Mag-log in
Perempuan tinggi semampai dengan bibir yang merah alami ini selalu tersenyum menyambut pagi. Pagi yang selalu hetic. Dikejar-kejar waktu menyiapkan beragam kue-kue basah di pagi hari tak membuat senyumnya menjadi kecut. Meja lipat yang tiap pagi ia buka. Kue-kye disusunnya di atas meja dengan rapi. Selalu tersenyum riang, menyapa orang yang lewat. Jarang sekali yang tak singgah untuk membeli dagangannya. Sosok yang dikenal penuh semangat ini punya semangat yang tak pernah pudar untuk memberikan memberikan support terbaik kepada karir suaminya.
"Aku berangkat kerja dulu ya," Dori menyapa Rania yang sibuk di dapur. Rania berjalan menghampirinya dan menyalami suami yang amat dia cintai. 'Hati-hati ya Mas. Semoga hari ini segala urusannya dilancarkan, dimudahkan, semangat ya,ucapan doa yang sama setiap paginya." Rania mengantarkan suaminya hingga tak terlihat lagi dari pintu. "Gak ada yang ketinggalankan, Mas?" tanya Rania sambil menyodorkan kotak bekal untuk Dori. Rania cekatan sekali tiap pagi tak hanya menyiapkan dagangannya seorang diri ia juga memasak agar Dori bisa bawa nasi saat bekerja. Lumayan sekali mengurangi pengeluaran ketimbang beli nasi, selain hemat juga lebih sehatkan. Anak mereka yang berumur 3 tahun masih tidur di jam-jam Dori berangkat bekerja. Kadang juga sudah tertidur duluan saat ayahnya pulang kerja. Sekali waktu weekend mereka jalan-jalan sore bertiga menghabiskan waktu. Biasanya di Hari Minggu Rania tidak terlalu banyak membuat kue agar mereka bisa bepergian. Mereka senang sekali ke Taman Kota. Duduk-duduk di bangku yang gak jauh dari air terjun sambil melihat Gavin lari-larian. Ada bakso enak di Taman yang jadi langganan mereka kalau ke sana. "Biasa, dua yang bang." Rania memesan baksonya. "Satunya tidak pakai mie kuningkan, Mba," jawab abang baksonya. Setelah memesan bakso, Rania lanjut memesan roti bakar untuk Gavin. Dari kejauhan Rania melihat dua laki-laki yang amat ia cintai sedang saling tertawa. Baginya mereka berdua adalah dunianya. Semua bisa ia lalui demi keduanya. Keikhlasan Rania membantu suaminya menjadi sedekah terbaiknya, dagangannya semakin laris. Tak terasa sehari ia bisa mendapatkan omset 500 bahkan lebih. Setelah penjualan semakin banyak, Rania yang begitu sabar melewati tahun ke tahun. Dari usia Gavin 2 tahun ia sudah membantu suaminya hingga Gavin berusia 3 tahun. Pelan-pelan Rania membuka secara online di aplikasi. Mulai menambah menu mie goreng, nasi goreng, dan nasi ayam penyet. "Bulan depan ada pembukaan tes di kantor, aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pegawai tetap. Doakan aku ya bun," kata Dori saat makan malam sepulang kerja. "Semoga segala urusan kamu dilancarkan dan dimudahkan Allah, Mas. Semangat ya. Aku yakin kamu bisa," ucap Rania "Terimakasih ya, Ran. Terimakasih selama ini kamu selalu support aku, semoga ke depan hidup kita bisa lebih baik ya kalau aku lulus jadi pegawai tetap," kata Dori. "Aku senang bisa selalu ada buat suamiku. Aamiin Ya Allah. Semoga Allah kabulkan." Rania mendoakan suaminya. Rania berhasil melewati ujiannya sebagai istri, bertahan meski kondisi ekonomi membuatnya harus berjuang sekuat tenaga untuk bertahan. Doa-doa selalu ia hantarkan di sepertiga malam untuk keberhasilan suami tercinta. Laki-laki yang ia pilih untuk menjadi teman hidupnya meski harus merintis dari nol. Pernah sekali