Home / Rumah Tangga / Ditalak Suami Saat Sukses / Support Tulus Seorang Istri

Share

Ditalak Suami Saat Sukses
Ditalak Suami Saat Sukses
Author: Eka Suswanti

Support Tulus Seorang Istri

Author: Eka Suswanti
last update publish date: 2026-05-01 15:46:22

Perempuan tinggi semampai dengan bibir yang merah alami ini selalu tersenyum menyambut pagi. Pagi yang selalu hetic. Dikejar-kejar waktu menyiapkan beragam kue-kue basah di pagi hari tak membuat senyumnya menjadi kecut. Meja lipat yang tiap pagi ia buka. Kue-kye disusunnya di atas meja dengan rapi. Selalu tersenyum riang, menyapa orang yang lewat. Jarang sekali yang tak singgah untuk membeli dagangannya. Sosok yang dikenal penuh semangat ini punya semangat yang tak pernah pudar untuk memberikan memberikan support terbaik kepada karir suaminya.

"Aku berangkat kerja dulu ya," Dori menyapa Rania yang sibuk di dapur. Rania berjalan menghampirinya dan menyalami suami yang amat dia cintai.

'Hati-hati ya Mas. Semoga hari ini segala urusannya dilancarkan, dimudahkan, semangat ya,ucapan doa yang sama setiap paginya." Rania mengantarkan suaminya hingga tak terlihat lagi dari pintu.

"Gak ada yang ketinggalankan, Mas?" tanya Rania sambil menyodorkan kotak bekal untuk Dori.

Rania cekatan sekali tiap pagi tak hanya menyiapkan dagangannya seorang diri ia juga memasak agar Dori bisa bawa nasi saat bekerja. Lumayan sekali mengurangi pengeluaran ketimbang beli nasi, selain hemat juga lebih sehatkan.

Anak mereka yang berumur 3 tahun masih tidur di jam-jam Dori berangkat bekerja. Kadang juga sudah tertidur duluan saat ayahnya pulang kerja. Sekali waktu weekend mereka jalan-jalan sore bertiga menghabiskan waktu. Biasanya di Hari Minggu Rania tidak terlalu banyak membuat kue agar mereka bisa bepergian.

Mereka senang sekali ke Taman Kota. Duduk-duduk di bangku yang gak jauh dari air terjun sambil melihat Gavin lari-larian. Ada bakso enak di Taman yang jadi langganan mereka kalau ke sana.

"Biasa, dua yang bang." Rania memesan baksonya.

"Satunya tidak pakai mie kuningkan, Mba," jawab abang baksonya.

Setelah memesan bakso, Rania lanjut memesan roti bakar untuk Gavin. Dari kejauhan Rania melihat dua laki-laki yang amat ia cintai sedang saling tertawa. Baginya mereka berdua adalah dunianya. Semua bisa ia lalui demi keduanya.

Keikhlasan Rania membantu suaminya menjadi sedekah terbaiknya, dagangannya semakin laris. Tak terasa sehari ia bisa mendapatkan omset 500 bahkan lebih. Setelah penjualan semakin banyak, Rania yang begitu sabar melewati tahun ke tahun. Dari usia Gavin 2 tahun ia sudah membantu suaminya hingga Gavin berusia 3 tahun. Pelan-pelan Rania membuka secara online di aplikasi. Mulai menambah menu mie goreng, nasi goreng, dan nasi ayam penyet.

"Bulan depan ada pembukaan tes di kantor, aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pegawai tetap. Doakan aku ya bun," kata Dori saat makan malam sepulang kerja.

"Semoga segala urusan kamu dilancarkan dan dimudahkan Allah, Mas. Semangat ya. Aku yakin kamu bisa," ucap Rania

"Terimakasih ya, Ran. Terimakasih selama ini kamu selalu support aku, semoga ke depan hidup kita bisa lebih baik ya kalau aku lulus jadi pegawai tetap," kata Dori.

