Chapter: Sesak yang Tak Ingin DiingatRania berusaha tenang, menenangkan sesak yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Bukan belum move on dari luka, tapi ternyata melihat luka itu ada di depan matanya belum menjadi hal yang biasa baginya. Ethan selesai dari kamar mandi dengan Gavin. Ethan tahu laki-laki yang bersama perempuan hamil itu adalah Dori. Ethan duduk di depan Rania. Mengkondisikan Gavin lalu memegang jemari Rania yang terasa dingin."Minum dulu ya," ucap Ethan mengelus punggung Rania."Terimakasih ya," jawab Rania."Apa mau kita pulang saja?" tanya Ethan."Gak papa, aman. Kita selesaikan saja dulu makannya," ucap Rania."Baik, kasih tahu aku kalau kamu sudah gak bisa ya," kata Ethan."Iya," jawab Rania.Rania pelan-pelan melanjutkan makannya. Ethan meninggalkan meja makan sejenak dan pergi ke meja kasir untuk memesan dua gelas es krim. Tak lama es krimnya diantarkan ke meja mereka. "Ini Mas dua es krimnya," ucap pelayan resto."Wuah, Gavin mau ya om," teriak Gavin kesenangan."Satunya buat kamu, makan y
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: Jakarta dengan Segala CeritaLanding di Jakarta tepat pukul 16:30. Ethan sudah menunggu di pintu kedatangan. Begitu keluar Rania sudah melihat Ethan melambaikannya tangannya. Gavin langsung melepaskan gandengan tangan Rania dan berlarian ke Ethan. Momen yang membuat Rania terharu sekali melihat Gavin yang begitu sayangnya ke Ethan. Anak kecil selalu tahu siapa yang bisa mencintainya dengan tulus. Ethan sudah tepat untuk bisa mengisi peran ayah yang diinginkan Gavin. Tapi Rania masih belum siap untuk membiarkan hatinya kembali diisi secara penuh oleh Ethan sebagai seorang suami. Meski Ethan bukanlah Dori, tapi tetap rasa takut itu belum bisa lenyap seutuhnya. "Om baik," teriak Gavin lari ke pangkuan Ethan. "Gavin apa kabarnya?" tanya Ethan menggendongnya. "Baik banget Om kan sekarang jumpa sama Om baik," jawab Gavin. "Turun yuk, Om Ethan capek lo entar gendong Gavin," ucap Rania tersenyum. "Gpp kok Ran, aman," jawab Ethan. Ethan membawa Rania ke lobby menunggu mobilnya diambilin. Begitu mobil tiba m
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: Tiket ke Jakarta yang Tiba-tibaKehidupan Rania setelah gagal di pernikahan pertama memang hanya ingin fokus ke Gavin. Dia tak berpikir untuk kembali merajut hubungan cinta kasih dengan seseorang karena berpikir akan sulit untuk menemukan orang yang juga mencintai anaknya. Bagi Rania kebahagian Gavin lebih penting dari hidupnya. Sepulang jalan dengan Gavin kemarin, Rania merasa anaknya membutuhkan sosok ayah untuk bisa menemaninya. Anak laki-laki membutuhkan ayahnya di masa tumbuh kembang ini karena ad aktivitas yang serunya dilakukan bersama ayah. Gen Alpha memang anak-anak yang cenderung bijak dan kritis. Rania merasakan sekali dari Gavin yang semakin hari semakin pintar. Usianya sudah 4 tahun. Sejauh ini Rania belum berpikir untuk memasukannnya sekolah. "Bunda, Gavin anak baik atau nakal?" tanya Gavin di jalan menuju pulang. "Baik dong," jawab Rania. "Kalau baik kenapa ya Allah belum mengabulkan doa Gavin?" tanya Gavin. "Emangnya anak Bunda yang ganteng ini doa apa ke Allah?" Rania nanya balik. "Ga