waktu, Dori belum menerima gaji. Sementara motornya sedang rusak. Ranialah yang membantu memperbaiki motornya dari uang hasil tabungan yang disisihkannya dari dagangan. Motor Dori harus turun mesin karena memang sudah tua sekali. Padahal uang yang disisihkan Rania berencana ia gunakan untuk tabungan pendidikan Gavin. "Gak papa, Mas. Pakai saja dulu tabungan Gavin ini. Nanti kalau sudah ada uang, Mas bisa ganti lagi." Rania memberikan uangnya ke Dori. "Terimakasih ya, nanti pasti aku ganti," ucap Dori. "Iya, Mas. Penting motor kamu bisa benar. Kasihan kalau harus jalan kaki kamunya menuju halte." Rania menyalam suaminya sebelum berangkat. Dori anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya sudah menikah, tapi hidupnya juga serba pas-pasan. Kedua orangtua mereka sudah meninggal saat Dori SMA. Ibunya yang lebih dulu meninggal karena sakit, tak lama disusul ayahnya. Kakak Dori ikut suaminya ke Kalimantan. Sejak itu Dori gak pernah bertemu lagi, hanya mengobrol di WA, itu juga jarang sekali. Sementara Rania anak bungsu. Keluarganya berkecukupan, meski pun ibunya janda kehidupannya tidak sulit. Ada banyak rumah kos yang diandalkannya di masa tua. Rania pernah ditawarin untuk tetap tinggal bersama ibunya sambil membantu mengelola kos. Tapi Rania menolak. Ia memilih untuk ikut denagn suaminya. Sebelum ikut suami, Rania berhenti dari kerjaannya di Kantor Notaris. Sejak saat itu ia menjadi ibu rumah tangga sampai akhirnya memutuskan untuk berjualan kue. Rania pandai buat kue karena sering membantu ibunya. Ibu Rania dulu pernah punya toko kue basah saat mudanya. Tapi karena sudah tak kuat lagi memproduksi kue, akhirnya ditutup. "Aku sayang banget sama kamu, Mas," bisik Rania sambil mengelus kepala suaminya. Rania tak pernah menyesal memilih Dori dari pada laki-laki yang pernah dikenalkan ibunya. Apa lagi sejak ada Gavin di pernikahan mereka, bagi Rania hidupnya sudah sangat berwarna. "Kamu yakin mau memilih laki-laki itu? Hidup susah dengannya. Kalau kamu menikah dengan laki-laki yang mama pilihkan, setidaknya hidup kamu berkecukupan. Dia sudah punya rumah sendiri," kata Mama Rania. "Ma, aku berhak memilih siapa pasangan hidupku. Insya allah aku siap menjalaninya." Rania tetap pada keputusannya. "Hidup harus realistis Rania, tidak bisa hanya dengan cinta," ucap mamanya. "Ma, biarkan kali ini aku memilih apa yang ingin kujalani," kata Rania dengan tegas "Ya sudah, jika itu keputusanmu. Kamu memang keras kepala." Mama pergi meninggalkan Rania saat itu. Ingatan itu selalu terlintas di kepala Rania, makanya ia tak pernah bercerita akan kesusahan apa pun ke ibunya. Rania simpan rapat-rapat segala kepahitan yang dirasakannya. Rania hanya pulang ke Semarang sekali setahun. Mamanya yang lumayan sering datang ke rumah mereka. Sepandai apa pun Rania menyembunyikan kesusahannya, mamanya tahu apa yang harus dilewati anaknya setiap hari. Anak bungsu yang lulusan terbaik di kampus Jakarta ini, yang dengan mudahnya mendapatkan kerjaan di kantor notaris di Semarang, tapi memilih resign demi ikut suaminya. Pertemuan Rania dan Dori dulu tanpa sengaja di warung spesial sambal Semarang. Dori yang lagi menghadiri pernikahan temannya saat itu. Tanpa sengaja temannya Dori ada yang pacaran dengan Rania. Jadi, mereka dikenalkan. Sejak perkenalan itulah Dori makin sering ke Semarang kalau ada libur. Mereka semakin dekat