kembali jatuh.

Malas?

Rasanya tuduhan itu begitu kejam.

Sejak menikah, Alana memang berhenti bekerja atas permintaan Arga. Katanya, perempuan tidak perlu capek bekerja kalau suaminya mampu menafkahi.

Namun kenyataannya, hidup Alana setelah menjadi ibu rumah tangga jauh lebih melelahkan daripada saat ia masih bekerja di kantor.

Setiap hari ia bangun sebelum subuh untuk memasak sarapan. Setelah itu mencuci baju satu rumah, membersihkan kamar, mengepel lantai dua tingkat, menyiram tanaman, mencuci piring yang tak pernah habis, lalu kembali masuk dapur untuk menyiapkan makan siang dan malam.

Bahkan saat tubuhnya lemah karena hamil muda, ibu mertuanya tetap menyuruhnya bekerja tanpa henti.

“Perempuan hamil jangan kebanyakan tidur.” “Kalau manja nanti susah lahiran.” “Ibu zaman dulu hamil tetap kerja keras.”

Kalimat itu terus diulang setiap hari sampai Alana mulai percaya bahwa rasa sakit dan lelahnya memang tidak penting.

Saat perutnya sering kram dan pinggangnya nyeri, tak ada yang peduli.

Saat ia muntah-muntah sambil tetap berdiri memasak di dapur, tak ada yang membantunya.

Dan saat ia hampir pingsan karena kelelahan membersihkan rumah, Arga malah berkata, “Mama cuma ngajarin kamu jadi istri yang benar.”

Kini setelah bayinya pergi, semua kesalahan dilemparkan kepadanya seorang diri.

“Aku sudah nyuruh kamu jadi ibu rumah tangga, gak usah kerja di kantor,” lanjut Arga dengan nada kecewa. “Tapi dua tahun pernikahan kamu baru hamil, malah langsung keguguran.”

Kalimat itu menghancurkan hati Alana sepenuhnya.

Dadanya terasa sesak.

Kalau saja kehamilan bisa dibeli, mungkin Alana rela memberikan apa pun demi bisa mempertahankan bayinya. Demi membuat suaminya bahagia. Demi mendapatkan sedikit penghargaan sebagai seorang istri.

Namun pengorbanannya selama ini seolah tidak pernah terlihat.Ia meninggalkan kariernya.Meninggalkan mimpinya.

Menghabiskan seluruh waktunya untuk mengurus rumah dan keluarga suaminya.

Tetapi di rumah ini, Alana tidak pernah diperlakukan sebagai seorang istri.

Ia hanya dianggap pembantu yang kebetulan tidur sekamar dengan anak majikan.

“Denger gak suami ngomong?”

Suara Arga yang keras membuat Alana tersadar dari lamunannya. Wanita itu segera mengusap air mata di pipinya sebelum suaminya melihat.

“Denger, Mas,” jawabnya pelan dengan suara serak. “Air hangatnya sudah aku siapkan. Mas bisa langsung mandi.”

“Hm.”

Arga bahkan tidak menatap wajah istrinya. Pria itu mulai membuka kancing kemejanya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa hari ini.

Seolah istrinya tidak baru saja kehilangan anak mereka beberapa hari lalu.

“Udah masak belum?” tanyanya datar.

Alana menunduk.

“Belum, Mas… aku baru sampai rumah satu jam lalu.”

Bukannya mengerti, Arga malah mendecakkan lidah kesal.

“Ya terus masak sekarang. Adikku sebentar lagi sampai dari Belga.”

Kalimat itu membuat dada Alana terasa makin sesak.

Tubuhnya masih lemah. Rahimnya terasa nyeri setiap kali bergerak. Bahkan berdiri terlalu lama saja membuat kepalanya berkunang-kunang. Namun di rumah ini, rasa sakitnya tidak pernah dianggap penting.

“I-iya, Mas…” jawabnya lirih.

Dengan susah payah Alana menurunkan kakinya dari ranjang. Tangannya refleks memegangi perutnya yang kini kosong. Perut yang beberapa hari lalu masih menyimpan harapan kecilnya untuk menjadi seorang ibu.

Langkahnya pelan saat berjalan keluar kamar.

Setiap pijakan terasa berat.

Setiap anak tangga seperti menguras sisa tenaganya.

Namun tidak ada satu pun orang yang peduli kalau dirinya hampir roboh.Baru saja sampai di lantai bawah, suara ibu mertuanya langsung terdengar nyaring dari ruang makan.

“Udah sana masak!”

Lidya duduk santai sambil menyeruput teh hangat, seolah menantunya bukan pasien yang baru keluar dari rumah sakit.

“Kamu udah tiga hari di rumah sakit. Harusnya udah sembuh. Jangan manja!”

Ucapan itu membuat tenggorokan Alana tercekat.

“ Iya, Mah. “Ucap Alana.

Tiga hari dirawat karena keguguran ternyata dianggap seperti pergi berlibur.

Tidak ada yang bertanya apakah jahitannya masih sakit.

Tidak ada yang peduli kalau tubuhnya masih mengeluarkan darah.

Tidak ada yang menanyakan bagaimana hancurnya hati seorang ibu yang kehilangan calon anaknya.

Bahkan setelah kehilangan bayinya, Alana tetap dipaksa berdiri di dapur demi melayani keluarga suaminya.