"Aku senang bisa selalu ada buat suamiku. Aamiin Ya Allah. Semoga Allah kabulkan." Rania mendoakan suaminya.

Rania berhasil melewati ujiannya sebagai istri, bertahan meski kondisi ekonomi membuatnya harus berjuang sekuat tenaga untuk bertahan. Doa-doa selalu ia hantarkan di sepertiga malam untuk keberhasilan suami tercinta. Laki-laki yang ia pilih untuk menjadi teman hidupnya meski harus merintis dari nol.

Pernah sekali waktu, Dori belum menerima gaji. Sementara motornya sedang rusak. Ranialah yang membantu memperbaiki motornya dari uang hasil tabungan yang disisihkannya dari dagangan. Motor Dori harus turun mesin karena memang sudah tua sekali. Padahal uang yang disisihkan Rania berencana ia gunakan untuk tabungan pendidikan Gavin.

"Gak papa, Mas. Pakai saja dulu tabungan Gavin ini. Nanti kalau sudah ada uang, Mas bisa ganti lagi." Rania memberikan uangnya ke Dori.

"Terimakasih ya, nanti pasti aku ganti," ucap Dori.

"Iya, Mas. Penting motor kamu bisa benar. Kasihan kalau harus jalan kaki kamunya menuju halte." Rania menyalam suaminya sebelum berangkat.

Dori anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya sudah menikah, tapi hidupnya juga serba pas-pasan. Kedua orangtua mereka sudah meninggal saat Dori SMA. Ibunya yang lebih dulu meninggal karena sakit, tak lama disusul ayahnya. Kakak Dori ikut suaminya ke Kalimantan. Sejak itu Dori gak pernah bertemu lagi, hanya mengobrol di WA, itu juga jarang sekali.

Sementara Rania anak bungsu. Keluarganya berkecukupan, meski pun ibunya janda kehidupannya tidak sulit. Ada banyak rumah kos yang diandalkannya di masa tua. Rania pernah ditawarin untuk tetap tinggal bersama ibunya sambil membantu mengelola kos. Tapi Rania menolak. Ia memilih untuk ikut denagn suaminya.

Sebelum ikut suami, Rania berhenti dari kerjaannya di Kantor Notaris. Sejak saat itu ia menjadi ibu rumah tangga sampai akhirnya memutuskan untuk berjualan kue. Rania pandai buat kue karena sering membantu ibunya. Ibu Rania dulu pernah punya toko kue basah saat mudanya. Tapi karena sudah tak kuat lagi memproduksi kue, akhirnya ditutup.

"Aku sayang banget sama kamu, Mas," bisik Rania sambil mengelus kepala suaminya.

Rania tak pernah menyesal memilih Dori dari pada laki-laki yang pernah dikenalkan ibunya. Apa lagi sejak ada Gavin di pernikahan mereka, bagi Rania hidupnya sudah sangat berwarna.

"Kamu yakin mau memilih laki-laki itu? Hidup susah dengannya. Kalau kamu menikah dengan laki-laki yang mama pilihkan, setidaknya hidup kamu berkecukupan. Dia sudah punya rumah sendiri," kata Mama Rania.

"Ma, aku berhak memilih siapa pasangan hidupku. Insya allah aku siap menjalaninya." Rania tetap pada keputusannya.

"Hidup harus realistis Rania, tidak bisa hanya dengan cinta," ucap mamanya.

"Ma, biarkan kali ini aku memilih apa yang ingin kujalani," kata Rania dengan tegas

"Ya sudah, jika itu keputusanmu. Kamu memang keras kepala." Mama pergi meninggalkan Rania saat itu.

Ingatan itu selalu terlintas di kepala Rania, makanya ia tak pernah bercerita akan kesusahan apa pun ke ibunya. Rania simpan rapat-rapat segala kepahitan yang dirasakannya.