hingga akhirnya Rania diajak menikah. Sebuah keputusan yang merubah kehidupan Rania. Aku yakin setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Sugesti yang selalu diucapkan Rania setiap hari di saat ia merasa lelah. Rania selalu yakin bahwa ia tak akan selamanya melewati kesulitan. Keyakinannya inilah yang membuat dia kuat menghadapi banyak hal di dalam pernikahannya.Tidak ada perpisahan yang mudah dilewati. Ruangan sidang yang akhirnya mengakiri segala hal di masa lalu secara resmi. Rania berjalan keluar dari ruangan persidangan dengan helaan napas yang sangat lega. Sebuah kelegaan yang akhirnya tiba dengan seutuhnya. "Bunda," teriak Gavin berlari mengejar Rania ke depan ruangan persidangan. Rania memeluk Gavin erat. Tanpa sadar air mata membasahi pipinya. Semesta pun turut serta dengan rinai hujan yang satu persatu turun membasahi bumi. "Ayo, kita pulang. Nanti hujannya makin deras," ajak mamanya Rania sambil memegang payung. "Iya, ma. Ayok," jawab Rania. Mereka berjalan cepat ke arah mobil. Tepat setelah masuk ke dalam mobil, hujan langsung mengguyur turun tanpa basa basi. Jalanan Semarang hari itu terasa begitu sendu. Air hujan yang jatuh terlihat begitu menenangkan dari balik kaca mobil. "Semangat ya, kamu hebat." Satu pesan WA masuk dari Ethan. Rania hanya membukanya tanpa membalas apa pun. Ia masih memproses segalanya perlaha
Perjalanan menuju Bandara menjadi amat berat. Pandangan Ethan menyelam di setiap sudut jalanan Semarang. Bayangan wajah Rania mengisi seluruh isi kepalanya. Ethan tahu hatinya benar-benar telah memilih Rania. Lebih kurang 40 Menit Ethan tiba di Bandara. "Ethan," terdengar suara perempuan memanggil Ethan yang akan masuk ke pintu keberangkatan. Suara itu menghentikan langkah Ethan, membuatnya sangat terkejut melihat Rania ada di depannya kini dan memeluk erat. "Om baik, nanti ke Semarang lagi kan?" ucap Gavin yang sedang digendong Rania. "Iya, nanti kalau kerjaan Om selesai pasti ke sini lagi," jawab Ethan. "Iya, hati-hati ya Om. Jangan lupa dengan Gavin," pinta Gavin memegang tangan Ethan. Ethan masuk dengan hatinya yang sesak. Lima hari bertemu Gavin seperti membuatnya memiliki seorang anak yang kini harus ia tinggalkan untuk pergi bekerja. Rasa sesak yang sulit dijelaskan. Gavin juga merasakan hal yang sama. Ethan berhasil membuatnya merasa memiliki super hero yang seh
Acara Grand Opening yang super ramai, bahkan pengunjung yang datang dua kali lipat dari yang diprediksi. Stok bahkan sampai menipis dan auto ngerekap barang di gudang untuk kembali di restore. "Mama dan Gavin sudah pulang duluan tadi sore. Gavin sudah capek banget tadi," ucap Rania ke Ethan. "Oh ya, berarti kamu balik aku antar saja ya," kata Ethan. "Gak papa aku tinggal pesan ojek online," jawab Rania. "Jangan dong, kan kamu mesti traktir aku makan atas kesuksesan hari ini," kata Ethan tersenyum. "Wuah, jadi aku kenak pajak big bos ini?" ledek Rania. "Ya gak gitu juga sih, anggap aja ini sekalian makan malam perpisahan sebelum aku balik Jakarta," ucap Ethan. Mendadak suasana yang penuh kebahagian berubah menjadi haru-biru. Ada sesak rasanya di dada Rania yang dia sendiri bingung itu perasaan apa. Setelah selesai berbenah. Evaluasi dengan karyawan, sekaligus tutup buku penjualan. Barulah Rania pulang dengan Ethan. Malam itu udara dingin Semarang terasa amat dingin. En