Pelan-pelan Alana berjalan menuju dapur.

Tangannya gemetar saat membuka kulkas mengambil sayuran. Tubuhnya masih terasa dingin dan lemas setelah keguguran, tetapi ia tetap memaksa dirinya berdiri di depan kompor.

Rahimnya masih nyeri.Pinggangnya terasa seperti ditusuk setiap kali bergerak.

Namun di rumah ini, rasa sakitnya bukan sesuatu yang penting.

Yang penting hanya pekerjaan rumah selesai tepat waktu.

Alana mulai memotong bawang dengan tangan gemetar. Sesekali ia meringis menahan sakit di perut bawahnya. Air mata jatuh diam-diam ke talenan tanpa sempat ia hapus.

Langkah sandal mendekat dari belakang membuat tubuhnya menegang.

Lidya masuk ke dapur sambil melipat tangan di dada. Tatapan wanita paruh baya itu tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun kepada menantunya.

“Kamu itu harus cepat pulih,” ucap Lidya dingin. “Biar cepat hamil lagi.”

Alana menunduk pelan.

“Iya, Mah… nanti aku bicarakan sama Mas Arga.”

“Bicarakan apa lagi?” Lidya langsung menyela. “Perempuan itu tugas utamanya kasih keturunan buat suami.”

Kalimat itu terasa menusuk tepat di dada Alana.

Padahal baru beberapa jam lalu ia kehilangan bayinya.Namun yang dibahas bukan rasa sakitnya.Bukan kesedihannya.Melainkan kapan ia bisa hamil lagi.

“Anak teman Mama baru keguguran dua bulan lalu sekarang udah hamil lagi,” lanjut Lidya sambil duduk santai di kursi dapur. “Makanya jangan terlalu banyak drama. Gugur itu biasa.”

Jemari Alana langsung berhenti bergerak.

Dadanya terasa makin sesak mendengar kata “biasa” diucapkan begitu mudah.

Bagaimana kehilangan seorang anak bisa dianggap biasa?

“Itu berarti tubuh kamu aja yang lemah,” tambah Lidya lagi tanpa perasaan. “Mama dulu hamil Arga tetap kerja ngurus rumah, ngurus suami, gak pernah manja kayak kamu.”

Alana menggigit bibirnya kuat-kuat agar tangisnya tidak pecah.

Selama ini ia selalu berusaha menjadi menantu baik.Ia bangun paling pagi.Tidur paling malam.

Mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian tanpa pembantu.

Bahkan saat hamil pun ia tetap dipaksa berdiri lama di dapur dan mencuci pakaian satu rumah.

Tetapi semua pengorbanannya tidak pernah dianggap.

“Mulai besok jangan kebanyakan rebahan lagi,” ujar Lidya sambil menyeruput teh hangatnya dengan santai. “Nanti malah susah punya anak.”

“Iya, Mah…” jawab Alana lirih.

Suara wanita itu semakin mengecil, seolah seluruh tenaganya habis bersama tangis yang sejak tadi ia tahan.Baru saja Lidya ingin kembali berbicara, suara Arga terdengar dari ruang depan.

“Mah, Alvaro sudah datang!”

Wajah Lidya yang tadinya dingin langsung berubah cerah.

“Ya ampun! Mana Alvaro?” wanita itu buru-buru berdiri dari kursinya. “Mama kangen banget. Udah bertahun-tahun gak ketemu anak Mama!”

Langkah Lidya cepat menuju ruang tamu, jauh berbeda dibanding sikapnya pada Alana yang baru pulang dari rumah sakit.

Alana hanya diam di dapur sambil menatap kosong sayuran di tangannya.

Alvaro…

Nama itu terasa asing namun juga samar-samar familiar di telinganya.

Selama dua tahun menikah dengan Arga, ia memang belum pernah bertemu adik iparnya itu. Yang ia tahu, Alvaro tinggal di Belgia mengikuti ayahnya setelah kedua orang tua Arga bercerai saat Arga masih kuliah.

Arga jarang membicarakan adiknya.

Bahkan foto keluarga mereka pun hampir tidak pernah diperlihatkan.Karena penasaran, Alana perlahan ikut melangkah keluar dari dapur.

Tubuhnya masih lemah, tetapi suara riuh di ruang tamu membuatnya ingin melihat seperti apa sosok adik suaminya itu.

Begitu sampai di ambang ruang tamu, langkah Alana langsung terhenti.Napasnya tercekat.

Matanya membulat kaget.

“Al…varo…” bisiknya lirih hampir tak terdengar.

Pria tinggi yang berdiri di dekat koper hitam itu perlahan menoleh.Wajah tampan dengan rahang tegas itu masih sama seperti yang ia ingat. Mata tajamnya membeku sesaat saat melihat Alana berdiri pucat di dekat dapur.

Ekspresi pria itu langsung berubah.

“Alana…?”

Suasana ruang tamu mendadak terasa sunyi.

Jantung Alana berdegup keras.Tangannya refleks gemetar.Ternyata…

Alvaro adalah mantan kekasihnya saat SMA.

Pria yang dulu pernah berjanji akan menikahinya.

Pria yang tiba-tiba menghilang ke Belgia tanpa kabar bertahun-tahun lalu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status