Rania hanya pulang ke Semarang sekali setahun. Mamanya yang lumayan sering datang ke rumah mereka. Sepandai apa pun Rania menyembunyikan kesusahannya, mamanya tahu apa yang harus dilewati anaknya setiap hari.

Anak bungsu yang lulusan terbaik di kampus Jakarta ini, yang dengan mudahnya mendapatkan kerjaan di kantor notaris di Semarang, tapi memilih resign demi ikut suaminya. Pertemuan Rania dan Dori dulu tanpa sengaja di warung spesial sambal Semarang. Dori yang lagi menghadiri pernikahan temannya saat itu. Tanpa sengaja temannya Dori ada yang pacaran dengan Rania. Jadi, mereka dikenalkan. Sejak perkenalan itulah Dori makin sering ke Semarang kalau ada libur. Mereka semakin dekat hingga akhirnya Rania diajak menikah. Sebuah keputusan yang merubah kehidupan Rania.

Aku yakin setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Sugesti yang selalu diucapkan Rania setiap hari di saat ia merasa lelah. Rania selalu yakin bahwa ia tak akan selamanya melewati kesulitan. Keyakinannya inilah yang membuat dia kuat menghadapi banyak hal di dalam pernikahannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Bangkit dari Titik Terendah

    Bukan perkara mudah untuk membawa hati keluar dari jurang yang dalam. Luka di hati Rania masih sangat basah. Segala ceritanya dengan Dori masih membuat air matanya jatuh. Apa lagi setiap mengingat pelukan hangat Dori. Ada rasa rindu yang tak mampu dijelaskan."Aku selalu merasa lega setiap memelukmu," ucap Dori setiap kali mereka selesai berhubungan intim.Rania pun mengakui bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Kini rasa itu hanya tinggal di memori sebagai salah satu bagian yang paling sulit dilupakan. "Tuhan, hati ini adalah milikmu. Engkaulah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Aku mohon pertolongan-Mu. Kekuatan dari-Mu untuk melalui semua ini," Rania terisak di atas sajadahnya. Sepertiga malam menjadi waktu yang hangat dan keheningan yang melegakan untuknya. Setiap selesai sholat malam, Rania kembali tidur memeluk putranya, cinta abadi yang tidak akan pernah kehilangannya. Setelah tinggal dengan mamanya setiap pagi Rania sempatkan dirinya untuk lari pagi. Kembali belajar

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Satu Cerita Ribuan Support

    Kata demi kata Rania tuliskan tentang kisah pilunya. Jalan pulih yang Rania pilih dengan membagikan segala dukanya. Dimulai dengan bagaimana kisah mereka bertemu lalu menikah."Maukah kamu menjadi teman hidupku? Aku akan menjagamu dengan cara terbaik yang kubisa," kalimat yang diucapkan Dori pada Rania kala itu.Rania yang percaya dan yakin akan pilihannya. Iya mengiyakan dan menikah dengan Dori, penuh harapan. Didedikasikan segala waktu bahkan hidupnya untuk berjuang bersama. "Aku mencintaimu sayang," Dori mendekap Rania di pelukannya. Malam pertama yang hangat untuk kisah cinta mereka. Rania tuliskan rangkain cerita demi cerita itu. Betapa ia sangat mencintai Dori. Hidup dengan segala kondisi, tak pernah menuntut nafkah yang diberikan, berapa pun Rania terima dengan penuh rasa syukur.Satu bagian cerita yang Rania share di Facebook mendapatkan ribuan like dalam 1 hari. Permulaan yang amat baik dan membuat Rania terus menuliskan ceritanya dengan Dori. Hari kedua Rania melanjutkan

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Penyesalan Salah Pilih Pasangan