Akhirnya hari yang luar biasa itu tiba. Pelangi setelah badai di hidup Rania semakin terlihat jelas. Kalau bukan karena kebaikan Ethan mungkin hari ini tak pernah menjadi kenyataan bagi Rania. "Ma, doakan ya besok acara grand openingnya lancar, aku deg deg an banget," ucap Rania saat lagi duduk di ruang keluarga bersama mama dan Gavin. "Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu, selalu. Mama senang sekali akhirnya kamu bisa benar-benar melanjutkan hidup," mamanya memeluk Rania. "Terimakasih ya, Ma, tanpa suport mama aku juga gak mungkin bisa sekuat ini," jawab Rania. "Kamu sama Ethan itu, gemana?" tanya Mama penasaran. "Partner bisnis saja kok, Ma," ucap Rania. "Mama bisa melihat dia menyukaimu," ucap Mama menggoda. "Ah, masak sih ma," Rania salah tingkah. "Iya, menurut mama Ethan laki-laki yang baik. Gavin juga terlihat akrabkan dengannya," ucap mama. "Aku belum kepikiran sejauh itu sih, Ma," jawab Rania. "Ya sudah, yang penting sekarang kamu bahagia dengan apa
Rania melihat Gavin dari kaca mobil hingga hilang dari pandangannya. Ethan memutar lagu indie For Revenge di perjalanan. Lagu hits era ini yang banyak relate dengan cerita hidup. Rania menatap Ethan diam-diam tanpa diketahuinya. Sosok laki-laki yang mampu mencuri hati Gavin, satu-satunya tujuan hidupnya hari ini. "Mas gak merasa lelah nemenin saya?" tanya Rania memulai obrolan. "Lelah kenapa?" tanya Ethan. "Iya dari kemarin sepertinya sibuk membantu saya urusan pembukana butik ini, gak ada kemana-mana refreshing," ucap Rania. "Tujuan saya ke Semarangkan memang buat itu, kenapa saya harus merasa jadi kerepotan?" jawab Ethan tersenyum. "Iya, saya merasa gak enak aja sih," kata Rania. "Saya senang menemani kamu," jawab Ethan. Sudah sampai di parkiran, Ethan menatap Rania, tatapan mereka terpaku lama, degub jantung keduanya berdebar kencang, begitu cepat kejadian itu terjadi. "Maaf," kata Ethan menghentikan dekapannya. "Aku juga minta maaf," balas Rania salah tingkah. "Aku
Hati tidak pernah tahu kapan ia akan bergerak menemukan kenyamanan, apa lagi setelah dihajar kecewa yang bertubi-tubi. Jangankan berpikir untuk kembali menjalin hubungan, membayangkannya saja tidak pernah dilakukan Rania karena ia takut hanya memupuk kecewa dan membuat lukanya semakin dalam. Semua orang yang terluka berusaha sembuh, tapi Rania tak pernah memikirkan untuk sembuh dengan mencari orang lain sebagai pelariannya. "Kapan kamu mau mulai membuka hati?" Mama pernah melemparkan pertanyaan itu ke Rania. "Bagiku kebahagian Gavin sudah lebih dari segalanya, Ma" jawab Rania dengan yakin tanpa berpikir akan ada sosok laki-laki seperti Ethan yang hadir di hidupnya. Malam ini ada rasa yang berbeda. Rania terbaring di atas kasurnya mengingat kejadian tadi siang dengan Ethan. Jantungnya berdegup kencang saat berada di dekat Ethan. Ada rasa tenang tiap melihat senyuman di wajah laki-laki yang belum ia kenal jauh tapi terasa begitu memiliki arti di hidupnya kini. "Belum tidur?"
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt
Kalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah te
Hidup kadang memang tidak adil bagi mereka yang tulus. Kadang ketulusan dibalas dengan kejahatan yang tak terkira. Cinta Rania untuk suaminya tak pernah menuntut banyak, hanya ingin dicintai dengan ikhlas. Tak meminta kehidupan yang mewah, hanya ingin hidup yang berkah.“Gak papa, Mas. Ini saja sud