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: Berusaha untuk Pulih SeutuhnyaAngin yang berhembus pagi ini terasa amat menyejukkan. Menyapu wajah Rania dengan lembut. Tiap helaan napas terasa begitu melegakan. Intruksi di setiap titik berhasil membuat Rania mendapatkan ketenangan. Pelepasan energi negatif yang sangat bermanfaat sekali. "Satu, dua, tiga, hembuskan perlahan-lahan hingga hitungan delapan lalu buka matanya," ucap intrukstur yoganya. Setelah selesai semua peserta bertepuk tangan menutup kegiatan yoganya. Rania masih duduk di atas matrasnya. Kemudian dia dihampiri oleh intrukstur yoganya. "Rania, kamu baik-baik saja?" tanyanya. "Sudah lebih baik," jawab Rania dengan tersenyum. "Sering-sering latihan yang ringan-ringan saja di rumah. Kamu bisa lihat di channel saya untuk menenangkan diri," ucap intrukturnya. "Baik kak, terimakasih ya," kata Rania. "Hidup akan selalu membawa kita pada masalah demi masalah. Kita cuma perlu menemukan cara yang tepat untuk melewatinya," jelas instruktur yoganya. "Iya kak, siap," jawab Rania. Rania pelan
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: Obrolan Pertama yang Tak Direncanakan"Ada siapa itu?" Mama Ethan mengintip layar HP Ethan yang sedang VC. "Ada Gavin nih, Ma," ucap Ethan."Hai Oma," kata Gavin dengan akrabnya."Halo, kamu yang namanya Gavin?" tanya Mama Ethan. "Iya, Oma. Oma mamanya Om Ethan ya?" tanya Gavin balik."Iya," jawab Mama Ethan. "Oma, boleh gak Om Ethan ke Semarang lagi?" tanya Gavin bikin Rania jadi panik mendengarnya."Gavin tinggalnya di Semarang?" tanya Mama Ethan."Iya Oma, boleh gak Oma?" tanya Gavin."Ma, maaf ya Gavinnya suka asbun," Rania terpaksa nimbrung menunjukkan wajahnya."Loh, ada mamanya Gavin," canda Mama Ethan."Maaf ya Ma," kata Rania gak enak hati."Gak papa kok, Mama senang dengan anak sepintar Gavin," ucap Mama Ethan."Iya ma, maaf. Salam kenal ya Ma, Saya Rania," kata Rania. "Iya, mama tahu kok. Ethan sudah sering cerita soal kamu," goda mama ke Ethan."Jangan dipercaya," kata Ethan tertawa."Rania kapan main ke Jakarta?" tanya Mama Ethan."Wuah, kita ke Jakarta yok Bun," ucap Gavin asbun lagi."Aduh, Gavin," kata
Last Updated: 2026-08-22
Chapter: Kerinduan Sosok AyahAnak-anak tidak bicara apa yang ia rasakan, tapi sikapnya bisa menunjukkan apa yang ia rasa tanpa disadari. Gavin yang tadinya lari-larian dengan riang, seketika berdiri kaku di depan seorang anak laki-laki yang sedang bermain bola dengan ayahnya. "Gavin," panggil Rania. Gavin tidak menyahut. Matanya berkaca-kaca. Rania tahu Gavin sedang melihat anak dan ayahnya yang lagi seru bermain. "Bunda, kenapa ya Gavin gak bisa bermain dengan ayah juga?" tanya Gavin yang usianya belum empat tahun tapi sudah sangat bijak. "Gavinkan bisa main dengan Bunda," jawab Rania. "Orang bisa bermain dengan ayahnya, seru sekali Bun," kata Gavin. Seketika mata Rania terasa hangat, ada yang menggenang di pelupuk matanya. Rania mengelap matanya menahan genangan itu jatuh ke pipi. "Gavin sedih ya?" ucap Rania memvalidasi perasaan anak yang menjadi kekuatannya bertarung melewati kenyatan pahit di dalam hidupnya. "Iya Bun," jawab Gavin memeluk Rania. Rania memeluk erat Gavin. Menahan sekuatnya
Last Updated: 2026-08-21