    Menyambut pagi pertama di rumah Mama, Rania berusaha setegar mungkin. Bercerita apa saja yang telah terjadi. Dari awal Dori bisa kenal dengan Bella sampai hubungan mereka diam-diam melampaui batas. Rania bercerita dengan tenang seakan semua lukanya telah sirna. Saat malam tiba ia menangis terisak tenggelam dalam segala dukanya. "Apa salahku Ya Rabb?" isak Rania dalam sepertiga malamnya. Hal terbesar yang menjadi penyesalan seorang perempuan ialah salah pilih pasangan. Sebuah penyesalan yang sangat mendalam menyesakkan dada Rania. "Bunda, bunda," panggil Gavin dalam tidurnya. Ia ngelindur. Rania memegang tangan Gavin. Mendekap anak tercintanya agar bisa kembali tidur lagi. Ditatapnya wajah Gavin , air mata Rania bercucuran jatuh. "Demi kamu nak, Bunda janji akan memberikan yang terbaik untukmu," kata Rania mencium Gavin. Hari-hari yang berat itu berlalu perlahan-lahan. Segala tentang Dori masih tersimpan lengkap di benak Rania. Hari pertama mereka bersama memeluk Gavin ialah

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Titik Balik Kenyataan Pahit

    Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan tidak memperhatikanmu. Mama menahan diri untuk menghargai pilihanmu, tapi kali ini tidak lagi akan Mama biarkan kamu terus tersakiti," kata mama lagi dan Rania hanya bisa diam saja.Selama masa Iddah pun tak ada usaha dari Dori untuk memperbaiki yang ada laki-laki tak tahu diri itu terus menunjukkan betapa ia tidak menginginkan Rania lagi dalam hidupnya. "Aku sudah tidak membutuhkan kamu, aku sudah tidak mencintaimu," ucap Dori dengan lantangnya saat Rania mencoba mendekatinya untuk berharap memperbaiki apa yang masih tersisa. Isakan Rania tak berarti apa-apa. Rania masih ingat hangatnya pelukan Dori yang penuh kasih. Tapi bagi Dori pelukan itu sudah tidak ada lagi. Pelukan hangatnya kini

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Rania yang Dijatuhi Talak

    Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat untuk memperbaiki. Dori juga telah menerima pengumuman akan hari pelantikannya. "Aku mau bicara," kata Rania tidak tahan dengan situasi diam-diam tanpa kejelasan. "Apa lagi yang mau dibicarakan? Aku sudah bilang tidak mencintaimu lagi," jawab Dori."Terus kita bagaimana?" tanya Rania."Aku sudah menalakmu, mula malam ini sudah bisa dimulai masa iddahmu," kata Dori tegas."Kamu benar-benar serius?" Rania tak percaya."Iya, tolong kamu dan Gavin juga tidak perlu datang di hari pelantikanku nanti," kata Dori. Rania masuk ke dalam kamar bersama anaknya. Tangisnya pecah setelah menahan segala kecewa di depan Dori. Hati kecil Rania masih tak menyangka begitu mudah dirinya dibuang dengan segala pe

  • Ditalak Suami Saat Sukses   Kenyataan Pahit Bagi Rania

    Kalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah tentu tidak bisa menjadi utuh lagi. Rania sangat tak menyangka bahwa semua yang selama ini diperjuangkannya untuk keluarga kecil mereka tak berarti apa-apa bagi suaminya. Laki-laki yang paling dia cintai dan orang yang selalu menjajdi prioritas dibandingkan dirinya sendiri. Usai Rania membuka semua isi chat mereka, handphone diletakkan kembali di tempatnya. Rania berpikir keras apa yang harus dia lakukan untuk pernikahan ini. Tapi hati kecil Rania masih ingin bertahan, ia tidak rela kalah dengan semua yang sudah dikorbankannya. "Selamat pagi, Mas," sapa Rania yang lagi memasak nasi goreng seafood di dapur. "Pagi Bun," jawab Dori."Sarapan dulu ya, Mas baru ke kantor. Sudah lama kita tidak s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status